
Semenjak kehilangan satu anak mereka, hubungan keduanya semakin dekat dan saling menguatkan. Zidan selalu mengawasi Zia dalam setiap hal, begitu pun Zia yang mulai bisa mengurusi keperluan Zidan layaknya suami istri pada umumnya.
Seandainya kau tauu... ku tak ingin kau pergi
Zidan tengah berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Setelah sarapan tadi, ia memperhatikan Zia yang tengah menyiram sayuran di belakang kontrakan sembari menyanyi pelan. Bibir Zidan terangkat membentuk senyum manis, istrinya itu terlihat begitu imut dan cantik dengan dress ibu hamil. Apalagi perutnya sudah terlihat lumayan buncit.
Zidan sadar rasanya untuk Ayra mulai memudar, dia sudah tidak begitu terpengaruh saat melihat ataupun mengingat tentang Ayra.
Zidan juga sadar, mulai ada tempat di hatinya untuk wanita polos yang sedang ia amati. Ibu dari anak-anaknya nanti.
"Zidan?"
Zidan membuyarkan lamunannya saat Zia memanggil namanya dan ternyata Zia sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Belum berangkat sekolahnya?" tanya Zia. Zidan menggeleng, lalu mengusap pipi Zia yang terkena cipratan air.
Zia tersenyum manis, lalu mengajak Zidan masuk ke kontrakan. "Berangkat sana, Zidan. Zia juga bentar lagi siap-siap."
Mulai dari awal semester dua, Zia sudah mulai menjalani homeschooling dengan Sherena dan Keyna.
Zidan belum juga berangkat, suami Zia itu malah mendudukkan Zia di kursi dapur dan dirinya berjongkok untuk mengajak mengobrol anaknya.
"Anak papa lagi ngapain, hm?" Zidan mengetuk pelan perut Zia. "Lagi bobo ya?"
Zia menyunggingkan senyum manisnya, dirinya selalu merasa bahagia sekaligus deg-degan setiap Zidan mengajak mengobrol perutnya.
"Belum pernah nendang ya?" Zidan bertanya sembari mendongakkan kepala, tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zia. Zia lalu menggeleng dengan gugup, akhir-akhir ini ia selalu gugup dan deg-degan saat dekat dengan Zidan.
"Janin kalo nendang biasanya umur berapa ya minggu ya?" tanya Zidan yang sudah kembali bermain dengan perut Zia dibalik dress warna peach itu.
"Kata goggle kalo hamil anak pertama nendangnya sekitar usia 25 mingguan," jawab Zia yang beberapa hari kemarin juga sudah penasaran.
"Sekarang minggu ke..." Zidan berpikir sejenak, "tujuh belas?"
Zia mengangguk mengiyakan, "Zia ngga sabar pengen ngerasain tendangannya."
"Sama, gue juga," timpal Zidan. Zidan sekarang mengamati wajah Zia yang tengah tersenyum manis dari posisinya yang masih jongkok. Rasanya hatinya adem begitu melihat Zia yang perlahan sudah bisa mulai tersenyum setelah kehilangan salah satu calon anak mereka.
Zia yang dilihat seperti itu merasakan salah tingkah, membuat pipinya memerah. "Lo kenapa? mau muntah lagi?" tanya Zidan saat melihat perubahan wajah Zia.
__ADS_1
Zia menggeleng lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Jangan liatin Zia kaya gitu, Zia maluuu," ucap Zia dengan jujurnya.
Zidan terkekeh lalu beranjak dari berjongkoknya. "Kenapa malu?"
"Ya malu aja, Zia juga ngga tau."
"Salting nih?"
Zia menggelengkan kepalanya, tangannya masih setia menutup wajah, hingga saat ia mengintip sudah tidak ada Zidan di depannya.
"Zidan?" panggil Zia sembari menurunkan tangannya dan berdiri. Zidan yang bersembunyi di belakang Zia langsung memeluk tubuh Zia dari belakang membuat Zia berjingkat karena kaget.
Zidan tertawa lepas melihat ekapresi kaget Zia yang menurutnya sangat imut.
"Ish, Zidannn."
Zia memukuli tangan Zidan yang memeluk perutnya dari belakang. "Lepas."
"Cium dulu baru gue lepas," bisik Zidan tepat di telinga Zia, membuat Zia merinding sendiri. Zidan sudah seberani itu terhadapnya.
Zia yang merasakan gugup, langsung mengalihkan pandangannya pada segala arah. Matanya membulat sempurna saat melihat jam dinding.
Cup.
Zidan langsung melepas pelukannya, lalu mencium pipi Zia sebelum ia berlari ke kamar guna mengambil tas dan kunci motor.
Zia masih mematung di tempat. Tangan Zia menyentuh bekas ciuman Zidan tadi, lalu tersenyum kecil. Ini pertama kali Zidan menciumnya, dan rasanya cukup...Ah entahlah Zia tidak bisa mendiskripsikannya.
"Ekhmm.. ekhm... Napa nih bumil kita senyum senyum sendiri?"
Zia terkejut saat tiba-tiba Sherena dan Keyna sudah di dalam rumahnya.
"Eh kalian udah dateng?" basa basi Zia. Zia mencoba bersikap senormal mungkin agar mereka tidak tau aoa yang membuatnya tersenyum seperti itu.
"Daritadi kaliii... Waktu Zidan nyalain motornya," jawab Sherena yang tengah menaruh tas di meja.
Zia mengangguk saja. Dirinya lalu berpamitan untuk mempersiapkan bukunya juga. Mereka akan memulai aktifitas rutin mereka yang sudah mereka jalani sekitar dua mingguan, homeschooling. Sherena dan Keyna benar-benar ikut homeschooling seperti dirinya, padahal Zia kira mereka waktu itu hanya sedang menghiburnya saja.
SMA Trisatya memang menyediakan kelas homeschooling bagi murid yang membutuhkannya, seperti murid yang punya kelaian fisik, tapi mempunyai minat yang besar untuk bersekolah di Trisatya. Itulah yang membuat sekolah itu terkenal dan menjadi salah satu SMA favorit.
__ADS_1
Guru mereka biasanya akan datang pada jam delapan, sembari menunggu mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan Zia yang sedang sarapan.
"Udah berapa bulan Zi? udah keliatan banget ini mah," tanya Keyna saat Zia meletakkan tangan kirinya di bawah perut, membuat perut Zia terlihat jelas.
Zia menelan nasinya sebelum menjawab, "Tujuh belas minggu, berarti empat bulan lebih."
"Boleh gue elus?" tanya Sherena, Zia mengangguk lalu menggeser tubuhnya agar Sherena mudah meraih perutnya.
Sherena mengelus perut Zia, sementara ibu hamil itu fokus pada makanannya. Tadi waktu Zidan sarapan, Zia belum ingin makan dan baru menginginkannya sekarang.
"Belum nendang?" Kini Keyna yang bertanya. Zia menggeleng, tadi pagi Zidan, sekarang Keyna yang bertanya hal yang sama. Kan Zia makin tidak sabar jadinya.
"Ih gemezz banget gue," ujar Sherena sembari terus mengusap perut Zia dengan cara memutar. Zia terkekeh, ia juga kadang sama gemasnya dengan Sherena saat melihat perutnya sendiri.
"Jangan pake tenaga Sher, nanti lakinya ngamuk," ledek Keyna saat Sherena terlihat semakin gemas dengan perut adik dari pacarnya itu.
Mereka menghentikan aktifitas mereka dan Zia menaruh piring di dapur saat guru mereka sudah tiba.
°°°°°
Tidak terlalu berbeda dengan Zia, Zidan juga senyum-senyum sendiri saat mengingat dirinya yang dengan lancang mengecup pipi Zia. Zidan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat saat mengingatnya.
"Lah? ngapa tuh bocah?" heran Dyu saat melihat Zidan yang sebentar sebentar tersenyum saat pelajaran tengah berlangsung. Langit yang duduk di sebelah Zidan mengedikkan bahunya saat mendegar bisikan Dyu dari bangku belakangnya.
"Sekarang saya minta Zidan untuk mengerjakan soal ini," ucap guru ekonomi sembari menulis soal di papan tulis. Setelahnya ia menunjuk Zidan.
"Zidan? Zidan Harsha?" panggil guru tersebut karena Zidan tidak menjawab pertanyaannya. Langit yang di sebelah Zidan menabok lumayan keras pada lengan Zidan.
"Iya Zia, kenapa? " spontan Zidan saat terkejut. Seisi kelas dibuat tertawa karena ucapan Zidan.
"Mentang-mentang punya istri, lagi peljaran pikirannya ke Zia mulu," ucap guru tersebut sambil geleng-geleng kepala.
°°°°•
Hallooo semuanyaa 👋👋
Bab ini tanpa konflik nih, gimana kalian suka? ♥♥
Kalau suka, jangan lupa like ya👍
__ADS_1
Komen juga jangan lupa biar aku semangat updatenya. 👋👋