Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
67. Kembalinya Aset Zidan


__ADS_3

Zidan baru saja pulang dari sekolah. Suami dari Zia itu kini tengah membuka segaramnya sebelum memasak makan siang.


"Mau makan apa siang ini?" tanyanya pada Zia yang tengah memegang segelas air putih untuknya.


"Zia ngga pengen apa apa, Zidan masak apa aja Zia makan," jawab Zia sembari menyerahkan gelas dan menerima seragam Zidan untuk ia gantung. Masih dipakai lagi besok.


"Di dapur adanya apa?"


"Telur sama mie instan doang," jawab Zia. Zidan tampak berpikir apa yang akan ia masak atau akan beli saja di luar.


Tidak memiliki kulkas membuat mereka jarang menyetok sayur dan bahan makanan lainnya, biasanya Zidan dan Zia hanya membeli untuk dua atau tiga hari ke depan.


"Ya udah. Makan di luar aja yuk," ajak Zidan sembari mengambil jaket, Zidan masih memakai celana abu-abu.


"Punya uangnya? Kalo ngga bikin nasi goreng aja nggapapa," ucap Zia. Walau sebenarnya ia malas memakan nasi goreng di siang yang panas ini.


"Ada. Kan uang menang olimpiade kemarin lumayan," jawab Zidan sembari menyerahkan kardigan berwarna peach pada Zia.


Zia menggeleng, "Panas," ucapnya menolak untuk memakai kardigan itu.


"Buat di motor doang," saran Zidan dan Zia dengan enggan menerimanya. "Nanti kalo udah punya mobil ngga perlu pake lagi."


Senyum mengembang dari bibir Zia, diam diam mengaminkan ucapan Zidan itu.


"Nanti beli susu sekalian, udah mau abis." Zidan berucap sembari melangkah keluar dari rumah.


Ketika mereka baru saja membuka pintu, tubuh Zidan seketika menegang. Memejamkan matanya sejenak dan membukanya lagi, takut-takut yang ia lihat itu tidak nyata.


"Ayah?"


Seorang pria berumur setengah abad itu mengangguk, kemudian tersenyum pada sang putra. "Mau kemana?"


Zidan tidak menjawab, benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Rasanya semua ini seperti mimpi, setelah lima bulan tidak pernah melihat wajahnya, kini wajah yang tidak lagi muda itu tengah tersenyum teduh padanya.


"Boleh ayah masuk?" tanya Dimas saat Zidan tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Eh, iya. Boleh Yah, Ayo masuk," jawab Zidan yang sudah mampu mengontrol dirinya kembali. Zia juga menyingkir dari pintu guna mempersilahkan ayah mertuanya masuk.


Zidan mengkode Zia agar membuatkan minum, Zia yang paham langsung ke dapur dan membuatkan minum, sekalian memakan biskuit guna menunda rasa laparnya.


Ayah mau ngomong sesuatu sama kamu, sama istri kamu juga," ucap Dimas saat Zia tengah meletakkan minum di atas meja. Zidan mengangguk lalu membantu memegang pinggang Zia yang akan duduk.


"Ngomong apa Yah?"

__ADS_1


Dimas melepas kancing jas yang ia kenakan agar duduknya nyaman. "Gini, Ayah mau nawarin kamu kerja di kantor keluarga kita."


Zidan menaikkan satu alisnya, kenapa tiba-tiba ayahnya menawarkan bantuan setelah lima bulan seperti tidak pernah peduli sedikitpun padanya.


"Tenang aja, ayah ngga nempatin kamu di posisi yang rendah. Ayah mau kamu gantiin akuntan yang baru aja dipecat," lanjut Dimas melihat respon Zidan yang heran padanya.


"Ayah udah ngga marah?" tanya Zidan heran. Zia sedari tadi hanya diam dan memperhatikan interaksi anak dan ayah yang terlihat cukup kaku. Mungkin karena sudah lama tidak berinteraksi.


"Kapan ayah marah?"


Oh iya ya. Zidan jadi ingat, waktu itu ayahnya hanya ingin Zidan bertanggungjawab penuh atas perbuatan yang sudah ia lakukan, bukannya marah.


"Ayah udah tau gimana perjuangan kamu selama ini. Bunda kamu udah cerita semuanya, dan sekarang waktunya papa kembaliin apa yang harusnya emang jadi hak kamu," ucap Dimas sembari merogoh saku jasnya dan meletakkan ATM, kunci mobil, dan kunci kamarnya di atas meja. Kunci kamar?


"Maksud Ayah?" Zidan masih belum percaya akan apa yang ia lihat.


"Aset kamu Ayah kembaliin, termasuk kamu harus balik lagi ke rumah dan kerja yang lebih layak," ujar Dimas tanpa ada keraguan dalam kalimatnya.


"Ta-tapi Ya-"


"Ngga ada tapi tapian." Dimas tau betul bagaimana sifat anak semata wayangnya ini. Zidan tidak akan mudah merubah pendiriannya, jika sudah begini ia harus memaksa.


"Dan kamu balik sendiri, tanpa dia," ujar Dimas sembari menunjuk Zia. Zia menunduk takut, Zia pasrah jika memang Zidan akan meninggalkannya dan kembali ke kehidupan lamanya.


Zidan lebih baik asetnya tidak pernah kembali daripada harus berpisah dengan istri dan calon anaknya.


Dimas tiba-tiba tertawa melihat amarah putranya. Dimas ikut berdiri lalu menepuk bahu Zidan dua kali. "Ayah bercanda, kamu bawa Zia pulang juga. Kalian bangun rumah tangga kalian di rumah yang memang Ayah siapkan untuk masa depan kamu."


Zidan menghela napasnya lega, beruntung ayahnya tidak sekejam itu.


"Zidan pikir-pikir dulu boleh?" tanya Zidan dengan ragu. Takut menyinggung perasaan ayahnya itu.


"Untuk pindah boleh kamu pikirin dulu. Untuk aset, Ayah ngga mau bawa pulang lagi, berat di kantong." Zidan mengangguk mengerti akan maksud ayahnya.


Zidan memeluk ayahnya dan mengucapkan terima kasih.


Setelah melepas pelukannya, Dimas mengalihkan pandangannya pada Zia yang sedari awal hanya memperhatikan. "Gimana kabar mantu Ayah ini?"


"Baik Om," jawab Zia secara spontan.


"Kok Om sih, Ayah dong panggilnya kaya Zidan." Zia dengan malu mengangguk saja.


"Baik Yah."

__ADS_1


"Calon cucu Ayah gimana? sehat?" tanya Dimas lagi saat melihat perut menantunya itu sudah lumayan besar.


Zia mengangguk, "Alhamdulillah baik juga Om, eh-Yah."


Setelah itu hanyalah obrolan pendekatan seorang mertua pada menantu yang sudah pernah ia usir dulu. Permintaan maaf mendominasi obrolan mereka.


"Maaf Yah, kalo Zidan tinggal dulu gimana? Zidan mau beli makan," izin Zidan mengingat Zia dan dirinya belum makan siang.


"Sekalian aja. Ayah mau pulang, kamua nter ayah ya soalnya ayah kesini pake mobil kamu," ujar Dimas yang beranjak dari duduknya.


"Ya udah ayo. Ini Zidan ambil lagi, Ayah ikhlas kan?" tanya Zidan mengambil ATM dan kunci mobil di atas meja setelah mendapat anggukan yakin dari Dimas.


°°°°°


"Gimana? suka?" tanya Zidan saat mereka baru selesai makan di restoran langganan Zia dulu. Zidan sengaja membawa Zia ke sini agar Zia merasa senang. Kini mereka tengah dalam perjalanan pulang.


Zia dengan semangat mengangguk, "Suka banget... Udah lama banget Zia ngga makan di sana. Terakhir sama Kak Zio sekitar setengah tahun yang lalu."


Zidan tersenyum melihat wajah bahagia Zia. Sungguh ia sangat berterima kasih pada ayahnya, berkat dia Zidan bisa melihat senyum Zia yang sejak beberapa waktu tidak pernah tampak. Tepatnya semenjak pengusiran di rumah orangtua Zia, Zidan hanya melihat senyum itu sekali saat bayi mereka pertama kali menendang.


"Menurut lo gimana sama tawaran Ayah?" Merasa ini waktu yang tepat, Zidan akan merundingkannya dengan Zia.


"Zia sebenernya udah nyaman di kontrakan yang sekarang, tapi kalo Zidan mau balik ke rumah Zidan, Zia ngikut aja." Jawaban Zia membuat Zidan mengangguk paham, ia juga entah mengapa sedikit tidak rela meninggalkan kontrakan begitu saja.


"Nyaman tapi kalo bangun tidur badannya pegel karena kasurnya tipis? Sering sakit pinggang karena nyucinya jongkok, lebih parahnya harus nunggu gajian kalo ngidam sesuatu?" Zidan mengucapkan itu dengan penuh sesak di dadanya. Zia menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Zia udah terbiasa kok."


"Kalo gue mau ajak lo balik ke rumah orangtua gue, lo mau? Gue pengin hidup yang lebih layak buat lo sama dia," tanya Zidan dengan menggenggam tangan Zia.


Zia mengangguk, "Zia mau."


Dengan senyum yang mengembang, Zidan mengecup pipi Zia saat di lampu merah. Perasaan baru tadi Zia mengaminkan ucapan Zidan tentang memiliki mobil, tapi sekarang mereka sudah benar-benar menaikinya.


••°••


Hai hai haiiii 👋👋


Gimana? suka? 🤗


Ngga aku kasih konflik nih, kasih yang seneng seneng dulu hehe😂


Jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah kalau mauu♥♥

__ADS_1


Aku butuh kopi nih buat lembur 🤭


__ADS_2