Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
66. Anak Kita


__ADS_3

"Udah siap?" tanya Zidan. Sudah dua puluh menit mereka berada di depan gerbang mewah milik orangtua Zia. Sedari tadi Zia bilang belum siap dan terus menggenggam erat tangan Zidan.


Kali ini Zia menghembuskan napasnya kemudian mengangguk.


"Bismillah."


Zidan membunyikan bel rumah itu sekali, lalu menggenggam tangan Zia yang dingin. Zidan merasa prihatin, Zia setakut itu hanya untuk bertemu orangtuanya sendiri.


"ZIAA," teriak Zio dari depan pintu lalu berlari ke arah gerbang. Zia tersenyum manis pada kakak kembarnya yang tengah membukakan gerbang. Ingatkan jika tidak ada pembantu yang stay dua puluh empat jam di rumah Zio? Hanya ada satpam yang entah sedang kenama orang itu.


"Ayok masuk," ajak Zio saat pintu gerbang sudah terbuka.


Zia menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum. "Papa udah pulang?"


"Udah, lagi di ruang keluarga sama mama. Ayok," ajak Zio lagi. Zidan tersenyum sembari mengangguk meyakinkan Zia saat perempuan imut itu menatap ke arahnya.


Zia menginjakkan kakinya lagi di sini. Di tempat ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang, hingga akhirnya diusir dengan penuh kemarahan.


"Masuk," ucap Zio membuka pintu dan membiarkan pasutri remaja itu masuk.


Detak jantung Zia semakin tidak beraturan saat sudah berada di dalam rumah. Rasanya rumah itu begitu besar dan dia seperti sudah berjalan jauh, mungkin karena sudah terbiasa hidup di kontrakan yang kecil.


"Siapa Zi?" Suara dari arah ruang keluarga itu membuat Zia meremas tangan Zidan yang tidak pernah sedetik pun terlepas. Itu suara papanya, suara yang terakhir ia dengan lima bulan lalu.


"Tamu istimewa Pa," jawab Zio sedikit berteriak lalu mengajak Zia dan Zidan ke ruang keluarga.


"Liat Ma, Pa. Siapa yang dateng," ujar Zio sembari menggeser tubuhnya. Zia yang berdiri di belakang Zio kini terlihat jelas. Perempuan hamil itu tengah menunduk, belum siap melihat wajah orangtuanya.


"Zia?" Suara mamanya membuat Zia menegakkan kepalanya. Terlihatlah mamanya dengan perut yang sudah besar tengah mencoba berdiri dibantu papa. Mamanya kini tengah berjalan tergesa menghampirinya. Melihat itu Zia pun melepas genggaman tangannya dengan Zidan lalu mendekati sang mama dan mereka saling memeluk walau terhalang perut buncit masing-masing.


"Mama kengen banget sama Zia." Mendengar itu Zia mengangguk, dirinya juga sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya itu. Zidan tersenyum tipis melihat itu.


"Mau apa kamu ke sini?" Suara tegas nan ketus itu membuat tubuh Zia menegang dan melepaskan pelukannya.


"Papa." Zia tersenyum pada sang papa yang terlihat tidak menginginkan kehadirannya di sini.


"Keluar dari rumah saya," ucap papa Zia dengan menunjuk ke arah pintu. Zia menggelengkan kepala, walaupun sudah bisa ditebak bagaimana reaksi papanya, tetap saja hati Zia rasanya sakit.

__ADS_1


"Maaf Om, Tapi Zia kemari karena ingin bertemu Om. Apa Om ngga pengin ketemu anaknya, sudah lima bula-"


"Saya ngga peduli! Silahkan keluar sebelum saya panggilkan satpam," potong Papa Riyan. Zidan memegang kedua bahu Zia lalu mengusapnya, Zia tidak menangis tapi hanya terdiam dengan wajah yang tidak berhenti menatap wajah papanya yang tengah marah. Zidan paham istrinya itu hanya ingin melihat wajah papanya lebih lama. Maka dari itu, sebisa mungkin Zidan akan mengulur waktu.


"Putri Om hanya ingin melihat wajah Om sebentar saja." Zidan terus mengawasi gerak-gerik papa mertuanya itu, takut-takut ia mendorong Zia.


"Saya tidak pun-" Saat pria bernama Riyan itu sudah melangkahkan kakinya menuju arah mereka, Zidan segera bertindak.


"Kita pulang," ujar Zidan sebelum papa Zia mengucapkan kata-kata yang lebih menyakiti Zia apalagi sampai menyakiti fisik Zia. Zidan benar-benar tidak terima istrinya diperlakukan tidak baik seperti ini.


Zia hanya menurut saja saat Zidan menarik tangannya untuk keluar dari rumah itu. Setidaknya ia sudah melihat papa dan mamanya, dan mereka sehat. Itu sudah cukup untuk Zia. Zia sebentar-sebentar menoleh ke belakang, masih berharap papanya mengucapkan sesuatu yang tidak menyakitinya. Atau mungkin mencegahnya pulang? Zia seperrinya terlalu berharap tinggi.


"Maaf ya," ucap Zidan tiba-tiba saat menyerahkan helm pada Zia.


"Kenapa minta maaf?" tanya Zia dengan suara yang sedikit serak. Jelas sekali Zia sedari tadi menahan tangis.


Zidan menggeleng, entah kenapa rasanya campur aduk. "Ayo pulang, udah malem."


Zia mengangguk lalu memegang bahu Zidan sebagai pegangan ia naik ke atas motor tinggi itu. Sebenarnya cukup bahaya menggunakan motor sport untuk ibu hamil tapi tidak ada cara lain.


Saat motor sudah melaju, Zia menyandarkan kepalanya pada punggung lebar Zidan dan menangis dalam diam di sana. Mati-matian Zia tadi menahannya, tapi sekarang dalam diam semuanya tumpah.


Zidan tidak dapat melihat wajah Zia, tapi Zidan tau Zia tengah menangis. Napas cepat Zia menandakan tangisan yang ditahan. Zidan membiarkannya supaya perasaan Zia sedikit tenang setelah menangis.


°°°°°


"Udah seneng bisa ketemu papa?" tanya Zidan saat mereka akan tidur. Zia mengangguk sembari menatap langit-langit kamar yang terlihat usang itu.


"Jangan dipikirin ya omongan papa? Ambil positifnya aja, berarti papa kamu sehat karena masih bisa marah marah," ucap Zidan sedikit bercanda. Zia kembali mengangguk, lalu mengubah posisi tidurnya menjadi miring kiri, tepatnya ke arah Zidan.


"Kapan papa maafin Zia?" tanya Zia.


"Kapan kapan," jawab Zidan seadanya.


Zia mengerucutkan bibirnya, "Zidan ngga pengen ketemu papa Zidan?" tanyanya saat mengingat Zidan terakhir bertemu papanya itu sehari setelah menikah.


"Pengin," jawab Zidan, Bohong jika ia tidak merindukan pahlawan hidupnya itu. Zidan hanya ingin bertemu papanya setelah ia sukses dengan kehidupan yang lebih baik. Ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

__ADS_1


"Kapan?" tanya Zia.


"Kapan kapan," jawab Zidan lalu terkekeh. "Udah lah, tidur yuk besok sekolah."


"Kita kaya ngga pernah belajar malem ya?" tanya Zia yang belum mengantuk.


"Ngga belajar aja udah pinter gue," jawab Zidan dengan percaya dirinya.


"Iya Zidan pinter, makanya Zia di sini ngga pernah kekurangan apapun. Semoga anak kita nanti kaya Zidan aja ya, jangan kaya Zia," ucap Zia dengan serius. Zia beruntung karena Zidan bisa memenuhi segala kebutuhan pokoknya, baik kebutuhan finansial maupun kebutuhan psikologisnya. Walaupun sederhana tapi Zia merasa tidak kekurangan apapun di sini.


"Kaya lo aja," biar imut. lanjut Zidan dalam hati.


"Kenapa kaya Zia? Zia ngga pinter, lola, ngga bisa apa apa," ucap Zia yang merasa tidak ada hal baik yang bisa ia turunkan pada anaknya.


"Ngga bisa apa apa gimana? Suara emas lo aja udah nyumbangin lima piala waktu kelas sepuluh," ujar Zidan.


"Kan ada yang sama Zidan juga." Memang mereka beberapa kali mewakili lomba dengan kategori duet.


"Fiks, anak gue pinter nyanyi," ujar Zidan yang baru ngenh kalau mereka punya bakat yang sama.


"Kok anak Zidan aja sih? kan anak Zia juga," ucap Zia yang pura-pura ngambek.


"Ralat, anak kita."


Pipi Zia memerah saat Zidan menyebut 'anak kita'. Padahal dulu sudah pernah saat foto mereka kmteraebar di sekolah. Mungkin karena suasananya yang berbeda membuat rasanya jadi berbeda pula.


Dug.


"Eh!" Zia termangu saat merasakan tendangan dari dalam perutnya.


"Kenapa?"


"Zidan babynya nendang," ucap Zia dengan wajah yang kaget lalu berubah sangat antusias. Zidan bangkit dari duduknya guna memastikan ucapan Zia.


"Mana?" Zidan sama sekali tidak merasakan gerakan itu saat menyentuh perut Zia.


"Tadi nendang, sekarang udah engga. Coba elus di sini," ucap Zia mengarahkan tangan Zidan ke bagian yang tadi terasa tendangannya.

__ADS_1


Dug!


Mata Zidan membulat sempurna saat merasakan gerakan itu. Zidan menatap Zia yang tengah menatapnya dengan senyum manis. Seketika Zidan memeluk Zia saking bahagianya merasakan gerakan pertama anaknya.


__ADS_2