
Zia pagi ini kembali mual. Saat bangun tadi ia belum mendapati Zidan di sampingnya. Sampai ia muntah-muntah hampir setengah jam, Zidan belum juga pulang. Biasanya Zidan akan membantu Zia mengurut tengkuknya atau mengelus perutnya.
Huek... Huekkk....
"Udah dong hiks... Zia capek... Huek.." Zia bahkan sampai menangis saking lamanya ia muntah. Perutnya sudah perih, tapi rasa mualnya tidak kunjung hilang.
Zia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin karena lelah berjongkok. Seluruh badannya sudah lemas, Zia memejamkan matanya sambil terisak pelan, tangannya mengelus perutnya berusaha bernegosiasi dengan janinnya agar berhenti membuatnya mual.
"Udah yaa...Zidan belum pulang, aku aja ya yang elusin," bisik Zia sembari mencoba memundurkan tubuhnya dan bersandar di dinding toilet.
Zia memejamkan matanya dan mendongak ke atas, mencoba menahan rasa ingin muntahnya lagi, isi perutnya seperti sudah keluar semua, muntah kali ini paling parah dari sebelum-sebelumnya.
Sekitar sepuluh menit Zia terdiam dan mencoba mengontrol dirinya. Zia mendengar deru motor Zidan dan ia bernapas lega, akhirnya yang ia tunggu sedari tadi pulang juga. Zia membiarkan Zidan memanggil namanya, ia tidak mempunyai tenaga untuk sekedar menjawab, juga saat ia membuka mulut, ia takut akan muntah lagi.
"ZIAA!" teriak Zidan saat mendapati Zia terduduk lemas di kamar mandi. Zidan segera mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke kamar. Sebenarnya bahunya semakin sakit saat mengangkat Zia tapi ia abaikan.
"Muntah lagi ya? Maaf gue pulangnya telat," sesal Zidan saat meletakkan tubuh Zia di kasur. Zia hanya bergumam tidak jelas dan malah menarik tangan Zidan ke perutnya, perutnya masih terasa mual sekarang.
Zidan langsung mengelus perut itu perlahan, "masih mau muntah?"
Zia menggeleng, "Dia nakal, masa dibilangin Zia ngga mau nurut, giliran dielus Zidan langsung ilang mualnya," adu Zia lirih, mualnya langsung hilang, tapi tubuhnya masih sangat lemas, hampir satu jam muntah itu cukup menguras tenaganya.
Zidan mengambil minum yang sudah ia siapkan setiap akan berangkat kerja dan memberikannya pada Zia. Zia meminumnya sampai habis karena tenggorokannya terasa kering.
"Gue siapin makan dulu," ucap Zidan beranjak dari kamar menuju dapur.
Zidan menuangkan bubur ayam yang ia beli tadi, membuatkan susu, dan melarutkan vitamin Zia lalu membawanya kembali ke kamar.
"Kenapa pulangnya telat?" tanya Zia saat Zidan meletakkan nampan di meja belajar.
"Maaf ya, tadi ditawarin kerjaan tambahan buat ngangkut semen sama pasir di pasar," jawab Zidan duduk di tepi kasur di sebelah Zia yang duduk bersandar pada kepala ranjang.
Zia hanya mengangguk lemah dan akan mengambil mangkuk di tangan Zidan, tapi Zidan lebih dulu mencegahnya, "Gue suapin aja, tangan lo ikutan lemes pasti."
"Buka mulutnya," perintah Zidan saat Zia malah terus menatapnya. Zia perlahan membuka mulutnya, tapi pandangannya terus memperhatikan wajah Zidan yang terlihat lelah.
"Cape banget ya?" tanya Zia di sela-sela ia mengunyah. Zidan hanya mengangguk dan sibuk menyendokkan bubur dari mangkuk.
Zidan memang lelah, mengangkat beras, sembako dan puluhan kantong semen bukanlah hal yang mudah, bahkan bahunya lecet lecet dan begitu pegal, kakinya juga.
"Lo muntahnya ngga berhenti-berhenti tadi?" tanya Zidan saat Zia tampak lebih lemas dari biasanya.
Zia mengangguk, "Satu jam kayanya, dari adzan subuh sampe tadi Zidan pulang baru berhenti," jawabnya.
__ADS_1
"Maafin gue ya. Coba aja gue tadi ngga telat pulangnya, lo ngga bakal kaya gini," ucap Zidan menyesal, tapi mau bagaimana lagi ia juga mencari nafkah untuk Zia.
"Nggapapa, kan Zidan juga nyari uang buat Zia," ujar Zia sembari menerima segelas susu yang Zidan serahkan lalu meminumnya.
"Lo bertahan ya buat dia, gue kerja keras buat kalian, lo juga jadi kaya gini karna dia. Maukan terus berjuang bareng gue buat dia?" tanya Zidan serius sambil memegang perut Zia dan tatapan mengarah pada Zia yang tengah minum susu. Suasana seketika berubah jadi haru.
Zia mengangguk dan tersenyum, ia juga ikut meletakkan tangannya di atas tangan Zidan di atas perutnya, "Zia mau berjuang bareng Zidan demi dia, Zia sayang banget sama dia."
Zidan mengangguk kemudian mengambil gelas kosong dari tangan Zia. Yang terakhir ia meminumkan vitamin untuk kesehatan janin di perut Zia. Setelah semua selesai Zidan mandi dan melarang Zia berangkat sekolah, Zia menurut karena untuk meranjak dari kasur saja ia tidak bisa.
Zidan sebenarnya tidak tega meninggalkan Zia sendirian, tapi hari ini dia ada ulangan harian. Zidan tidak mau menyepelekan sekolah sekarang, ia sudah merasakan kerasnya kerja tanpa ijazah sekolah yang tinggi.
Zidan terlebih dahulu menyiapkan biskuit dan buah yang tersisa dari bundanya beberapa hari yang lalu, dan meletakkannya di kasur samping Zia, tepatnya di tempat ia tidur lengkap dengan minum dan jajan pasar yang ia beli tadi.
"Nanti dimakan ya. Kalo pengin apapun bilang ke gue, nanti pulangnya gue beliin," ucap Zidan meletakkan nampan yang penuh dengan makanan. Zidan sudah siap dengan seragam khas Trisatya.
"Iya nanti Zia abisin kok. Zidan semangat ya sekolahnya biar dedenya bangga punya papa kaya Zidan," ucap Zia dengan antusias, walau dengan badan lemas dan bibir yang pucat.
Zidan tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum, s i a l begini aja dia baper.
Apa tadi 'papa?' rasanya nano-nano sekali saat Zia menyebutnya papa.
Zidan berjongkok di samping Zia yang masih duduk bersandar di tempat tidur, lalu mengusap perut Zia, "Jangan nakal ya, nanti papa beliin apa yang kamu mau kalo kamu ngga bikin mama kamu sakit," bisik Zidan di perut Zia.
"Gue berangkat," pamit Zidan bangkit dan mengambil tasnya dan melangkah keluar dari kamar.
°°°°
"Lakuin sekarang! Salah satu Target tidak berangkat sekolah. Dia sendiri di rumah," ucap seseorang yang sedari tadi mengawasi rumah Zidan dan Zia.
°°°°
Zidan sedang serius mengerjakan ulangan harian mata pelajaran ekonomi. Tetapi entah kenapa sedari tadi perasaannya gelisah, entah apa yang membuatnya tidak tenang seperti ini.
"Zidan Harsya!" teriak Bu Abidah selaku guru ekonomi. Zidan terlonjak kaget, kemudian mengedarkan pandangannya dan semua siswa yang ternyata sedang melihat ke arahnya.
"Iya Bu? Kenapa?" tanya Zidan dengan raut wajah bingung.
"Daritadi ibu panggil panggil malah ngelamun. Ngelamunin apa? Ayra?" tanya Bu Abidah yang mengundang sorakan dari seisi kelas. Memang seluruh warga sekolah tau hubungannya dengan Ayra, kecuali kepala sekolah mungkin.
"Udah ngga sama Ayra lagi Bu," teriak Dyu dari meja belakang.
"sudah sudah. Sekarang kamu kumpulin kertas ulangannya, tinggal kamu saja yang belum mengumpulkan," ucap Bu Abidah pada Zidan, Zidan langsung menyerahkannya, tak lama bel istirahat berbunyi.
__ADS_1
XI IPA 1
"Gue mau ke toilet, lo ke kantin duluan aja," ucap Keyna saat Sherena mengajaknya ke kantin.
"Bareng aja deh, gue ikut lo," kata Sherena yang diangguki Keyna.
Mereka berjalan ke arah toilet, saat di lorong sepi mereka bertemu dengan adik kelas yang mereka tolong dari Adel waktu itu, gadis berkacamata itu berjalan ke arah Keyna dan Sherena.
Saat tepat di samping Keyna, gadis itu menarik tangan Keyna membuat Keyna menghentikan langkahnya.
"Kak Zia. Sekarang. Tolong." bisik gadis itu kemudian berlari meninggalkan Keyna terburu-buru.
Keyna terdiam cukup lama, mencoba mencerna ucapan adik kelasnya itu.
"Key! Kenapa?" tanya Sherena saat Keyna terdiam dan tidak menanggapinya sama sekali.
Keyna langsung berlari ke kantin saat sudah mengerti maksud ucapan gadis itu, Sherena yang bingung hanya mengikutinya saja.
BRAK!
Keyna menggebrak meja yang ditempati inti Atlansa.
"Wehhh santai Bu Bos!" ucap Dyu kaget mejanya digebrak dan menimbulkan suara yang cukup keras.
"Kenapa?" tanya Galen yang melihat wajah panik Keyna.
"Ziaa... Zia... Kita harus tolongin dia sekarang," ucap Keyna panik, Zidan dan Zio langsung bangkit diikuti Galen, Dyu, juga Langit.
"Zia kenapa?" tanya Zidan ikut panik, jantungnya langsung berdetak kencang saat Keyna menyebut nama Zia.
Keyna menggelengkan kepalanya, "Ngga tau. Tapi tadi ada yang ngasi kode kalo Zia kenapa-napa."
"Ke kontrakan Zia sekarang," ucap Galen dan yang lain mengikutinya ke parkiran. Galen berbicara sedikit dengan Pak satpam, kemudian mereka dibukakan gerbang dan langsung melajukan motornya ke kontrakan Zia dan Zidan dengan kecepatan tinggi.
Dalam perjalanan tak henti-hentinya Zidan berdoa supaya Zia baik-baik saja.
°°••
Hallo 👋👋
Siapa nih yang penasaran? KOMEN dong biar aku cepet up lagii♥
Sampai jumpa di bab selanjutnya✨♥
__ADS_1