Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
97. Di Tempat Yoga


__ADS_3

Di tengah belasan calon ibu, Zidan melihat istrinya yang tampak melakukan gerakan demi gerakan yang diintruksikan pelatih yoganya. Titik demi titik keringat mulai mermunculan di dahi dan pelipis perempuan kesayangannya itu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Mata Zidan tidak pernah bosan memandangi sosok calon ibu dari anaknya itu.


"Masih muda banget. Lo umur berapa?" Pertanyaan dari seorang yang baru saja duduk di samping Zidan. Dilihat dari wajahnya, orang tersebut bukan yang biasa Zidan temui saat menemani Zia. Sepertinya anggota baru.


"Tujuh belas," jawab Zidan pada lelaki yang sepertinya lebih tua sedikit darinya.


"Beda tiga tahun. gue dua puluh," kata orang tersebut yang dijawab anggukan kepala dari Zidan. Walaupun Zidan tidak nyaman dengan orang yang sok akrab seperti ini, tapi ia tetap menghargainya.


"Gue Rakha, nama lo siapa?" ucap lelaki itu lagi sembari menyodorkan tangannya.


Zidan menerima uluran tangan dari pria bernama Rakha itu. "Zidan."


Rakha mengangguk lalu berdiri dan tampak memperhatikan ke dalam ruang yoga. "Cewek lo yang mana?" tanyanya.


Jika tidak salah, Rakha berbicara pada Zidan. Maka Zidan menjawab, "Baju putih. Ketiga dari kanan."


Dari yang Zidan lihat, Rakha tampak memandangi sosok Zia. "Imut," ucapnya.


"Merried By Accident ya?" tanya Rakha lagi. Zidan tidak memberikan respon apapun, baik anggukan ataupun gelengan kepala. Zidan tidak tahu masuk kategori yang Rakha sebutkan atau tidak.


Rakha yang tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya pun tersenyum miring lalu berucap, "Ngga perlu malu. Gue juga sama."


Zidan menoleh ke arah Rakha. "Gue bukan MBA."


"Ngga percaya gue. Masih belia kaya lo mana mau nikah cepet kalo ngga kecelakaan," ucap Rakha lagi. "Gue aja males banget."


Zidan hanya tersenyum tipis lalu berucap dengan malas, "Itu lo, bukan gue."


"Cewek lo bandel kaya cewek gue pasti. Disuruh gugurin malah ngga mau. Sampe ketauan orangtua ya gini akhirnya, dinikahin paksa," cerita Rakha yang mendapat respon tidak suka dari Zidan. Sama sekali tidak sama dengan kisahnya dan Zia.


"Sorry. Cerita lo beda sama gue," ucap Zidan kemudian berdiri saat pintu ruangan terbuka. Zidan sudah hapal bahwa sekarang waktunya pernatal yoga couple.


Begitu memasuki ruangan, mata Zidan bertemu dengan mata sang istri yang tersenyum manis ke arahnya. Zidan menyempatkan mengusap rambut sang istri sebelum duduk di posisinya.


"Hai."


Zidan menoleh lalu memutar bola matanya malas saat yang duduk di sebelahnya adalah Rakha, lelaki itu bersama perempuan berwajah jutek yang Zidan yakini itu adalah istrinya.


Sepanjang yoga dilakukan, Zidan sesekali menoleh saat pasangan di sebelahnya terus saja bertengkar. Satu gerakan sama dengan satu perdebatan, itulah yang Zidan tangkap.

__ADS_1


"Berisik ya," bisik Zia pada Zidan di tengah-tengah gerakan mereka. Zidan mengangguk membenarkan, memang berisik. Dari luar saja sudah banyak omong, semakin cerewet saat bersama istrinya.


"Kasian, kayanya cowoknya ngga niat banget," bisik Zia lagi. Ibu hamil di sebelahnya itu baru saja bergabung hari ini, kalau saat Zidan dulu kaku karena belum terbiasa. Tapi ini beda, cowok itu terlihat sangat enggan melakukan gerakan demi gerakan. Wajahnya saja tampak terpaksa, dan mulutnya terus saja mengomeli sang istri. Dan wajah istrinya juga seperti dalam tekanan, berbeda sekali saat tanpa pasangan tadi.


"Biarin. kamu fokus aja," jawab Zidan. Kesan buruk sudah Zidan dapatkan sejak pertama bertemu dengan lelaki tersebut. Maka, sekarang ia malas membahasnya.


"Auw!" Semua orang menoleh pada salah satu ibu hamil yang terjatuh karena pasangannya tidak benar memeganginya.


"Nyusahin!" ketus Rakha pada istrinya yang tengah dibantu berdiri oleh Zidan. Zidan sampai geleng-geleng kepala melihat sikap buruk Rakha, tidak bisakan tidak berucap seperti itu di depan umum.


"Kak, nggapapa?" tanya Zia mewakili yang lain.


Wanita hamil itu menggelengkan kepalanya, "Nggapapa. Maaf mengganggu, saya permisi saja. terima kasih."


Semua orang menatap kasihan pada ibu hamil yang keluar dari ruangan itu dengan tangan yang mengusap air matanya. Berbeda sekali dengan pria bernama Rakha, ia malah keluar begitu saja dengan tidak sopan.


Zia menatap penuh kasihan pada perempuan yang seumuran dengannya itu.


Mereka melanjutkan yoga setelah pasangan itu keluar dari ruangan.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Zidan tahu, pasti ada yang mengganggu pikiran Zia. Entah apa itu, yang pasti Zidan akan menanyakannya sekarang. Dihampirinya Zia yang tengah duduk bersandar di kasur sembari sibuk bermain ponsel.


"Ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Zidan sembari mengusap kepala Zia.


Zia mematikan ponselnya lalu meletakkannya di nakas. Helaan napas terdengar sebelum Zia berucap, "Aku kepikiran sama pasangan tadi."


"Kepikiran gimana?" tanya Zidan sembari mengusap-usap perut buncit Zia.


"Kasiannn..." lirih Zia membuat Zidan mendongakkan kepalanya. Matanya tepat bertemu dengan sorot teduh mata Zia.


"Masa sampe jatuh gitu, suaminya juga kaya galak banget. Aku yang di sampingnya aja sampe ngga tega," ucap Zia yang membuat Zidan tersenyum.


"Jangan dipikirin ya? Itu urusan rumah tangga mereka," kata Zidan yang tidak ingin Zia terlalu memikirkan masalah orang lain.


"Gimana ngga kepikiran. Dia sama aku aja seumuran, sama sama hamil juga. Tapi dia dilakuin ngga baik sama pasangannya sendiri di depan umum, sakit banget pasti perasaannya," ujar Zia yang matanya sudah berkaca-kaca mengingat kejadian tadi siang.


"Badannya kurus juga buat orang yang hamil tujuh bulan, beda banget sama badan aku. Suaminya ngga ngurusin kayanya," kesal Zia.

__ADS_1


Dengan penuh pengertian, Zidan menanggapi ucapan Zia, "Ambil hikmahnya aja ya. Setidaknya kamu ngga ngalamin yang perempuan tadi alamin."


Zia mengangguk, "Zia pasti ngga bakalan kuat kalo sampe di posisi perempuan tadi."


Sedetik. Dua detik. Mata keduanya bertemu. Setelah itu Zidan mengecup bibir Zia sekilas, hanya menempel sejenak lalu kembali ia jauhkan. "Aku juga ngga bakal sebrengs*k laki-laki itu."


"Kenapa ya mereka kaya ngga harmonis gitu?" tanya Zia.


"MBA. Katanya si cewek ngga mau gugurin janinnya waktu dipaksa sama si cowok, ya gitu jadinya," jawab Zidan sesuai apa yang ia ketahui.


"Jahat cowoknya," ucap Zia.


Zidan mengangguk, "Cowok kaya gitu yang ngejatuhin martabat cowok lain di mata cewek. Jadi, seolah olah semua cowok sama brengs*knya."


"Yang penting kamu engga," kata Zia sembari mengusap rambut Zidan saat suaminya itu tidur di pangkuannya.


"Engga? Sebenernya kalo dipikir-pikir aku brengs*k juga karena udah hancurin masa remaja dan masa depan kamu," kata Zidan menyesal.


Zia tidak setuju dengan ucapan Zidan, "Kamu ngga hancurin masa remaja ataupun masa depan aku kok. Kamu cuma merevisi masa itu agar aku bisa jadi perempuan yang lebih baik dari sebelumnya."


"Kamu emang hancurin rencana aku. Tapi kamu susun rencana yang lebih indah sebagai gantinya," ucap Zia dengan bijak. Zidan sampai menatap tidak percaya pada wajah imut Zia, tumben istrinya itu bisa berucap seperti itu.


"Pasti Keyna yang bilang kan?" tuduh Zidan yang sepertinya tepat sasaran. Lihat saja, cengir kuda keluar dari bibir Zia.


"Tau aja... Aku mana bisa susun kalimat kaya gitu," jawab Zia sembari mengusak rambut Zidan sampai berantakan.


¤¤¤¤¤


Hai hai haiiii 👋👋


Dua hari aku ngga up 😭


Semoga masih ada yang nungguin yaa😌


Sampai jumpa di bab selanjutnya. 🤗


Bulan ini aku masih amburadul updatenya, Insya Allah di bulan depan sudah teratur♥♥...


Bye byee👋👋

__ADS_1


__ADS_2