
Zidan menghela napasnya lega saat Zia berhasil tidur. Tadi teman-teman mereka pamit pulang setelah Zia kembali muntah dan berakhir Zia yang lemas. Mereka tidak ingin mengganggu Zia istirahat sehingga mereka memilih pulang.
Mata dan hidung memerah, bibir pucat, dan sisa air mata di pipi Zia membuat hati Zidan terasa sesak, rasa bersalah yang ia coba lenyapkan, kembali menyuat ke permukaan. Tangan Zidan terangkat untuk menghapus sisa air mata tersebut perlahan, lalu naik menuju rambut Zia dan mengusapnya lagi.
Mata Zidan melirik perut Zia yang sudah tidak serata waktu awal menikah. Perlahan kepala Zidan menunduk, hingga bibirnya menyentuh perut Zia, walau terhalang baju. Zidan belum berani mencium perut Zia saat Zia tersadar. Bahkan ini pertama kali ia mencium perut Zia, tempat kedua anaknya berada. Di dalam diri wanita polos dan kekanakan di hadapannya, anaknya bergantung hidup.
Zidan beranjak dari berlututnya, ia memilih membersihkan rumah sebelum berangkat kerja. Sherena menawarkan diri untuk menemani Zia saat ia kerja nanti, Zidan menyetujui itu karena ia juga tidak mungkin terus-terusan di rumah, ataupun berangkat kerja dengan meninggalkan Zia sendiri di rumah.
°°°°°
"Zia mau kerja." Zidan membulatkan matanya, lalu melangkah menuju kasur tempat Zia duduk bersama Sherena.
"Iya lo kerja, tapi besok! Sekarang istirahat dulu," ujar Zidan lembut. Ia berusaha tidak berkata kasar dengan sikap egois Zia, walau ia ingin.
Wajah Zia masih pucat. Sherena yang menyadari itu mempunyai ide. "Zi, kita skincare an yuk," ajak Sherena.
Zia menggelengkan kepala dengan wajah cemberut. "Ngga mau. Muka Zia udah banyak jerawatnya, Nih," tunjuk Zia pada dahi dan pipi yang sedikit berjerawat, hanya dua jerawat kecil.
"Makanya ayuk pake skincare. Gue bawa di mobil, gue ambil dulu ya," ucap Sherena lalu akan keluar dari kamar.
"Bareng aja Sher, daripada Zia bosen duduk terus, Zia mau ikut ke mobil ambil skincarenya," ujar Zia dengan semangat, membuat Sherena menghentikan langkahnya dan menatap Zidan.
Zidan yang ditatap hanya mengangguk, "Hati-hati, gue ikutin sekalian berangkat kerja," ucap Zidan lalu mengambil jaket untuk Zia. Ingatkan Zidan untuk tidak melarang apapun yang Zia lakukan, asalkan tidak membahayakan diri dan anak mereka.
"Skincare kita sama kan ya?" tanya Sherena saat mereka tengah berjalan menuju depan gang. Zidan menuntun motornya di belakang mereka.
Zia mengangguk, "Sama Sher, cuma Zia udah ngga pake lagi. Zia cuma punya facial wash nya doang," jawab Zia jujur.
"Serius? Tapi muka lo masih kaya pake skincare lengkap, cuma ada jerawat dikit doang," ucap Sherena menunjuk jerawat kecil di pipi Zia.
"Aura bumil kata Keyna." Zia menjawab dengan santai.
"Ada gitu?"
__ADS_1
"Ngga tau, Keyna bilangnya gitu." Zia berjalan dengan tangan yang masuk saku jaket.
Sesampainya di mobil, Sherena masuk dan mengambil skincare nya. Sementara Zia di luar bersama Zidan.
"Kalau ada apa apa telpon gue ya. Mau nitip sesuatu?" Zia mengangguk, lalu tangannya menarik tangan Zidan untuk ia cium.
"Semangat kerjanya, nanti kalo gajian Zia minta pizza," ucap Zia mengutarakan keinginan yang ia tahan beberapa hari.
"Masih lama Zi, lo mau gue beliin nanti? Ngga perlu nunggu gajian," ucap Zidan yang hatinya merasa tersentil, hanya untuk pizza saja Zia meminta setelah gajian.
Zia menggelengkan kepala, "Zia maunya kalo kita dapet gaji pertama dari nyanyi, baru makan pizza. Sekarang Zia cuma bilang, ngga kepengin banget," bohong Zia. Jujur, Zia sangat menginginkan pizza itu dari beberapa hari lalu.
Zidan masih terdiam, ia ingin membelikan pizza itu, tapi uang gaji kemarin sudah ia pakai untuk biaya rumah sakit Zia. Bahkan sedikit mengambil uang tabungan Zia, belum lagi untuk makan sampai gajian nanti. Hati Zidan terasa semakin sakit, saat ingat nafsu makan Zia menurun bisa jadi karena Zia menginginkan pizza tapi tidak berani bilang padanya.
"Maaf." Hanya itu yang Zidan ucapkan sebelum ia pergi menggunakan motor sport nya.
Tanpa mereka sadari Sherena mendengar semuanya, Sherena mengusap matanya yang berair, tidak menyangka sahabatnya akan berada di fase finansial yang rendah.
"Yuk! Bumil ngga boleh berdiri lama-lama," ajak Sherena menggandeng lengan Zia yang masih terdiam menatap jalanan.
Sherena tersenyum, "Ya enggak lah, kan emang kewajiban Zidan."
"Zia pengin kerja aja." Sherena membulatkan matanya, bisa diomelin Zidan dia.
"Nggak yah! Lo belum sembuh banget, noh bibir lo aja masih pucet," ucap Sherena dengan cepat.
"Tapi besok Zia boleh kerja?" Sherena mengangguk lalu menuntun Zia masuk ke dalam kontrakan, takutnya Zia memaksa berangkat kerja.
Zia hanya diam saja saat Sherena mulai membongkar tasnya. Zia masih kepikiran pizza di dekat kompleks perumahannya dulu. Ingin sekali Zia memakannya, hingga bibirnya tanpa sadar mengecap pelan. Zia juga menyesal sudag mengucapkan keinginannya pada Zidan tadi, ia takut Zidan kepikiran saat bekerja.
"Zia, lo pake nih, bagus buat ngilangin jerawat," ucap Sherena menyerahkan sheet mask yang membuyarkan lamunan Zia. Zia mengambilnya lalu cuci muka.
Zia dan Sherena tengah menonton drama korea di tablet milik Sherena sembari mengenakan sheet mask. Saat tengah asyik menonton terdengar ketukan pintu dari luar.
__ADS_1
"Siapa ya? Tumben, biasanya ngga ada tamu," ucap Zia bingung, sedangkan Sherena mengedikkan bahunya.
Zia melepas sheet mask nya lalu berjalan menuju pintu. Sherena tersenyum simpul, ia tau siapa yang datang.
Sherena mendengar percakapan Zia dan Zio. Dari kagetnya Zia, Zio yang bilang ini Zidan yang bayar, sampai Zio yang menyuruh Zia makan.
"Sherena!" teriakan Zia dari luar membuat Sherena melepas maskernya lalu bangkit menyusul Zia, tentunya dengan senyum yang mengembang.
Saat di ruang tamu, Sherena melihat Zio yang duduk di kursi kayu usang, dan Zia di sebelahnya tengah memakan pizza dengan sangat lahap.
"Zia seneng banget-banget Sher, Pizza yang Zia pengen akhirnya Zia makan juga, " ucap Zia dengan mulut yang penuh dengan pizza menatap Sherena yang baru datang.
Sherena mengangguk lalu duduk di sebelah Zio, tak ingin membuang kesempatan, Zio mengecup pipi Sherena.
"Makasih," bisik Zio.
Sherena kembali mengangguk, walau seharusnya ia yang berterima kasih, ia tidak ambil pusing, ia malah memilih memperhatikan Zia yang makan dengan begitu lahap. Sherena merasa senang saat ngidam sahabatnya terpenuhi. Sesederhana ini bisa membuatnya tersenyum senang.
"Zidan langsung bilang ke Kakak tadi?" tanya Zia disela-sela mengunyahnya. Zio tersenyum paksa, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak mungkin juga ia bilang bukan dari Zidan, bisa-bisa Zia tidak mau memakannya.
Zia melanjutkan makannya, sementara Zio dan Sherena sedang bermesraan. Zia tidak merasa curiga sama sekali bahwa makanan yang ia makan bukan dari Zidan.
Zia bersendawa kecil, kemudian mengelus perutnya setelah merasa sangat kenyang. Sherena tersenyum melihat itu, begitu juga dengan Zio.
"Berapa bulan Zi?" tanya Sherena melihat perut Zia yang belum terlihat perubahannya.
"Sembilan minggu, berarti dua bulan lebih," jawab Zia.
"Udah keliatan beda tauuu, nih!" tunjuk Zia mengetatkan baju bagian perut, dan terlihatlah perut Zia yang sedikit buncit.
Sherena dan Zio merasa takjub, ada dua kehidupan di perut perempuan imut nan manja itu. Dan mereka salut Zia bisa menjaganya dengan baik selama dua bulan ini.
"Maafin Abang ya Zi, janinnya udah sampe sembilan minggu tapi kita belum berhasil nemuin pelakunya," ujar Zio dengan rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Nggapapa Kak, Zia seneng kok." Zia menggelengkan kepala sembari tersenyum.
"Bukanya apa gitu, tapi Gue bersyukur banget Zidan yang ngelakuin itu ke lo Zi, gue ngga tau gimana nasib lo kalo bukan Zidan orangnya," ujar Sherena yang diangguki Zio. Zio juga merasakan hal yang sama, entah sehancur apa mental adiknya jika bukan cowok seperti Zidan yang melakukan hal tersebut.