
Setelah menghabiskan waktu dua hari penuh di puncak, di hari Minggu siang ini mereka sudah harus kembali ke Jakarta.
"Mama.... Alin mau ikut...." rengek Arin menarik-narik tangan Keyna.
Galen yang melihat itu sebenarnya tidak tega, tapi tidak mungkin mereka membawa Arin ke Jakarta.
Keyna pun terus membujuk Arin agar mau ditinggal. Lumayan sulit sampai harus dibantu Galen, karena memang sudah dua hari penuh ia menghabiskan waktu bersama anak angkatnya itu.
Arin berhasil dibujuk Galen karena Keyna menyerah dan malah ikut meneteskan air matanya karena tidak tega melihat Arin yang sangat ingin ikut bersamanya.
Akhirnya mereka mengakhiri liburan singkat kali ini dan kembali ke rumah masing-masing.
"Langsung istirahat ya," kata Zidan saat memasuki kamar.
Zia mengangguk lalu mendudukkan dirinya di tepi kasur. Sedangkan Zidan tampak sibuk mengeluarkan baju-baju kotor dari dalam koper.
Shhh...
Zidan menoleh pada Zia yang baru saja meringis pelan, "Kenapa?"
" Babynya nendang," jawab Zia sembari mengusap perutnya.
Zidan pun mendekati Zia dan ikut mengusap perut istrinya itu yang justru membuat baby di perut Zia menendang lebih keras.
Dug! Dug!
"Udah ah, kamu jangan pegang pegang, nendangnya tambah brutal kalo dipegang kamu," kata Zia sembari menjauhkan tangan Zidan dari perutnya.
Zidan terkekeh lalu mencium perut Zia kemudian berbisik di sana, "Lagi latian berantem ya di dalem? Nanti aja kalo udah lahir papa ajarin."
"Nggak! anak aku ngga suka berantem kaya kamu," elak Zia dengan cepat.
__ADS_1
"Mana tau... Kan aku papanya, ngga jauh jauh pasti mirip," kata Zidan yang sudah duduk di sebelah Zia.
"Berarti kalo babynya cewek mau kamu ajarin berantem juga?" tanya Zia membuat Zidan terdiam. Niatnya memang baik cowok maupun cewek nanti akan tetap ia bekali ilmu bela diri, tapi.... tapi kalo anaknya seimut dan semenggemaskan Zia, apa dia tega melatihnya dengan keras.
"Ya... tergantung nanti ajaa," jawab Zidan yang menjadi bimbang sendiri.
"Aku mau curhat," kata Zia tiba-tiba. Zidan pun dengan cepat mengiyakan, jarang-jarang istrinya ini mau mengungkapkan apa yang dirasakannya tanpa diminta.
"Sok atuh..."
Zia membenarkan posisi duduknya menjadi bersandar ke Zidan sebelum ia menceritakan kegelisahannya. Intinya mencari tempat ternyamannya.
"Kan adik aku perempuan. Pasti papa sayang banget sama adik," kata Zia.
Zidan mengangguk sembari mengusap kepala Zia yang berada di dadanya, "Terus?"
"Apa masih mungkin papa terima aku jadi anaknya lagi? Kan udah ada adik cewek yang gantiin posisi aku di rumah," cerita Zia yang tanpa permisi air matanya jatuh begitu saja. Sejak mendapat kabar dari Bunda saat di puncak, Zia entah kenapa selalu berpikir ke arah sana.
Zidan yang memgerti akan kegelisahan Zia pun meletakkan dagunya di atas kepala Zia, "Mungkin lah. Kan kamu juga anaknya, kalaupun ngga diterima juga kamu harus ikhlas yaa. Kamu kan sekarang udah ada di keluarga yang nerima kamu di sini."
"Udah.... Marahnya papa kamu juga pasti aja ujungnya kok. Suatu saat nanti juga papa kamu bakalan nerima kamu lagi, sabar yaa." Dengan lembut dan penuh pengertian, Zidan memberikan kalimat penenang itu.
"Kalau aku mau mama sama papa dateng pas acara tujuh bulanan lusa boleh?" tanya Zia di tengah tangisnya.
Mendengar itu, Zidan melepaskan pelukannya lalu memegang kedua bahu Zia, "Sama aku boleh, boleh banget malah. Tapi mama kamu baru aja lahiran, ngga mungkin kan kalo keluar rumah. Dan untuk papa kamu... Aku ngga bisa janji."
Perkataan Zidan membuat bibir Zia semakin melengkung ke bawah, tersirat sekali kekecewaan di wajah imutnya.
"Kalo ngga bisa pas tujuh bulanan, pas lahiran aja gimana? Aku pengen ada orangtua aku yang dukung aku, yang ikut kuatin aku ngelawan rasa sakit ngelahirin nanti," ucap Zia lagi yang sangat berharap keinginannya bisa terkabul.
"Coba nanti ya... Aku usahain biar mereka ada pas lahiran kamu." Zidan meyakinkan Zia sekaligus memberikan semangat untuk dirinya sendiri agar lebih cepat menuntaskan kasus Willy. Mungkin dengan kebenaran itu terungkap, mertuanya akan membuka pintu rumahnya dan membuka hatinya lagi untuk anak perempuan yang sudah dia campakkan. Semoga saja.
__ADS_1
"Kalau ngga ada pun kamu harus tetep semangat yaa. Ada aku, ada Bunda, asa Zio, sama yang lain juga yang selalu ada buat kamu nanti," bujuk Zidan tapi tidak dibalas anggukan ataupun gelengan dari Zia. Zidan memakluminya karena memang yang diinginkan Zia sebenarnya sepele, tapi memiliki arti yang luar biasa untuk kekuatan psikis Zia saat persalinan nanti.
"Iya nggapapa," jawab Zia setelah beberapa detik terdiam. Zia harus bisa belajar menerima keadaan dan tidak terlalu larut dalam masalah.
"Aku mau minta sesuatu lagi boleh ngga?" tanya Zia dengan kepala tertunduk dan jari yang saling memilin menandakan bahwa ia ragu dengan permintaan yang diinginkannya.
"Boleh, apapun bakal aku usahain buat kamu, sebisa aku," jawab Zidan membuat Zia mendongakkan kepalanya dan mereka saling tatap.
"Aku mau liat adik, mau ketemu juga sama mama," kata Zia mengungkapkan keinginannya.
"Emmm... Habis tujuh bulanan kita coba ke rumah orangtua kamu, tapi siang aja biar papa kamu ngga di rumah," ucap Zidan membuat Zia tersenyum lalu memeluk tubuhnya. Zidan tidak ingin besok karena takut mempengaruhi kesehatan Zia di hari syukuran tujuh bulanan lusa.
"Makasih banyak banyak..." kata Zia di dalam pelukan Zidan. Zidan mengangguk lalu mengusap air mata Zia setelah pelukan mereka terurai.
"Udah jangan sedih sedih lagi dong... nanti babynya ikutan sedih," ucap Zidan membuat Zia langsung nyengir lebar.
Tok... Tok... Tok...
"Zidan, Zia, makan dulu." Teriakan dari sang bunda membuat mereka menjawab dengan serempak.
"Iya Bunda."
Zidan dan Zia pun turun ke lantai bawah untuk makan. Di ruang makan sudah ada Bunda Dian dan Ayah Dimas yang keduanya sama sama libur.
Selama makan mereka membicarakan bagaimana liburan Zidan dan Zia di puncak. Dengan semangat dan seperti anak kecil, Zia menceritakan semua yang menyenangkan. Zia selalu tersenyum dan tertawa selama bercerita. Sementara Zidan, calon papa itu hanya menambahi ucapan Zia dan lebih memperhatikan senyum istrinya. Padahal tadi baru saja selesai menangis.
Zia sekarang berpikir, sudah sepantasnya ia bersyukur. Walaupun tidak diterima oleh papanya sendiri, tapi dia diterima sebagai menantu di rumah ini dengan sangat baik. Hingga muncul harapan di hatinya, agar sang papa bisa bijak juga seperti sang papa mertua.
¤¤¤¤¤
Hai hai haiiiii 👋
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah dan follow yaa♥♥...
Terima kasih🙏... Bye bye👋👋