
"Lo udah basah Zi."
"Zidan engga masuk-masuk makanya Zia basah."
"Yakin gue boleh masuk?"
"Cepetan ih, Zia udah pengin banget tauu."
Zidan terkekeh geli melihat wajah ngambek Zia. Zidan membuka pintu kontrakannya lalu menuntun Zia yang sedikit basah terkena gerimis.
Mereka baru keluar dari rumah sakit, Zia sudah diperbolehkan pulang. Zidan memakai mobil Atlansa karena tidak memungkinkan mereka menaiki motor dengan keadaan tangan Zia yang sekarang.
Karena mobil mereka tidak bisa sampai di depan rumah, mereka harus berjalan kaki dari depan gang walaupun sedang gerimis. Zidan tidak menemukan payung di dalam mobil tersebut, maka ia menggunakan jaket hitam Atlansa miliknya untuk menutupi kedua tangan Zia agar perbannya tidak basah.
Saat di perjalanan tadi Zia meminta agar Zidan membuatkannya mie instan, Zia bilang akan enak dimakan saat gerimis seperti sekarang, tapi Zidan menolaknya karena kemarin malam saat di rumah sakit Zia sudah makan mie instan cup yang dibelikan Galen.
Zia mengancam Zidan tidak boleh masuk rumah jika ia tidak dibuatkan mie instan. Entah kenapa Zia sangat menginginkan mie instan.
"Gue keluar aja daripada lo makan mie instan lagi," ucap Zidan pura-pura beranjak saat Zia masih memanyunkan bibirnya kesal.
"Zia pengin banget Zidan," ujar Zia dengan wajah memelasnya.
Zidan menuntun Zia untuk duduk di tepi ranjang. Zidan mengetuk pelan perut Zia sambil menatap Zia yang juga menatapnya.
"Di sini ada babynya. Lo ngga boleh sembarangan makan Zi, apa yang lo makan, dimakan juga sama dia," ucap Zidan selembut mungkin agar Zia mengerti.
"Tapi yang minta dia, bukan Zia," cicit Zia dengan mata yang sudah mengembun. Zia juga tau itu bahaya tapi ia sangat ingin memakannya.
Zidan berdiri kemudian berjongkok di depan Zia. "Bisa ditahan ngga penginnya? Seminggu lagi gitu?" tanya Zidan sembari mengusap tangan Zia yang diperban.
Zia menggelengkan kepala membuat Zidan menghela napasnya lalu kembali berdiri, mengambil ponsel lalu keluar kamar tanpa berucap apapun.
Zia memandangi kepergian Zidan kemudian air matanya jatuh tiba-tiba . Ia memang dulunya manja, tapi ia tidak secengeng ini. Hanya karena mie instan saja sampai membuatnya menangis.
Dengan perlahan Zia merebahkan tubuhnya, bibir tipis itu sedikit meringis saat tangannya ia gerakkan guna mencari posisi yang nyaman.
__ADS_1
Zia akan tidur, siapa tau saat bangun nanti ia sudah tidak menginginkan mie instan yang membuat Zidan marah itu. Akan tetapi, Zia malah semakin merasa gelisah saat keinginannya itu belum tersampaikan. Matanya terpejam tapi ia tidak bisa tidur.
"Bangun!"
Mendengar suara itu membuat Zia membuka matanya, dihadapannya sudah ada Zidan dengan semangkuk mie kuah yang sedari tadi ia inginkan. Mata Zia langsung berbinar.
Zidan meletakkan mie itu di lantai kemudian membantu Zia duduk.
"Zidan marah sama Zia?" tanya Zia saat melihat raut datar Zidan. Zidan hanya menatap Zia sebentar kemudian mengambil mie kuah tersebut. Zidan mengipasinya dengan buku tulis yang ia ambil dari meja belajar. Masih dengan raut wajah datarnya.
"Zia nggapapa kalo ngga jadi makan mie, yang penting Zidan ngga marah," ucap Zia.
Zidan tidak menanggapi, ia terus mengipasi mie itu, kemudian mencicipi kuahnya. Saat dirasa sudah tidak terlalu panas ia menyodorkannya ke depan mulut Zia. Zia masih menutup mulutnya, takut Zidan marah saat ia makan mie itu.
"Makan! Kalo engga gue buang nih," ucap Zidan dengan nada sedikit ketus, Zia yang merasa takut langsung membuka mulutnya. Saat mengunyah ia merasa yang ia makan bukan mie instan seperti biasanya, rasanya agak hambar.
"Kok rasanya beda?"
Zidan tidak menjawab, ia sebenarnya hanya memasukkan setengah bumbu mie instan itu lalu menambahkan bayam yang ia petik dari belakang rumah. Kandungan MSG sangat tidak dianjurkan untuk ibu hamil, setidaknya itu yang Zidan pelajari.
"Gue masukin bayam yang lo tamen, bumbunya juga cuma setengah," jawab Zidan pada akhirnya. Zidan tidak bisa mendiamkan Zia, ini bukan keinginan Zia, tapi anaknya yang menginginkannya.
Zia mengangguk dan membuka mulutnya saat Zidan kembali menyuapinya. Mungkin sekitar seminggu ke depan akan menjadi rutinitas Zidan untuk menyuapi Zia.
"Udah. Zia udah ngga pengin," ucap Zia saat Zidan akan menyuapkan suapan ke limanya. Zidan menghela napasnya berusaha sabar, mentalnya menjadi seorang ayah sedang dipersiapkan sekarang.
"Makasih ya Zidan, sekarang Zia bisa tidur nyenyak," ucap Zia dengan senyum manisnya. Zidan hanya mengangguk lalu memakan mie itu dengan bersila di lantai, tepatnya di hadapan Zia yang sudah tiduran miring di atas kasur.
Zidan mengelus rambut Zia lembut saat wanita itu sudah tertidur nyenyak, tidak seperti tadi yang terus bergerak gelisah. Tadi Zidan bertanya pada bunda dan bunda menyarankan agar Zidan tetap menuruti keinginan Zia karena jika tidak dituruti akan membuat Zia gelisah dan emosional. Maka, Zidan memutuskan membuatkan mie tersebut tentunya dengan arahan sang bunda.
Rasa bersalah kembali menyeruak saat melihat sedari beberapa minggu kemarin Zia dibuat susah dengan kehamilannya, remaja polos nan manja itu harus merasakan beratnya hamil di usia belia dengan ekonomi yang rendah.
Zidan tidak menyangka hamil akan seberat itu, padahal baru satu bulan. Masih ada kurang lebih delapan bulan yang harus Zia lalui, belum lagi saat melahirkan nanti Zia harus merasakan sakit yang amat sangat.
Zidan beranjak dari kamar dan mulai melakukan tugasnya membersihkan rumah. Entah sudah berapa kali ia tidak masuk kerja, jika bukan milik mamanya Galen, pasti Zidan sudah dipecat.
__ADS_1
°°°°°
"Gal, CCTV nya udah dihapus bersih. Kita bakal susah cari tau pelakunya kalau gini," ucap Zio menutup laptopnya dengan sedikit kasar.
"Identitas pelayan itu juga ngga ada," kesal Langit yang sedari tadi mencari satu per satu nama dan foto pelayan yang ia dapatkan dari pihak EO, secara paksa tentunya.
"Kayanya itu bukan asli pelayan event organizernya deh," ucap Galen yang sedang menggaruk dagunya.
"Bisa jadi tuh. Dia orang bayaran yang disewa pelaku," kata Dyu kembali memasukkan kacang ke mulutnya.
"HP yang kemaren gimana?" tanya Galen saat mengingat salah satu petunjuk yang mereka punya.
Langit mengeluarkan ponsel yang ia injak waktu itu dan memberikannya pada Zio. "Tuh coba lo otak atik. Siapa tau ada petunjuknya."
Zio membolak balikkan ponsel itu, model yang sudah cukup lama. Ia memasukkannya pada tas laptop dan akan memeriksanya di rumah.
"Menurut gue, pelakunya ada sangkut pautnya sama yang ngasih kode ke Keyna, secara dia tau semua detail kejadian kemaren," ucap Zio. Yang lain mengangguk setuju, Galen jadi kepikiran siapa gadis cupu itu.
"Oh iya, inget ngga waktu di rumah sakit gue sama Keyna keluar?" Semua mengangguk.
"Ada orang yang perhatiin kita dari jendela, dan waktu gue sama Keyna samperin ternyata orang itu yang ngasih kode ke Keyna, salah satu siswi Trisatya juga," jelas Galen.
"Gue ngerasa aneh sama tuh cewek, juga kaya pernah liat. Mukanya ngga asing," lanjut Galen.
"Coba besok lo kasih tau ke kita mana orangnya, siapa tau emang kita kenal," usul Langit yang tengah membereskan meja dari kulit kacang dan sampah kemasan makanan. Langit tidak suka hal yang tidak rapi.
"Kita harus selidikin orang itu." Zio berucap sambil beranjak, ia akan pulang dan memulai memeriksa ponsel itu.
Halo Semuanya👋
Maaf ya lama ngga up. HP ku baru aja selesai diservis.
Seperti biasa kalo suka jangan lupa like👍
Kalo komentar juga boleh biar aku makin semangat nulisnya
__ADS_1
Happy Reading