
"Aku nanti pulangnya langsung ke kantor ayah," ujar Zidan. Zia yang tengah mengambilkan jaket Zidan pun mengangguk lalu memberikan jaket hitam Atlansa pada Zidan. Satu hal yang mencoba mereka terapkan adalah panggilan aku kamu.
"Kamu homeschoolingnya libur dulu, Sherena sama Keyna lagi ada urusan. Juga guru kamu belum tau kamu pindah rumah," ucap Zidan setelahnya menjilat bibirnya sendiri karena merasa belum terbiasa dengan panggilan tersebut.
"Nanti gurunya ke kontrakan dong," ujar Zia.
"Engga. Aku udah hubungin biar libur dulu aja," jawab Zidan yang tengah mengambil tasnya.
Zia mengangguk lalu mengikuti Zidan keluar dari kamar.
Sesampainya Zidan di sekolah.
"Wihh jam baru nih," goda Dyu sata melihat Zidan memakai jam mahal.
"Udah lama, gue liat masih nyala ya gue pake aja," jawab Zidan sembari mengusap layar jam tangannya.
"Lo kok bisa pake jam lo itu. Bukannya semua aset mahal lo disita ya?" tanya Langit heran. Tidak mungkinkan Zidan membelinya, untuk makan saja pas pasan.
"Gue udah balik ke rumah ortu gue." Jawaban Zidan mendapat respon baik dari Dyu dan Langit. Hanya ada mereka bertiga, karena Zio dan Galen sedang ada urusan dengan Sherena dan Keyna, juga dengan Ayra. Ketiganya juga tau apa yang tengah mereka lakukan, pastinya sedang menjalankan rencana untuk melumpuhkan lawan.
"Syukur deh kalo gitu," ucap Dyu yang diangguki Zidan.
"Udah sampe mana ya mereka?" tanya Langit yang tiba-tiba kepikiran yang lain.
"Sampe mana aja yang penting mereka aman dan semoga mereka berhasil jalanin misi kali ini," jawab Dyu yang sebenarnya juga kepikiran. Mereka tidak ikut karena memang bukan bagiannya untuk maju, nanti juga akan ada waktunya mereka bertindak.
•°°°°°•
Malam hari di rumah orangtua Zidan.
Zia memejamkan matanya saat tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Tubuhnya ia sandarkan pada kepala ranjang, tangannya memijit pelipis berharap bisa menghilangkan rasa pusing itu. Ditambah lagi Zia kembali merasakan mual.
"Kenapa?" tanya Zidan yang baru saja masuk ke dalam kamar. Zia membuka matanya, tapi mualnya makin terasa membuat dia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Ugh!"
"Mau muntah?" Zia menggelengkan kepalanya. "Mual aja."
__ADS_1
"Pusing," ucap Zia kemudian. Zidan segera duduk di sebelah Zia lalu memijit pelipis Zia dengan perlahan, Zia memejamkan matanya menikmati pijatan lembut dari sang suami.
Baru kali ini Zia mengeluhkan pusing disertai rasa mual. "Gu-aku buatin tes manis ya?"
Tanpa menunggu jawaban Zia, Zidan sudah beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar.
"Mau buat apa Dan?" tanya bunda Dian saat melihat Zidan terburu-buru mengambil gula.
"Teh manis Bun," jawab Zidan sembari mengambil gelas.
"Buat kamu? mending makan malam dulu, udah bunda siapin tuh," tunjuk Bunda pada meja makan yang sudah terhidang banyak menu makan malam.
"Buat Zia, Bun. Katanya mual sama pusing," ucap Zidan. Mendengar itu Bunda Dian tersenyum lalu menggeser gelas berisi teh manis yang berada di depan Zidan.
"Jangan teh manis, bunda buatin minuman jahe aja," ucap Bunda saat Zidan menatapnya bingung. "Kebanyakan manis ngga bagus buat ibu hamil."
Bunda meletakkan gelas berisi teh manis itu di pantry lalu mengambil jahe untuk ia geprek.
"Kalo mual sama pusing coba buatin minuman jahe aja, jangan terus terusan teh manis. Jahe bisa ngeredain mual loh," ucap Bunda Dian sembari meracik jahe dengan air panas.
Zidan memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan dan dikatakan bundanya, sehingga jika ia akan membuatnya lagi tidak perlu meminta tolong bunda.
"Makasih Bun." Zidan mengangguk lalu membawanya ke naik ke lantai dua, lebih tepatnya ke kamarnya.
Ketika Zidan membuka pintu, terlihat di dalam kamar Zia tengah memijat pelipisnya sendiri, pasti masih pusing.
"Nih dari Bunda," ujar Zidan menyerahkan gelas tersebut. Zia menerimanya dan Zidan melanjutkan kegiatannya memijat pelipis Zia.
Dengan perlahan Zia meminum minuman jahe buatan mertuanya itu, rasanya cukup enak dan hangat di tenggorokan. Mualnya juga perlahan menghilang. Beruntung sekali memiliki mertua yang perhatian dan mengerti sangat detail soal kehamilan. Perhatian yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil, apalagi yang belum punya kesiapan seperti Zia.
"Udah enakan?" Zia mengangguk lalu menghabiskan minuman jahe hangat itu karena rasanya yang enak.
"Kalo udah, ke bawah yuk. Udah ditunggu bunda buat makan malam," ujar Zidan setelah menunggu beberapa menit agar Zia lebih baik.
Mereka berjalan menuruni tangga dengan Zidan yang memegang pinggang Zia, takut jika Zia tiba-tiba hilang keseimbangan dan terjatuh. Zia sudah sering oleng sendiri kalau sedang berjalan.
"Liat Yah, putra semata wayang kita udah mau jadi ayah aja, bunda seneng banget liatnya," ujar bunda Dian pada sang suami. Keduanya tengah duduk di ruang makan yang masih bisa melihat ke arah tangga. Dari sana terlihat jelas bagaimana Zidan sangat memperhatikan setiap gerak Zia.
__ADS_1
Ayah Dimas tersenyum menanggapinya, "Hasil didikan bunda engga pernah salah, selalu yang terbaik."
"Hasil didikan ayah juga. Sifat Zidan sekarang itu ngambil banyak dari sikap Ayah," ujar Bunda Dian. Senyumnya tidak pernah luntur saat melihat Zidan dan Zia tengah berjalan ke arahnya.
"Malam Ayah, Bunda," ucap Zidan dan Zia bersamaan.
Ayah dan Bunda menanggapinya dengan mengangguk dan tersenyum manis.
"Udah mendingan Zi?" tanya bunda dengan tangan yang terulur memberikan piring pada Zia.
Zia mengangguk, "Mualnya udah ilang, tinggal pusing sedikit. Makasih jahe angetnya Bunda."
"Sama sama. Nggapapa kalo masih pusing, wajar kok. Nanti juga ilang sendiri. Zidan juga nanti AC nya jangan kedinginan, mungkin itu yang buat Zia pusing," saran bunda yang diangguki Zidan. Zidan juga baru sadar jika tubuh hamil Zia belum terbiasa dengan dinginnya AC. Mungkin kalau tidak sedang hamil Zia akan suka karena memang di rumah lamanya selalu menggunakan AC.
"Tuh dengerin saran dari sang ahli," timpal Ayah. Bunda Dian menanggapinya dengan tabokan ringan di lengan suaminya.
Mereka memulai makan malam dengan diselingi obrolan ringan. Tidak ada aturan yang keluarga ini terapkan untuk sekadar tidak boleh berbicara ketika makan. Semuanya boleh asalkan tidak menyinggung perasaan orang lain yang berada dalam ruangan yang sama.
"Em.. Zia boleh minta izin ngga bun?" tanya Zia dengan hati-hati.
Bunda Dian menggangguk, "Izin apa? Asalkan bukan izin ninggalin rumah aja."
"Engga Bun, Zia mau minta izin buat homeschooling di rumah ini boleh? kalo ngga boleh juga nggapapa kok, nanti bisa di rumah Sherena atau Keyna," ucap Zia dengan cepat, takut dan gugup ia rasakan sekarang. Takutnya Zia dibilang ngelunjak karena meminta lebih.
"Boleh lah, sayang. Kan kamu juga udah jadi bagian dari keluarga ini jadi Zia mau ngapain aja boleh, asalkan itu ngga bahaya buat kamu dan calon cucu bunda," jawab Bunda Dian dengan entengnya. Zia tersenyum senang mendengar itu.
"Yeyyy makasih bunda," ucap Zia senang.
"Tapi bareng Sherena sama Keyna nggapapa Bun?" tanya Zia lagi.
Lagi lagi Bunda mengangguk, "Boleh, mau satu kelas aja silahkan asalkan kamu seneng."
•••••••
Hai haii haiii 👋
Happy Reading Semuanyaa ♥
__ADS_1
Like, vote, komen, kasih hadiah juga kalau boleh♥♥♥
Bye bye👋👋