Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
34. Zidan dan Ayra?


__ADS_3

Zia semakin merasa mual, sebisa mungkin Zia menutupinya. Janu belum juga beranjak, cowok itu malah asyik menatap sekeliling yang terlihat semakin ramai karena pertandingan sebentar lagi akan dimulai. Zia terus berkata dalam hati supaya mualnya reda, jangan sampai ia muntah, itu akan mencurigakan.


Zidan melihat gelagat Zia, Zidan tau Zia sedang menahan mual, terlihat dari tangan kanan yang terus mengelus perut dan dahi yang mengkerut. Zidan hafal kebiasaan itu.


Dengan cepat Zidan menghampiri Zia dan Janu. Zidan memaksa duduk di tengah mereka, Janu yang kaget sedikit menggeser duduknya dan Zidan tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan duduk nyempil di antara keduanya.


"Lo dipanggil Galen, Nu." Zidan berucap sembari meletakkan jaket hitam Atlansa ke pangkuan Zia dan menutupi tangannya sendiri yang tengah mengelus perut rata Zia.


Janu menatap aneh pada Zidan, tapi ia tetap pergi karena dipanggil oleh sang ketua. Lagian ia dan Zidan dari dulu tidak pernah akur. Sekedar informasi, Janu adalah anggota Atlansa, tapi bukan inti. Entah apa yang membuat keduanya saling membenci.


"Masih kerasa mualnya?" tanya Zidan saat Janu sudah beranjak dari tempatnya. Zia mengangguk kecil, "Mau muntah ngga?" tanya Zidan lagi dan Zia menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Zia tidak akan membuka suara sampai mualnya reda, ia takut muntah di tengah keramaian ini. Zia memejamkan matanya merasakan perutnya yang perlahan terasa nyaman kembali karena usapan Zidan. Sedangkan Zidan mengawasi sekitar, takut ada yang melihat aksinya. Dan Zidan bersyukur saat gadis berkepang dua berdiri di hadapan mereka. Gadis itu berdiri membelakangi Zidan dan Zia dengan asik memainkan ponsel.


Tanpa Zidan sadari gadis itulah yang menolong Zia waktu itu.


"Makanannya masih kan?" tanya Zidan saat Zia membuka matanya, Zia mengangguk dan memperlihatkan kotak bekal yang sedari tadi tertutup jaket.


Kotak makan itu cukup besar karena muat nasi, lauk, camilan, dan kue pasar. Mereka sudah berkonsultasi dengan Bunda Dian tentang muntah Zia yang berlebihan. Bunda Dian mengatakan bahwa itu bisa dikarenakan Zia yang makan terlalu banyak dalam satu waktu. Untuk mengatasinya disarankan Zia makan dua jam sekali dalam porsi sedikit demi sedikit. Setelah Zia menerapkannya ternyata benar mualnya berkurang. Itulah yang membuat Zidan membelikan kotak makan besar untuk dibawa ke sekolah yang isinya beragam agar Zia tidak bosan. Kata bundanya tidak apa makan sedikit asalkan sering.


°°•°°


Pertandingan dibuka dengan aksi chers dari masing-masing sekolah. Zia menonton dengan ditemani Keyna, Zia merasa iri saat tim chers dari sekolahnya tampil. Apalagi pada waktu pelemparan center yang mengundang tepuk tangan dari penonton.


"Harusnya Zia di sana," ucap Zia tanpa sadar, Keyna yang mendengarnya lantas mengusap bahu Zia.


"Nggapapa. Seorang ibu emang harus selalu berkorban buat anaknya," ucap Keyna pelan, Keyna tahu betul apa yang dirasakan Zia. Ia sudah mengalaminya lebih dulu, bahkan saat dia masih sangat belia.

__ADS_1


Zia tersenyum paksa mendengarnya. Rasanya belum rela melihat posisinya digantikan oleh orang lain.


"Udah jangan dipikirin. Nanti kalo baby nya udah lahir bisa ikut chers lagi," kata Keyna saat melihat ketidak relaan di mata Zia.


Zia kembali tersenyum paksa, ia tidak yakin jika masih bisa melakukan hobinya tersebut. Untuk sekolahnya semester depan saja dia masih bingung. Belum ada jalan keluar, otak Zia yang pada dasarnya polos dan kurang pintar, belum mampu memikirkan langkah selanjutnya setelah menyelesaikan semester pertama di kelas sebelas, dengan kadaan hamil seperti ini.


Untuk sekarang ia hanya akan menutupi kehamilannya dari pihak sekolah. Semoga tidak terbongkar sampai akhir semester.


Jika saat chers tampil Zia yang merasa iri. Beda lagi saat pertandingan basket dimulai, sekarang Zidan yang merasakan apa yang sebelumnya dirasakan Zia.


Cowok bertubuh tinggi itu tengah berdiri di tribun paling atas dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana. Tatapannya ke arah lapangan basket, tapi pikirannya tidak. Pikiran buruk akan hadir di saat seperti ini, Zidan berpikir seandainya kejadian malam itu tidak terjadi, seandainya ayahnya tidak mengusirnya dari rumah, dan seandainya Zia tidak... hamil. Zidan pasti sedang di dalam lapangan dengan kaos basketnya, mendribble bola dan memasukkannya ke dalam ring seperti yang ia saksikan sekarang.


Zidan merasa masa remajanya direnggut paksa oleh keadaan. Didorong paksa agar meninggalkan hobinya. Ditarik kasar oleh semesta agar membanting tulangnya demi sesuap nasi setiap harinya.


"Nggapapa. Zidan kuat kok." Zidan langsung menolehkan kepalanya ke samping saat mendengar seseorang berucap padanya. Dunianya seakan berhenti saat mendapati Ayra, gadis yang menguasai hatinya, berdiri dengan senyum manis yang penuh makna.


Ayra terkekeh kemudian mengajak Zidan duduk. Zidan menurutinya, lagian ini interaksi pertama mereka setelah putus beberapa minggu yang lalu.


"Aku- maaf. Gue udah tau alasan kita berakhir." Perkataan Ayra sontak membuat Zidan membulatkan matanya kaget.


Ayra kembali terkekeh. "Gue lagi berusaha mahamin semuanya. Gue lagi berusaha ikhlas. Gue harap lo juga gitu," ucap Ayra dengan mata yang sudah mengembun.


Zidan masih terdiam, ia masih bingung akan mengucapkan kalimat apa. Maaf? Rasanya tidak lagi berguna untuk sekarang.


"Kamu-, Lo tau darimana?" tanya Zidan. Mereka harus menghapus kata aku kamu dalam percakapan mereka.


"Lo lupa siapa gue?" ujar Ayra dengan senyum smirk nya. Zidan membalasnya dengan senyum yang berbeda. Senyum canggung.

__ADS_1


Kenapa Zidan melupakan satu fakta penting. Ayra tidak akan mudah dibohongi, gadis itu adalah adik kandung ketua Atlansa sebelum Galen, Deva. Pasti banyak orang orang Bang Deva yang menjaga dan memata-matai Ayra dari jauh, termasuk orang-orang terdekat Ayra, terutama dirinya.


"Gue ngga tau mau ngomong apa," ucap Zidan sembari menggelengkan kepalanya.


Ayra mengedarkan pandangannya ke seluruh penonton, lalu matanya menemukan dua sahabatnya di tribun seberang lapangan. "Jaga dia baik-baik. Dia butuh lo, dan lo juga butuh dia. Anak kalian butuh kalian berdua."


Zidan masih terdiam dengan tatapan yang sama dengan Ayra, mengarah pada Zia yang lagi-lagi tengah makan.


"Lo tau semuanya?"


"Ngga semua. Tapi gue tau, bahkan beberapa hal yang kalian ngga tau," jawab Ayra dengan pandangan masih mengarah ke arah yang sama. Gadis itu tersenyum saat melihat Zia mengunyah dengan begitu lahap tanpa mempedulikan sekitarnya yang ramai. Ia merindukan sahabat polosnya itu.


"Maaf," ucap Zidan tanpa tau tujuan ia minta maaf.


"Lo ngga salah. Zia juga engga," jawab Ayra langsung.


"Lo ngga bisa balik lagi bareng kita?" tanya Zidan setelah hening beberapa detik. Ayra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Nanti, saat semuanya udah aman. Gue pasti balik," ujar Ayra kemudian pamit pergi dengan terburu-buru.


Zia memang tengah sibuk mengunyah, tapi pandangannya sesekali mengarah pada Zidan dan Ayra. Saat Ayra atau Zidan menatap ke arahnya, ia akan memalingkan pandangannya.


Ada rasa takut dalam diri Zia sekarang. Zia takut Zidan akan kembali pada Ayra dan meninggalkannya. Namun, Zia kembali meyakinkan dirinya sendiri dengan acuan sikap tanggungjawab Zidan yang begitu besar. Zia tidak apa apa jika tidak ada cinta di antara hubungan keduanya. Toh, mereka masih bisa hidup bersama selama ini walau hanya berbekal tanggung jawab.


Bolehkah Zia egois kali ini? Menganggap Zidan adalah miliknya. Tapi Zia tetaplah Zia, dia masih merasa bersalah pada Ayra, jika mereka kembali bersama, Zia akan...


Ah! tidak tau apa yang akan Zia lakukan setelah ini. Zia memilih makan saja agar bayinya tumbuh sehat.

__ADS_1


__ADS_2