Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
133. Permintaan Maaf Papa Riyan


__ADS_3

Zia begitu serius mengikuti setiap gerakan yang Zidan contohkan. Walaupun keringatnya sudah bercucuran, tapi semangatnya untuk bisa bela diri terus menggebu. Demi membungkam semua cacian yang mengatakan kalau ia hanya numpang berlindung di Atlansa.


"Udah, istirahat dulu. Udah mau putus tuh napas," ucap Zidan saat melohat Zia sudah ngap-ngapan.


Zia mengangguk, lalu duduk di bangku halaman belakang rumah. Zidan mengambilkan minum dan handuk untuk sang istri, tidak hanya mengambilkan tapi Zidan mengusap peluh Zia dengan handuk tersebut saat Zia sedang minum.


"Susah ya ternyata, capek," kata Zia sembari mengatur napasnya.


Zidan terkekeh, "Ya susah. Kalau mau yang gampang ya rebahan aja."


"Tapi Aku suka. Nanti aku udah bisa ikut berantem kaya Keyna sama Ayra," sahut Zia yang diangguki Zidan.


"Bisa. Tapi masih harus banyak latihan, masa baru pertama kali latihan langsung mau berantem. Yang rutin yang serius, nanti bisa kaya Keyna sama Ayra," ucap Zidan dengan mengusap kepala sang istri tercinta.


Zia mengangguk dengan antusias lalu mendongak untuk menatap sang suami, "Tapi jangan bilang-bilang sama yang lain ya kalau aku mau belajar bela diri? Aku malu kalo yang lain tau."


"Iya, aku nggak akan bilang sama siapa-siapa, biar mereka tau sendiri kalau kamu udah pinter," jawab Zidan beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangan pada sang istri, "Yuk masuk, Zavian udah nyariin kamu kayaknya."


Zia mengangguk lalu menerima uliran tangan dari Zidan. Sudah cukup latihan hari ini, kalau tidak ada halangan Zia ingin setiap hari berlatih agar cepat bisa.


Zidan dan Zia menghampiri kamar Zavian. Di sana bunda Dian tengah duduk di sofa dengan Zavian yang berada dalam pangkuannya.

__ADS_1


"Udah laper nih, dari tadi gelisah," kata bunda Dian. "Sana mandi dulu sebentar, masa nanti nen-nya asin kena keringet."


Zia mengangguk melihat bajunya yang memang basah oleh keringat. "Zia cepet banget mandinya, tunggu mama sebentar ya Vian."


Setelah mengucapkan itu, Zia beranjak ke kamar mandi, mandi dengan cepat karena tidak ingin anaknya menunggu lama.


Tidak sampai lima menit, Zia sudah selesai mandi dan memakai kaos over size dengan hot pants layaknya kebanyakan remaja kalau di rumah.


"Gimana latihannya tadi?" tanya bunda Dian saat Zia sedang menyus*i Zavian di sebelahnya.


Zia nyengir, "Capek. Tapi suka."


"Jangan kecapean ya? nggak bagus nanti ASI kamu," ujar bunda Dian yang diangguki Zia.


Putranya ini sudah besar, sudah bisa membimbing istri dan anak. Sudah punya keluarga sendiri yang harmonis.


√√√√√


Zia termangu saat melihat ada orang tuanya di ruang tamu, sednag duduk bersama bunda Dian dan Ayah Dimas. Katanya ada tamu yang mencarinya, ternyata orang tua sendiri.


"Zia, sini Sayang, mama udah kangen sama kamu, " ujar mama Salma pada Zia yang berdiri di anak tangga paling bawah.

__ADS_1


Zia tersenyum tipis lalu menghampiri para orang tua di ruang tamu. Zia memeluk mamanya juga cipika cipiki. Kalau papanya, walaupun belum bisa sepenuhnya memaafkan, tapi sebagai seorang anak, Zia mencium punggung tangan papa Riyan.


"Duduk, Sayang. Kita ngobrol-ngobrol, biar Vian sama papanya dulu," ujar Ayah Dimas pada menantunya.


Zia menurut, duduk bersebelahan dengan Zidan dan di sebelah Mama Salma yang sedang menggendong Zira. Firasat Zia mengatakan, kalau ini bukan obrolan biasa, melainkan ada hal yang lumayan serius, dilihat dari ia yang diharuskan ada di perbincangan para orang tua ini.


Beberapa saat suasana hening, tidak ada yang memulai pembicaraan sampai papa Riyan memperbaiki posisi duduknya dan berdehem.


"Zia, coba liat ke Papa," pinta papa Riyan saat Zia hanya asyik bermain dengan Zira.


Zia lagi-lagi menurut, menoleh ke arah sang papa walau dengan tatapan yang masih kecewa. "Kenapa?"


"Zia belum maafin Papa?" tanya papa Riyan dengan bola mata yang terus mencari-cari sesuatu di mata Zia, entah rasa sayang atau kecewa.


Zia terdiam sesaat, dengan mata yang memutus tatapan dengan papanya. Mau menjawab juga harus menjawab apa? Ia meminta maaf saja dulu begitu susah, Zidan harus berdarah-darah dulu demi maaf papa Riyan. Hatinya tidak sebaik yang orang pikirkan, ia tidak begitu mudah memaafkan.


"Setelah kamu cuekin papa, papa udah mikirin semua kesalahan papa sama kamu, papa juga udah minta mama cerita tentang semua yang dialamin kamu selama papa usir dari rumah. Semua penderitaan kamu, papa udah sadar kesalahan papa besar banget karena hanya mementingkan nama baik tapi mengabaikan putri kesayangan papa," ucap papa Riyan. Walaupun terlihat tidak peduli, tapi Zia mendengarkan semua yang papanya ucapkan.


"Papa ngerasa bersalah banget karena udah biarin kamu hidup susah, apalagi papa juga selalu pukulin suami kamu setiap ia ke rumah. Papa bener-bener mengharap maaf dari kamu, Zia mau kan maafin Papa?" tambah papa Riyan membuat Zia kembali menatap papanya.


Entah apa yang ingin mulutnya katakan, rasanya masih berat. "Tapi Zia minta Papa kabulin permintaan Zia, bisa?"

__ADS_1


"Apa?" tanya hampir semua yang ada di ruang tamu. Jelas penasaran.


__ADS_2