
Zidan dan Zia memasuki rumah setelah pulang dari sekolah. Hari ini pulang lebih sore dari hari-hari biasanya dikarenakan pertandingan basket. Zia langsung merebahkan dirinya di kasur, sedangkan Zidan duduk di tepi kasur.
"Makan dulu. Nanti baru tidur," titah Zidan sembari menepuk lengan Zia. Zia menurutinya, Zia bangun perlahan seperti anjuran bunda mertuanya kemudian dengan masih mengenakan seragam mereka makan bersama dengan menu yang berbeda. Jika Zia menggunakan ayam, lengkap dengan sayur dan lauk lainnya, berbeda dengan Zidan yang makan nasi rames.
Zidan berkata sedang tidak ingin makan seperti Zia, padahal sebenarnya ia ingin berhemat. Makan nasi rames yang hanya dengan sayur sudah cukup baginya, asalkan istri dan anaknya bisa makan enak dan gizinya terpenuhi.
"Zidan mau?" tanya Zia menawarkan ayam di piringnya. Zidan menggeleng, tapi Zia tetap memberinya.
"Buat lo aja Zi," ucap Zidan mengembalikan ayam ke piring Zia.
"Zidan ngga mau? Zidan tambah kurus tauuu," ujar Zia berusaha meletakkan ayam itu di piring Zidan lagi, tapi Zidan memelototinya yang langsung membuat nyalinya menciut. Padahal ia hanya tidak ingin egois, Zia menunduk melanjutkan makannya.
"Habis ini duduk dulu bentar, habis itu tidur. Nanti malem kan harus ke kafe," ucap Zidan di tengah-tengah ia mengunyah. Zia mengangguk dengan semangat, Zia senang Zidan banyak waktu di rumah menemaninya. Ya walaupun ia harus ikut bekerja, tapi Zia bersyukur bisa membantu Zidan.
Jam kerja mereka dimulai pukul setengah tujuh sampai setengah sepuluh malam. Tidak terlalu lama bagi Zidan, tapi bagi Zia cukup membuat pinggang, punggung, dan kakinya pegal. Ibu hamil memang mudah sekali lelah.
Setelah makan bukannya duduk seperti yang Zidan perintahkan, Zia malah mencuci piring dan membereskan rumah. Zidan sudah melarang tapi Zia bilang ini tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga. Terpaksa Zidan mengizinkannya, tentu dengam bantuan dia, niat awal ingin menyelesaikan sendiri malah dibantu Zia. Jadi mereka selesai lebih cepat.
Zia sudah tidur agar nanti malam tidak mengantuk, sedangkan Zidan di belakang rumah tengah merawat tanaman sayur mereka. Tidak terlalu luas, tapi cukup untuk sayur yang hanya dikonsumsi berdua.
°°°°°
"Jika memang ini tak ada harapan
Mengapa aku yang harus jadi tujuan
Saat hatimu terluka, aku yang jadi obatnya
Tanpa pernah kau hargai
Cinta dan kasih yang setulus ini..."
Zia memperhatikan Zidan yang terlihat sangat menjiwai saat bernyanyi, padahal lagu dari Fabio Asher itu tidak mencerminkan keadaan mereka saat ini.
Zidan menyanyi sendiri dengan Zia yang tetap duduk di kursi tinggi di sebelah Zidan yang tengah berdiri.
Suara Zidan membawa semua yang mendengarnya seperti ikut hanyut dalam setiap liriknya. Hal itu juga yang menyebabkan pengunjung semakin ramai. Selain suaranya yang merdu, ketampanan Zidan saat bernyanyi apalagi jika sembari memetik gitar membuat banyak wanita tertarik untuk melihatnya.
Ayra menjadi salah satu diantara banyaknya pengunjung kafe yang menikmati suara Zidan. Lagi dan lagi Zidan melakukan hal yang biasanya hanya ia yang lihat selain ketika lomba untuk sekolah. Zidan sekarang menggunakan itu untuk menafkahi perempuan di sebelah Zidan, padahal dulu Zidan tidak pernah mau bernyanyi di depan umum. Memang ya orang tua rela melakukan apapun untuk anaknya.
__ADS_1
Suara tepuk tangan meriah membuyarkan lamunan Ayra, ternyata Zidan sudah menyelesaikan lagu Rumah Singgah, dan kini giliran Zia.
Mendengar instrumennya saja semua sudah tau lagu apa yang akan Zia nyanyikan.
Berdiri... Ku memutar waktu
Teringat kamu yang dulu
Ada di samping ku setiap hari
Jadi sandaran ternyaman
saat ku lemah saat ku lelah...
Ayra terenyuh dengan lirik lagu yang seperti menggambarkan kisahnya dengan Zidan sekarang. Saat semuanya berakhir tanpa keinginan keduanya, saat keadaan yang memaksa mereka memutus hubungan yang awalnya baik-baik saja.
Mulut Ayra mengikuti setiap lirik tanpa suara, memori antara dirinya dan Zidan seperti berputar kembali di otaknya.
Tersadar... Ku tinggal sendiri
Merenungi semua yang tak mungkin
Ku bahagia tapi semuanya hilang tanpa sebab
Kau hentikan semuanya....
Mata Ayra memanas saat semua liriknya sama dengan kisahnya. Seolah Zia mengajaknya galau, ya padahal emang ia sedang galau. Dadanya terasa sesak, tangannya menjadi dingin. Ternyata perasaanya belum sembuh, luka itu masih ada.
Ayra masih berusaha menerima bahwa orang yang tengah menyanyi sekarang bukan perenggut bahagianya dan bukan yang mengambil Zidannya, mereka adalah korban. Tidak mudah memang, dan yang lebih menyakitkan, itu sahabatnya sendiri.
Terluka dan menangis tapi ku terima
Semua keputusan yang telah kau buat
Satu yang harus kau tau
Ku menanti kau tuk kembali
Tidak kuat. Ayra memilih untuk meninggalkan tempat itu saat air matanya memaksa turun. Rasanya malah semakin sakit dan semakin sesak saat liriknya berlanjut. Dengan berlari Ayra meninggalkan kafe.
__ADS_1
Zidan melihat itu, tapi seperti yang sudah berlalu, ia kembali tidak bisa berbuat apapun. Hatinya juga sama sakitnya mendengar lagu itu, sepertinya yang request lagu tersebut sedang patah hati.
Sesuai dengan judul lagunya. "Tak Ingin Usai"
Zia sudah selesai dan waktunya Zia istirahat sebentar dan memakan bekal yang sudah disiapkan Zidan, rasanya selalu lapar. Padahal Zia baru menyanyikan tiga lagu.
°°°°°
"Tadi ada Ayra, Zidan," ucap Zia saat mereka sedang berbenah akan pulang dari kafe.
Zidan mengangguk, "Nggapapa. jangan dipikirin banget," kata Zidan saat melihat raut wajah bersalah Zia. Zidan mengira bahwa Zia melihat Ayra menangis dan lari tadi.
"Yaudah. yuk pulang, udah malem," ajak Zidan yang dituruti Zia.
Saat di tengah jalan, Zia tiba-tiba merasakan perutnya nyeri. Sepertinya kram karena kedinginan. Zia meremas jaket Zidan.
"Zidan, perut Zia sakit," ucap Zia saat dirasa perutnya bertambah sakit. Zidan yang cemas memberhentikan motornya di pinggir jalan.
"Kenapa?"
"Kram kayanya," jawab Zia sembari meringis, Zia berinisiatif turun dari motor sport Zidan, dan duduk di trotoar.
"Gue harus apa?" panik Zidan ikut turun dari motor kemudian memegang perut Zia. Zidan berjongkok di samping Zia.
"Cariin air anget." Zia mengingat perkataan bunda, jika minum air hangat dapat meredakan kram perut.
"Lo tunggu di sini." Zidan langsung menaiki motornya kembali dan mencari air hangat. Dengan kecepatan tinggi Zidan mengendarai motornya, ia panik melihat Zia kesakitan, apalagi ia tinggal sendirian di pinggir jalan. Zidan berusaha mencari secepat mungkin air hangat tersebut.
Motor Zidan berhenti di sebuah rumah kecil milik kakek dan nenek penjual rujak waktu itu. Dengan tergesa ia minta air itu dari sang kakek yang sedang duduk di depan rumah.
Setelah mendapatkannya Zidan kembali ke tempat ia meninggalkan Zia. Dilihatnya Zia yang tengah mengelus perutnya sembari memejamkan mata erat.
"Nih minum," ucap Zidan membukakan botol berisi air hangat. Zia meminumnya sedikit demi sedikit.
"Udah enakan?" tanya Zidan yang diangguki Zia. Perasaan panik sedari tadi berubah menjadi lega saat Zia sudah tidak lagi kesakitan. Zidan duduk di samping Zia saat Zia masih terus meminum air hangat itu perlahan.
"Kok bisa kram kaya gitu?" Zia hanya menggeleng sembari terus minum. Sisa air itu ia tempelkan pada perut agar semakin reda sakitnya.
"Pijetin punggung Zia boleh?" Zidan mengangguk dan memijat punggung bawah Zia yang katanya sakit. Susah juga ya jadi ibu hamil yang banyak keluhan seperti Zia. Bahkan mereka masih di pinggir jalan.
__ADS_1