Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
79. Petunjuk Baru


__ADS_3

"Gimana?" tanya Galen pada Keyna yang baru saja keluar dari salah satu ruang khusus di basecamp. Ruangan itu adalah ruang pribadi milik Deva yang hanya boleh dimasuki Keyna. Kenapa hanya Keyna? Karena Keyna yang menyandang posisi Angel Atlansa saat itu.


Keyna mengangguk lesu. Melihat wajah sendu milik kekasihnya, Galen pun menuntun Keyna untuk duduk di sofa.


"Kita selama ini terlalu tutup mata sama kasus kematian Kak Dev. Ternyata bener, pelakunya itu Tuan Willy yang pake nama William buat nutupin. Di sana Kak Dev nulis bahwa Tuan Willy ingin menguasai semua perusahaan besar yang memiliki potensi dan perusahaan besar itu salah satunya punya orangtua Kak Dev yang waktu itu udah dialihkan atas nama Kak Dev," cerita Keyna setelah membaca sebuah buku yang berisi tulisan almarhum kekasihnya dulu.


"Berarti Ayra juga dong?" kaget Galen yang diangguki Keyna. Karena memang benar, sekarang perusahaan itu tengah menunggu penerusnya dewasa. Ayrania Dwi Pradipta, gadis 17 tahun itulah satu-satunya harapan mereka dan satu-satunya orang yang tersisa dari keluarga Pradipta, penerus kekayaan yang melimpah itu sedang dalam bahaya.


"Kayanya Ayra ngejauh dari kita selain karena udah nikah juga emang lagi ngurusin masalah ini." Keyna jadi memikirkan apa yang sudah Ayra lewati tanpa mereka.


"Nemu sesuatu lagi?" tanya Galen.


Keyna menggeleng, "Baru baca itu aja udah lemes, belum cari yang lain lagi. Tapi ada ini, kaya daftar nama sama alamat orang," tunjuk Keyna pada map yang ambil dari ruang itu.


"Sini aku copy dulu, kayanya itu petunjuk," ucap Galen. Keyna menyerahkan map itu dan Galen mengambil kertas di dalamnya untuk ia copy di mesin fotocopy yang memang ada di basecamp, mesin itu biasa mereka gunakan untuk mengcopy data atau tugas sekolah. Kurang lengkap apa coba basecamp mereka.


"Nih yang asli kamu kembaliin sana," kata Galen sembari menyerahkan berkas asli itu kepada Keyna agar dikembalikan ke ruang pribadi Deva, bahkan Galen selaku penerus kepemimpinan Deva tidak berani melanggar aturan yang Deva buat. Galen tidak akan memasuki ruangan itu, sesuai apa yang almarhum ucapkan tiga tahun yang lalu.


Galen membaca satu persatu nama yang tertera di sana, sepertinya ini akan sangat membantu. Di kertas itu tertulis nama-nama target Tuan Willy yang sudah berhasil dikalahkan dan diakuisisi perusahaannya oleh Tuan Willy. Itulah yang bisa Galen tangkap dari nama dan alamat yang tidak begitu asing bagi Galen yang sama-sama pewaris perusahaan besar. Papanya cukup pintar juga sampai perusahaanya masih aman sampai sekarang.


"Emang itu apaan?" tanya Keyna yang baru saja mengunci kamar tersebut.


"Orang yang udah dihancurin Taun Willy," jawab Galen sembari menyerahkan kertas itu pada Keyna.


Keyna membacanya sekilas, "Bagus ini Gal, kita bisa cari orang-orang ini buat jadi saksi kelicikan Tuan Willy."


"Bisa bisa, tapi harus telaten sama sabar aja. Itu kan alamat lama, pasti kebanyakan dari mereka udah pindah. Apalagi setelah perusahaannya bangkrut, pasti bakalan pindah ke rumah yang lebih kecil." Ucapan Galen diangguki Keyna.


"Kita pasti bisa kalo kita carinya bareng-bareng." Mata Keyna mengisyaratkan keyakinan saat mengucapkan itu.

__ADS_1


"Kalo kita tau ini dari lama pasti semua ini bisa dicegah," sesal Galen yang malah mendapat respon tidak setuju dari Keyna.


"Belum tentu, kan ini semua udah diatur sama yang di atas. Pasti ada hal luar biasa di balik kita yang baru tau ini sekarang," yakin Keyna membuat Galen mengembangkan senyumnya.


"Contohnya kita bakal punya ponakan yang imutnya kaya Zia," ucap Keyna lalu terkekeh. Galen mengangguk saja lalu mereka meneliti satu per satu nama sembari menikmati waktu berdua di basecamp.


••••••••


Sepulang kerja, Zidan kini tengah membaca pesan di grup Inti Atlansa yang tengah membicarakan Galen yang baru saja menemukan data orang-orang yang menjadi korban Tuan Willy. Galen tidak memberikan data tersebut lewat ponsel, karena benda pipih itu mudah sekali disadap dan informasi itu akan jatuh di tangan orang yang salah. Bahkan hanya di grup inti saja Galen berani membahas hal rahasia, di grup anggota biasa Atlansa Galen tidak mempercayai mereka seratus persen.


"Kok serius banget," tanya Zia yang tengah meletakkan segelas kopi di depan Zidan. Kemudian Zia duduk di sebelah Zidan yang duduk di ruang keluarga.


"Oh ini, Lagi baca grup Atlansa," jawab Zidan kemudian mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian Zidan mengambil secangkir kopi buatan istrinya.


"Kaya bapak bapak ya pulang kerja minta kopi," canda Zia yang tengah memperhatikan Zidan yang begitu menikmati kopi panas itu.


Zia tersenyum kemudian menyalakan televisi yang langsung menampilkan kartun dua bocah botak yang tidak pernah besar.


"Aku nanti ke basecamp boleh?" tanya Zidan pada Zia yang tengah fokus pada televisi. Zia mengangguk saja tanpa mengalihkan pandangannya dari dua bocah botak di televisi.


Zidan melipat kemejanya yang dikenakannya sampai sebatas siku lalu merebahkan dirinya di pangkuan istrinya. Zia membiarkannya, malahan tangannya mengusap-usap rambut Zidan.


"Dua minggu lagi pas tujuh bulan kan ya?" tanya Zidan yang tengah membenamkan kepalanya di perut buncit Zia.


"Iya," jawab Zia yang masih saja serius dengan televisi.


"Kita adain syukuran tujuh bulanan ya," kata Zidan yang sukses membuat Zia menunduk dan menatap matanya.


"Iya boleh, bagus malahan."

__ADS_1


"Okee... Nanti aku atur acaranya, sekalian rundingin juga sama ayah bunda," ucap Zidan yang diangguki setuju oleh Zia.


"Kita udah lewatin acara empat bulanan, maafin aku ya yang waktu empat bulan ngga bisa bikin syukuran apapun," kata Zidan yang mengingat saat usia kandungan empat bulan itu mereka dalam situasi yang lumayan kacau, setelah berita kehamilan tersebar waktu itu juga mereka masih berduka atas meninggalnya salah satu calon anak mereka sebulan sebelumnya.


"Nggapapa, yang penting baby sehat sehat aja," kata Zia sembari mengusap pipi Zidan yang tengah menatapnya dari bawah.


Zidan memejamkan matanya saat merasakan usapan di pipinya. Rasa yang menenangkan hatinya, jadi seperti ini rasanya dimanja oleh istri.


"Aku boleh jengukin baby lagi ngga?" tanya Zidan yang semenjak diceramahi bundanya belum pernah meminta haknya lagi.


"Boleh," jawab Zia dengan malu malu. Zidan yang diberi lampu hijau langsung saja duduk dan langsung menyambar bibir manis Zia.


"Di kamar aja," kata Zidan sembari melepas ciuman mereka, bisa tanggung kalo sampe bunda atau ayah atau ART melihat mereka.


Zia mengangguk. Zidan akan membopong tubuh berisi Zia sebelum suara telepon menghentikan aksi Zidan.


Zidan dengan kesal menggeser gambar telepon warna hijau dan meloudspeaker.


"Cepetan ke basecamp Njir."


Suara di seberang sana membuat Zidan dan Zia saling pandang lalu Zia terkekeh saat melihat ekspresi memelas Zidan.


••••••


Hai hai haiii 👋


Seperti biasa, jangan lupa tap like, kasih komen, vote, dan hadiah juga boleh biar aku makin semangat updatenya.♥♥


Bye bye👋

__ADS_1


__ADS_2