
"Mau kemana neng? cakep amat?" goda Zidan pada Zia yang sudah cantik dan wangi.
"Katanya pasar malem," jawab Zia yang sedang merapikhan rambutnya.
"Vian dibawa?" tanya Zidan lagi.
"Emmm... bawa aja apa gimana ya?" tanya balik Zia, kan kalau dibawa masih terlalu kecil, tidak dibawa juga takut merepotkan bunda Dian.
"Jangan! Kalo kalian mau pacaran, berdua aja. Zavian sama bunda," ucap bunda Dian yang baru saja masuk ke kamar putra dan menantunya.
"Nggapapa, Bun?" tanya Zidan yang langsung diangguki bunda Dian.
"Yang penting ditinggalin ASI," jawab bunda Dian.
Zia mengangguk lalu mengambil pompa ASI yang biasa ia gunakan kalau mau berangkat sekolah.
"Kalau Zavian rewel, telpon aja ya Bun? kita bakalan langsung balik kok," kata Zia yang sedang memompa asi. Padahal penampilannya sudah rapi, tapi bajunya kembali kusut. Tidak apa, yang nomor satu kan anak.
Bunda Dian mengangguk, "Have fun ya! nikmatin masa yang belum pernah kalian lewatin bareng."
"Makasih banyak, Bunda," ucap Zidan dan Zia bersamaan.
Bunda Dian mengangguk, "Ya udah bunda balik ke kamar, Zavian kasian lagi tidur di kamar bunda sendirian."
Zidan dan Zia saling tatap lalu tersenyum. Saatnya menjadi remaja yang akan berpacaran di pasar malam.
"Naik motor atau mobil?" tanya Zidan saat di depan nakas, ada kunci mobil dan motor di sana.
"Motor dong, biar bisa peluk-peluk." Jawaban Zia membuat Zidan terkekeh, benar juga. Motor lebih menguntungkan untuknya.
Zidan dan Zia lebih dulu mengunjungi kamar bunda Dian untuk melihat Zavian. Setelah mengecup kening sang putra, Zidan dan Zia pamit pada bunda Dian.
Sesampainya di pasar malam, Sherena dan Zio sudah menunggu mereka di dekat pintu masuk. Lambaian tangan Sherena yang membuat Zia tau ada sahabatnya di sana.
"Rame banget ya?" kata Zia di tengah mereka berjalan. Lampu warna-warni, suara bising anak-anak, juga beberapa wahana yang tampak begitu menggiurkan dan harus dicoba.
__ADS_1
"Biasa... Malam minggu, pada pacaran kaya kita," jawab Sherena yang digandeng Zio. Mungkin takut pacarnya itu hilang.
"Kita? Lo aja kali, kita mah udah nikah, iya nggak Zi?" respon Zidan membuat Sherena beringsut kesal.
"Enggak. Kan ceritanya kita kaya pacaran di sini," balas Zia membuat Sherena tertawa puas.
"Kemana dulu nih?" tanya Zio.
Zidan mengedarkan pndangannya pada seekliling yang sangat ramai. "Main di sana dulu kali ya? baru kita makan."
Semuanya setuju, anggap saja double date di pasar malam. Zidan juga Zio terus menggenggam tangan kekasihnya dengan erat, karena terlalu ramai. Lepas sedikit saja bisa sudah tidak kelihatan, apalagi Zia yang seperti anak kecil.
Naik komedi putar, biang lala, main capit boneka, dan semua yang ada di sana mereka coba. Zia tertawa riang saat Zidan berhasil mendapatkan boneka panda menggemaskan dan diberikan untuknya.
Pasar malam ini seperti timezone di Mall, bedanya ini di lapangan terbuka dan tidak setiap saat ada.
Di atas bianglala, Zia bersandar pada Zidan. Lebih tapatnya berpegangan erat, berdasarkan kartun botak kembar yang Zia tonton, waktu di ketinggian seperti ini mesinnya berhenti, dan Zia takut itu beneran terjadi.
"Nggak bakalan jatuh, Sayang," kata Zidan saat Zia memyembunyikan kepala di punggungnya karena takut.
Zidan terkekeh. Sampai mereka sampai di bawah mesin dimatikan baru Zia menjauhkan kepalanya dari punggung Zidan.
Setelah semua mereka nikmati, saatnya makan malam. Mereka memilih warung bakso yang sepertinya ini kios dadakan.
"Ihh Zia mau itu," tunjuk Zia pada permen kapas yang mengantung-gantung di tempat penjualnya.
"Nanti ya? makan dulu baksonya," ucap Zidan saat pesanan mereka sampai.
Di meja dan kursi kayu yang lapuk, Zia, Zidan, Zio, dan Sherena menikmati bakso. Kalau dilihat seperti ini, mereka tidak tampak kalau mereka kaya dan calon penerus perusahaan besar.
"Nggak ambruk kan ya?" bisik Sherena pada Zio. Bukan apa, tapi kursinya berbunyi setiap kali ia mengubah posisi atau hanya bergerak sedikit saja.
Zio mengedikkan bahunya, "Malu sih kalo sampe ambruk."
"Enggak lah, ini masih kokoh koh," timpal Zidan yang mendengar bisik-bisik tetangga.
__ADS_1
Zia tidak memperhatikan, karena ibu anak satu itu sedang lahap memakan bakso. Permen kapas di sana seperti sudah melambai-lambai ke arahnya. "Sebentar permen kapas, Zia abisin bakso dulu."
Zidan terkekeh, seperti anak kecil sekali istrinya itu. Dengan inisiatif, Zidan membelikan permen kapas yang terus Zia lihat dari tadi.
"Sinii... buat akuu," seru Zia merentangkan tangannya untuk menerima apa yang Zidan pegang.
"Makasih, papanya Zavian," ucap Zia mengecup pipi Zidan. Zidan langsung mengelapnya karena bau bakso.
Zidan tersenyum simpul melihat Zia yang begitu bahagia saat ia bawa kemari. Memang seharusnya seorang ibu rumah tangga harus dibawa jalan-jalan agar tidak suntuk di rumah.
"Seneng?" tanya Zidan saat Zia tengah melahap permen kapas itu hingga wajahnya tak terlihat drai arah Zidan, tapi masih bisa melihat kalau Zia mengangguk.
"Tapi sekarang pulang ya? takut Zavian udah nyariin kamu," ucap Zidan, lagi dan lagi Zia mengangguk.
"Ayo pulang," kata Zia sembari berdiri.
"Kalian duluan aja, kita masih mau di sini," kata Zio. Zidan dan Zia mengangguk, pamit lebih dulu karena memang mereka punya anak yang ditinggal di rumah. Harus sadar diri.
Malam ini, Zidan puas karena Zia bahagia. Karena Zia bisa merasakan yang namanya pacaran setelah menikah, bukan hanya seperti awal pernikahan yang sedang memikirkan sulitnya bertahan hidup.
¤¤¤¤¤
Keesokan paginya.
Zidan mengamati penampilan Zia dari bawah sampai atas. Istrinya ini menggunakan pakaian hitam-hitam, seperti istri mafia saja.
"Mau layat kemana?" tanya Zidan yang baru saja selesai mandi pagi.
"Kan Minggu. Latihan bela diri lah," jawab Zia dengan semangat.
Zidan tepok jidat. Baru ingat kalau istrinya ini ingin bisa bela diri.
"Ya udah. Morning kiss dulu," pinta Zidan yang masih rebahan bersama Zavian.
Dengan ceria, Zia mengecup bibir Zidan lalu dahi Zavian. "Udah. Ayok bangun!"
__ADS_1
Zidan mengangguk, bangun dadi rebahannya dan berganti pakaian. Masa latihan bela diri pakai piyama tidur.