Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
59. Baby Cegukan


__ADS_3

"Tanggung!"


Zia menyergitkan alisnya, apanya yang tanggung coba. Aneh-aneh saja. Sebelum berucap apapun Zidan sudah kembali melum*at bibirnya, Zia yang sudah tau harus berbuat apa langsung membalasnya, meski Zidan merasakan Zia masih sangat amatir cara bermainnya.


Setelah puas dengan bibir Zia, Zidan menurunkan beralih pada leher Zia membuat Zia bergerak karena kegelian. Zia juga mengantupkan bibirnya saat tanpa sengaja ia mengeluarkan suara yang menurutnya menjijikan dan aneh, orang dewasa menyebutnya desah*n.


Zidan semakin menjadi ketika mendengar suara Zia yang begitu indah di telinganya. Zidan membuat jejak-jejak merah di leher Zia.


Aksi Zidan terhenti saat Zia mengaduh. "Auwh."


"Kenapa? Kram lagi?" Zidan segera mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Zia. Zia malah terbengong saat merasakan hal baru dari dalam perutnya.


"Perutnya kedut-kedut, Zidan." Zidan kini yang menyergitkan alisnya, tangannya menyentuh perut Zia tapi tidak merasakan apapun.


Zia masih merasakan kedutan itu, tidak sakit hanya saja tadi Zia kaget. Zia merasakan gerakan samar dari dalam perutnya, sungguh Zia tidak bohong.


"Lo lagi ngga ngeles kan?" curiga Zidan.


Zia dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ngeles apaan Zidan? Beneran kedut-kedut kok, sekarang aja Zia masih ngerasain."


Zidan memicingkan matanya menatap Zia, tidak ada kebohongan di sana. Zidan menghela napasnya kasar, anaknya sedang apa sih di dalam sana? mengganggu saja.


"Ya udah besok tanyain ke bunda. Besok jadwal check up kan?" Zia mengangguk. Kehamilan di usia belia seperti ini membuat mereka tidak tau apapun, dan beruntungnya ada bunda Dian yang sangat ahli dengan masalah kehamilan.


"Gue ke kamar mandi dulu," ucap Zidan dengan terburu-buru. Kali ini masih sempat mengambil baju.


Zia menatap kepergian Zidan dengan lalu mengedikkan bahunya, "Kebelet kayanya."


Satu jam kemudian Zidan baru keluar dari kamar mandi membuat Zia menatapnya khawatir.


"Zidan sakit perut ya? lama banget di kamar mandinya," tanya Zia saat Zidan masuk kamar sembari mengeringkan rambutnya.


Zidan hanya berdehem menanggapinya, masih sedikit kesal karena aksinya yang terpotong karena ulah anaknya sendiri.


"Aneh." Zia menatap aneh Zidan yang langsung tidur dengan membelakanginya.


"Tidur! udah malem." Zia langsung merebahkan dirinya dan mulai menjelajahi alam mimpi.


°°°°°


"OH MY GOD ZIAAA.. LO ABIS NGAPAIN!?"

__ADS_1


Teriakan menggelegar milik Sherena membuat Zia mengusap perutnya yang berdenyut, mungkin anaknya sampai kaget akan teriakan auntynya itu. Keyna juga menutup telinganya yang pengang.


"Kenapa sih?" kesal Keyna sembari mengusap telinganya yang berdengung. Mereka baru sampai rumah Zia tapi Sherena sudah berteriak saja.


"Nih liat nih Key!" tunjuk Sherena pada leher Zia.


Keyna membulatkan mulutnya kaget, "Woww."


"Apa sih?" Zia meraba lehernya sendiri.


"Zidan ganas banget sih! sampe banyak banget gitu bekasnya." Sherena mengambil kaca dari dalam tasnya dan membukanya menghadap leher Zia.


Zia menutup mulutnya karena kaget. Lehernya kenapa? apa dia digigit serangga semalam?


"Leher Zia kenapa? kayanya ngga digigit serangga engga deh, bekasnya juga aneh," bingung Zia sembari mengusap lehernya sendiri.


"Mana ada serangga bekasnya kaya gitu. Lo abis ngapain hah sama Zidan?" selidik Sherena.


Zia teringat semalam Zidan bermain di lehernya, "Apa karena dihisap sama Zidan semalem ya?"


"Ceritain ke kita lo semalem ngapain aja?"


"Kan kalian suruh Zia belajar ciuman, Zidan udah ajarin kemaren," jujur Zia.


°°°°°°


Sepulang sekolah Zidan menemani Zia periksa kandungan. Kini sepasang suami istri yang masih remaja ini sedang antri di depang ruang pemeriksaan kandungan, tentunya dengan Bunda Dian sebagai dokternya.


"Kanezia Amanda Alfarezi Putri, silahkan masuk."


Zia beranjak dari duduknya dengan Zidan di sampingnya. Zidan membuka ruangan itu sendiri, "Bunda, mau liat cucu ngga?" ucap Zidan begitu masuk ke dalam.


Bunda Dian yang melihat anak dan menantunya mengembangkan senyumnya. "Sini duduk."


Zidan dan Zia duduk di hadapan Bunda Dian setelah bergantian menyalami bunda.


"Gimana? ada keluhan?"


"Kemaren kata Zia perutnya kaya kedutan gitu Bun. Tapi Zidan pegang ngga ada apa apa," kata Zidan lebih dulu menjawab daripada Zia.


"Oh ya? udah berasa kedutan?" tanya Bunda Dian dengan raut wajah bahagianya.

__ADS_1


Zia mengangguk, "Iya Kedut-kedut gitu, tadi pagi juga berdenyut gitu Bun waktu Sherena teriak kenceng banget."


"Bagus dong kalo gitu, kedutan itu biasanya janinnya lagi cegukan, kalo yang berdenyut itu artinya janinnya kaget sama suara dari luar, berarti pendengarannya udah berkembang dengan baik." Penjelasan Bunda Dian membuat Zia dan Zidan tersenyum bahagia. Anak mereka berkembang dengan baik.


"Cucu bunda udah bisa cegukan sama denger, jadi Zidan sama Zia boleh tuh sering-sering ajak ngobrol babynya. Biar dia kenal dan hafal suara orang tuanya," tambah Bunda Dian.


"Kalo ajak ngobrol mah tiap hari Bun," ucap Zidan yang diangguki Bunda.


"Bagus kalo gitu. Sekarang USG yuk," ajak Bunda Dian sembari berdiri. Pasutri remaja itu mengangguk lalu ikut beranjak.


Zia dibantu Zidan untuk berbaring, lalu baju Zia disingkap sampai bawah payuda*a. Zia mengatur napasnya yang sedikit gugup karena akan melihat perkembangan anaknya.


"Rileks ya, jangan tegang," ucap Bunda Dian saat merasakan ketegangan Zia, Zia mengangguk lalu berusaha menenangkan dirinya.


Zia memandangi perutnya yang sedang diolesi gel dingin, rasa syukur terucap dalam batinnya karena masih ada bunda Dian yang peduli terhadapnya dan Zidan. Apalagi mertuanya itu sudah menjamin semua urusan kehamilannya sampai melahirkan nanti, walaupun ia dan Zidan nanti sepakat alan membayar biaya persalinan.


"Liat nih, bentuknya udah hampir sempurna. panjangnya kisaran 14 sentimeter dari kepala sampai kaki, beratnya sekitar 200 gram. Telinganya udah terbentuk lengkap dan pendengarannya mulai sempurna." Bunda Dian menjelaskan secara detail tentang perkembangan calon cucu pertamanya itu.


Bola mata Bunda Dian membulat lalu teraenyum bahagia melihat apa yang sedang dilakukan calon cucunya itu, "Zia ngerasain kedutan lagi?"


Zia mengangguk, perutnya seperti ada pergerakan lemah di dalamnya.


"Liat ini! anak kalian lagi cegukan. Coba perhatiin, dia naik turun gitu berarti lagi cegukan," jelas Bunda Dian sembari menunjuk layar pada Zia dan Zidan. Membuat Zia sudah tidak bisa berkata-kata.


"Beneran bisa cegukan Bun?" tanya zidan yang masih belum percaya, ia seperti melihat keajaiban di depan matanya. Semalam anaknya membuatnya kesal, tapi sekarang ia senang saat melihat anaknya melakukan hal yang sama seperti dia mengganggu mama dan papanya semalam.


Bunda Dian mengangguk, lalu kembali membersihkan perut Zia, setelahnya menurunkan kembali baju Zia.


"Nih yang semalem gangguin kita," bisik Zidan pada Zia sembari mengusap perut Zia. Zidan masih belum rela yaa.


°°°°°


Halloo semuanya... 👋


Gimana sama bab ini? ♥


Kalau suka like👍


komen juga♥


vote atau kasih hadiah kalau mau♥

__ADS_1


Kalau berkenan juga follow akun aku yaa


Bye♥♥


__ADS_2