
"Pak Bandi kerjasama sama Tuan Willy Kendrick," ucap Zio pada semua teman-temannya yang tengah memperhatikannya yang tengah menulis bagan-bagan orang yang mereka curigai. Di sana juga ada Ayra dan Zia. Intinya mereka dalam formasi lengkap.
"Pak Bandi bisa jadi horkay juga karena bantuin Tuan Willy buat ngancurin lawan-lawan kerjanya. Kasus Zidan_Zia hanya salah satunya saja dari banyak kelicikan Tuan Willy," lanjut Zio.
"Ada yang tau lebih?" tanya Zio.
Ayra mengangguk, "Gue."
Semua pasang mata memperhatikan Ayra yang berdiri lalu mengambil sendok di tangan Zio.
"Selain Pak Bandi, ada Wiliam. Kalian kenal kan?" tanya Ayra sembari menulis di papan nama orang tersebut.
"Wiliam Adiyaksa? Bukannya udah dipenjara ya? " tanya Zio yang mendapat anggukan kepala dari Ayra.
"Setengah tahun yang lalu Wiliam bebas, dan ternyata itu karena ulah Willy," ucap Ayra. "maksudnya Pak Willy Kendrick," lanjut Ayra saat mereka bingung karena ada dua Wili.
"Pak Willy tau kalau William benci sama gue, sama seperti dirinya. Jadi, dia manfaatin Wiliam biar dia bisa ngehancurin hidup gue, sekaligus buat ngehancurin rival bisnisnya, papa Zia dan Zio," jelas Ayra sembari menulis inti intinya di papan kecil yang ada di basecamp.
"Terus," ucap Zio yang sudah sangat penasaran, sepertinya kunci semua masalah ini Ayra mengetahuinya.
Ayra menatap mereka semua satu persatu, "Pak Willy berharap dengan itu bisa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Tapi karena Zidan cerdas dan pikirannya jauh ke depan, dua rencana busuk Pak Willy itu langsung gagal. Inget kan waktu foto Zia sama Zidan kesebar?" tanya Ayra yang diangguki mereka.
"Waktu itu Pak Willy ngerencanain buat jatuhin nama baik papanya Zia, tapi lagi lagi Zidan gercep buat bikin video klarifikasi itu," lanjut Ayra yang sudah kembali duduk dengan mereka.
"Kenapa harus Zidan?" Sekarang Langit yang bertanya.
Ayra tersenyum sendu, "Buat ngancurin gue. Ada yang belum kalian tau dari Pak Willy, Dia itu orang yang udah bunuh Kak Deva." Perkataan Ayra membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Berarti bukan bawahan William seperti yang lo bilang waktu itu?" tanya Galen yang dijawab gelengan kepala oleh Ayra.
"Karena merasa keberadaan gue mengancam dia, dia terus tekan gue biar gue takut dan tunduk. Tapi dia salah ambil langkah, dia pikir dengan jebak Zidan dan kirimin kalian teror itu bisa buat gue tunduk sama dia," ucap Ayra sembari menatap Zidan dan Zia bergantian.
"Awalnya gue juga ngga tau kalo penjebakan Zia dan Zidan dan penyulikan Zia itu ulah Pak Willy, karena dia pake William buat nutupin, jadi gue taunya itu ulah William. Gue tau setelah Zia diculik, karena gue yang ngalihin perhatian orang orang yang jagain Zia di jalan Kenanga waktu itu," kata Ayra sembari membuka bekas luka di bahunya.
"Ya Allah," kaget Sherena sembari menutup mulutnya saat melihat bekas luka yang cukup lebar.
"Kenapa lo ngga jujur aja sama kita dari awal?" tanya Keyna. Merasa jika dari awal Ayra jujur mereka bisa bekerja sama.
Ayra menggelengkan kepalanya, "Ngga semudah itu. Gue menantunya, walaupun gue sendiri jijik ngakuin dia sebagai mertua gue, jadi otomatis dia lebih gampang buat ngawasin gerak gue. Gue sadar selalu ada yang ngawasin gue kemanapun gue pergi. Setiap gue bisa ketemu kalian kaya gini, di balik itu suami gue yang lagi urusin mereka."
"Kalau sampe orang Willy tau gue ketemu kalian, itu bakalan menyusahkan langkah kita ke depannya. Intinya gue ngga mau libatin lebih banyak korban setelah ini," ucap Ayra dengan serius.
"Lo korbanin diri buat kita?" tanya Keyna yang merasa Ayra terlalu nekat.
Ayra mengangguk pelan, "Kalo lo Key, gue yakin lo bisa jaga diri. Tapi ngga buat Zia sama Sherena, buktinya dengan gampangnya dia jungkir balikin hidup Zia. Ngga menutup kemungkinan kan kalo Sherena juga?"
"Pak Ervan tau semua ini?" tanya Galen.
Ayra mengangguk, "Gue sekarang lebih aman juga karena suami gue udah tau dan malah bantuin gue."
"Berarti intinya Pak Willy Kendrick pusat dari semua masalah ini?" tanya Keyna yang mencoba membuat kesimpulan. Mereka mengangguk, begitupun dengan Zia yang seperti orang bodoh karena tidak tahu apa apa padahal ini menyangkut dirinya.
"Ada orang lain lagi ngga? Selain mereka mereka ini?" tanya Galen yang menunjuk papan tulis putih itu.
Mereka diam, tidak ada yang mereka ketahui lagi.
__ADS_1
"Kita udah tau nih kalo Tuan Willy Kendrick adalah pelaku utama kita. Sekarang kita tinggal susun rencana buat ngumpulin bukti juga saksi yang bisa memberatkan Tuan Willy untuk dipenjara," kata Galen yang memulai menyusun rencana bersama mereka.
Selama satu jam mereka menyusun langkah demi langkah yang akan mereka ambil untuk memenjarakan Tuan Willy, kalaupun tidak setidaknya balasan yang sesuai dengan perbuatannya.
......................
Setelah semuanya selesai mereka bahas mereka memilih berbincang sebentar, kecuali Zidan dan Zia karena Zia harus tidur tepat waktu, dan Ayra yang sudah ditunggu suaminya.
"Thanks ya Ra," kata Zidan setelah mereka keluar dari basecamp. Kini Zidan, Zia, dan Ayra tengah berjalan berdampingan dnegan Zidna yang berada di tengah.
Ayra mengangguk, "Gue yang harusnya bilang itu dan minta maaf, karena gue yang secara tidak langsung buat hidup lo berantakan."
Zia hanya terdiam sembari menyimak, ia mencoba memberikan keduanya waktu untuk saling bertukar kata. Lagian ia sudah tau perasaan Zidan padanya, jadi ia bisa tenang walaupun hatinya tetap saja sedikit cemburu.
"Gue minta maaf karena udah marahin lo waktu di kafe. Jujur waktu itu gue lagi ngga karuan banget," kata Zidan. Walaupun ia mengobrol dengan Ayra,tapi tangannya memegang pinggang Zia.
Ayra kembali mengangguk, "It's Okay. Gue paham kok, Oh iya gue mau elus perut Zia boleh?"
Zia yang merasa namanya disebut pun menoleh pada Ayra, anggukan dari Zidan membuat Zia mendekat pada Ayra. "Elus aja Ra."
Mendapat lampu hijau dari yang punya tubuh membuat Ayra menempelkan tangannya ke perut Zia, "Hai anak mantan, sehat sehat ya di sana, nih kenalin aku mantannya papa kamu," ucap Ayra bercanda.
Zia tersenyum mendengar candaan Ayra, "Hai Aunty, jangan julid sama aku yaa," jawab Zia bercanda pula.
Ayra dan Zia terkekeh, sedangkan Zidan tersenyum melihat istrinya dan mantannya yang akur.
"Gue duluan ya?" ucap Ayra saat sudah di depan mobil suaminya. Zidan dan Zia mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
Ayra memasuki mobil dnegan raut wajah yang senang, malam ini ia kembali bersama teman-temannya.
"Seneng amat abis ketemu mantan?" sindir Pak Ervan di sebelah Ayra.