
Semua murid kelas XII IPA 1 menatap kedatangan para siswi yang menjadi most wanted. Setelah setengah tahun tidak bisa menikmati kecantikan cewek-cewek tersebut, akhirnya hari ini bisa melihatnya lagi.
"Hai Ziaa... makin cantik ajaa padahal udah punya anak," goda salah satu teman kelas Zia, namanya Edo.
Zia membalas tersenyum ramah, "Hai, Edo."
"Kiw.. Sher, nggak kangen gue lo? lama loh gue ngga ngambilin pulpen lo," ucap Edo pada Sherena.
"Nggak," jutek Sherena. Edo ini memang terkenal sebagai buaya peliharaan kelas IPA 1.
"Keyna, Lo-"
Edo tidak melanjutkan kalimatnya. Padahal hanya menyebut nama pacarnya saja, tapi Galen sudah berdiri di depan kelas.
"Gal. Nih Edo godain Keyna," adu Sherena membuat Edo kelabakan dan seisi kelas tertawa.
"Ehm! ketemu gue di lapangan belakang pulang sekolah," kata Galen datar lalu pergi begitu saja dari sana.
"Mamp*s gue, Key bujukin dong cowok lo, bisa jadi abu kalo gue ngadepin Galen," mohon Edo pada Keyna.
Keyna tertawa meledek lalu menganggukkan kepalanya, "Iya iya. Gampang nanti."
Sherena duduk bersama Keyna, sedangkan Zia duduk sendiri seperti dulu.
"Hai..Gue duduk di sini ya sebelum Ayra balik sekolah lagi," kata Elina. Ingat kan siapa Elina? anaknya Bu Intan yang sedang diincar Dyu.
Zia menoleh lalu mengangguk, "Duduk aja, Zia juga sendirian."
Elina duduk di bangku kosong sebelah Zia. "Selamat datang lagi di kelas ya Zia, Sherena, Keyna."
__ADS_1
Tiga angel Atlansa itu mengangguk dengan senyum manis khas masing-masing.
Pagi ini di kelas tidak seburuk yang Zia bayangkan. Memang ada beberapa yang menatap sinis, tapi kebanyakan biasa saja.
¤¤¤¤¤
Tiba saatnya jam istirahat. Waktu yang dinantikan oleh hampir seluruh warga sekolah, tak terkecuali para guru. Inti Atlansa sudah duduk duduk di kantin sejak tadi, hari pertama di kelas 12 menjadi hari santai karena hanya ada pengenalan wali kelas baru, pembagian jadwal piket juga jadwal pelajaran.
"Indahnya pemandangan," celetuk Dyu yang tengah melihat ke arah pintu masuk kantin. Yang lain pun menoleh, di sana ada lima cewek tengah berjalan sembari mengobrol dan sesekali tertawa. Ya, itu adalah para angel Atlansa ditambah Elina.
"Mata seger ya udah lama ngga liat yang begini," canda Zio saat para cewek menghampiri meja pojok, meja yang menjadi hak paten Inti Atlansa.
"Liat satu aja punya sendiri-sendiri, nggak usah diliat semua," ketus Galen sembari mengusap wajah Dyu dan Zio secara bersamaan. Pasalnya mata mereka melihat satu per satu angel.
"Ampun bos!" kata Zio lalu menggeser duduknya agar Sherena bisa duduk di sebelahnya. Begitupun yang lain, sekat yang tadi berjarak digunakan untuk duduk masing-masing cewek.
"Aduh. udah enggak kosong lagi," kata Dyu saat semuanya sudah duduk.
"OTW. ini udah di sini, nunggu sah aja," jawab Dyu sembari menunjuk Elina yang tampak sekali bahwa ia terpaksa duduk di sebelah Dyu.
"Sah sah, noh yang udah sah secara agama dan negara aja diem aja," tunjuk Galen pada Zidan dan Zia. Keduanya tengah mengobrol ringan.
"Mohon maap. Kita mah kalah sama yang udah suhu, udah ada buntul pula," celetuk Dyu membuat Zidan dan Zia tersenyum canggung. Bagaimana tidak, ini di lingkungan sekolah tapi membahas tentang pernikahannya.
"Anggep aja gue sama Zia pacaran, sama kaya kalian," ujar Zidan.
Setelah mengucapkan itu, Zidan membiarkan yang lain bising. Ia ingin tau cerita Zia di kelas hari pertama.
"Gimana?" tanya Zidan sembari menancapkan sedotan ke dalam cup jus untuk Zia.
__ADS_1
"Nggak gimana-gimana. Cuma nggak suka sama wali kelasnya, nyindirin Zia mulu," keluh Zia.
Zidan menaikkan alisnya, "Nyindir gimana?"
"Itu, terus bilang kalo murid ya belajar bukan ngurus anak, intinya nyindirin Zia terus tentang nikah dan punya anak," cerita Zia membuat Zidan mengusap rambut Zia.
"Sabar aja." Zidan sudah lebih dulu menghadapi itu. Bagaimana selalu menjadi bahan empuk sindiran guru atau murid lain.
"Nggak usah didengerin Zi, gue aja tadi pengin ulek tuh mulut guru. Udah bibirnya merah banget, ngomongnya pedes," kata Sherena dengan kesal.
"Dan si*lnya itu wali kelas kita," tambah Keyna. Mau bagaimana lagi, dapat wali kelas yang seperti itu di tahun terakhir sekolah membuat sering naik pitam.
"Semoga aja nggak betah dan pindah cepet-cepet," sindir Elina. Masa kelas unggulan wali kelasnya model reog.
Mereka semua tertawa, kecuali Zia. Ia malah teringat Zavian. Dengan inisiatif, ia mengirim pesan pada bunda Dian. Menanyakan Zavian lagi apa.
Senyum manis terbit di bibir Zia saat melihat foto Zavian yang pas sekali melihat ke arah kamera. Zia menujukkannya pada Zidan.
"Nih anak kamu," tunjuk Zia membuat Zidan yang awalnya sedang mengobrol dengan yang lain pun menoleh.
Zidan tersenyum melihat keimutan Zavian. Mereka semua juga ikut penasaran untuk melihat foto Zavian.
"Oh ini yang udah punya anak tapi masih sekolah," ucap seseorang yang langsung mengubah suasana meja yang awalnya riang membahas Zavian.
Itu adalah Alya, yang dulu terobsesi pada Zidan tapi selalu tidak pernah bisa meraihnya. Mantan teman buli Adel juga sebelum tobat.
"Oh ini yang masih ngarepin bapak anak satu," balas Adel. Yang pedas harus dibalas lebih pedas juga.
Zia hanya terdiam, ia mana bisa melawan. Yang ada ia akan kalah dan berujung menangis.
__ADS_1
Zidan berdiri dari duduknya, "Lo masih ngarepin gue? tapi maaf. Gue orang yang lo sebut tadi, udah punya anak tapi masih sekolah."
Alya kelabakan sendiri. Ia kan mengucapkan itu pada Zia, malah ia diserang balik. Apalagi saat Sherena mulai berdiri, habis sudah riwayatnya.