Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
106. Cemburu


__ADS_3

Setelah Galen dan Keyna pergi, mereka semua berkumpul di ruang tamu kembali, tanpa Ayra. Bumil muda itu sedang ditidurkan oleh sang suami, tentunya agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh Ayra.


"Kamu ngantuk?" tanya Zidan saat Zia menyandarkan kepala ke bahunya.


Zia mengangguk. "Kan jam aku tidur siang," jawabnya pelan.


Selain mengantuk, Zia juga tidak ingin perasaan cemburu menguasainya. Ya, Zia cemburu saat Ayra meminta Zidan memasakkan omellet. Ada rasa tidak rela saat Zidan memberikan sepiring omellet pada Ayra, ada juga rasa takut karena keduanya pernah saling cinta dalam waktu yang lama.


Zidan mengangkat tangan kirinya dan melihat jam tangan hitam yang melekat di pergelangannya. Memang benar, jam segini biasanya Zia tidur siang.


"Ya udah sini nyamanin posisinya," kata Zidan sembari membantu Zia mencari posisi ternyamannya. Ingin pulang, tapi masih belum dapat kabar dari Galen dan Keyna.


Zidan mengusap kepala Zia agar istri imutnya itu cepat tertidur. Tidak sampai dua menit, Zia sudah pulas dalam tidurnya.


"Lah gampang amat kaya dihipnotis," heran Dyu dengan suara yang pelan, takut mengganggu tidur Zia.


Zidan mengangguk lalu menjawab, "Lagi gampang, biasanya lama kalo posisinya ngga pas. Apalagi kalo lagi sering nendang baby-nya."


"Udah delapan bulan ya?" tanya Sherena.


Zidan menggelengkan kepalanya, "Masih kurang seminggu. Makin deg-degan gue."


"Gue sih ngga tau ya, tapi mungkin emang gitu kali perasaan suami yang istrinya udah mendekati lahiran," kata Zio.


"Gue udah beberapa kali iseng liat-liat video lahiran, gue jadi takut ngga kuat waktu liat Zia kesakitan buat ngedorong bayinya keluar, keliatannya sakit banget oyy," curhat Zidan.


"Kata mama sih emang sakit banget, apalagi kemarin berat badan baby Zira hampir 4 kilo waktu lahir, sampe mau nyerah katanya," jawab Zio sesuai cerita sang mama pasca melahirkan.


Mereka bergidik membayangkannya, apalagi Sherena dan Zidan. Sherena ngilu sendiri, bagaimana jika dia melahirkan nanti, sedangkan Zidan membayangkan bagaimana tubuh bayi yang besar keluar dari jalan yang sempit itu.


"Tapi kalo bayinya udah keluar kata mama sakitnya langsung ilang," lanjut Zio apa adanya.


"Kalian ngomong gini bikin gue pikir-pikir buat resign dari dunia per-playboy-an," kata Dyu tapi mereka langsung membuat ekspresi tidak percaya.


"Udah ribuan kali lo ucapin itu tapi ngga pernah beneran lo lakuin, gue rasa lo kudu disakitin sama cewek dulu baru beneran tobat," saut Langit yang sudah jengah dengan ucapan Dyu yang itu.


"Bukannya dia abis galau ya gara-gara ditolak cintanya sama Elina," kata Zio membuat mereka tertawa meledek, kecuali Pak Ervan yang baru saja datang.

__ADS_1


"Elina temen Ayra?" tanya Pak Ervan yang langsung nimbrung.


"Temen Ayra? Sejak kapan?" tanya Sherena yang tidak tau update terbaru di sekolah.


"Murid baru itu katanya sih udah sejak Kamis pindah ke sekolah kita," jawan Zio.


Sherena mengangguk, tapi dalam hatinya masih heran. Segampang itu kah Ayra menerima teman baru, biasanya juga dia tidak suka orang baru apalagi kalau hanya mengambil keuntungan dari pertemanan saja.


"Elina itu orang yang saya kirim ke sekolah buat lindungin Ayra," kata Pak Ervan membuat merek semua terkejut.


"Hah? ngelindungin? Bukannya dia anak Bu Intan yang waktu itu kan? Masa dia orang suruhan?" heran Sherena mewakili semua cowok di sana yang ingin tahu.


"Kan kalian tau sendiri kalo Bu Intan juga termasuk korban dari Willy, sebagai anak yang berbakti Elina belajar bela diri dan senjata agar bisa kalahin Willy. Makanya saya bawa Elina ke pihak saya biar dia bisa bareng kita hancurin Willy," jawab Pak Ervan.


"Tapi ya gitu. Saya baru tau kalo Ayra bahkan lebih jago berantem dan main senjata," lanjut Pak Ervan membuat mereka tertawa.


"Ayra mah jangan ditanya lagi, kita aja kalah. Tembakannya mantap banget," puji Dyu terang-terangan.


"Hebat banget dia emang," kata Zidan.


Zia yang tidak pulas dalam tidurnya bisa mendengar ucapan Zidan karena tubuhnya yang saling menempel. Ada perasaan aneh yang menyesakkan dadanya.


"Loh kok tidur tapi nangis?" heran Zidan dengan pelan saat merasakan air jatuh ke telapak tangannya. Saat dilihat itu dari mata Zia.


Karena Zia hanya meneteskan setetes, Zidan mengira itu hanya karena bermimpi.


"Suka gitu Dan?" tanya Zio yang dulu sepertinya tidak pernah.


Zidan menggelengkan kepalanya, tapi saat ada setetes lagi yang jatuh, Zidan menepuk pipi Zia tapi malah Zia makin mengeratkan pelukannya. Zidan jadi paham kalau Zia tidak benar-benar tertidur.


Karena ini bukan di rumahnya sendiri, ia akan menanyakan alasan Zia menangis nanti kalau sudah sampai di rumah. Zidan hanya mengusap-usap punggung Zia.


Mereka jadi heran, seaneh itukah orang hamil?


"Sudah ada kabar dari Galen?" tanya Pak Ervan membuat mereka beralih fokus.


"Belum Pak, kayanya belum sampe," jawab Zio setelah mereka menggelengkan kepala.

__ADS_1


"William gimana?" tanya Pak Ervan lagi.


"Aman. Udah dibawa polisi tadi siang." Kini Dyu yang memberikan jawaban.


"Kasus ini hampir sama kaya Zidan dan Zia waktu itu, kemungkinan pelakunya masih orang yang sama," kata Pak Ervan yang diangguki mereka semua.


"Tuan Willy masih tersangka utama menurut kita, tapi kalo yang ngambil foto sama video itu ngga tau siapa, bisa deket kaya gitu lagi," timpal Zio. Foto dan video kebersamaan Galen, Keyna, dan Arin yang tersebar itu seperti ulah seoramg penyusup atau penghianat?


"Apa Janu?" Mereka semua menoleh ke arah Zidan. Zidan ingat betul penghianat itu yang sudah menyebarkan foto tidka senonohnya dan Zia.


"Iya juga ya. Lagian video yang di taman itu kan waktu lagi sama anak Atlansa kan ya? yang Arin abis ilang terus Galen ngerahin semua anak Atlansa," saut Langit yang mengingat betul kejadian hari itu.


"Diem-diem dia ambil foto sama video. Gila sih bisa-bisanya kita ngga sadar ada penghianat waktu itu," gerutu Zio.


"Kemungkinan Janu juga dikendaliin sama Tuan Willy," kata Zidan lagi yang sudah memikirkan ini sejak saat Janu ketahuan berkhianat di Atlansa.


"Kok makin ruwet yah," celetuk Sherena saat merasa masalah ini masih lumayan jauh menuju penyelesaian. Apalagi masalah baru terus berdatangan.


"Yang masih jadi pertanyaan gue, motif pelaku tuh apa?" heran Dyu.


"Hancurin nama baik Trisatya. Hari ini seragan seperti berpusat pada nama baik sekolah. Dan yah, mereka berhasil. Nama Trisatya sudah sangat jelek di kalangan masyarakat," ujar Pak Ervan.


Mereka mengangguk paham. Pasti orangtua juga sudah mulai resah jika menyekolahkan anaknya di sekolah yang banyak skandalnya.


Desakan makin menjadi, tapi mereka tidak bisa melaporkan Tuan Willy sekarang karena mengingat saksi kuatnya ada di Ayra tapi bumil itu baru saja mengalami pendarahan. Jadi, dengan terpaksa mereka menunda seminggu sesuai saran dokter kandungan.


Yang ditunggu mereka akhirnya datang juga, sebuah kabar. Galen sudah mengabarkan jika Arin baik-baik saja.


Mendengar itu Zidan pun pamit pulang, karena ia tahu sedari tadi istrinya tidak benar-benar tidur. Ada yang dirasakan tapi tidak mau mengucap.


¤¤¤¤


Hai...


Alhamdulillah aku udah sembuh, udah bisa rajin up lagi, jangan lupa untuk terus dukung aku ya..


Jangan lupa Follow IG ku ya : miarahma833

__ADS_1


Bye...


__ADS_2