Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
112. Amukan Sang Mertua


__ADS_3

Berita tentang Tuan Willy yang telah melakukan banyak kejahatan sudah tersebar, sederet kasus besar sudah menjadi buah bibir banyak orang. Apalagi di berita bisnis, banyak yang mencari kebenaran informasi tersebut.


Zidan berniat akan mulai menemui sang mertua, berharap dengan berita dipenjaranya Tuan Willy membuat hati papa Riyan melunak. Setidaknya mau memaafkan putrinya jika belum mau menerimanya sebagai menantu.


Menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Itulah yang dilakukan Zidan saat sudah berdiri di depan gerbang besar rumah keluarga Zia.


Malam ini sepulang dari kantor, Zidan tidak langsung pulang ke rumah. Tidak ingin membuang waktu terlalu lama karena dalam hitungan minggu Zia akan melahirkan, dan Zidan ingin mewujudkan keinginan Zia yang berharap papanya hadir di hari kelahiran sang cucu.


Setelah mengucap basmallah dalam hati, Zidan membunyikan bel yang tersedia di sana. Menekannya satu kali kemudian berdiri hingga pintu rumah terbuka dan tampaklah Zio keluar dari sana.


"Eh lo Dan, bentar," ucap Zio berlari ke arah gerbang dan membukanya untuk sang adik ipar.


"Tumben lo ke sini?" tanya Zio sembari menarik gerbang agar Zidan bisa masuk.


"Papa lo ada?" tanya Zidan to the point.


Zio melihat ke arah Zidan dengan heran, "Ada kok, ada. Kenapa?"


Zidan mengikuti langkah Zio, lalu menjawab, "Mau ngomong aja sama mertua, engga boleh?"


"Yaa.... Ya boleh sih, tapi nggak biasanya gitu. Nggak takut diusir bokap?" tanya Zio.


Zidan menggelengkan kepalanya, resiko apapun akan ia terima asalkan keinginan sang istri terwujud.


Zio membuka pintu lalu mempersilahkan Zidan masuk, "Mau ngomong di mana?"


"Sini aja," jawab Zidan yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Zio mengangguk lalu melangkah untuk memanggil papanya. Saat punggung Zio sudah tidak terlihat, Zidan makin merasa deg-degan, cukup nekat tindakannya ini tapi ia harus berani.


"Bismillah," lirihnya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.


Satu detik.


Dua detik.


Zidan tidak mendengar suara teriakan yang selalu diteriakkan papa Riyan padanya dan Zia. Zidan mendongak, benar ada papa Riyan di sana.

__ADS_1


"Mau apa kamu kemari?" tanya papa Riyan dengan nada ketus, tapi tidak tinggi seperti biasanya.


"Mau ngomong sama papa," jawab Zidan yang ragu mengucapkan kata terakhirnya.


"Papa? papa siapa?" ketus Papa Riyan. Sudah bisa ditebak sebenarnya oleh Zidan.


"Papa kan papa mertua saya," ucap Zidan lagi. Canggung sekali suasananya.


Papa Riyan terkekeh, lebih terdengar seperti mengejek. "Sudahkan saya kasih restu buat kalian? Sampai kamu berani panggil saya papa?"


"Maaf," ujar Zidan yang bingung harus menjawab apa lagi.


"Cih... bocah kaya kamu layak jadi suami buat anak saya?" tanya papa Riyan yang membuat Zidan tertarik untuk menjawab.


"Kalau saya tidak layak, lalu Om apa? Bisakah dianggap layak sebagai orangtua kalau pada anak sendiri saja tidak dianggap, diusir? bahkan memberi perhatian layaknya seorang papa itu juga ngga? di bagian mana saya harus percaya bahwa Om layak disebut papa buat Zia?"


Zidan tidak bisa diam saja, dirinya pernah mati-matian bekerja untuk menafkahi Zia disaat pria dihadapannya ini hidup enak. Lalu, dengan gampangnya dia dibilang tidak layak.


Bug!


Satu pukulan melayang ke wajah Zidan. Zidan hanya mengusap bekasnya saja yang berdenyut, tidak ada niat sama sekali untuk membalas perbuatan laki-laki yang berstatus meetuanya itu.


Bug!


Kini perutnya yang dipukul, Zio yang baru datang dan akan menahan papanya sudah lebih dulu diberi kode oleh Zidan agar mundur.


"Kenapa, Pa?" tanya Zio tapi tidak digubris papanya yang masih menatap tajam dan mencengkeram kerah Zidan. Zidan tidak melihat wajah mertuanya, lebih memilih memalingkan wajahnya ke samping.


Bug!


Zidan merasakan perih di pipinya dan darah di ujung bibirnya. Sudahlah, pasti Zia nanti menceramahinya.


"Tangan Om ringan banget ya? Pantesan nggak kasian sama anak sendiri," ucap Zidan dengam berani.


"Tujuan saya ke sini mau memastikan apakah Om sudah liat berita tentang Tuan Willy? Juga korban-korbannya? Ada nama Zia di sana Om!" geram Zidan yang kini menahan pukulan papa Riyan.


"Saya nggak peduli!" Papa Riya mengucapkan itu sembari mendorong tubuh Zidan kuat hingga Zidan terhuyung ke belakang.

__ADS_1


"Nggak peduli? ZIA ANAK OM BUKAN??" teriak Zidan yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Di samping Zio juga sudah ada mama Salma yang menggendong baby Zira, tidak berani melerainya juga. Hanya wajah khawatir yang ditunjukannya dengan terus menimang putri bungsunya.


"Bukan! Setelah kejadian itu, Zia bukan lagi anak saya. Anak macam apa yang merusak reputasi papanya sendiri," jawab papa Riyan yang membuat mama Salma angkat bicara.


"Zia anak kamu Pa. Nggak ada reputasi atau apapun itu yang lebih berharga dari seorang anak, Pa," geram mama Salma yang ingin sekali menampar sang suami.


"Kalo Zia bukan anak Papa, berarti Zio juga bukan anak Papa. Kalo Zia diusir berarti Zio juga," kata Zio lalu pergi begitu saja dari rumah. Sudah sejak dari kandungan ia bersama Zia, tapi bisa-bisanya dibedakan seperti ini.


"Zio... kamu mau kemana?" teriak mama Salma yang berlari mengejar Zio sampai depan rumah.


Papa Riyan terdiam mendengar ucapan putra kebanggaannya itu. Sedangkan Zidan, dia malah menatap bingung kelakuan Zio.


"Kamu mau kemana, Zi?" tanya mama Salma sembari menenangkan Zira yang menangis di gendongannya.


Zio berbalik lalu mengecup pipi mamanya dan snag adik. "Zio pergi sementara, Ma. Sampai papa sadar kalo dia sekarang punya tiga anak. Sampai papa sadar kalo Zira bukan pengganti Zia."


Mama Salma mengangguk walau air matanya menetes, semoga memang yang dilakukan Zio membuat suaminya sadar.


Mama Salma kembali masuk ke rumah saat motor Zio sudah pergi, menghampiri sang suami lalu berkata, "Puas? Puas udah buat anak-anak kita pergi dari rumah? Kalo Zira udah paham mungkin dia juga akan ngelakuin hal yang sama."


Papa Riyan masih terus diam dengan napas yang memburu, sampai sang istri masuk ke dalam kamar karena Zira menangis pun ia masih saja diam.


Zidan juga sama, apa karena dia nekat datang kemari jadinya seperti ini? Zidan jadi merasa bersalah.


"Pergi kamu dari rumah saya! Kamu yang buat keluarga saya jadi berantakan gini. Pergi!" tekan papa Riyan membuat Zidan pamit pergi.


Suasana jadi tidak kondusif seperti ini, dengan bengong Zidan mengendarai mobilnya untuk pulang. Jika Zio, sudah bisa dia tebak pasti akan tidur di basecamp. Tapi ada yang belum bisa diterima otaknya, alasan papa Zia sebegitu marahnya.


Ah! Zia pasti tidak berhenti berkicau saat melihat wajahnya nanti.


¤¤¤¤¤


...Haii...♥♥...


...Aku merasa bersalah karena ngga up 3 hari😭😭......

__ADS_1


...Jadi aku sempet-sempetin buat bikin bab lagi.....


...Bye👋👋...


__ADS_2