
Di Sepanjang lorong kelas, tampak beberapa gerombolan siswa yang tampaknya tengah membicarakan sesuatu. Itu yang tertangkap dari lima cowok tampan yang tengah berjalan menuju kelas.
"Serius amat, gibahin apaan?" tanya Dyu pada dua siswa yang berdiri di depan perpustakaan. Karena kekepoan Dyu, empat sahabatnya pun ikut menghentikan langkahnya.
"Murid baru, Yu. Cantik, tatapannya beuh... tajam tapi manis kaya Key-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, cowok tersebut sudah kicep saat Galen hanya melirik ke arahnya. Apalagi jika bukan nama pacarnya akan disebut coeok tersebut.
"Beneran, kelas apa?" tanya Dyu yang tidak akan melewatkan cewek cantik di sekolah.
"IPA 1, udah dari kamis kemarin pindah ke sini," jawab salah satu di antara dua cowok tersebut.
"Namanya siapa? Nama?" heboh Dyu saat sepertinya mendapat target baru, hingga teman-temannya menghela napas dan memutar bola matanya malas.
Katanya tobat, giliran ada kaya gini demangat 45.
"Elina," jawab cowok tersebut.
"Thanks ya Bro. OTW pepet terus," kata Dyu lalu mengajak sahabat-sahabatnya untuk melanjutkan langkah mereka yang tertunda..
"Ngga jadi tobat?" tanya Zidan saat mereka baru saja memasuki kelas.
"Besok-besok deh," jawab Dyu membuat mereka menggelengkan kepala.
"Semoga temen hamba ini cepet dapet cewek yang bener ya Allah, biar berhenti mainin cewek," doa Zio dengan lantang yang membuat seisi kelas mengaminkan doanya.
¤¤¤¤¤
BRAK
BRAK
PRANG!
"Apaan tuh?" kata Zio cepat saat mendengar kericuhan di area depan sekolah. Bel istirahat baru saja berbunyi, tapi kericuhan itu lebih mengundang atensi murid daripada makan di kantin.
"Samperin," intruksi Galen membuat mereka dengan cepat meraih jaket mereka masing-masing di laci.
Dengan mengikuti langkah sang ketua, mereka menuju depan sekolah.
"ATLANSA KELUAR KALIAN!"
Apalagi mendengar teriakan itu, semakin membuat langkah mereka semakin cepat.
Sesampainya di depan sekolah, pintu gerbang sedang berusaha dijebol oleh sekelompok orang berpakaian hitam, dan yang menarik perhatian inti Atlansa adalah adanya William di sana.
Galen melihat ke arah kaca beberapa kelas yang sudah pecah karena lemparan batu dari mereka.
Melihat massa yang berjumlah banyak, Galen segera mengambil ponselnya, "Atlansa, ada musuh di depan sekolah. Sebagian ke depan, sebagian amanin semua warga sekolah ke aula tengah. Secepatnya."
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan suara ke grup, Galen mendekat ke arah lawan karena pintu gerbang sudah hampir jebol.
"Akhirnya lo muncul juga, Gal," kata William yang berdiri di antara puluhan anggotanya dan tentunya orang suruhan Willy.
"Mau apa Lo? Masalah kita udah selesai," ucap Galen dengan tangan yang terkepal menahan amarah. Mereka mengusik ketenangannya. Empat sahabatnya berusaha mencegah mereka merobohkan gerbang. Karena khawatir mereka akan menyerang murid yang tidak tahu apa-apa karena di dalam masih banyak siswa siswi yang berkeliaran.
William tertawa mengejek mendengar ucapan Galen, "Urusan Atlansa sama gue ngga akan pernah selesai."
"Serang!" teriak William memerintah pasukannya untuk segera menjebol gerbang tinggi itu.
Brak! Brak! Brak!
Bleng!
Gerbang itu berhasil dirobohkan. Di saat itulah, Galen memerintah semua anggotanya yang sudah berkumpul untuk melawan. Padahal Galen sendiri tidak tahu maksud dan tujuan serangan William ke sekolahnya.
"Mereka bawa senjata, Gal," bisik Dyu sembari matanya melirik ke beberapa musuh yang tengah berkelahi dengan Altansa. Terlihat senjata yang mereka sembunyikan di balik pakaian.
Galen mengangguk, Dyu dengan cepat berteriak mengerti apa yang harus ia lakukan.
"GALEN!" Saat itu juga Galen mengangkat tangan kirinya, sebagai kode lebih hati-hati karena lawan membawa senjata. Itu lah kode rahasia Atlansa. Anggota Atlansa langsung paham dan mulai meneliti sembari terus melawan musuhnya. Mereka harus tau dimana dan kapan lawan akan mengeluarkan senjatanya.
Zio yang tengah melawan tiga orang sekaligus, sedikit gagal fokus saat melihat Sherena dan Keyna masuk ke sekolah lewat pintu samping sekolah. Di sana terlihat salah satu lawan menghadang, tapi dengan cepat ditaklukan oleh Keyna.
Keyna sempat menganggukkan kepala pada Zio yang melirik ke arah mereka, menandakan bahwa pacarnya akan aman bersamanya.
Galen melawan William, satu lawan satu. Galen tampak tenang karena kemampuan William belum berubah banyak, masih mudah tertebak gerakannya.
"Lo mau apa sih?" geram Galen di sela-sela berantemnya.
William tersenyum licik lalu memberikan serangan sembari menjawab, "Layaknya BlackEagle yang bubar, Atlansa juga harus bubar."
"Kenapa harus di sekolah?" gertak Galen. Lumayan panik saat pasukan William semakin banyak, yang semula puluhan, sekarang hampir ratusan.
William tidak menjawab, membuat mereka baku hantam tanpa mengucapkan apapun.
"Asem. Makin banyak aja," gerutu Dyu saat satu per satu lawan mulai bermunculan. Sepertinya ini strategi dari William. Dyu sampai ngos-ngosan karena melawan tiga orang sekaligus.
Setelah menaklukan lawannya Zidan menarik satu orang yang sedang mengeroyok Dyu. "Sini lo, pengecut amat main keroyokan."
Bug! Bug!
Dak!
Krek!
"Auww..." jerit salah satu bawahan William saat tangannya baru saja dipelintir ke belakang oleh Langit. Setelah itu Langit menendang punggungnya hingga tersungkur.
__ADS_1
"Semua murid udah aman belum sih? Ini makin banyak," tanya Zio entah pada siapa yang mendengarnya.
"Udah," jawab Keyna yang baru saja keluar dari dalam sekolah dan langsung membantu mereka.
Bug! Bug!
Karena Keyna cewek, membuat mereka malah ragu melawan. Itu menguntungkan Keyna yang lebih mudah mengalahkan mereka.
"Ayra dimana?" tanya pelan Keyna pada Zio saat mereka berdekatan.
"Ngga ada di aula?" tanya Zidan. Karena setaunya semua orang digiring ke aula.
"Nggak ada, gue kira lagi di sini bantu kalian," ucap Keyna sembari kakinya menendang perut lawannya.
Pikiran Zidan sekarang terpecah, sembari terus menangkis serangan lawan, otaknya tertuju pada Ayra yang sedang hamil. Jika tidak di aula, kemana istri Pak Ervan itu. Tapi Zidan tidak bisa mengucapkan jika Ayra sedang hamil, itu bisa terdengar lawan yang malah akan membahayakan Ayra.
Tunggu dulu. Zia bagaimana jika Keyna di sini? akan bertanya, tapi takut malah mereka mengincar Zia.
"Zia aman di rumah," bisik Keyna yang tau apa yang membuat Zidan kurang fokus.
Zidan sedikit bisa bernapas lega, dan kembali fokus karena lawan semakin banyak.
Galen juga mulai was-was saat, ia yakin sudah kalah jumlah, anggotanya saja sudah mulai kewalahan.
"William janc*k!" Galen melihat ke arah gerbang, helaan napas lega ia keluarkan diantara napasnya yang memburu. Ada Bang Reno yang membawa beberapa anggota Atlansa angkatan sebelumnya. Tidak banyak, tapi lumayan untuk membantu karena beberapa anggotanya sudah tepar.
Jika bukan Keyna, pasti Ayra yang meminta bantuan mereka.
"Urusan lo sama angkatan gue, ngapa lo nyerangnya angkatan Galen," teriak Bang Reno yang mulai membantu melawan mereka.
William hanya tersenyum smirk lalu kembali melayangkan pukulan pada Galen, walaupun beberapa kali ia bisa menyerang Galen, tapi luka lebih banyak di badannya.
Suasana makin tidak kondusif, tapi belum ada polisi yang melerai. Sepertinya ini akan berlangsung sengit.
"Dorr!"
Semua terdiam saat mendengar suara tembakan yang mengarah pada kaki salah satu bawahan William.
¤¤¤¤¤¤
...Hai... Hai... Haiii......
...Aku up siang karena kemarin ngga bisa up. Kalo suka sama bab ini jangan lupa like ya?...
...Bye.... Bye......
...Eitss.. lupa, follow IG ku juga ya : miarahma833...
__ADS_1