Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
25. Kedatangan Bunda dan Mama


__ADS_3

Zio berjalan memasuki rumahnya setelah pulang sekolah. Setelah tau mamanya sedang hamil ada hal yang ia suka, yaitu mama sudah tidak bekerja lagi dan selalu di rumah.


"Zio kenapa kok mukanya gitu?" tanya mama Salma saat Zio duduk di sebelahnya.


Mereka duduk di ruang keluarga dengan mama Salma yang tengah memakan potongan buah di piringnya.


"Zio beneran mau punya adik? Kenapa baru sekarang sih Ma? Zio udah terlalu gede buat punya adek." Mama Salma menghela napas, ternyata anaknya masih belum terima akan punya adik.


"Ya kan baru dikasihnya sekarang. Oh iya, mama boleh tanya sesuatu?" ucap mama Salma menatap Zio yang tengah bersandar di sandaran sofa. Zio hanya berdehem mempersilahkan.


"Zia keadaannya sekarang gimana? Dia di rumah Zidan diperlakuinnya baik ngga?" tanya mama Salma, sebenarnya ia sudah lama ingin bertanya hal ini, tapi baru kesampaian.


Zio menegakkan duduknya tegang, ternyata sang mama mengira Zia tinggal di rumah Zidan, bukan di kontrakan kecil.


"Baik kok Ma, Mama baru ingat Zia sekarang?" tanya Zio dengan senyum mirisnya.


"Sebenernya mama sering tanya ke papa, tapi papa selalu marah setiap mama tanya tentang Zia, sekarang mama pengin ketemu Zia mumpung papa kamu lagi kerja, Anterin mama ya? " ucap sang mama yang awalnya sedih, berubah senang saat mengatakan akan bertemu Zia.


"Jangan sekarang Ma," ucap Zio saat mamanya menarik tangan Zio untuk berdiri.


"Mama mau sekarang! Zia pasti seneng kalo tau dia mau punya adik," ucap mama Salma dengan semangat dan terus memaksa Zio berdiri.


"Yaudah Zio ganti baju dulu," putus Zio berjalan menuju kamarnya di lantai atas.


°°°°


"Bunda," kaget Zidan saat turun dari motor dan mendapati Bunda Dian tengah duduk di teras kontrakannya.


Bunda Dian berdiri sambil tersenyum. Zia mengampiri bunda mertuanya dan menyalaminya diikuti oleh Zidan.

__ADS_1


"Bunda masuk dulu yuk," ajak Zidan membuka pintu dan mempersilahkan sang bunda masuk.


Bunda Dian mengedarkan pandangannya ke seluruh arah saat baru saja masuk ke rumah anaknya, hatinya terasa sakit saat mengetahui putra kesayangannya tinggal di tempat yang kurang layak seperti ini.


"Maaf ya bunda, rumahnya kecil," ucap Zia meringis saat melihat bunda mengamati rumahnya.


"Eh. Enggapapa, kenapa minta maaf. Ini bunda bawain susu hamil, biskuit, sama buah-buahan buat kamu." Bunda menyerahkan beberapa paperbag yang dibawanya ke Zia.


Zia menatap Zidan terlebih dahulu, saat melihat Zidan mengangguk, Zia menerimanya, "Makasih Bunda, maaf malah ngerepotin Bunda."


"Engga sayang. Ini kan buat cucu bunda juga, itu biskuitnya bisa buat ngurangin mual, susunya juga udah bunda pilihin yang ngga bikin mual," ucap bunda, Zidan merasa terharu, ia memang berniat membelikan Zia susu hamil tapi belum kesampaian karena gajinya di kafe belum turun, sedangkan gajinya dari pasar hanya cukup untuk makan sehari.


"Zidan makasih banget sama bunda, harusnya Zidan yang beli itu semua, tapi Zidan ngga punya cukup uang, Zidan jadi ngga enak sama bunda, " ucap Zidan.


"Kan bunda pernah bilang bunda bakal bantu Zidan, jadi Zidan harus jaga Zia sama calon cucu bunda baik-baik," ucap Bunda sembari mengelus tangan Zidan dan Zia yang duduk di kanan kirinya.


"Zia juga nanti harus rajin cek up ya. Datang aja ke Bunda, nanti Zia jadi pasien VVIP bunda, impian bunda terkabul lebih cepet. bunda tuh pengin jadi dokter kandungan buat mantu bunda dan sekarang udah terwujud, " ucap bunda menoleh pada Zia, Zia hanya mengangguk dan tersenyum manis menanggapinya.


"Udah satu bulan kan ya sekarang?" tanya bunda mengelus pelan perut Zia. Zia kembali mengangguk dan tersenyum.


"Iya, suka kenceng gitu perutnya bun," cerita Zia yang membuat bunda tersenyum.


"Kalo kenceng gitu kenapa Bun? Semalem sampe Zia meringis gitu, pas Zidan sentuh perutnya tegang," adu Zidan sedikit khawatir.


Bunda tersenyum melihat anaknya begitu perhatian pada sang istri, " dorongan otot perut karena rahimnya lagi berkembang itu Dan, jadinya perutnya kerasa kenceng."


"Zia!"


Suara dari arah pintu membuat ketiga orang yang sedang asyik mengobrol menolehkan kepala ke sumber suara. Di depan pintu yang terbuka berdiri Mama Salma dan Zio di belakangnya.

__ADS_1


"Mama!" Zia berdiri dan langsung berlari memeluk mamanya. Mama Salma membalas pelukan Zia dan meneteskan air matanya. Ia sempat kaget saat melihat rumah yang ditempati Zia sekarang. Sedangkan Zidan malah mengkhawatirkan Zia yang berlari.


"Zia kangen banget sama mama," ucap Zia di sela-sela tangisnya.


Mama Salma melepaskan pelukan mereka, ia menghapus air mata di pipi Zia. Padahal dirinya saja menangis.


Zidan mempersilahkan mereka masuk dan duduk. Zidan juga membuatkan minum untuk mereka, Zidan juga membawa pemberian Bunda ke dapur.


"Maafin mama ya sayang. Mama ngga tau kalau Zia tinggal di tempat kaya gini, pasti ngga nyaman kan? " ucap Mama Salma sedih.


Zia hanya menggelengkan kepala, "Zia seneng kok disini, Zia yang harusnya minta maaf. Zia udah bikin mama kecewa." ujar Zia. Bunda Dian, Zidan, dan Zio hanya memperhatikan mereka tanpa berkomentar apapun.


"Mama memang sempet kecewa sama kamu, tapi sekarang mama udah maafin Zia kok," ucap mama Salma sembari mengusap pipi Zia.


"Mama kira Zia tinggal di rumah Zidan. Maafin Mama belum bisa bujuk papa biar Zia boleh pulang ke rumah, ini aja mama diem-diem perginya," ucap mama Salma.


"Maaf tante, Ayah saya juga tidak mengizinkan kami tetap di rumah. Jadi maaf banget kalau saya harus bawa Zia hidup susah di sini, " kata Zidan saat sang mertua menyebut namanya.


"Bunda juga udah sering bilang ke ayah kamu Dan, tapi ayah masih kekeh sama keputusannya, maafin ayah yang udah egois ke kalian ya," timpal Bunda Dian juga.


"Ayah cuma mau Zidan jadi suami yang bener-bener tanggungjawab Bun. Jadi Zidan ngga marah sama ayah. Zidan bakal buktiin kalau Zidan bisa." Zia sibuk memeluk mamanya dari samping saat yang lain sedang mengobrol dengan serius.


"Kata Sherena Zia mau punya adik kan ya ma? Bener? Udah berapa bulan ma?" tanya Zia saat suasananya sudah membaik.


"Iya sayang, udah tiga bulan. Bunda ngga tau kalo lagi hamil, soalnya Bunda ngga ngerasain apa apa. Bunda baru tau waktu nyadar udah telat datang bulan, langsung ke dokter eh tau-tau udah tiga bulan. Jadi papa langsung ngajak mama pulang dari Surabaya, biar mama bisa di rumah aja," cerita mama Salma yang dijawab senyuman oleh Zia.


"Zia jadi iri sama mama, Zia yang baru satu bulan udah ngerasain susahnya mual, muntah, sakit pinggang, juga sakit perut," cemberut Zia yang malah membuat sang mama kaget.


"Zia hamil?"

__ADS_1


__ADS_2