Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
75. I LOVE YOU


__ADS_3

Setelah para sahabat mereka pulang, Zidan dan Zia kini tengah duduk di atas kasur mereka. Zidan yang sibuk bermain dengan perut Zia dan Zia yang sibuk membaca buku tentang kehamilan.


"Aku penasaran dia cewek apa cowok ya?" tanya Zidan sembari menempelkan kepalanya pada perut buncit Zia.


"Kan kamu sendiri yang ngga mau liat jenis kelaminnya pas USG, ya tunggu aja sampe lahir nanti," jawab Zia yang masih terfokus pada buku di tangannya.


"Tiga bulan lagi Zi, ngga kerasa ya udah mau lahiran aja," kata Zidan yang sudah menegakkan kepalanya dan menatap Zia.


Zia membalas tatapan Zidan dengan tatapan yang berbeda, tatapan itu menggambarkan takutnya Zia akan melahirkan nanti.


"Kok ngga seneng gitu mukanya?" heran Zidan saat melihat raut wajah Zia.


"Aku takut. Semakin aku cari tau, semakin aku tau juga kalo melahirkan itu sakitnya banget banget, bahkan ada yang bilang rasanya kaya dua puluh tulang yang patah secara bersamaan. Kebayang ngga sih kaya apa sakitnya," cerita Zia sembari menutup buku yang ia baca..


Zidan mengelus bahu Zia, mereka sudah pernah membahasnya tapi Zia masih saja takut. Wajar sih, ini pengalaman pertama Zia dan di usia yang seharusnya belum merasakan sakitnya melahirkan.


"Kan sekarang kita udah ngga kaya dulu, finansial kita udah membaik. Kalau kamu ngga mau normal, caesar juga nggapapa. Apapun mau kamu aku bakal turutin deh," ucap Zidan yang mencoba memahami apa mau Zia.


Namun Zia malah menggelengkan kepalanya saat mendapat tawaran operasi caesar dari Zidan. "Zia pengennya normal, tapi takut aja sama rasa sakitnya."


"Ya udah, liat nanti aja ya. Sekarang aku boleh ngga nih jengukin baby?" tanya Zidan yang berusaha mengalihkan pembicaraan sekaligus mencari kesempatan.


"Boleh. Kan tadi pagi aku udah bilang, malah aku tadi lupa." Zia dengan lugunya mengiyakan ajakan Zidan.


"Oke," kata Zidan sembari membantu Zia merebahkan tubuhnya. Zia yang taunya itu adalah cara agar bisa menjenguk baby pun hanya bisa menurut.


Zidan sekarang mendekatkan wajahnya pada wajah Zia. "Ciuman dulu," katanya yang diangguki Zia. Zidan menumpukan tangannya di bantal di samping kepala Zia.


Zidan memiringkan kepalanya agar memudahkannya memulai aksi selanjutnya. Saat bibir Zidan menempel pada bibir Zia, dengan perlahan Zidan ******* bibir Zia sampai Zia membuka mulutnya dan mereka saling mengabsen isi mulut masing-masing. Dalam hal ini Zia sudah lumayan, setidaknya Zia bisa membalas dengan baik.


Selama beberapa menit mereka melakukan itu, sampai saat Zia mulai kehabisan napas dan menepuk nepuk punggung Zidan membuat Zidan menghentikan aksinya.


Melihat Zia yang masih 'ngos ngosan' tidak membuat Zidan berhenti, malahan Zidan kini beralih pada leher mulus Zia.


Suara khas yang itu kembali tanpa sengaja Zia keluarkan, sungguh Zia tidak tau kenapa mulutnya bisa mengeluarkan bunyi seperti itu.


Mendengar itu membuat Zidan semakin gencar bermain pada leher Zia, hingga lama kelamaan turun ke bahu hingga buah dad* milik istrinya itu.

__ADS_1


"Ngapain?" tanya Zia yang melihat Zidan melepas kancing teratas piyama tidurnya.


Zidan tidak menjawab malah terus melepas kancing itu sampai semuanya terpelas. "Kamu cukup diem dan nikmati."


Zia yang merasakan tubuhnya menikmati aksi Zidan hanya mengangguk dan membiarkan Zidan melakukannya, hingga tanpa butuh waktu yang lama tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benang pun.


Pastinya itu ulah Zidan yang sudah tidak bisa mengontrol nafsunya, sudah lama juga ia menahan hasrat ini.


Jangan tanya Zidan mengetahui hal seperti ini dari siapa, karena memiliki teman seperti Dyu membuatnya kadang khilaf dan terpengaruh. Tapi berkat Dyu, Zidan bisa melakukannya.


Lampu kamar sudah Zidan matikan, mengantisipasi jika Zia trauma akan kejadian malam itu. Tapi sepertinya tidak, terlihat dari Zia yang selalu menikmati setiap sentuhan yang Zidan berikan.


Selanjutnya hanya mereka dan Tuhan yang tau, intinya hanya ada gerakan gerakan di bawah selimut dalam kegelapan malam.


(Mohon maaf untuk adegan dewasa aku ngga bisa lebih dari ini, terima kasih.)


°°°°°°°°


"Jadi gitu caranya Zidan jengukin baby?" tanya Zia saat mereka telah selesai dengan itu itu mereka, tepatnya dini hari. Zia hanya menyembulkan kepalanya karena tubuhnya masih dalam keadaan tekanj*ng.


"Aneh, tapi Zia suka. Tapi Zia ngga sukanya waktu yang kaya batang batang itu masuk, rasanya sakit walaupun cuma sebentar sakitnya." Zia mengucapkan itu dengan entengnya, padahal biasanya pasangan lain akan canggung membahas benda pusaka itu.


"Kalo udah sering ngga bakalan sakit kok, punya kamu juga sempit jadinya lumayan susah masuknya," kata Zidan sangat ambigu. (Ya Allah aku nulis apaan 😭)


Kini Zidan merebahkan dirinya dan mengusap perut Zia tanpa halangan apapun, "Sakit ngga?"


Zia menggelengkan kepalanya membuat Zidan bernapas lega, tadi ia sungguh kalut dan takut itu akan mengguncang dia yang di dalam sana.


"Zia," panggil Zidan dengan tangan yang menggenggam tangan Zia, Zia yang dipanggil pun merubah posisi tidurnya menjadi miring kiri dengan perlahan.


"Iya?"


"Aku mau bilang sesuatu sama kamu, ini bukan karena kita abis lakuin hal tadi, tapi aku emang udah pengen bilang ini dari beberapa hari yang lalu." Zidan menjeda ucapannya lalu mengusap pipi Zia lembut membuat Zia memejamkan matanya menikmati usapan itu.


"I love you," bisik Zidan membuat Zia seketika membuka matanya. Zia seakan sedang bermimpi saat mendengar tiga kata penuh makna tersebut.


"Really?" tanya Zia yang masih belum percaya. Zidan mengangguk dengan yakin.

__ADS_1


Kedua mata mereka saling tatap dengan tatapan yang baru.


"Kalau kamu belum bisa balas nggapapa kok, aku paham kamu juga butuh waktu buat paham apa itu cinta," kata Zidan saat Zia tidak bersuara lagi.


"Sejak kapan?" tanya Zia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ngga tau, tapi aku yakin kalau aku udah bener-bener cinta sama kamu, aku yakin rasa ini ngga salah lagi. Aku juga ngga mungkin minta hak aku disaat hati aku bukan buat kamu," ujar Zidan sungguh-sungguh.


"Ayra?" Zia malah masih menganggap Zidan mencintai mantannya itu.


Zidan menggelengkan kepalanya. "Setelah ketemu Ayra dan suaminya waktu itu, aku ngga ngerasain sakit hati sedikitpun. Aku cuma kaget dan kecewa aja, selebihnya ngga ada rasa cemburu atau apapun itu."


Zia meneteskan air matanya, akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Ko nangis?" tanya Zidan dengan lembut.


Zia tersenyum sembari menghapus air matanya, "Aku ngga tau mau ngomong apa."


"Akhirnya cinta aku ngga bertepuk sebelah tangan," lanjut Zia yang kini mrmbuat Zidan terdiam.


"Ka-Kamu?" Zia mengangguk saat tau apa yang dimaksud Zidan.


"Kamu udah paham apa itu cinta?" yanya Zidan yang tidak ingin berharap lebih.


"Aku paham. Aku tau apa itu cinta dari semua perlakuan kamu ke aku dan baby, semua perhatian, kasih sayang, dan tatapan kamu buat aku paham arti cinta itu apa. Dan aku malah ngga tepatin janji buat ngga jatub cinta duluan. Aku udah jatuh cinta seiring waktu yang kita laluin bareng." Zia kini yang mengusap pipi Zidan untuk pertama kalinya.


"Love you more," lanjut Zia membuat Zidan memeluk tubuhnya dalam posisi tiduran. Zia membalas pelukan itu sampai akhirnya mereka tertidur? tidak. Mereka melanjutkan kegiatan tadi karena sudah terlanjur bersentuhan tanpa halangan apapun.


°°°°°°


Nih spesial buat kalian semua... ♥


Maaf ya karena kemarin ngga sempet buat update.🙏


Jangan lupa kasih like, komen, vote, juga hadiah yang spesial untuk part yang spesial ini. ♥♥


Bye bye👋👋

__ADS_1


__ADS_2