Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
40. Kembar


__ADS_3

Ceklek


Zia dan Zidan menoleh saat ada yang membuka pintu. Keduanya tersenyum saat melihat perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dengan jas putih dokternya.


"Duduk Bunda." Zidan berdiri dan mempersilahkan bunda duduk di sebelah Zia.


"Gimana? Masih kerasa mualnya?" Zia mengangguk saat mendengar pertanyaan dengan suara lembut khas keibuan menyapa telinganya.


"Masih Bunda, ngga ilang-ilang dari tadi pagi. Perutnya kaya dikocok gitu Bun," adu Zia yang tengah duduk bersandar pada bangsal rumah sakit.


Bunda Dian tersenyum, lalu mengusap punggung tangan menantunya. "Yang kuat ya, sekarang kan minggu ke-9 kehamilan kamu, dan di minggu ini bisa dibilang puncaknya mual muntah ibu hamil."


"Jadi Zia bakal tiap hari kaya gini Bun?" tanya Zidan yang menyimak dari seberang bangsal.


"Engga bisa ditentuin sih, kan tergantung setiap tubuh bumilnya juga. Karena usia mantu Bunda ini masih belia, tubuhnya belum siap. Yang wanita dewasa aja banyak yang sampe pingsan kaya Zia." Zidan dan Zia mengangguk anggukan kepalanya paham.


"Ada obatnya Bun?" tanya Zidan lagi.


"Kalo buat ngurangin mualnya ada, tapi kalo buat ngilangin itu ngga ada." Zidan kembali mengangguk.


"Zia susah ya kalo disuruh makan?" tanya Bunda Dian dengan mengusap kepala menantunya. Zia merasakan kasih sayang yang begitu hangat dari setiap sentuhan mertuanya. Rasa yang Zia tidak pernah rasakan dari mamanya sendiri.


"Engga Bun. Zia makannya tiap hari banyak, cuma tadi pagi aja Zia boongin Zidan. Bilangnya mau makan pas nyampe di sekolah, eh malah ngga dimakan," jawab Zidan sedikit menyindir Zia, membuat Zia menunduk.


Bunda Dian tersenyum menanggapi cerita Zidan, lalu pandangannya menuju sang menantu imutnya.


"Zia, dengerin Bunda." Zia mengangguk lalu menatap Bunda Dian, "Jangan sampe kaya tadi lagi ya? Tadi sebenernya kamu dehidrasi, kalo kamu sarapan, kamu tadi ngga sampai pingsan."


Zia mengangguk lagi, "Zia ngga bakal ulangi lagi Bun. Zidan nanti paksa Zia aja ya, kalo Zia lagi ngga mau makan," ucap Zia beralih menatap Zidan.


"Ngga dipaksa, sayang. Ibu hamil juga ngga boleh dipaksa makan yang dia ngga mau, Nanti Zidan kalo Zia ngga mau makan, tanyain baik-baik penginnya apa, jangan dipaksa pokoknya!" peringat Bunda pada Zidan.


"Kita USG mau?" tanya Bunda saat mengingat usia kandungan Zia sudah terlihat jelas janinnya, ia ingin memastikan kecurigaannya, berdasarkan apa yang dialami Zia, Bunda Dian mencurigai sesuatu.


Zia menatap Zidan untuk meminta pendapat. Zidan mengangguk membuat Zia ikut mengangguk dan mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


°°°°°


"Tuh kan! Apa yang bunda curigain beneran Zidan," ujar Bunda Dian membuat Zia dan Zidan bingung.


"Kenapa Bun? Janinnya ada masalah?" panik Zidan. Ia tidak paham gambar hitam putih yang ditatap serius oleh sang Bunda.


"Selamat sayang, Bayinya kembar."


Deg!


Zidan terdiam kaku, apa ia tidak salah dengar? Kenapa ada kejutan di setiap harinya.


"Ke-kembar Bun?" Zidan masih belum percaya. Zia juga masih terlihat bingung.


"Iya! Liat nih, yang besarnya kaya buah anggur itu anak kalian, ada dua!" Bunda Dian menjelaskan secara antusias.


Zia masih menatap layar hitam putih tersebut, tapi ia mendengarkan dengan jelas apa yang Bunda ucapkan. Anaknya ada dua, kembar!


Zidan bingung harus bereaksi seperti apa, apakah ia harus bahagia? Atau sedih? rasanya campur aduk.


Tuhan mengabulkan doanya untuk memberikannya rezeki. Akan tetapi, Zidan tidak menyangka rezeki yang Tuhan kasih berupa anak kembar.


"Bunda udah curiga dari awal, cuma masih belum jelas waktu USG pertama. Gejala Zia yang sering sakit pinggang, mualnya berlebih, sama gampang banget capek itu tanda-tandanya," jelas Bunda Dian. Zidan hanya menyimak, begitupun dengan Zia.


"Bunda keluar dulu ya," ujar Bunda saat merasa anak menantunya masih syok dan butuh waktu berdua.


Suasana ruangan berubah hening beberapa menit setelah Bunda Dian keluar. Sampai akhirnya Zidan duduk di kursi yang tadi diduduki bundanya.


Zidan menggenggam jemari tangan Zia dan menelungkupkan wajahnya di sana. Zia membiarkannya, ia masih diam menatap lurus ke depan. Hingga tiba-tiba isakan terdengar di sebelahnya, Zia menengok dan mendapati bahu Zidan yang bergetar. Melihat itu, entah kenapa Zia jadi ikut menangis.


Perlahan Zia mengangkat tangannya yang tidak digenggam Zidan. Zia meletakkannya di rambut Zidan dan mengusapnya perlahan. Suasana itu berlangsung beberapa menit, hingga akhirnya Zidan mengangkat kepalanya.


Zia melihat dengan jelas mata dan hidung Zidan yang memerah, juga air mata yang masih mengalir di pipi Zidan. Zia sudah berhenti menangis, tapi Zidan belum.


"Kenapa? Zidan ngga suka janinnya ada dua?" tanya Zia serak, Zidan menggeleng kuat lalu kembali menelungkupkan kepalanya.

__ADS_1


"Gue ngga tau. Gu- gue bingung Zi, gue ngga tau harus gimana," ujar Zidan tanpa mengangkat kepalanya. Bahu lebar itu semakin bergetar, menandakan semakin kuat tangisan Zidan.


Sungguh, Zidan bingung, Zidan bahagia, tapi juga takut, cemas, marah. Zidan bingung apa yang harus ia ekspresikan, semuanya tampak terlalu berat untuk ia lalui.


Zia membiarkan Zidan menenangkan perasaannya terlebih dahulu. Hingga dua puluh menit kemudian Zidan sudah terlihat lebih tenang, dan sudah menegakkan kepalanya kembali.


"Udah? Zia laperrr," ucap Zia yang mampu menerbitkan senyum tipis di bibir Zidan.


°°°°°


"Hah! kembar?" Zidan mengangguk sebagai respon dari kekagetan teman-temannya.


"Gilee... sekali main langsung dapet dua." Zio sampai geleng-geleng kepala mendengarnya. Mereka tengah berkumoul di rumah Zidan dan Zia, tepatnya sedang lesehan di kamar dengan Zia yang bersandar di kasur.


"Aaaaa seneng banget, selamat ya Zi," ucap Sherena heboh lalu memeluk tubuh Zia diikuti Keyna. Zia tersenyum dan membalas pelukan mereka.


"Ngga terlalu heran si, Zia kan kembar. peluang anak lo berdua kembar emang gede," ucap Galen sembari memeperhatikan ketiga cewek yang sedang berpelukan itu.


Zidan mengangguk, "Gue ngga pernah kepikiran sampai kesitu. Jujur, gue kaget banget kemarin, takut juga." Galen menepuk bahu Zidan dua kali untuk menyemangati sahabatnya itu.


"Bersyukur aja Dan. Banyak di luaran sana yang usaha mati matian buat dapetin anak, tapi lo udah dikasih secepet ini," ujar Langit.


Zidan kembali mengangguk, ia bersyukur, hanya saja ia takut mental dan finansialnya sekarang tidak cukup untuk menjadi orang tua dari dua anak sekaligus. Ia juga menghawatirkan fisik dan psikis Zia, perempuan itu masih terlalu kecil untuk hamil, apalagi ini kembar. Dua bulan ini saja, Zidan sudah melihat Zia cukup menderita.


"Kita selalu ada buat kalian, jangan sungkan kalau butuh bantuan sekecil apapun kita bakal bantu. Jadi maling kedondong tengah malem aja gue jabanin," celetuk Dyu berusaha mencairkan suasana, dan ia berhasil.


"S i a l! Masih inget gue, kita dituding pake golok sama bapak bapak yang punya kedondong," timpal Zio mengundang tawa mereka.


"Hampir digebugin warga dikira maling lagi," sambung Langit membuat suasana menjadi kembali hidup.


°°°°°


Hallo semuanyaa 👋


Gimana sama bab ini? ♥♥

__ADS_1


Kalau suka jangan lupa kasih like ya👍


Komentar juga biar aku tambah semangat nulisnya♥♥


__ADS_2