Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
23. Basecamp Atlansa


__ADS_3

"Zia kemaren keluar bercak darah gitu enggapapa Bun?" tanya Zia saat mengingatnya.


"Enggapapa. Itu tandanya lagi implantasi." Zia mengangguk dan merasa tenang saat itu tidak membahayakan.


"Zidan," panggil Bunda saat sedari tadi Zidan hanya diam. Zidan mengangkat kepalanya saat namanya dipanggil.


"Jaga mantu bunda ini ya, jangan sampe kecapean, kasih makanan yang bergizi, dan jangan sampe banyak pikiran," nasehat bunda yang hanya diangguki Zidan. Zidan sudah mulai bisa mengontrol diri.


"Ini vitamin biar janinnya sehat sama buat mengurangi mual, jangan lupa diminum ya. Sehari sekali aja, bagusnya pagi setelah sarapan ya, yang buat ngurangin mual kalo mual boleh diminum," terang Bunda menyodorkan beberapa vitamin dan diterima Zia. Zia memandang obat itu dengan bergidig, ia tidak suka obat.


Zidan yang melihat itu seketika terkekeh, "nanti gue halusin," ucapnya.


"Zia harus makan ya walaupun dimuntahin lagi. Zidan juga turutin apa yang Zia pengen makan biar mau makan," saran Bunda yang diangguki Zidan, Zia masih melihat obat itu, dan seketika membuatnya mual.


Zia berlari ke kamar mandi saat perutnya bergejolak. Zidan yang melihat itu saling tatap sebentar dengan sang bunda kemudian menyusul Zia.


Huek.. Huekk..


"Keluarin semua Zi," ucap Zidan yang mengurut tengkuk Zia. Bunda hanya memperhatikan dari belakang dan tersenyum, ia sudah biasa melihat ibu hamil yang muntah-muntah. Malah ia bahagia saat itu adalah menantunya sendiri.


"Coba elusin perutnya biar reda," ucap sang bunda saat Zia tidak berhenti muntah.


Zidan menurutinya. Seketika hatinya berdesir saat tangannya menyentuh perut rata Zia yang sekarang berisi anaknya. Mual Zia pun sudah mulai reda saat Zidan mengelus perutnya perlahan.


"Udah?" tanya Zidan saat Zia sudah berhenti muntah, Zidan mengelap mulut Zia dengan tissue, begitu juga dengan dahi Zia yang sudah berkeringat.


"Anak Zidan banget ini mah," kekeh sang bunda saat melihat Zia berhenti muntah saat perutnya dielus Zidan. Sama seperti saat ia hamil Zidan dulu.


°°°°


Sesampainya di kontrakan, Zia langsung merebahkan dirinya karena lelah, Zia bahkan masih mengenakan seragam Chers nya.


Zidan duduk di kursi belajar dan meletakkan vitamin dari bunda di atas meja.


"Keluar dari Chers mau?" tanya Zidan sembari berjalan ke arah ranjang. Direbahkan tubuh lelahnya di samping Zia.


Zia bangun dari rebahannya, "Ganti posisi aja boleh ngga?" tawar Zia yang tidak enak jika keluar begitu saja, apalagi sebentar lagi akan ada lomba.


"Ganti jadi yang di bawah? Yang malah harus angkat dan nangkep orang?" tanya Zidan dan diangguki Zia. Zidan paham posisi anak chers karena dia sendiri anak basket yang sering didampingi tim Chers ketika bertanding.


"Itu malah makin bahaya buat kandungan lo, keluar aja ya?" pinta Zidan lagi, muka Zia sudah cemberut, ia masih ingin ikut Chers tapi sekarang ia tidak boleh egois, di tubuhnya ada nyawa lain yang bergantung padanya, maka dengan terpaksa ia menganggukkan kepala perlahan.

__ADS_1


Zidan tersenyum, "Pinter, besok gue bilang ke Sherena." Sherena adalah ketua Chers Trisatya.


Zia hanya mengangguk kemudian kembali merebahkan tubuhnya. Kini Keduanya tidur bersebelahan dengan tatapan sama sama menatap langit-langit kamar.


"Sekolah Zia gimana?" lirih Zia teringat jika perutnya pasti akan semakin membesar.


"Selesain semester ini dulu, kan sekitar tiga bulan lagi ulangan akhir semester satu. Semoga aja belum terlalu keliatan perutnya," ucap Zidan setelah tadi selama perjalanan ia pikirkan tentang itu.


"Semester duanya gimana?" tanya Zia lirih, ia masih ingin sekolah. Masih kelas sebelas masa sudah berhenti sekolah, rasanya sangat tidak rela sekali.


Zidan terdiam, ia juga masih bingung untuk itu, "Ambil paket C atau homeschooling?" ucap Zidan ragu. Zia hanya meliriknya sekilas,


"Nanti aja ya dipikirnya sambil jalan pasti bisa," lanjut Zidan berusaha meyakinkan Zia juga dirinya sendiri.


"Zia mau tidur," ucap Zia yang sebenarnya sudah malas membahas masalah itu, memilih tidur.


Zidan memilih ikut tidur di sore hari ini mumpung ia tidak bekerja. Sebelum tidur Zidan menyempatkan mengelus perut Zia perlahan.


'Sehat-sehat di sana' batin Zidan. Ini terasa lucu, ia minta adik malah dikasihnya anak.


°°°°


Di basecamp Atlansa, para inti Atlansa sedang berkumpul, disana juga ada Zidan dan Zia. Malam ini Zidan menggunakan waktu disaat ia tidak bekerja untuk mengunjungi basecamp, kebetulan disana juga ada Sherena dan Keyna. Mereka tengah makan bakso yang dibeli oleh ketua mereka, Galen.


Uhuk uhuk...


Sherena yang kaget tersedak kuah bakso yang sedang ia seruput. Zio menepuk bahu Sherena dan memberinya minum.


"Kenapa? Ngga bisa gitu dong. Enak aja! Zia tuh center nya, susah nyari center yang kaya Zia," protes Sherena yang membuat Zia jadi tidak enak hati.


"Katanya ngga ngekang Zia, tapi ngga bolehin Zia ikut Chers. Sama aja ngekang kalau kaya gitu," cerocos Sherena yang tidak terima Zia keluar dari Chers.


"Ngga gitu Sher, ini Zia sendiri kok yang mau keluar," bohong Zia yang pada dasarnya tidak pandai berbohong, jadi semua dengan mudah tau Zia berbohong.


"Ngga usah belain Zidan. Gue tau lo semangat banget setiap latihan, lo juga suka chers dari kelas sepuluh kan," ucap Sherena yang sudah mulai emosi, Zio berusaha menenangkan Sherena dengan mengusap lengan gadisnya.


"Kenapa Dan?" tanya Zio yang juga ingin mengetahui alasan Zidan.


"Zia hamil," ucap Zidan yang membuat semuanya membulatkan mata kaget.


"Ngga usah ngarang lo, kan katanya waktu itu negatif," ucap Zio tidak percaya.

__ADS_1


"Serius, yang waktu itu salah," jawab Zidan jujur.


"Iya, tadi di cek lagi positif," timpal Zia mengeluarkan tespack dari saku hodienya.


Sherena mengambil tespack itu dan seketika terduduk lemas saat garis dua yang ia lihat.


"Yang ini kali yang salah?" timpal Dyu menunjuk tespack di tangan Sherena.


"Ya masa salah. Yang ngecek aja dokter kandungan langsung, bunda gue malah. Bahkan udah di USG," ucap Zidan sembari terus memakan baksonya. Mengabaikan respon berbeda setiap temannya.


"Calon papa baru nih!" ucap Galen menepuk bahu Zidan.


"Kan gue bilang juga apa Zi, gue udah curiga soalnya," ucap Keyna yang hanya diangguki Zia.


"Yah Zia harus banget keluar nih dari Chers?" tanya Sherena dengan nada kecewa.


"Harus. Nanti kalo Zia lagi diangkat jatuh gimana, atau waktu dilempar yang nangkep ngga siap gimana? Ataupun kalo Zia dibawah juga ngga boleh angkat berat-berat," ucap Zidan sambil menunjuk Sherena dengan garpu yang diujungnya ada bakso, kemudian melahapnya.


"Posesif amat calon bapak," canda Dyu disertai kekehan.


"Zia mau muntah," ucap Zia dengan tangan yang membekap mulutnya, semua atensi mengarah pada Zia, Zidan dengan cepat mengambil kantong kresek di saku jaketnya, ia memang selalu membawannya jika pergi bersama Zia sejak Zia sering mual.


Huek.. Huekk..


Tangan kanan Zidan memegang kantong kresek sedangkan yang satunya mencoba mengurut tengkuk Zia. Keyna membantu mengumpulkan rambut Zia, sedangkan Sherena mengelus punggung Zia.


Zidan yang teringat ucapan Bundanya tadi siang, langsung memindahkan tangan yang sedang mengurut tengkuk menjadi masuk ke dalam hodie Zia dan mengelus perut Zia perlahan. Perlahan Zia berhenti muntah, Zia tengah mengatur napasnya saat Keyna mengelap keringat di dahinya. Zidan berhenti mengelus perut Zia kemudian mengikat kantong kresek itu dan membuangnya di tempat sampah.


Keyna duduk di samping Zia dan dan memberi Zia minum, Zidan sedang menghaluskan obat pereda mual di dapur basecamp.


"Nih minum dulu," ucap Zidan duduk di sebelah Zia dan menyodorkan sendok berisi obat yang sudah dicairkan ke depan mulut Zia. Zia membuka mulutnya dan saat obat itu sampai di lidah dan tenggorokan, Zia memejamkan matanya karena pahit kemudian kembali meminum air yang Keyna berikan.


"Elusin lagi," pinta Zia mengambil tangan Zidan dan meletakkannya di atas perut ratanya. Zidan menurutinya, tangan calon ayah itu dengan perlahan mengusap perut Zia. Zia meletakkan kepalanya di atas meja lalu memejamkan matanya, tubuhnya selalu lemas setelah muntah.


"Sesulit itu ya hamil?" tanya Sherena saat sedari tadi memperhatikan Zia.


°°°°


SIAPA SI SEBENARNYA PELAKU YANG MEMBUAT ZIDAN DAN ZIA SEPERTI INI? KALIAN BISA TEBAK NGGA?


GIMANA SAMA BAB INI?

__ADS_1


SUKA NGGAK?


__ADS_2