
Seperti yang mereka sepakati tadi siang saat di sekolah. Malam harinya mereka berkumpul di rumah Zidan, tentunya tanpa membahas kasus atau apapun itu. Mereka hanya akan bersantai dan menikmati waktu bersama.
"Dimakan ya, jangan sungkan," ucap Bunda Dian sembari membantu Bi Asih menata camilan di meja.
"Siap Bun. Kalau masih ada keluarin smeuanya aja," jawab Dyu dengan tidak tau dirinya. Tabokan Dyu dapatkan dari sisi kanan dan kirinya dari Zio dan Langit.
Bunda terkekeh, "Ya udah Bunda ke belakang dulu, have fun." pamitnya.
"Iya Bun, makasih," ucap mereka hampir bersamaan.
Bertepatan dengan perginya bunda, terlihatlah Zia yang baru keluar dari kamarnya di lantai atas.
Zidan yang melihat Zia akan menuruni tangga, dengan sigap berlari menaiki anak tangga dan menghampiri istrinya itu. Semua pasang mata di bawah sana otomatis melihat ke arah mereka.
"Pelan pelan aja," peringat Zidan sembari menuntun dan memegang pinggang Zia.
Zia mengangguk dan tersenyum, "Padahal aku bisa sendiri," ucapnya karena merasa Zidan memberlakukannya dengan berlebihan.
Zidan tidak menanggapi ucapan Zia. Hingga sampai ke tempat mereka berkumpul pun Zidan membantu Zia duduk perlahan di sebelah Sherena dan meletakkan bantal di punggung Zia.
"Udah nyaman?" tanya Zidan yang dibalas anggukan kepala oleh Zia.
"Suami dan Calon papa siaga nih ceritanya," goda Dyu yang sedari tadi memperhatikan tingkah overprotektif Zidan pada Zia.
"Suka ceroboh dia," jawab Zidan yang mendudukkan dirinya di sebelah Zia. Zia tidak mengelak ucapan Zidan, dia memang menyadari dirinya sering sekali ceroboh.
"Gimana kabarnya Zi? Lama ngga ketemu udah gede aja perut lo," tanya Langit. Yang sebenarnya mewakili semua cowok di sana. Kalau para cewek kan tadi pagi sampai siang saja bersama.
"Alhamdulillah baik," jawab Zia dengan tangan yang mengusap perut buncitnya.
"Berat ngga sih Zi bawa perut besar gini kemana mana?" tanya Sherena yang ikut mengelus perut Zia.
"Sekarang udah lumayan berasa berat, kadang juga Zia sangga bawahnya biar lebih enak aja jalannya," jawab Zia sembari mempraktekan caranya menyangga perut.
Di saat yang lain kepo tentang kehamilan Zia, Zidan malah memperhatikan Langit yang masih menatap Zia kagum, Zidan tau dulu Langit begitu mengagumi istrinya itu. Karena larangan keras Zio yang tidak memperbolehkan mereka mendekati Zia lah yang membuat Langit hanya cerita padanya.
Entah mengapa ia tidak menyukai tatapan Langit itu.
"Sekolah tuh sepi ngga ada kalian," ucap Dyu membuka pembicaraan mereka.
"Pasti lah. Ngga ada gue gitu loh," saut Sherena dengan mengibaskan rambutnya.
"Ngga ada yang suaranya kaya toa. Sekalinya teriak seantero sekolah deger semua," canda Zio yang mendapat cubitan di pahanya dari Sherena.
Mereka tertawa melihat ekspresi kesakitan Zio.
"Kebayang ngga sih rumah kalian nanti kalo udah nikah berisiknya kaya apa, kalo istrinya aja modelan Sherena gini," ucap Zidan.
Zio menjadi berangan angan ke arah sana, "Ya nggapapa sih palingan juga gue sering sering ke dokter THT aja," timpal Zio.
"Belum tentu juga kalian sampe nikah kan? liat aja Zidan sama Ayra, mereka yang bucinnya minta ampun aja ngga jodoh," kata Keyna realistis. Lagian sudah banyak sekali fenomena 'jagain jodoh orang.'
__ADS_1
"Weiisss tah, mantap! tiga tahun jagain jodoh CEO ngga tuh," ledek Dyu yang mengundang tawa mereka.
"Mundur dari awal gue kalo tau saingannya modelan Pak Ervan," ujar Langit seperti mewakili seorang Zidan. Zidan hanya tersenyum menanggapinya, karena memang benar. Saingannya berat.
"Lah lo sendiri gimana se rumah sama istri yang modelan Zia gini?" tanya Galen yang cukup penasaran.
Zidan menatap Zia sejenak, "Gimananya gimana nih?" tanya Zidan agar lebih spesifik menjawabnya.
"Jatah aman?" celetuk Dyu yang membuat mereka ikut penasaran.
"Harusnya sih malam ini," ceplos Zidan. Zidan menutup mulutnya sendiri, bisa bisanya mulutnya berucap seperti itu.
"ohhh gue tau gue tauuu... Tadi siang nolak kita kumpul karena jatah toh... paham paham," heboh Dyu. Zidan menggeleng pelan sembari menunduk, setelah tadi pagi dipermalukan bundanya sekarang malah mereka.
"Sorry sorry kita ganggu nih," timpal Langit.
"Gess cabut yuk," canda Sherena membuat gerakan seolah akan beranjak. Tidak benar benar pergi, hanya sebuah candaan saja.
"Mau kemana?" tanya Zia yag sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.
"Ngga jadi deh. Mau nonton livenya aja," goda Sherena lagi. Sungguh, mereka senang sekali melihat wajah Zidan yang sudah menunduk malu.
"Bagi linknya aja Dan," kata Zio yang tengah merangkul pundak kekasihnya.
"Ngeres banget otak kalian," ucap Zidan lalu beranjak dari ruangan itu.
"Lah mau kemana? Ngambek Lo?" teriak Dyu sembari memperhatikan Zidan yang tengah menaiki tangga.
"Ambil gitar," jawab Zidan berteriak juga, untung bundanya belum tidur dan masih sibuk di dapur.
"Nih." Zidan memberikan gitar yang satu itu pada Langit, kebetulan Langit ahlinya dalam hal bermain alat musik itu.
"Pengalihan topik nih?" kata Galen yang membuat Zidan nyengir kuda. Daripada membahas hal itu mending nyanyi bareng.
"Lagu apa nih?" tanya Langit yang sedang mengetes gitar di pangkuannya.
"Bumil kita nih maunya apa?" tanya Keyna yang tau kalau lagu adalah kesukaan Zia.
Zia sedikit perpikir sembari membenarkan posisi duduknya, "selamat selamat tinggal tau ngga?"
"Yang reff nya kaya gimana?" tanya Dyu yang hanya tau lagu dari bagian reffnya saja, bahkan tidak tau judulnya tapi tau reff nya.
"Andai dulu kau tak pergi dari hidupku, takan mungkin ku temui cinta yang kini ku miliki," nyanyi Zia membuat mereka semua mengangguk.
"Oh tau tau," ujar Dyu.
Langit yang juga suka lagu itu langsung saja mulai memetik senar gitarnya, begitupun dengan Zidan.
Di tempat ini...
Di tempat pertama aku menemukanmu...
__ADS_1
Kembali ku datangi tempat ini tapi ku dengan yang lain....
Langit memulai lagu ini karena memang dia yang hafal liriknya. Yang lain mah harus nyontek google dulu.
Samar ku dengar...
Suara yang selalu ku kenal itu suaramu...
Kau terlihat bahagia bersamanya....
Dia kekasihmu yang baru...
Kini Zia yang menyanyi dengan penuh penghayatan, entah kenapa lirik bagian ini yang paling Zia suka.
Dan aku pun terdiam....
Saat gadis kecil berlari ke arahmu...
Gadis kecil yang miliki mata indah...
Persis seperti matamu...
Langit memejamkan matanya, lirik ini seperti gambarannya saat melihat Zia beberapa tahun ke depan.
Aku pun tersenyum...
Kan ku genggam tangan wanita di sampingku..
Dan berkata lirih di dalam hati tentang semua ini...
Zidan membawakan lirik itu dengan baik, kan memang dengan menyanyi ia menghidupi Zia kemarin kemarin.
"Ayoo semuanyaa," kata Dyu heboh layaknya sedang di dalam sebuah konser.
Andai dulu kau tak pergi dari hidupku...
Takkan mungkin ku temui cinta yang kini ku miliki...
Cinta yang menerima kekuranganku...
Dan merubah caraku memandang dunia...
Sekitar setengah jam mereka isi dengan menyanyi, setelahnya mereka makan malam karena sudah dimasakkan oleh bunda.
Malam itu mereka benar benar menikmati waktu yang sudah lama tidak mereka rasakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii 👋
Aku kasih yang santai dulu sebelum yang tegang tegang😂
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komen, vote, hadiah juga boleh.♥♥
Oh iya siapa nih yang udah mampir ke ceritanya Ayra dan Pak Ervan di lapak sebelah? 😊