Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
103. Pasca Penyerangan


__ADS_3

Dorr!


Semua terdiam saat mendengar suara tembakan yang mengarah pada kaki salah satu bawahan William.


Langit yang berada di depan orang yang kakinya tertembak pun segera berbalik badan.


"Woy!! Siapa ya-" Belum selesai William berkata, peluru dari arah yang berbeda kembali mengenai bawahan William.


Dorr!


"Allohu Akbar!" kaget Dyu lalu reflek menoleh ke belakang. Batu besar baru saja terjatuh dari tangan orang di belakangnya, sekarang orang itu tengah memegangi tangannya yang baru saja tertembak.


"Untung ngga kena," ucap Dyu sembari mengusap dadanya sembari bergidik. Entah bagaimana nasibnya jika batu itu mengenai kepalanya.


Mereka yang di bawah mengedarkan pandangannya ke segala arah, termasuk Galen. Galen merasa orang yang menembak berada di pihaknya.


"Siapa lo? Keluar! Jangan beraninya ngumpet!" teriak William dengan perlahan memutar badannya untuk mencari penembak itu dari segala arah.


Galen mengambil kesempatan itu untuk melayangkan bogeman keras pada William.


BUG!


William tersungkur ke tanah. Tapi dengan itu, saat ia dalam usaha untuk bangun, matanya menemukan bayangan seseorang di lantai dua. Senyum smirk William keluarkan.


William mengode anggotanya untuk kembali mengeluarkan senjata. Lelaki yang diberi kode langsung mengeluarkan pisau dan ia arahkan ke belakang tubuh Galen.


Dor!!


Lagi. Suara tembakan kembali terdengar, tapi tidak ada yang tau dari mana dan siapa yang menembak, kecuali William dan Keyna. Galen hanya paham, yang terkena tembakan adalah dari pihak lawan yang akan menyerang Langit dan Dyu. Yang pertama ditembak tengah memegang pisau dan yang kedua tengah memegang batu.


Kesimpulannya, penembak itu berpihak pada mereka.


William menoleh ke arah tembakan itu berasal. "Lantai dua, sekarang!"


Puluhan orang William mulai berlari masuk dan akan mencari penembak tersebut.


Galen baru akan menghadang mereka, tapi kedatangan Pak Ervan yang membawa polisi membuatnya mengurungkan niat. Dengan cekatan Galen mengarahkan anggotanya untuk membantu menahan lawan mereka.


Keyna mendekati Galen sembari berbisik, "Kayanya itu Ayra deh. Soalnya tadi ngga ada di aula."


Galen mengangguk lalu menghampiri Pak Ervan. "Ayra mana, Gal?" tanya Pak Ervan dengan panik.


"Pak Ervan masuk aja, bawa polisi. Ayra sepertinya ada di salam," jawab Galen.


Pak Ervan mengangguk lalu berjalan dengan setengah berlari dengan membawa empat polisi.


Sedangkan Galen dan Keyna kini yang bertanggung jawab untuk berbicara pada pihak kepolisian tentang penyerangan ini.

__ADS_1


"Baik. Mereka akan segera kami proses, saudara bisa memberikan keterangan?" tanya Polisi tersebut, Galen mulai menjelaskan kronologinya. Untuk motif Galen belum tau, tidak yakin juga jika hanya karena dendam lawas pada Atlansa.


Tidak semua bawahan William bisa tertangkap. Hanya puluhan, itupun dengan bantuan Atlansa yang membantu memegangi mereka saat akan kabur. Sementara sisanya, mereka berhasil kabur karena memang jumlah mereka banyak dan tidak sebanding dengan jumlah polisi dan Altansa.


Saat satu per satu mereka di masukkan ke dalam tiga mobil polisi yang berada di sana. Pak Ervan keluar dengan tergesa dengan membopong tubuh Ayra ala bridal style.


"Kenapa, Pak?" tanya Galen menghampiri Pak Ervan.


Dengan wajah luar biasa paniknya, Pak Ervan menganggelengkan kepala, "Tolong bukain pintu mobil."


Galen yang tau jika Pak Ervan sedang khawatir tingkat tinggi, membuatnya dengan suka rela membukakan pintu mobil. Padahal di belakang Pak Ervan sendiri ada beberapa pengawal yang mengikutinya, Galen maklum karena ia pun begitu jika Keyna kenapa-napa. Akan sulit mengontrol diri.


Saat yang lain fokus dengan Pak Ervan dan Ayra yang tengah menyebunyikan wajahnya di dada Pak Ervan, membuat mereka tidak bisa melihat wajah Ayra. Dyu malah teralihkan fokusnya pada gadis cantik yang sedari tadi mengikuti Pak Ervan. Ternyata bukan hanya Dyu, Langit juga merasa kenal dengan gadis itu. Ciri-cirinya seperti yang dua siswa tadi pagi bilang.


"Lo Elina bukan sih? Anaknya Bu Intan?" tanya Langit mewakili Dyu. Di ingatannya masih terekam jelas wajah gadis itu.


Gadis yang baru saja akan mengikuti mobil Pak Ervan pun menghentikan langkahnya. Dua hari ia bersekolah di sini selalu mencoba tidak bertemu mereka, tapi di hari ke tiga ini ia malah dipertemukan. Bukan mereka, lebih tepatnya hanya Dyu. Laki-laki yang pernah menembaknya lewat telepon, dan ia tolak dengan mentah-mentah.


"Sorry, lo kenal gue?" tanya Elina yang pura-pura lupa.


Mereka semua mengangguk. Karena terlalu fokus pada Ayra, mereka baru sadar ada seseorang yang mereka kenal. Yang jauh berbeda dari apa yang ia lihat terakhir kali mereka bertemu.


"Bukannya lo?" tanya Dyu heran lalu menarik tangan Elina untuk ikut padanya.


"Lah lagi genting gini mau PDKT-in cewek," celetuk Zio saat Dyu membawa gadis bernama Elina ke motornya.


"Udah biarin aja. Ini udah kelar kan?" tanya Zidan. Ia ingin menghubungi Zia tapi ponselnya ia tinggal di laci.


"Yang luka bawa ke rumah sakit Pradipta," kata Galen yang diangguki mereka.


"Nyusul Ayra yuk. Gue khawatir, lagi hamil dia," kata Zidan yang membuat mereka menatap penuh selidik. Zidan masih memikirkan Ayra?


"Apaan sih? Kok natap gue kaya gitu pada? Gue cuma khawatir karena gue tau gimana rasanya istri lagi hamil terus kenapa-napa," ucap Zidan yang tidak ingin teman-temannya berpikiran macam-macam.


Mereka hanya mengangguk saja lalu mulai menuju motor untuk menyusul Ayra dan Pak Ervan, juga anggota Atlansa yang lainnya.


Sesampainya di rumah sakit, Ayra masih diperiksa Bunda Dian. Itu artinya memang benar Ayra tengah hamil.


"Kamu sama Sherena di sini aja ya? Kita mau jengukin anak Atlansa," ucap Galen pada kekasihnya.


Keyna mengangguk, dia duduk di kursi tunggu bersama Sherena.


"Beneran berarti Ayra lagi hamil?" tanya Sherena yang diangguki Keyna.


"OTW ponakan yang ketiga nih," ucap Sherena.


Baru beberapa menit mereka mengobrol, Bunda Dian keluar dari ruangan yang ada Ayra di dalamnya.

__ADS_1


"Gimana Ayra, Bun?" tanya Sherena setelah menyalimi Bunda Dian bergantian dengan Keyna.


"Alhamdulillah baik kok, Ayra dan janinnya ngga kenapa-napa," jawab Bunda Dian.


Sherena dan Keyna mengucap syukur lalu berterima kasih pada Bunda Dian sebelum ibunda dari Zidan itu pamit pergi karena masih ada pasien yang harus ia periksa.


Sepuluh menit, tapi baik Sherena maupun Keyna tidak ada yang berniat mengetuk pintu, Mereka akan menunggu Ayra dan suaminya bertukar pikiran dan meredakan rasa khawatir mereka. Apalagi dari yang pernah Ayra ceritakan, Pak Ervan belum mengetahui jika Ayra pintar berkelahi dan main senjata.


Tak.. Tak.. Tak...


Dua gadis bersahabat itu menolehkan kepalanya saat terdebgar suara langkah yang sangat terburu-buru. Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka bersama.... Adel?


"Bener ini ruangannya Ayra?" tanya wanita tersebut, Keyna mengangguk. Lalu dengan cepat wanita itu masuk ke dalam diikuti Adel. Bisa ditebak itu adalah mertua Ayra.


"Sayang banget kayanya mertua Ayra tuh," celetuk Sherena yanh diangguki Keyna.


¤¤¤¤¤


Sementara, di dalam rumah keluarga Zidan. Zia tampak khawatir karena Zidan tidak bisa dihubungi. Ponselnya aktif tapi tidak satu pun pesan atau panggilannya yang direspon sang suami.


Zia takut Zidan kenapa-napa. Dia tau bahwa terjadi penyerangan di sekolah, itu juga yang membuat Keyna dan Sherena buru-buru pamit untuk membantu.


Zia yang tidak bisa membantu apapun hanya bisa berdoa. Semoga tidak ada korban semua teman-teman dan suaminya baik-baik saja.


Karena tidak ada respon dari Zidan, Zia menvoba menghubungi abangnya, Zio. Dalam satu kali percobaan panggilannya langsung diangkat.


"Halo Kak? Zidan sama kak Zio ngga? Zidan baik-baik aja kan? Kakak juga kan? semuanya ngga ada yang kenapa-napa kan?" tanya Zia secara beruntun.


"Zidan aman kok. Ini ada di samping kakak. Ponselnya ketinggalan di sekolah, kita sekarang lagi di rumah sakit ngurusin anak Atlansa yang luka," jawab Zio di seberang sana.


Zia menghela napasnya lega lalu meminta berbicara dengan Zida. "Zia ke sana ya?"


"Jangan!" dengan cepat Zidan melarang. Masih tidak aman kondisinya, bisa saja masih ada mereka yang tadi lolos dan mengintai. "Belum aman Zi. Di rumah aja ya, nanti abis ini aku langsung pulang. Pokoknya kamu jangan kemana-mana."


"Iya iya... tapi jangan lama ya?" kata Zia yang belum tenang jika belum melihat kondisi Zidan dengan mata kepalanya sendiri.


"Iya, ini aku mau ke sekolah ambil tas sama HP abis itu langsung pulang, mau nitip sesuatu?" kata Zidan.


"Nggak. Penginnya kamu pulang, aku masih ngga tenang kalo belum ketemu kamu langsung," jawab Zia membuat Zidan mengiyakan dan segera bergegas ke sekolah agar sang istri tidak khawatir.


¤¤¤¤¤


...Haii... Hai.......


...Aku up nih....


...Kalo suka jangan lupa like, komen, vote, kasih hadiah juga boleh......

__ADS_1


...Follow IG aku juga ya : miarahma833...


...Bye...Bye......


__ADS_2