
"Mules banget...Mau ngejan sekarang,, ngh!" Zia tidak sengaja mengejan pelan saat sudah tidak bisa menahannya.
"Jangan dulu sayang, jangan!" panik Zidan tapi Zia terus menggeleng dengan cepat. Sudah tidak tertahankan rasanya tapi masih belum boleh terus.
Semua yang berada di ruangan itu ikutan panik saat Zia sudah mulai mengejan. Bunda Dian yang baru saja keluar dari kamar mandi pun berlari menuju sang menantu.
"Bunda kecolongan nih. Tahan Zia, nanti punya kamu bengkak malah tambah susah nantinya, tahan ya? Terus atur napasnyaa..." kata Bunda Dian sembari mengusap pipi Zia saat Zia akan kembali mengejan.
Zia mati-matian menahan hasratnya untuk mengejan. Dirinya tau resiko itu tapi sangat susah menahannya karena dari dalam, bayinya juga ikut mendorong.
Karena ingin memberi ruang yang luas juga karena tidak tega, teman-teman Zidan dan Zia pamit keluar.
"Ngeri cuy," celetuk Dyu saat baru saja keluar dari ruangan Zia.
"Makanya hargain cewek. Liat sendiri kan gimana sakitnya cewek buat ngasih keturunan buat suaminya," saut Galen yang sebenarnya juga baru pernah melihat orang akan melahirkan.
Dyu diam tidak menjawab, mungkin akan merenung setelah ini.
Karena belum sarapan, mereka akhirnya pergi ke kantin, walaupun dengan perasaan was-was dan khawatir pada Zia, tapi tetap saja sarapan itu perlu.
¤¤¤¤
Setelah tiduran miring ke arah kiri selama satu jam, akhirnya pembukaan Zia lengkap juga. Tinggal menunggu ketuban pecah dan Zia siap melahirkan.
"Badannya sakit semuaaa, mau ngejan banget ini..." adu Zia pada Zidan yang tengah memeluknya sembari terus membisikkan kata-kata penyemangat dan doa.
"Sabar ya? Tinggal nunggu ketuban pecah aja," ucap Zidan yang matanya sudah memerah. Istrinya sudah sangat kesakitan dan akan memulai proses persalinan.
Zia memejamkan matanya saat merasakan perasaan menyengat di area bawahnya, dengan spontan Zia mengejan. "Enghh!"
Pluk!
Terdengar suara letupan dan air hangat yang mengalir di paha Zia. Cekalan pada tangan Zidan semakin kuat karena setelah air itu keluar rasanya ingin terus mengejan.
"Alhamdulillah," seru mereka bunda Dian saat akhirnya ketuban Zia pecah juga.
Semua orang dipersilahkan keluar, hanya tersisa Zidan, mama Salma, bunda Dian, dan beberapa suster yang akan membantu dan menemani Zia melahirkan.
"Semangat anak papa, pasti bisa!" itulah kalimat dari papanya sebelum akhirnya ikut keluar bersama yang lain. Karena yang menemani hanya boleh dua orang.
"Udah nyaman posisinya?" tanya Bunda Dian. Zia yang sudah dalam posisi berbaring setengah duduk dengan kedua tangan yang menggenggam tangan mama Salma dan Zidan pun mengangguk.
"Ada kontraksi?" Zia mengangguk pada bunda Dian yang sudah berdiri di depan kakinya yang mengangkang lebar.
"Tarik napas....Buang...Tarik napas lagi... tahan.. dorong! satu...Dua...Tiga...empat..."
"Eeengghh..."
"....delapan...sembilan...sepuluh."
Zia mengikuti intruksi Bunda Dian untuk melakukan ejanan pertamanya. Sampai hitungan sepuluh lalu mengambil napas cepat dan mulai mengejan kembali. Menurut Zia, lebih baik mengejan daripada menahan kontraksi tadi karena ada rasa lega saat bisa menyalurkan keinginannya untuk mengejan.
"Ambil napas cepat, ngejan lagi! Dorong!"
Zia semakin mengeratkan cengkeramannya pada Zidan dan mamanya saat melakukan ejanan ketiganya.
"Enghh..."
"Bagus! Berhenti. Usahakan tiga sampai empat ejanan setiap kontraksi ya sayang?" kata Bunda Dian pada Zia yang tengah mengatur napas setelah membanting kepalanya ke bantal.
Zia mengangguk lalu kembali menempelkan dagunya ke dada saat kontraksi datang lagi.
"Lagi?" Zia mengangguk sembari mulai mengejan.
"Engghh.... huh huh... enghhh..."
Zidan melihat jelas bagaimana otot-otot Zia tampak saat istri imutnya itu mengejan kuat. Apalagi wajahnya begitu dekat karena ikut membantu mengangkat kepala Zia saat mendorong.
__ADS_1
"Bagus..Pinter banget ngejennya," kata Bunda Dian sekaligus memberi semangat untuk sang menantu.
Zidan mengecup dahi Zia yang berkeringat setelah Zia menyelesaikan ejanannya yang entah ke berapa.
"Sakit banget... huh.. huh.. enghhh!!" cicit Zia lalu kembali mengejan. Zidan sampai kagum karena kuatnya Zia di setiap ejanan yang dilakukan.
"Udah sayang... Istirahat dulu, atur napasnya.." ucap Bunda Dian saat Zia sudah mengejan setengah jam lebih. Kepala bayi sudah sangat di ujung. Usaha yang baik juga ketenangan Zia sudah akan membuahkan hasil.
Zia mengatur napasnya yang memburu saat kontraksi hilang. Air matanya menetes menandakan betapa sakit yang ia rasakan sekarang. Mulas, nyeri, sakit, semuanya menjadi satu di dalam tubuhnya.
"Kuat ya? anak mama pasti kuat," ucap mama Salma sembari mengusap peluh dan air mata yang bercampur jadi satu di wajah putrinya. Tidak tega sebenarnya dia melihat langsung putri manjanya tengah berjuang mati-matian untuk melahirkan buah hatinya.
Sejauh ini Zia belum merengek tidak kuat, hanya sesekali mengucapkan kata sakit saat mengejan.
"Belum keliatan Bun?" tanya Zidan yang merasakan kakinya melemas. Tidak kuat melihat yang sudah sangat lemas tapi harus tetap mengejan.
Bunda Dian menggeleng, "Bentar lagi, anak pertama emang agak bandel keluarnya... tapi Zia pasti bisa kok, ya kan Zi? kuat banget gini."
Zia tidak menjawab, hanya senyum tipis kemudian kerutan di dahi saat kontraksi datang lagi, seolah bayinya tidak membiarkannya beristirahat sebentar saja.
"Mules lagi," kata Zia yang kini menarik rambut Zidan yang tengah menunduk karena baru saja mengecup bibirnya.
"Ayok dorong lagi... nah bagus... satu...dua.. "
"Enggghhhh.....Udah.. huh.. huh.."
"Belum sayang, belum sampai sepuluh. lagi! yang kuat!" seru Bunda Dian.
"Yuk yang kuat, sayang," kata Zidan yang tidak terlalu mempedulikan rambut bagian belakangnya yang dijambak kuat oleh Zia.
Zia pun kembali mendorong karena memang tubuhnya memerintahkan itu.
"Ngghhhh.... Capek..." ucap Zia sembari membanting kepalanya ke bantal untuk ke sekian kalinya.
Bunda Dian menghela napas, sudah beberapa kali kepala bayinya tampak tapi terus kembali masuk saat Zia berhenti mendorong.
Perlahan Zia mengubah posisinya menjadi berjongkok di atas tempat tidur dengan memeluk Zidan yang berdiri di depannya. Mama Salma sudah berdiri di belakang Zidan untuk mengusap keringat Zia dan memberinya semangat.
"Kalau kontraksi, ngejen yang kuat sambil turunin tubuhnya ya? Bunda bantu dari sini," kata Bunda Dian yang berdiri di belakang Zia.
Zia mengangguk lalu mencengkeram bahu dan punggung Zidan saat mulai mengejan kembali. Tubuhnya ia turunkan seperti perintah bunda.
"Engggghhhh.... Nghhhhh....huh...huh..."
"Bagus! ngejan Lagi! udah mulai keliatan rambutnya," seru bunda Dian dengan semangat.
Zia termotivasi oleh kata-kata bunda Dian. Mengulas senyum tipis pada mama yang terus menyemangatinya. Zia terus melakukan ejanan demi ejanan sampai merasakan sesuatu membelah dirinya.
"Engggghhhh.....Engggghhh... Aaakhh," teriak Zia di akhir ejanan saat merasakan panas luar biasa di area pangkal pahanya. Zidan yang pertama kali mendengar teriakan Zia pun terkejut, sedari tadi hanya ejanan tanpa suara yang dilakukan Zia.
"Shtt...Kaget ya? Ini kepalanya mulai keluar sayang...jangan teriak nanti tenaga kamu habis," ucap Bunda Dian sembari memijat sekitar area kepala bayi yang baru keluar sampai dahi.
Zia mengatur napasnya, rasa ingin menyerah sudah berkali-kali hinggap di pikirannya. Tapi motivasi dan semangat dari mereka membuat Zia kembali semangat. Dengan kaki yang bergetar, Zia kembali mengejan, mengerahkan semua tenaganya untuk membawa sang buah hati lahir.
"Ngghhh... ZIDAN! Sakit banget... Hhhnggg... Akhhh..."
Kembali teriakan keluar dari mulut Zia saat merasakan mata, hidung, dan bibir bayinya melewati vagi*anya. Zidan yang namanya diteriakan hanya mampu membisikkan kalimat penyemangat. Air matanya sudah jatuh sejak teriakan pertama Zia tadi.
"Sekali lagi sayang, sekali lagi kepalanya keluar, ayo!" seru bunda Dian membuat Zia mengerahkan tenaganya untuk sebuah ejanan lagi.
"Engghhh.."
Plok!
"Alhamdulillah, kepalanya udah keluar. Baring lagi aja," kata Bunda Dian membuat Zidan yang sedari tadi sudah meneteskan air matanya pun membantu Zia kembali berbaring telentang.
Zidan terus mengecupi seluruh wajah Zia saat Zia tengah mengatur napasnya. "Dikiit lagi sayang, dikit lagi anak kita lahir."
__ADS_1
Zia mengangguk sembari mengusap air mata Zidan yang mengalir dengan tangan lemasnya. Perasaannya campur aduk membuat Zia tidak bisa berkata-kata.
Kembali kedua tangannya menggenggam tangan Zidan dan mamanya. Kedua kakinya kini sudah dipegangi oleh dua suster di masing-masing kaki.
"Lumayan bandel ya? satu setengah jam buat kepala keluar," kata Bunda Dian saat membersihkan wajah cucunya yang kini sedang memutar. Menandakan bahwa sebentar lagi akan keluar bahunya.
"Boleh ngejan lagi Bun?" tanya Zia saat kembali merasakan kontraksi.
Bunda Dian mengangguk, "Boleh! tali pusarnya nggak ngelilit kok, tenang ya. Kasih bunda dorongan kuat buat bahu ya?"
Zia mengangguk dan mulai kembali menempelkan dagunya ke dada, mengangkat kepala dengan bantuan Zidan dan memusatkan dorongan pada perut.
Lima belas menit sudah Zia mencoba mengeluarkan bahu, tapi tidak keluar juga. Sampai rasanya tenaga Zia sudah habis.
"Nggak mau keluar..." rengek Zia sembari terisak. Zidan dan mama Salma masih berusaha menenangkan Zia.
"Mau kok. Ini udah sedikit lagi keluar kok. Kalo ngejannya kuat ini langsung keluar, ayok dorong lagi," kata Bunda Dian yang sudah mulai ikut panik, takut Zia tidak kuat mendorong lagi.
"Ngghhhh.... huh huh nggak kuat..." kata Zia yang sudah sangat lemas. Ejanannya saja sudah tidak sekuat awal-awal tadi.
"Kuat! kamu kuat, istri aku kuat banget pasti. Ayok sayang, anak kita nungguin. Sebentar lagi sayang," kata Zidan yang keadannya sudah kacau, cakaran di mana-mana dan air mata yang sesekali menetes.
Mendengar itu, Zia kembali mengangkat kepalanya dan cengkeraman yang begitu kuat pada tangan Zidan dan mama Salma menandakan Zia mengerahkan seluruh tenaganya.
"Nghhh...Enngggghhh....huh.. huh.. Enghhhh..AAKKHHH."
"Bagus Zia, sekali lagi. Bahu satunya ayok," seru bunda Dian yang tangannya sednag memegang kepala sang cucu. Bersiap menariknya saat Zia kembali mengejan. Seluruh tubuh Zia bergetar hebat untuk ejanan terakhirnya kali ini.
"Bismillah... Enggghh... AAAKKHHHH..AKKHHH.."
Oek...Oekk..Oekk...
Zia membanting tubuhnya ke kasur saat mendengar tangisan itu. Memejamkan matanya sembari mengatur napasnya yang sangat memburu. Akhirnya selesai juga.
"Alhamdulillah!" seru semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Bahkan Zidan sampai melepas genggaman tangan Zia dan melakukan sujud syukur.
Zia membuka mata saat bayinya diletakkan oleh bunda di dadanya. Juga Zidan yang memeluknya selepas sujud syukur.
"Terima kasih sayang.. makasih banget..." kata Zidan yang air matanya tidak berhenti menetes. Zia mengangguk lalu menengok ke arah sang bayi yang tengah menangis dan diusap usap punggungnya oleh bunda Dian.
"Jagoan kalian nih," kata Bunda Dian setelah memeriksa jenis kelamin dari cucunya, juga memeriksa seluruh tubuh bayinya juga.
Zidan dan Zia saling tatap lalu tersenyum saat tau anaknya berjenis kelamin laki-laki.
"Baby boy," cicit Zia yang masih sangat lemas. Zidan mengangguk lalu mengecup bibir Zia.
Setelahnya, Zidan malah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zia dan menangis keras di sana.
"Loh malah papa nangisnya lebih keras ya," celetuk mama Salma pada cucunya. Ia juga mengusap air mata haru di pipinya. Akhirnya perjuangan Zia melahirkan telah berakhir, diusapnya keringat di dahi dan pelipis Zia. "Selamat jadi ibu sayang."
Zia mengangguk lalu mengusap punggung Zidan juga punggung putranya. Dua jagoannya tengah menangis bersamaan, bersamanya juga. "Udah dong nangisnya."
"Mau potong tali pusarnya nggak?" tanya bunda Dian saat Zidan masih saja menangis di leher Zia. Zidan mengangguk lalu memotong tali pusar sang biah hati dengan wajah yang sudah memerah karena menangis.
Setelah terpotong, Zidan kembali menyembuyikan wajahnya di leher Zia. Cintanya pada sang istri begitu besar, dan bertambah besar setelah hari ini.
"Dibersihin dulu ya baby-nya," kata Bunda Dian sembari kembali mengangkat cucunya dari dada Zia lalu memberikannya pada suster untuk dibersihkan.
"Sebentar lagi ngeluarin plasenta ya? ngejan dikit aja keluar kok," ucap bunda Dian yang sedang mengurusi bagian bawah tubuh Zia.
Zia mengangguk, "Dijahit?" tanyanya.
"Enggak sayang. Kamu tenang dan pinter ngejannya jadi nggak robek," jawab bunda Dian.
Setelah semua bersih, Zia akan dibawa ke ruang rawat.
¤¤¤¤¤¤
__ADS_1
...Spesial banget part Zia melahirkan jdi aku kasih double up dan bab ini hampir 2000 kata.......