Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
63. Kecemasan Zia


__ADS_3

Bugh! Bugh! Bugh!


Galen hanya terus memandangi Zidan yang tengah melampiaskan amarahnya di basecamp. Tadi setelah Pak Ervan dan Ayra pergi, Galen langsung menarik Zidan dan membawanya ke sini.


"AARGHHHH!"


Tenang saja, Zia tidak ada di sini. Zia sudah Galen titipkan pada pegawai mamanya, juga sudah meminta Keyna untuk menjemput Zia.


"Udah puas?" tanya Galen yang sedang bersedekap di belakang Zidan yang tengah memukuli samsak dengan membabi buta.


Zidan berhenti. Lelaki itu mengatur napasnya yang memburu, wajahnya memerah, dan keringat sudah menetes dari dahi, pelipis, hingga ke leher. Hampir satu jam Zidan melakukan itu, berteriak sembari memukuli samsak.


Galen menghampiri Zidan lalu menepuk bahu Zidan lalu memberi sebotol air mineral dingin. Zidan menerimanya lalu meminum hingga habis setengah. Sisanya Zidan guyurkan ke seluruh wajahnya.


"Zia?" Zidan teringat istrinya yang tadi masih terdiam di privat room.


"Aman."


Zidan mengangguk, ia percaya sepenuhnya pada Galen. "Gue mau pulang."


Galen hanya melihat Zidan yang keluar dari basecamp. Yang penting Zidan sudah tidak emosi saat bertemu Zia nanti, takutnya Zidan kelepasan hingga menyakiti wanita hamil itu.


°°°°°


"Zidan kemana ya, Key?" tanya Zia yang sudah berada di kamarnya bersama Keyna.


Keyna tersenyum saat melihat raut khawatir Zia, "Sama Galen di basecamp, bentar lagi juga pulang."


Tepat setelah Keyna mengucapkan itu, terdengar suara motor sport berhenti di depan kontrakan.


Zia beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Zidan. Zidan yang baru membuka pintu tersenyum melihat Zia sudah berdiri di depannya. Zia mengecup tangan Zidan lalu Zidan mengusap rambut Zia.


"Udah makan?" tanya Zidan yang dibalas gelengan dari Zia.


Zidan melihat jam dinding, sudah pukul sembilan. "Mau makan apa?"


"Nanti aja, Zia belum pengin makan," jawab Zia. Bertepatan dengan itu Keyna keluar dari kamar.


"Gue balik ya Zi, Zidan udah pulang inih," pamit Keyna yang ingin segera menemui Galen.


Zia dan Zidan mengangguk, tentunya mengucapkan terima kasih karena telah mengantar dan menemani Zia.


Setelah membersihkan diri, Zidan kini tengah memasak bubur bayi kemasan yang baru saja ia beli. Zia tiba-tiba menolak makanan orang dewasa dan meminta makanan bayi, dari bubur, sereal, sampai camilan pun juga. Aneh kan?


Zidan membawa nampan yang berisi bubur, camilan bayi, dan susu hamil tentunya, bukan susu bayi yaa.


"Nih makan."

__ADS_1


Zia dengan antusias menerima semangkuk bubur yang sudah sangat ia inginkan sejak tadi.


"Enak?" tanya Zidan yang heran karena Zia memakan makanan bayi itu dengan lahapnya.


Zia mengangguk. "Zia udah pengen dari tadi sore, tapi baru kesampaian."


"Kenapa ngga bilang, hm?" mata Zidan tidak pernah bosan melihat tingkah menggemaskan Zia, pantas saja seperti anak kecil, makannya saja makanan bayi.


"Kan udah mau berangkat kerja."


"Ini alasan kenapa dari tadi ngga mau makan?" Zia mengangguk. Entah mengapa jika ia menginginkan makan sesuatu, tidak enak jika makan yang lainnya. Zia pernah mencoba melawannya tapi malah berakhir dengan dirinya yang mual.


"Zidan ngga makan?" tanya Zia di sela-sela makannya.


Zidan menggelengkan kepala. "Nanti aja."


Mendengar itu Zia menghentikan makannya. "Harus sekarang! Kalo engga, Zia ngga mau makan."


"Iya iya," jawab Zidan kemudian mengambil nasi dengan lauk sayur kangkung yang ia masak sepulang sekolah tadi.


"Zidan mau?" tawar Zia sembari menyodorkan buburnya, Zidan bergidik sambil menggeleng.


"Ya kali nasi pake bubur." Zia tertawa mensengar itu, lalu mereka makan bersama.


Setelah selesai makan.


"Ini susu bayi?" tanya Zia saat Zidan menyodorkan segelas susu. Zidan mengangguk saja, takutnya jika bilang itu susu hamil Zia tidak mau meminumnya.


"Itu susu bayi kok, kan Zia minum itu buat adik bayi," Zidan berusaha memberi penjelasan yang masuk akal. Beruntungnya Zia mengangguk percaya dan menghabiskan susu itu.


Setelah selesai, mereka duduk bersandar di kamar. Zidan tengah bermain ponsel dan Zia tengah serius mengusap perut sedikit buncitnya. Sebenarnya Zidan hanya tengah mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi di kafe.


"Udah hampir lima bulan. Berarti empat bulan lebih nanti Zia udah lahiran." Zia berucap sembari terus mengusap-usap perut.


Zidan menghentikan aktifitasnya dari bermain ponsel. "Mau lahiran normal apa caesar?"


Zia tampak berpikir, yang Zia tau melahirkan itu sakit sekali. Itu yang sering Zia lihat di televisi.


"Lebih sakit caesar apa normal?" tanya balik Zia.


"Gue ngga tau juga. Ngga pernah ngelahirin soalnya," canda Zidan. Zia mengubah mimik wajahnya menjadi cemberut, membuat Zidan terkekeh.


"Kata bunda kalo normal sakitnya sebentar, kalo caesar pas ngelahirinnya ngga sakit tapi pas obat biusnya abis sakitnya lama," jawab Zidan.


Zia menimbang-nimbang sebentar, "Kalo Zia mau normal aja gimana? Zia masih bingung."


"Boleh. Kita nonton videonya aja yuk biar tambah yakin," ajak Zidan sembari membuka ponselnya kembali dan memilih aplikasi Youtube. Zia mengangguk lalu mereka saling mendekat agar lebih jelas menontonnya.

__ADS_1


Zidan mengetik di pencarian 'perbedaan melahirkan normal dan caesar' lalu muncullah banyak sekali penjelasan-penjelasan mulai dari dokter spesialis hingga bidan.


Mereka menonton dengan seksama, saking seriusnya mereka akan mengangguk jika paham dan menyergitkan alisnya jika merasa bingung. Hingga ada sebuah video melahirkan normal yang sepertinya sebuah birth vlog.


"Buka ngga nih?" tanya Zidan karena ragu, tapi ia juga ingin tau aslinya bagaimana. Anggukan dari Zia membuat Zidan mengklik video tersebut.


Zia terbengong saat melihat ekspresi perempuan yang sedang melahirkan itu, kelihatannya sangat kesakitan.


"Akhhhh."


Zia menutup mulutnya ketika perempuan itu berteriak kesakitan. Zidan langsung mengalihkan perhatiannya pada Zia, "Nggapapa?"


Anggukan dari Zia membuat mereka kembali fokus menonton. Terlihat jelas bagaimana perlahan kepala bayi keluar dari **** ********** wanita hamil yang sedikit di sensor itu dan bagaimana ia berteriak semakin keras.


Zia mendorong ponsel Zidan saat melihat bagaimana badan bayi yang besar keluar dari tempat sempit itu. "Udah."


Zidan mengangguk lalu menyudahi acara menonton mereka. Zidan yang melihat Zia sudah pucat dan takut, segera menenangkannya. Ini salahnya yang meminta untuk menonton. "Udah jangan dipikirin banget."


"Sakit banget ya Zidan? Kalo nanti Zia ngga bisa gimana? Kalo tenaga Zia ngga cukup buat ngelahirin adik bayinya gimana?" cemas Zia yang tadi melihat wanita itu begitu kuat mendorong, ia ragu apakah bisa sekuat itu nanti.


"Bisa. Yang penting yakin dulu, jaga kesehatan, makan yang banyak biar nanti punya tenaga," ucap Zidan berusaha meyakinkan dan menghilangkan kecemasan pada diri Zia.


"Kalo Zia ngga bisa? Zidan kan tau kalo Zia ngga kuat sama rasa sakit," ujar Zia sembari memilin jarinya dan menunduk. Sungguh, Zia sangat takut sekarang.


Zidan menggenggam tangan Zia,"Nggapapa. Sebisanya aja, kalo emang jalannya Zia bisa lahiran normal pasti bisa, kalo ngga bisa juga masih ada caesar. Berdoa aja sama Allah supaya dikasih kekuatan saat ngelahirin nanti."


Zia mengangguk lalu merebahkan tubuhnya perlahan, Zidan mengikutinya dan kini mereka saling berhadapan.


"Jangan dipikirin banget ya, ngga bagus buat babynya," ujar Zidan sembari meraba perut Zia. Zia kembali mengangguk walaupun otaknya terus saja berpikir ke arah sana.


"Nanti Zidan temenin Zia kan pas lahiran? Zia takut kalo sendirian," kata Zia.


Zidan mengangguk, "Pasti. Walaupun gue ngga akan ngerasain sakitnya, setidaknya gue ada buat lo dan liat langsung perjuangan lo nanti."


"Udah, tidur ya udah malem," ucap Zidan sembari mengangkat selimut untuk menutupi tubuh Zia.


Zia mengangguk lalu menarik tangan Zidan ke perutnya," Elus lama sampe Zia tidur."


Zidan terus mengusap perut Zia sampai Zia tertidur pulas. Zidan mengamati wajah imut Zia, Zidan juga sebenarnya cemas akan hari kelahiran anaknya nanti. Yang di pikirannya adalah apa ia akan kuat melihat ia kesakitan mengeluarkan anak mereka?


Sungguh, jika makin dipikirkan rasanya semakin takut. Zidan menghela napasnya kemudian mengecup dahi Zia sebelum ia ikut tertidur.


°°°°°


Halooo Semuanyaaa👋


Maaf ya kemarin aku ngga up. Kakakku abis lahiran jadinya ngga bisa pegang hp terus. Bab ini aja aku curi-curi waktu.

__ADS_1


Sebagai gantinya aku besok usahain double up deh. Ada yang mau?


Like, komen, vote, kasih hadiah dan follow Yaa♥


__ADS_2