
"Kita ada PR ngga hari ini?" tanya Sherena pada Zia dan Keyna. Mereka baru saja sampai di kelas.
"Ngga ada," jawab Keyna sembari duduk di kursinya.
"Lo kenapa Zi? Kok pucet gitu?" tanya Sherena yang melihat keadaan Zia yang lemas dan bibir yang pucat.
Zia menggelengkan kepala sembari tersenyum, "morning sicknessnya tadi lama," jawab Zia berbisik, takut siswa lain di kelasnya mendengar.
Sherena dan Keyna mengangguk, mereka membiarkan Zia menidurkan kepalanya di meja. Keduanya menatap iba pada sahabat terimut dan terpolosnya itu, yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Lo udah diceritain Galen kan Key? Tentang Ayra?" Keyna mengangguk, ia bahkan sudah tau sebelum Galen bercerita.
"Udah. Tapi kita ngga boleh bareng-bareng dulu sama Ayra, nunggu pelakunya ketemu baru kita deketin Ayra," jawab Keyna dengan lirih, agar tidak mengganggu Zia.
"Iya, Zio juga bilang gitu. Susah ya kalo dari keluarga yang banyak konspirasinya kaya Ayra," ujar Sherena yang diangguki Keyna.
Saat mereka sedang membicarakan Ayra, tiba-tiba Zia beranjak dan berlari dengan terburu-buru keluar dari kelas. Keyna dan Sherena mengikutinya karena khawatir.
"Eh! Mau kemana Zi?"
Ternyata Zia ke kamar mandi, Zia kembali merasakan mual yang tadi pagi menyerangnya.
Huek... Huekk...
Keyna segera mengunci pintu kamar mandi agar tidak ada yang bisa masuk. Juga meredam suara Zia yang tengah muntah. Sherena membantu mengurut tengkuk dan mengumpulkan rambut Zia.
"Key, gimana nih? Zia ngga berhenti-berhenti muntahnya," panik Sherena setelah sepuluh menit Zia terus muntah.
Keyna juga ikut panik, ia mengusap pelipis Zia yang berkeringat, apalagi Zia bilang sakit di sela-sela muntahnya. "Gue panggil Zidan, lo di sini dulu," ucap Keyna berlari keluar dari kamar mandi.
Keyna izin pada guru yang mengajar di kelas Zidan, karena Keyna termasuk dalam murid kesayangan guru, dengan mudah ia membawa Zidan keluar dari kelas.
"Udah?" tanya Zidan, Zia menggeleng lalu kembali memuntahkan isi perutnya. Hanya air karena isinya sudah keluar sejak tadi.
Zidan menghela napasnya. Ia sudah mengusap perut Zia tapi Zia tidak berhenti memuntahkan cairan bening, membuat Zidan sangat khawatir. Tidak biasanya Zia muntah se lama ini.
"Ugh! Capek....huek.. Huek," lirih Zia lalu kembali muntah dengan tubuh yang sudah ditopang sepenuhnya oleh Zidan. Zia sudah sangat lemas, tapi mualnya tidak kunjung reda. Hingga kesadarannya menurun, dan akhirnya pingsan.
__ADS_1
"Zia.. Zi.. Bangun Zi!" Zidan tambah panik saat Zia luruh di dekapannya, dan tidak mau membuka mata. Zidan memangku tubuh Zia sembari terus mencoba membangunkan Zia dengan menepuk pipi Zia.
"Bawa ke rumah sakit," ucap Keyna panik, Zidan mengangkat tubuh lemah Zia dan membopongnya diikuti Sherena dan Keyna yang tidak kalah paniknya.
Beruntung hari ini Sherena membawa mobil, dengan tergesa-gesa ia membuka pintu belakang mobilnya memudahkan Zidan masuk bersama Zia.
Keyna duduk di samping kemudi dengan Sherena yang menyetir mobil. Di kursi belakang Zidan terus berusaha membangunkan Zia. Keyna berinisiatif menghubungi Dokter Dian, mertua Zia.
Sesampainya di rumah sakit, Zia dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Zidan duduk dengan lemas di kursi tunggu di sampingnya ada Keyna dan Sherena yang berusaha menenangkan Zidan.
Saat Dokter Dian, alias bunda nya Zidan keluar dari ruang pemeriksaan, Zidan seketika berdiri dan menghampiri sang bunda.
"Zia gimana Bun?" tanya Zidan kawatir.
"Zia dehidrasi, karena muntah yang berlebihan dan Zia belum makan? Iya?" Zidan mengangguk. Tadi pagi Zia menolak sarapan, dan berkata akan makan di sekolah. Ternyata Zia belum memakan bekalnya.
"Zia mau dipindahin ke ruang rawat, bunda urus dulu administrasinya," ucap Bunda Dian akan beranjak, tapi Zidan menahannya.
"Zidan aja Bun." Zidan merasa tidak enak, setiap Zia masuk rumah sakit pasti bunda yang bayar.
"Ada?" Zidan mengangguk, ia akan menggunakan uang tabungan mereka terlebih dahulu. Yang penting ia tidak merepotkan sang bunda terus-terusan.
"Kalian ada bawa duit lebih? Gue ada tapi di rumah. Kelamaan kalo ambil dulu. Gue pinjem, nanti siang langsung dikembaliin." Sherena dan Keyna mengangguk. Mereka tidak mungkin tidak membawa uang lebih, bahkan setiap hari atm selalu nemplok di balik casing ponsel.
"Lo di sini aja, biar kita yang urus administrasinya," ucap Keyna mengajak Sherena ke bagian administrasi.
Beberapa waktu kemudian, Zia sudah dipindahkan ke ruang rawat, dan Zia sudah sadar meskipun masih lemah.
Keyna sudah izin ke pihak sekolah, dan mengatakan bahwa Zia masuk rumah sakit.
"Makan ya?" tawar Zidan lembut, Zia kembali menggeleng. Zia tidak nafsu makan.
Keyna yang melihat itu ikut berusaha membujuk. "Zia, dengerin gue," ucap Keyna menggenggam tangan Zia yang tengah menatapnya.
"Lo ngga pengin makan kan?" Zia kembali menggeleng. "Tapi anak yang di perut lo butuh makan, Lo ngga makan kok. Yang makan dia, cuma karena dia di perut lo, jadinya harus lo yang makan."
"Tapi Zia ngga pengin makan," lirih Zia.
__ADS_1
"Lo ngga makan kok. Yang makan anak lo, tapi lewatnya mulut Zia," bujuk Keyna terus menerus, hingga akhirnya Zia mau makan.
"Nih. Aaaa..." Zia membuka mulutnya saat Zidan menyodorkan sesendok nasi.
"Zia ngga makan kan?" tanya Zia padahal dirinya sedang mengunyah. Zidan, Keyna dan Sherena menggeleng.
"Engga Zia," jawab Zidan. Sherena ingin tertawa karena tingkah Zia, tapi ia menahannya.
"Udah! Zia mau tidur," ucap Zia saat suapan ke enamnya. Zidan mengangguk lalu membiarkan Zia tidur.
Zidan pamit pulang untuk mengambil uang. Sherena dan Keyna menunggu Zia yang tertidur, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol.
"Key, biayanya cuma segini?" tanya Zidan saat membaca rincian pembiayaan. Keyna mengangguk.
" Dokter Dian ngga mau dibayar," ujar Keyna santai. Tadi memang Dokter Dian bilang supaya hanya membayar infus dan perawatan lainnya.
Zidan tau bundanya itu memang sangat baik, bahkan diantara semua orang tua Zia dan Zidan. Bunda Dian lah yang pertama memaafkan mereka, Bunda Dian juga sudah memberikan jadwal cek up Zia, dan dia sendiri yang akan menangani Zia dari hamil sampai melahirkan nanti.
Zidan harus banyak banyak berterima kasih pada bundanya. Uang tabungan mereka jadi tidak dipakai seluruhnya.
Di siang hari, Galen dan yang lain datang dengan membawa tas Keyna, Zio membawa tas Sherena dan Zia, serta Langit membawakan tas Zidan.
"Zia kenapa?" tanya Langit sata mereka sudah di dalam ruang rawat Zia. Basa-basi karena mereka sudah tau dari Keyna tadi.
"Dehidrasi," jawab singkat Zidan.
Mereka mengangguk. Dyu meletakkan buah yang mereka beli tadi di meja sebelah ranjang Zia.
"Dimakan ya Zi, biar ponakan kita sehat," ucapnya, Zia mengangguk dan tersenyum walau bibirnya masih sedikit pucat.
"Zia mau apelnya," ucap Zia menoleh pada Zidan. Zidan mengangguk dan mengupaskannya. Ia bersyukur Zia mulai meminta makan, sedari tadi Zia hanya makan enam suap nasi.
"Akhirnya Zia mau makan juga," ucap Sherena lega.
"Tadi ngga mau makan?" tanya Zio, dan Sherena mengangguk.
Keyna hanya mengamati Zia dan Zidan, Keyna melihat Zia sudah ketergantungan dengan Zidan, dan Zidan yang selalu perhatian pada Zia. Hanya saja, belum ada tatapan cinta dari keduanya, mereka belum mulai menumbuhkan cinta di dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Likenya jangan lupa 👍