
"Dokumen yang kita mau udah di tangan Ayra semua," kata Galen saat mereka tengah berkumpul di rumah Zidan. Tentunya agar para cewek tidak perlu keluar rumah setelah homeschooling.
"Serius?" kaget Keyna. Galen dan para cowok mengangguk. Mereka tadi di sekolah menemui Ayra dan dengan sukarela Ayra mengatakan semuanya.
"Ayra udah memudahkan langkah kita. Untuk semua bukti udah di tangan Ayra, kita tinggal cari sisanya dan saksi biar kekuatan kita besar di pengadilan nanti." Galen mengucapkan itu dengan semangat karena merasa langkah mereka sebentar lagi berhasil.
"Hebat banget sahabat gue itu. Bisa ngemilikin dokumen yang kita aja pusing nyarinya," kagum Sherena.
"Ya karena Nyali dia gede. Masuk ke keluarga Kendrick itu sama aja Ayra masuk kandang singa. Tapi cerdasnya Ayra, dia bikin anak pembunuh itu jatuh cinta sama dia dan bantu Ayra. Setidaknya buat ngelindungin Ayra." Ucapan Zio disetujui mereka semua.
Langkah yang diambil Ayra tidak pernah terpikirkan di benak mereka. Tidak tau saja jika Ayra juga tidak sengaja menikah dengan Pak Ervan, semuanya hanya karena tragedi taman komplek. (Yang baca kisah Ayra pasti tau 😂)
"Kita punya kabar yang lebih bikin kalian seneng," ucap Dyu membuat para cewek penasaran.
"Apa?" tanya Zia antusias.
"Ayra bakal ikut kita ke puncak," ujar Dyu lagi membuat para cewek bersorak heboh.
"Really? yeayyyy...." sorak Sherena lalu saling memeluk dengan Keyna dan Zia.
"Akhirnya kita liburan dengan formasi lengkap ya?" ucap Keyna membuat Sherena dan Zia mengangguk dengan senyum yang terus mengembang.
"Makasihnya mana nih neng neng cantik," tagih Dyu saat para cewek malah asik sendiri.
"Makasihh semua," ucap mereka bertiga serempak, membuat para cowok tersenyum melihat kebahagiaan mereka bertiga.
¤¤¤¤¤
Hari Jumat.
Hari yang ditunggu-tunggu inti Atlansa dan para Angel. Dan ada yang lebih spesial, Ayra kali ini ikut bersama sang suami, Pak Ervan. Semua ini berkat para cowok yang mencoba membuat formasi lengkap untuk para perempuan kesayangan mereka. Ya walaupun ada Pak Ervan di tengah-tengah mereka, tidak masalah. Anggap saja sebagai orang dewasa yang mengawasi mereka. Lagian Pak Ervan juga sudah tau rencana mereka.
"Ini vitaminnya jangan lupa diminum, jangan kecapean dan jangan sampe kedinginan ya..." pesan Bunda Dian sembari memberikan vitamin yang langsung diterima Zia dengan senang hati.
"Iya Bunda," jawab Zia dengan senyum yang sedari tadi tidak pernah luntur.
Zidan tengah memasukkan koper ke dalam bagasi, hanya dua hari saja bawaan Zidan lumayan banyak. Semua ini untuk berjaga jaga karena keadaan Zia yang tengah mengandung.
__ADS_1
"Zidan sama Zia pamit dulu bunda, doain kita selamat sampai tujuan dan pulang juga dalam keadaan sehat," pamit Zidan sembari mencium tangan bundanya lama.
Bunda mengusap rambut Zidan. "Pasti, pasti Bunda doain, kamu juga jaga diri sama jaga Zia baik baik. Bunda marah loh kalau sampai menantu bunda ini kenapa napa."
Zidan mengangguk dan kini giliran Zia yang berpamitan.
"Jaga kandungannya, di sana dingin, jangan lupa pake jaket," pesan Bunda Dian yang diangguki Zia.
Setelah itu Zidan dan Zia memasuki mobil. "Hati-hati," kata Bunda saat Zia membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arah sang mertua.
Di halaman basecamp.
"Udah siap semuanya?" tanya Galen saat baru saja sampai bersama Keyna.
"Kurang si Zidan ama Zia, terus Ayra sama Pak Ervan kalau mereka jadi ikut," jawab Langit.
"Jadi kayaknya," kata Keyna optimis.
Lima menit kemudian.
Mereka menoleh saat ada dua mobil yang datang bersamaan. Sudah bisa ditebak, mereka pasti pasangan suami istri yang ritualnya pasti lama sebelum berangkat. Berbeda dengan mereka yang lajang.
"Pak," sapa Galen menyalimi tangan Pak Ervan. Pak Ervan pun mengangguk.
"Karena semuanya udah di sini, kita siap-siap," kata Galen membuat mereka semua mengangguk. Tas mereka titipkan pada mobil Zidan dan Pak Ervan karena yang lain membawa motor. Begitupun dengan perintilan lain, terutama milik para cewek.
Setelah memastikan apa yang mereka butuhkan di sana sudah dibawa semua, Galen memimpin doa agar perjalanan mereka selamat sampai tujuan.
"Berhubung kepercayaan kita semua sama, mari kita baca Al Fatihah untuk mengawali perjalanan kali ini." Semua menunduk dan menengadahkan tangannya untuk membaca Al Fatihah.
Aamiin..
"Bismillah," kata mereka lalu mulai menaiki kendaraan masing-masing.
Selama perjalanan mereka terus saja bersisihan, setidaknya masih berdekatan. Bahkan saking randomnya, ketika di lampu merah mereka akan main jitak jitakan helm. Sampai-sampai pengendara lain ikut tersenyum melihat kekompakan mereka.
"Nanti kalo aku sama yang lain jalanin misi, kamu sama cewek cewek di vila aja yaa," kata Zidan pada Zia yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Zia mengangguk lalu bertanya, "Zidan tadi ngga cemburu liat Ayra digandeng suaminya?"
Zidan menggelengkan kepalanya, "Nggak. Kan aku gandeng kamu."
Zia tersipu dengan jawaban Zidan. Zidan pun tersenyum bahagia saat melihat senyum istrinya yang terlihat sangat cantik dan imut. Kadang dia berpikir, apa iya perempuan se imut Zia akan menjadi ibu? Bahkan wajahnya saja terlihat sekali seperti anak kecil.
Tapi balik lagi ke fakta. Dirinya lah yang membuat Zia akan menjadi seorang ibu di usia yang masih sangat muda ini.
Tinn.... Tinnnt....
Zidan menoleh ke samping saat Zio membunyikan klaksonnya. Lalu Zidan membuka kaca jendela, "Kenapa?" tanyanya.
"Adik kita udah mau lahir," kata Zio membuat Zia terkejut lalu bersorak bahagia.
"Tau darimana?" tanya Zidan. Beruntungnya mereka berada di jalan yang lumayan sepi.
Sherena yang dibonceng Zio pun mengetuk ponselnya, "Coba lo buka hp Zidan. Bunda lo chat Zio tadi."
Zidan pun menyerahkan ponselnya pada Zia karena dia harus fokus menyetir. Zia membukanya dan benar saja, bunda mengirimi foto mamanya yang sedang bersama papa di rumah sakit, terlihat juga wajah mama yang sepertinya menahan sakit. Dengan caption, 'Adik ipar kamu on the way.' . Ternyata bukan mereka saja yang on the way liburan, adik mereka juga ikutan on the way lahir.
"Semoga lancar Ya Allah," doa Zia yang diaminkan Zidan.
"Nanti kalo kita udah sampe coba telpon Bunda. Siapa tau Bunda masih sempet pegang hp," kata Zidan yang mengerti bahwa Zia ingin sekali tau keadaan mamanya yang akan melahirkan adiknya.
Zia tersenyum saja, dia bahagia tapi juga ada sedihnya. Bahkan kedua orangtuanya tidak ada yang menghubunginya di saat seperti ini. Apa dia sudah benar-benar tidak dianggap?
Zia mengusap perutnya sendiri, mungkin karena memikirkan bundanya yang akan melahirkan membuatnya ikutan mulas.
&&
Hai hai haiii 👋
Aku Up nih...
lembur jugaa, kasih kopi dong yang mau aku double up besok. ☕
Jangan lupa juga like, komen, kasih hadiah, vote, dan follow yaa. ♥♥
__ADS_1
Bye Bye👋👋