Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
110. Masih Bersama Baby Zira


__ADS_3

Zidan kembali menutup pintu dengan perlahan karena tidak ingin mengganggu tidur dua perempuan imut kakak beradik itu.


"Zia udah tidur?" tanya mama Salma saat Zidan kembali ke dapur.


Zidan mengangguk lalu duduk di salah satu kursi, "Udah, Ma."


Mama Sindi kembali ke kesibukannya memasak menu makan siang yang sudah agak lewat, sudah pukul satu siang sekarang.


Zidan memperhatikan sang mertua, sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan dengan mama mertuanya itu. Tapi melihat kesibukannya, Zidan menunggu saja sembari memainkan ponsel.


Lima belas menit kemudian.


Makan siang sudah selesai dibuat semua, kini mama Salma akan membangunkan Zia tapi lebih dulu dicegah Zidan.


"Kenapa, Dan?" tanya mama Sindi saat menantunya bilang ada yang mau diucapkan.


"Em... Kan kasus Tuan Willy udah nyebar kemana-mana. Papa sempet cerita ngga ke mama soal ini? Kan nama Zia juga ada di daftar korban dari Tuan Willy," ucap Zidan dengan serius.


Mendengar pertanyaan sang menantu, Mama Salma menggelengkan kepalanya, "Belum Dan, mungkin setelah pulang dari luar kota nanti. Lagian di berita belum diputuskan tuan Willy bersalah atau engga, baru ditangkap dan belum sidang. Mungkin papa belum begitu percaya."


"Iya Ma. Zidan boleh kan minta tolong buat sedikit-sedikit ungkit tentang ini di depan papa?" kata Zidan dengan hati-hati


Mama Salma mengangguk yakin, "Pasti. Kalau itu bisa buat papa maafin Zia, mama bakal lakuin yang terbaik."


Zidan pun berterima kasih pada sang mertua, hanya itu yang ingin Zidan bicarakan. Setelahnya ia izin membangunkan Zia.


"Zia... Bangun... Makan siang dulu," bisik Zidan tepat di telinga Zia. Tangannya juga menepuk-nepuk lengan Zia.


Zia tampak merespon dengan erangan lirih, membuka matanya perlahan lalu menguceknya. Tangannya akan ia banting ke kasur seperti biasanya, tapi sebelum menyentuh kasur lengannya sudah dipegang oleh Zidan.


"Ada baby Zira," ucap Zidan sembari dagunya menunjuk ke sebelah Zia.


Zia langsung membuka matanya lebar, melihat ke samping karena takut menindih sang adik yang masih sangat mungil. Menghela napas lega saat baby Zira bahkan tidak tersentuh olehnya.


"Tuh kan. Zia masih ceroboh," cicit Zia. Takut jika nanti anaknya sudah lahir ia masih seperti itu.


Zidan mengelus rambut Zia sembari tersenyum, lalu ia berkata, "Nggapapa. Nggak kena juga, Nanti juga terbiasa."

__ADS_1


Zidan juga membantu Zia bangun dari tidurnya, meletakkan kedua tangannya di ketiak Zia untuk membantu Zia berdiri. Kadang Zidan merasa bersalah, untuk bangun dari tidur saja Zia kesusahan, dan Semua itu karena dia.


"Udah makin berat ya?" tanya Zidan yang dijawab anggukan oleh Zia. Untuk usia kandungan delapan bulan, perut Zia tergolong besar, sudah seperti di bulan akhir kehamilan.


Zidan dan Zia menuju meja makan, dan ternyata Zio sudah ada di sana lebih dulu. Baru saja mereka akan mulai makan, terdengarlah suara baby Zira yang menangis.


"Kalian makan dulu, mama mau ke Zira," ucap mama Salma agar mereka tidak menunggunya.


Selang beberapa menit mama Salma kembali ke meja makan dengan baby Zira yang tampak tengah menyusu dengan bagian dada mama Salma ditutupi dengan kain.


"Zio ambilin makannya ya Ma," kata Zio lalu mengambilkan makan untuk sang mama.


Zidan dan Zia melihat bagaimana mama Salma yang bisa makan sambil menyusui, jadi seperti itu susahnya seorang ibu.


"Jangan diliatin kaya gitu, mama udah biasa kok. Gampang ini mah," ucap mama Salma saat melihat anak dan menantunya seperti heran.


"Nanti juga Zia bakalan sering kaya gini," tambah mama Salma yang membuat Zia mengangguk, maka dari itu ia harus banyak-banyak belajar.


Setelah makan siang, Zia mengajak Zidan melihat-lihat kamarnya dulu.


"Yakin? Kamu ngga trauma sama kejadian di dalam sana dulu?" tanya Zidan sebelum Zia membuka pintu di hadapan mereka.


Zidan mengangguk lalu mempersilahkan Zia membukanya, walaupun ini kali kedua, Zidan cukup tercengang karena melihat warna pink yang mendominasi kamar ini. Dulu mungkin ia terlalu kalut, sampai ia tidak memperhatikan sekitar.


"Bagus kan?" tanya Zia dengan senyum lebarnya.


Dengan terpaksa Zidan mengangguk, memang bagus. Bagus untuk kamar anak TK.


"Catnya ngga diganti dari kamu TK?" tanya Zidan, menduga.


Zia menggelengkan kepalanya, "Ini baru diganti waktu aku masuk SMA kok."


Zidan mengangguk saja, berarti memang selera Zia seperti ini. Lihatlah, banyak sekali benda berwarna baby pink. Imut sih, tapi lebih cocok untuk anak kecil.


"Boleh tuh nyoba main di tempat pertama kalian main," celetuk Zio yang berdiri di depan pintu kamar Zia.


Zidan dan Zia yang terkejut akan kehadiran Zio pun terlonjak. Setau mereka tadi Zio sudah masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Mengenang awal perut buncit Zia," tambah Zio sembari masuk ke dalam kamar sang adik.


Zidan berdecak, "Berisik! Gue lagi was-was nih, takut Zia masih trauma atau gimana."


"Zia ngga inget, kalo ngga gue guyur air satu ember kayanya bisa sampe pagi kalian," ucap Zio yang memang sudah pernah menanyakannya pada Zia.


"Ya maap. Enak sih," kata Zidan lalu menutup mulutnya, apalagi saat guling berwarna pink melayang ke arahnya.


"Bercanda. Gue juga ngga inget kalii," tambah Zidan saat Zio menatapnya tajam.


Zio mengubah tatapannya kembali, "Selamat mencoba kembali, gue keluar dulu. Bye."


Zidan dan Zia hanya menatap aneh pada pintu yang baru saja ditutup oleh Zio, kurang kerjaan sekali hanya berkata seperti itu lalu pergi lagi.


"Mau lanjutin tidur siangnya? atau mau pulang?" tanya Zidan sembari duduk di kursi belajar Zia.


"Nggak dua-duanya. Mau main lagi sama baby Zira, mumpung papa masih lama pulangnya," kata Zia yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan untuk bisa bertemu mama dan adiknya.


Zidan mengangguk, lalu bersama Zia menemui baby Zira. Tidak seperti ucapan Zio, mereka tidak mencoba bermain di kamar ini.


Saat memasuki kamar baby Zira, bayi mungil itu sedang berbaring dengan tangan dan kaki yang bergerak-gerak. Sementara mama Salma tengah melipat baju-baju baby Zira, lebih tepatnya merapikan.


"Nah kebetulan banget kalian ke sini, mama mau nyuci. Tolong jagain Zira ya?" kata mama Salma yang mendapat respon anggukan kepala antusias dari Zidan dan Zia.


Setelah mama Salma keluar membawa sekeranjang cucian, Zidan dan Zia langsung naik ke kasur tepatnya di sebelah kanan dan kiri baby Zira.


Zidan dengan gemas menciumi perut baby Zira, membuat Zia yang melihatnya ikutan gemas. Mungkin seperti itu jika anak di perutnya ini lahir.


Satu bulan lagi.


¤¤¤¤¤


...Haiii👋...


...aku update nih...♥♥...


...Jangan lupa dukungannya yaa.♥♥...

__ADS_1


...Bye bye👋👋...


__ADS_2