Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
70. Om Om Hidung Belang


__ADS_3

Zio berulangkali mendengus karena kesal. Bagaimana tidak, di depan matanya sendiri ia melihat kekasihnya tengah digoda, dipegang, dan ditatap penuh nafsu oleh om om hidung belang. Sherena nya tengah duduk berdua dengan laki laki tua di dalam hotel.


Galen tersenyum tipis saat melihat ekspresi kesal Zio. Mereka tengah mengintai Sherena yang sedang menjalankan aksinya sebagai perempuan penggoda. Sungguh, Galen bisa melihat bagaimana Sherena sangat risih dengan tingkah Om Om itu. Mereka berada di kamar mandi dengan lubang kecil yang sengaja dibuat di pintu. Tentunya ulah Galen.


"Om, boleh aku tanya?" ucap Sherena dengan nada yang dibuat buat. Sherena sampai jijik sendiri dengan suara yang ia keluarkan.


"Boleh dong, jangankan tanya, kamu minta apa saja saya kasih," jawab pria berperut buncit tersebut.


"Om kenal ngga sama Tuan Willy Kendrick?" tanya Sherena yang menahan umpatan karena tangan om om itu mengusap lengan mulusnya.


Zio yang melihat itu mengepalkan tangannya, rasa tidak rela menyuat dari dalam hatinya. Tapi demi keadilan untuk adiknya, ia menahan semua itu.


"Tau dong, orang yang sudah membantu saya menjadi kaya raya seperti ini. hingga saya bisa menyewa kamu," jawab Om Om tersebut sembari menoel dagu Sherena.


"Tuan Willy sewa kamu juga? jangan mau ya, kamu sama saya saja," ucap om itu lagi dengan tangan yang sudah merayap sampai bahu. Sungguh, Sherena rasanya ingin segera keluar dari kamar hotel ini.


"Kenapa Om?" tanya Sherena berusaha memancing pria itu untuk membuka suara tentang papa mertua Ayra. Salah satu daftar orang yang mereka curigai.


"Orang itu licik. Kalau kamu mau tau, dia rela ngelakuin apa aja asalkan nama perusahaanya tetap berada di puncaknya, termasuk bayar saya buat bantu dia." Sherena mengangguk, lumayan juga info yang ia dapat.


"Om bantu ngapain Om?" tanya Sherena, Om itu tidak menjawab malah mengarahkan tangannya ke payu*ara Sherena.


Dengan cepat Sherena berdiri, "Om haus ngga? Saya haus banget Om."


Sherena mengambil minum yang sudah ia campur dengan obat tidur, sebenarnya masih kurang info yang ia butuhkan. Tapi mengingat om itu sudah hampir kelewatan, Sherena akan mengakhirinya.


"Ini Om diminum," ucap Sherena sembari menyerahkan minuman berwarna merah pekat itu. Sherena juga minum, tapi yang bebas obat tidur tentunya.


"Aku ke kamar mandi sebentar Om," izin Sherena sembari menunggu obat itu bereaksi. Bisa bahaya jika ia terus bersama om om hidung belang tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di kamar mandi, Sherena menghela napasnya lega. Zio langsung menutupi bagian terbuka dari pakaian Sherena.


"Kuncinya dimana?" tanya Galen to the poin, tentunya berbisik, bahkan tanpa suara.


"Kayanya di kantong jas," bisik Sherena yang tadi seperti mendengar suara kunci berbenturan juga melihat sesuatu menggunuk di saku jas om itu.


Galen mengangguk, selama beberapa menit mereka mengawasi pria tua itu sampai akhirnya pria itu tertidur karena efek obat.


"Coba lo cek," perintah Galen pada Sherena, takutnya pria tua itu masih sadar dan mereka akan ketahuan.


Sherena keluar dari kamar mandi lalu mendekati pria berperut buncit yang tengah tidur dengan kaki yang menggantung ke lantai.


"Om, Om udah tidur?" Sherena menepuk nepuk lengan dan menggoyangkan kaki lelaki tua itu. Tidak mendapat respon membuat Sherena merogoh saku jas yang dikenakan pria itu dan menemukan kunci yang mereka cari.


Sherena mengangkat kunci itu dan mengode Galen dan Zio untuk keluar dari kamar mandi.


"Yuk buruan, Keyna sama Ayra udah nunggu di kantor nih orang," ujar Galen mengajak sepasang kekasih itu keluar dari hotel milik keluarganya.


"Ngga ada yang mencurigakan Key, cuma beberapa laci kekunci jadi kita ngga tau apa isinya," ujar Ayra.


Keyna menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk di sana. "Tunggu mereka dapet kuncinya kalo gitu."


"Keburu ketauan ngga sih? ini aja kita udah lama di sini takutnya ada yang curiga," ujar Ayra. Bukan hanya itu, waktunya juga tidak banyak, apalagi jika untuk bertemu temannya seperti ini.


"Aman kok," jawab Keyna, ruangan ini sudah dikunci dan orang di luar ruangan taunya pemilik ruangan sedang pergi bersama jala*gnya. Padahal pagi menuju siang, tapi sudah ke hotel aja.


Tok.. tok... tok....


Mendengar suara itu Keyna dan Ayra membulatkan matanya dan saling tatap, apakah orang luar sudah ada yang curiga?

__ADS_1


°°°°°


Zia yang bosan karena tidak ada kegiatan memilih berjalan-jalan mengelilingi rumah Zidan. Sekalian bertemu sapa dengan pekerja di rumah ini. Bunda mertuanya sedang di rumah sakit, Zidan juga sedang ke kantor bersama Ayahnya. Jadilah di sini Zia sendirian.


"Bi, Zidan anak tunggal ya?" tanya Zia yang penasaran, sebenarnya sudah bisa ditebak dari tidak ada orang lain di rumah.


"Iya non. Anak kesayangan tuan sama nyonya," jawab Bi Asih yang menemani Zia berjalan-jalan.


"Kalo non mau tau, Den Zidan itu pengin banget punya adik, tapi karena rahim nyonya yang bermasalah jadinya ngga bisa punya anak lagi. Bisa lahir Den Zidan juga bisa dibilang keajaiban non," cerita bi Asih.


Zia mengangguk sembari mereka berjalan di tepi kolam renang di belakang rumah. "Berarti butuh perjuangan banget ya buat Ayah sama Bunda biar punya anak?" tanyanya lagi.


"Bener non, sampe progam hamil ke luar negri malahan. Tapi semua terbayar saat nyonya dinyatain hamil, ya walaupun selama hamil tuh nyonya kaya berat banget. Bolak balik rumah sakit aja hampir tiap bulan sampe akhirnya setelah lahiran rahimnya terpaksa diangkat," ujar Bi Asih.


"Pantes mereka sayang banget sama Zidan," kata Zia. Selama berjalan, tangan Zia terus menyangga pinggang dan perut bawahnya yang sudah terasa berat.


"Iya non, asal non Zia tau. Selama kemarin Tuan nyuruh Den Zidan sama non keluar dari rumah, setiap pulang kerja tuh Tuan selalu nanyain ke bibi apa hari ini Den Zidan pulang apa engga. Selalu tanya juga ke nyonya tentang kehidupan kalian di luar sana, sampe akhirnya tuan tau bagaimana Den Zidan yang rela banting tulang siang malem buat nafkahin Non. Sampe situ tuan udah bertekat biar kalian mau kembali ke rumah ini."


"Kata tuan waktu itu sama bibi gini, 'saya bangun rumah ini dan kembangin perusahaan buat anak saya, tapi malah dengan bodohnya saya usir Zidan. Anak yang susah payah kita perjuangkan' gitu Non," jelas Bi Asih panjang lebar, ia mendengarkan secara seksama karena merasa cerita ini cukup menarik.


"Zia jadi terharu," komentar Zia dengan jujurnya.


Bi Asih tersenyum, "Makanya Non harus bersyukur bisa dikasih kepercayaan sama yang di atas buat jadi orangtua. Banyak banget loh pasangan di luar sana yang pengin banget punya anak dan udah usaha sedemikian rupa, contohnya aja tuan sama nyonya."


Zia mengangguk, mengusap perutnya dengan rasa syukur. Walaupun secara mental dan fisik ia belum siap, tapi jika yang di atas sudah berkehendak pasti itu yang terbaik untuknya.


"Den Zidan pasti sayang banget sama calon anaknya kan non?" tanya Bi Asih. Karena kedekatannya dengan Zidan, bi Asih tau betul jika anak dari majikannya itu sangat suka terhadap anak kacil.


"Banget banget Bi. Zia aja ngga boleh ngapa ngapain, katanya takut babynya kenapa napa," curhat Zia.

__ADS_1


Bi Asih tersenyum sembari membantu Zia duduk di gasebo samping rumah. Bi Asih merasa waktu begitu cepat berlalu, dulu ia yang menyaksikan bagaimana saat majikannya mengandung Zidan, dan sekarang dia sudah melihat istri Zidan yang tengah mengandung cucu dari majikannya itu.


__ADS_2