Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
72. Cinta atau Tanggungjawab?


__ADS_3

Basecamp Atlansa.


"Nih!" Zidan meletakkan satu kantong besar rambutan di antara manusia manusia yang tengah duduk di sana.


"Wiiih mantapp rambutan," ujar Dyu lalu mencomot satu buah untuk ia makan. Yang lain juga mengikuti aksi Dyu.


Setelah melepas jaketnya, Zidan duduk kemudian mengeluarkan beberapa gunting dan cutter yang terselip dari kantong rambutan tersebut.


"Buat apa?" tanya Sherena saat ia disodori satu gunting, begitupun yang lainnya.


"Bantuin potong rambutnya," jawab Zidan yang sudah mulai memotong rambut merah milik rambutan itu.


"Hah?" beo mereka secara bersamaan.


"Ngaco banget lo, pftt.." kata Zio kemudian menyemburkan tawanya.


"Psikopat lo. Kita disini mau liat CCTV hari itu malah suruh nyukurin rambut rambutan gini," oceh Sherena sembari mengangkat satu buah rambutan di tangannya lalu menunjukkannya ke Zidan.


"Sekalian. Daripada tangannya pada nganggur. Mata buat nonton, tangan buat nyukur." Zidan mengucapkan itu sembari terus menggunting rambut rambutan di tangannya.


"Buat apaan sih?" heran Zio sembari memakan rambutan.


"Zia yang minta. Ngidam kali," jawab Zidan tanpa beban.


"Ntar anak lo rambutnya botak tuh, ngidamnya aja kaya gini," canda Langit.


"Kebiasaan tuh anak. Kalo ngidam kita selalunya ikut kena," kata Dyu. Mereka akhirnya membantu Zidan mencukur rambut merah itu. Benar benar lucu jika melihat mereka sekarang, mereka yang notabenya cowok dan cewek keren di sekolah kini tengah mencukur rambut rambutan hanya untuk mengikuti ngidam salah satu sahabat kesayangan mereka.


Sembari mencukur, mereka menonton rekaman CCTV itu di laptop.


"Tuh kan! dia lewat arah samping rumah," ujar Zio saat melihat seseorang tengah membopong tubuh Zia yang sudah pingsan.


"Kaya om yang tadi siang bukan sih?" tanya Sherena yang sepertinya kenal dengan pria berperut buncit yang berdiri di depan mobil.


Mereka mengangguk kecuali Zidan, Langit, dan Dyu. Ketiganya hanya menyimak saja sembari mencoba memahami.


"Mobilnya dipake buat orang yang ngambil foto tapi dia ikut nganterin Zia pulang? berarti Pak Bandi tau banyak dong tentang ini semua?" Argumen dari Keyna dibenarkan oleh mereka semua.


Mereka terus mengamati seorang pria yang membopong Zia sampai ke kamar.


"Kayanya yang bawa Zia cuma disuruh sama Bandi Bandi itu deh." Ucapan Langit yang mulai paham alur dari kasus itu.

__ADS_1


"Oke. Berarti kita harus cari lebih banyak info dari Pak Bandi, siap siap aja lo Sher," kata Galen yang sukses membuat Sherena menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan bertanya.


"Iya, Lo. Sugar baby nya Pak Bandi," jelas Keyna kemudian terkekeh.


"Kemarin aja gue udah jijik banget sampe mandi kembang tujuh rupa, ya kali mau lagi?" ujar Sherena kemudian memakan satu buah rambutan sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Mau ngga nih?" tanya Galen.


"Ya mau lah. Asalkan sahabat gue dapet yang namanya keadilan gue rela lakuin apapun," ujar Sherena yang kembali menegakkan duduknya dengan semangat.


"Nice." Galen tau Sherena akan mengatakan itu.


Sudah cukup. Zio mencabut flashdisk milik Galen itu lalu menggantinya dengan flashdisk miliknya yang berisi salinan data. Zio akan meneliti data itu satu per satu sembari mereka mengobrol santai.


"Makasih ya guys, Sorry, gue selalu ngrepotin kalian semua," ujar Zidan saat kini mereka semua tengah bersantai dengan makan rambutan.


Mereka semua mengangguk, lalu tersenyum pada Zidan yang merasa tidak enak karena selalu merepotkan, "Santai aja kali. Ngga ada yang namanya ngerepotin, kita kan sahabat. Udah seharusnya kita saling bantu." Ucapan Dyu diangguki yang lainnya.


Zidan tersenyum haru atas semua totalitas mereka membantunya. Bahkan sampai tadi tidak berangkat sekolah.


"Oh iya, besok lo berdua homeschoolingnya di rumah gue," ucap Zidan pada Keyna dan Sherena saat ia megingat tentang sekolah.


"Baik kok. Cuma kemarin kayannya karena tubuh hamilnya belum adaptasi sama AC, jadi pusing dikit," jawab Zidan.


"Gua mau nanya serius nih," ucap Zio sembari menutup laptopnya, membuat Zidan mengalihkan pandangannya dari rambutan ke Zio.


"Apa?"


"Lo udah cinta belum sih sama Zia?"


°°•°°


"Baru pulang?"


Zidan menghentikan langkahnya menaiki anak tangga saat mendengar pertanyaan sang bunda.


"Iya Bun," jawab Zidan membalikkan badannya menghadap bunda yang berada di lantai bawah.


"Ya udah, sana temuin Zia. Kayanya belum tidur, tadi bunda baru aja ke kamar kalian," ucap bunda yang diangguki Zidan. Kemudian Zidan pamit untuk menemui istrinya itu tentunya dengan rambutan yang sudah gundul.


Ceklek.

__ADS_1


Zidan tidak menemukan sosok Zia di kamar, lalu ia melihat ke arah kamar mandi yang tertutup dan terdengar suara gemericik air, sepertinya Zia di dalam.


"Udah pulang?" tanya Zia saat baru keluar dari kamar mandi. Zidan yang tengah duduk di tepi kasur mendongak lalu mengangguk.


"Kenapa belum tidur?" tanya Zidan saat Zia sudah duduk di sebelahnya.


"Ngga bisa tidur. Kebelet pipis terus sama kepengin banget liat rambutannya," jawab Zia dengan jujur. Memang sedari tadi ia sudah menantikan rambutan pesanannya.


Zidan yang mendengar itu segera memberikan kantong plastik berisi rambutan yang sudah dicukur bersama sahabatnya tadi. "Nih."


"Aaaa makasihh." Zia menerimanya dengan semangat lalu memutar mutar satu buah rambutan itu untuk ia pandangi sambil senyum senyum. Bentuknya lucu sekali.


Zidan sampai heran melihat itu, "Ngga dimakan?"


Zia menggelengkan kepalanya dwngan terus memandangi rambutan itu. Zidan yang merasa aneh dengan sikap Zia hanya mengedikkan bahunya lalu beranjak dari duduknya untuk membersihkan diri.


Sepuluh menit kemudian.


Zidan keluar dari kamar mandi dan sedikit terkekeh saat melihat Zia. Istri polosnya itu sudah tertidur dengan sebuah rambutan yang berada tepat di depan wajah imut Zia yang tertidur miring. Ternyata Zia menginginkan rambutan itu hanya untuk dipandangi, saking penginnya sampai tidak bisa tidur. Dan lihat saja sekarang, setelah keinginannya terwujud, Zia memandangi rambutan botak itu sampai ketiduran.


"Cantik," ucap Zidan dengan senyum yang terbit dari bibirnya. Zidan mengambil ponsel di atas nakas lalu memotret Zia. Akan selalu ia ingat momen lucu ini.


Zidan merebahkan dirinya menghadap Zia, rambutan itu sudah Zidan singkirkan. Zidan terus memandangi wajah imut istrinya itu dan seketika pikirannya kembali pada pertanyaan Zio saat di basecamp tadi.


"Apa aku udah cinta sama kamu?" guman Zidan sendiri. Zidan masih bingung apakah rasa yang ia rasakan sekarang adalah rasa cinta atau hanya sekedar rasa tanggungjawabnya saja.


Zidan terkekeh saat melihat bibir Zia bergerak seperti sedang mengunyah, apakah Zia bermimpi memakan rambutan botak itu?


Dengan perlahan Zidan membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Zia, kemudian Zidan memajukan wajahnya dna mengecup dahi Zia cukup lama.


Cup.


°°°°


Halooo semuanyaaa 👋


Gimana sama bab ini? ♥


Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah juga boleh.. 🤭🤭


Bye Bye 👋👋

__ADS_1


__ADS_2