Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
128. Setelah 42 Hari


__ADS_3

Sherena, Keyna, dan Ayra sudah menyelesaikan ulangannya. Kini ketiga perempuan itu menghampiri Zia dan Zavian di kamar Zavian.


"Guru tadi ngomel-ngomel tau Zi," ujar Sherena sembari duduk di tepi kasur.


"Nggapapa. Yang penting anak Zia nggak nangis lagi," jawab Zia dengan santainya.


"Iya bener banget. Harus gitu sih emang," timpal Ayra yang sebentar lagi akan merasakan apa yang Zia rasakan, pasti ikut sedih saat mendengar tangisan anaknya sendiri.


"Gue tadi merhatiin lo tau Zi waktu Zavian nangis. Gue kira lo masih mau ngerjain aja, ternyata lo ambil keputusan terbaik sebagai ibu, bukan sebagai pelajar," kata Keyna.


Zia tersenyum, "Zia nggak tega dengernya. Jadi ya udah nilai Zia biarin aja jelek yang penting Zavian dulu."


"Bangga deh kita sama lo, sahabat polos kita udah lebih keibuan," ujar Sherena yang diangguki Keyna dan Ayra.


"Kan Zia emang udah jadi ibu, kalo Zia terus ngelanjutin ulangan tadi dan malah biarin Zavian, nanti Zia sendiri yang merasa bersalah," ungkap Zia.


"Bener sih. Kalo nilainya jelek bisa remidial sama gue nanti," kata Sherena yang sudah


percaya diri kalau nilainya jelek.


"Jangan sama mereka berdua, pasti nilai sempurna," bisik Sherena pada Zia, tapi dengan suara yang masih bisa didengar Ayra dan Keyna.


Zia terkekeh sembari mengangguk, sedangnya Ayra dan Keyna sudah mendengus. Ya walaupun benar sih, jarang keduanya remidial, bahkan sepertinya tidak pernah.


Mereka mengobrol sebentar kemudian makan siang bersama. Bunda Dian selalu meminta agar bibi memasakkan makan siang untuk mereka, jadi tidak enak jika tidak dimakan dan langsung pulang.


"Zavian sama gue sini," ujar Keyna saat mereka akan makan siang. Zia memberikan Zavian pada Aunty-nya. Memang kalau makan siang Zavian dibawa karena takut menangis, dan yang menggendong pun bergantian setiap hari. Tergantung siapa yang ingin menggendong baby keturunan anak Atlansa yang pertama itu.


"The next generation Atlansa nih," celetuk Keyna saat makan sembari menggendong Zavian. Hanya orang-orang tertentu yang akan melihat sisi ini, kebanyakan orang akan melihat Keyna sebagai cewek tegas, pemberani, dan tidak bisa dilawan.


"Ratunya udah berkata nih, pasti jadi," sahut Sherena.


"Nggak harus, tergantung Zavian nanti aja. Kalo nggak mau ya jangan dipaksa," kata Keyna yang diangguki Zia.


Zia awalnya tidak enak karena mereka bergantian menggendong Zavian saat makan, tapi mereka meyakinkan bahwa mereka suka melakukan itu. Maka Zia mengizinkan kalau Zavian tidak meminta ASI.


¤¤¤¤¤


"Gimana ulangannya?" tanya Zidan begitu ia pulang sekolah. Para sahabat Zia sudah pulang tadi.

__ADS_1


Zia mengerucutkan bibirnya, "Susah."


Zidan terkekeh, sembari mengusap kepala Zia, "Tapi diisi semua kan?"


Zia menggelengkan kepalanya, "Masih kurang beberapa tapi Zavian nangis," ceritanya.


"Kamu tinggalin ulangannya?" tanya Zidan yang diangguki Zia. Tangan Zidan meminta untuk menggendong Zavian karena dirinya sudah ganti baju.


Zia mengangguk sembari memberikan Zavian ke papanya. "Daripada Zavian nangis terus, sepuluh menit itu lama."


Zidan mendekati Zia lalu mengecup dahinya. "Makasih udah jadi ibu terbaik buat Zavian."


"Masih banyak kurangnya tauuu... Aku masih harus belajar lagi," jawab Zia yang mulai menyiapkan baju untuk Zidan ke kantor.


"Kita belajar bareng," kata Zidan sembari bermain dengan Zavian yang sudah tersenyum jika diajak berbicara.


"Kamu sendiri gimana? Padahal belajarnya lebih sering aku, tapi pasti kamu yang lebih besar nilainya," kata Zia yang tengah memilih kemeja yang menurutnya cocok untuk Zidan pakai hari ini.


"Nilai kan cuma angka, yang penting gimana kita paham dan nerapin ilmu yang udah didapet, berapapun nilai kamu nanti, kamu udah yang terbaik, bukan sebagai siswa tapi sebagai ibu," ujar Zidan yang tidak mau Zia hanya mengukur kemampuan hanya dari sebuah nilai.


Zia mengangguk, Zidan selalu saja bisa membuatnya berpikir lebih baik lagi.


¤¤¤¤¤


Malam harinya.


Zia menatap Zidan yang tampak begitu sumringah saat baru saja selesai mandi. Sebentar-sebentar senyum, membuat Zia bingung.


"Kenapa sih kamu?" tanya Zia sembari meletakkan Zavian di kasurnya karena sudah tidur.


"Udah 42 hari loh, kamu lupa?" tanya Zidan dengan ekspresi menggoda, alisnya saja dinaik-turunkan dengan cepat.


Zia menghela napas, "Ya udah iya."


Zidan tanpa basa basi lagi langsung membawa Zia ke ranjang mereka. Tidak bisa dibohongi, keduanya sama-sama ingin melakukan itu, Zia yang tadi tampak pasrah saja sekarang sudah tersenyum.


"Kan belum tanya KB ke Bunda," kata Zia sembari menutup bibir Zidan yang akan menyentuh bibirnya.


"Aku udah. Udah dikasih obatnya tinggal minum kalo abis berhubungan, kata bunda," ucap Zidan lalu mulai menyerang bibir Zia.

__ADS_1


Sejatinya memang sebuah kebutuhan, Zia tidak menolak, apalagi ia sudah pandai menyeimbangkan permainan Zidan.


"Udah siap?" tanya Zidan setelah ia membaca doa. Doa yang wajib ia ucapkan sebelum memulai bermainnya.


Zia mengangguk, "Selalu siap."


Zidan yang memang sudah berpuasa cukup lama, sepertinya hampir dua bulan, kini memuaskan dirinya, bukan hanya dirinya karena Zia juga sama-sama menikmati.


Ronde pertama aman.


"Lagi ya?" minta Zidan yang tantu saja diangguki oleh Zia.


Zidan kembali memulai untuk kedua kalinya, karena lama tidak melakukan itu, Zidan merasa ingin lagi dan lagi.


Ronde kedua selesai, dan masih aman.


Tanpa meminta persetujuan, Zidan akan melakukan ronde ke tiganya. Namun, sepertinya semesta sedang tidak berpihak padanya.


Oekk.. Oekk...


Zia yang awalnya sedang menikamti sentuhan Zidan secara spontan mendorong dada Zidan agar berhenti. "Ngalah! anaknya nangis," kata Zia pada Zidan.


Dengan amat sangat terpaksa, Zidan bangkit dari atas Zia lalu menggulingkan tubuhnya ke samping. Sementara itu, Zia langsung mengambil baju yang tergeletak di lantai dan memakainya dengan cepat, tidak ingin Zavian menangis terlalu lama.


"Sebentar sayang," kata Zia yang buru-buru memakai bajunya. Setelah semua terpasang, Zia segera mengambil Zavian dari kasurnya yang tepat berada di sebelahnya.


"Cup... cup... cup... basah, udah ngompol tenyata anak mama," kata Zia sembari menepuk-nepuk ****** Zavian.


Zidan walaupun masih kesal dengan Zavian, tetap saja ia mengambilkan popok baru. "Cepet tidur lagi ya," katanya.


Zia tersenyum tipis, pasti Zidan masih belum terima aktivitasnya diganggu Zavian.


"Itu papa pinjemin sebentar, nanti papa minta lagi," kata Zidan lagi saat Zavian tengah menyus*.


"Zidan," peringat Zia. Masa berbicara tidak baik pada anak sendiri.


Zidan tidak menjawab, ia hanya kembali berbaring miring sembari memperhatikan Zavian yang tengah asyik dengan sumber makanannya.


"Udah tidur tuh. Taroh lagi, kita lanjut," kata Zidan saat mata Zavian sudah terpejam. Zia melirik ke Zidan sebentar lalu menuruti perkataan sang suami.

__ADS_1


"Nggak sabaran papa kamu," kata Zia sembari membaringkan Zavian dengan perlahan.


__ADS_2