Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
Rezekinya Dia


__ADS_3

Zia, Keyna, dan Sherena berjalan dengan wajah lesu ke arah mobil Keyna. Mereka gagal bertemu Ayra, kata satpam di rumah Ayra, Ayra sudah dua hari tidak pulang.


"Ayra kemana ya?" tanya Zia setelah mereka memasuki mobil.


Sherena di belakang kemudi mengedikkan bahunya, sementara Keyna yang duduk di kursi belakang sendirian hanya menggelengkan kepala.


Kemungkinan Ayra pergi hanya ke basecamp Atlansa, tapi setelah putus dari Zidan, Ayra belum pernah menginjakkan kakinya di tempat itu. Lalu kemana gadis cantik itu pergi sekarang?


Sherena memetikkan jarinya saat mendapatkan ide. "Gimana kalo kita minta Zio lacak?"


Zia mengangguk dengan semangat, tapi tidak dengan Keyna. Gadis itu terus terdiam selama perjalanan kembali ke sekolah. Sherena tau Zio masih berlatih basket untuk pertandingan minggu depan.


°°°°°


Zidan tengah sibuk mengucek pakaian di kamar mandi, sepulang sekolah ia harus memanfaatkan waktu dua jam sebelum kerja untuk mengerjakan pekerjaan Zia di rumah. Zia belum pulang dan ia memakluminya, Zia butuh waktu bersama teman-temannya. Setidaknya Zia sudah izin padanya.


Zidan menjemur pakaian di belakang rumah kemudian mencuci piring, menyapu, mengepel, dan terakhir dia akan memasak makan siang untuk Zia. Tangannya sudah memerah karena melakukan semua pekerjaan tanpa henti, apalagi saat melihat jam dan sudah waktunya ia berangkat kerja.


Zidan ingin mengeluh, dia harusnya sekarang tengah asik berlatih basket bersama teman-temannya untuk menghadapi pertandingan minggu depan. Namun, setelah mempertimbangkan banyak hal, Zidan memutuskan tidak ikut pertandingan. Zidan sebenarnya ingin seperti mereka yang bebas bermain dan menghabiskan uang, bukan dirinya yang harus banting tulang siang malam demi mendapatkan uang.


Perasaan iri kerap kali muncul. Mengingat dirinya yang masih kelas sebelas, masa emasnya SMA. Bukanya sibuk mengarah diri di sekolah, malah sibuk mencari uang untuk istri.


Ayra. Nama itu juga masih menjadi hal yang mengganggu pikirannya. Saat bersama Zia ia malah masih sering membayangkan Ayra. Zidan masih belum rela, mengapa keadaan memaksanya melepaskan Ayra. Gadis yang sudah menemaninya selama tiga tahun. Dari masa SMP sampai SMA mereka bersama, bukan hal mudah melupakannya begitu saja.


Jangan salahkan Zidan dalam situasi ini, karena pada dasarnya Zidan juga korban. Zidan memang belum memiliki perasaan apapun pada Zia, tapi ia berusaha memperlakukan Zia sebaik mungkin dengan prinsip Zia adalah istrinya.


Zidan menyergitkan alisnya saat tidak mendapati Ayra di kafe. Sudah semingguan Ayra tidak ke kafe tempatnya bekerja, hanya Adel dan kedua temannya yang rutin ke sini.


Ada apa dengan Ayra?


"Woy!"


Zidan berjingkat kaget, saat dia menolehkan kepala ke belakang ternyata Galen yang mengagetinya. "Apa?"


"Nggapapa. Iseng ajaa," canda Galen lalu tertawa.

__ADS_1


"Anak bos ngapain ke sini? Ngga pantes diliat yang lain," ujar Zidan saat sadar pegawai lain seperti canggung dalam setiap geraknya.


"Mau negur lo lah. Kerja woy bukannya ngelamun!" peringat Galen menyampaikan pesan dari mamanya.


"Maap maap," balas Zidan kembali melakukan tugasnya mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.


"Nyokap nawarin kerjaan tambahan nih," kata Galen saat Zidan kembali dari mengantar pesanan.


Zidan menoleh ke Galen, "Kerja apa? Jam gue udah ngga sisa. Kalo gue kerja lagi gue ngga tidur," ucap Zidan sambil mengelap gelas dan piring.


"Tenang aja. Ini masih di jam kerja lo di sini. Nyokap mau lo gantiin penyanyi kafe yang baru aja di pecat," ucap Galen menyandarkan tubuhnya di tembok.


"Suara gue jelek."


Galen tertawa ringan. "Terus piala yang berjejer di sekolah itu dari siapa?"


"Mau ngga nih? Kalo engga, gue cari yang lain. Bayarannya lumayan loh," tawar Galen mencoba mempengaruhi Zidan.


"Mau lah. Tapi gue ngga sreg sama penyanyi ceweknya," jujur Zidan. Ia tidak menyukai gaya genit penyanyi cewek di sini, sering nempel-nempel gitu ke penyanyi cowoknya.


"Kalo penyanyi ceweknya ngga kegenitan kaya gitu gue mau mau aja," ucap Zidan kembali mengantarkan pesanan.


Galen menganggukkan kepala, "Oke! Tinggal nyari yang cewek. Sebenernya nih gue mau Zia aja, tapi kalo lo izinin."


Zidan tampak berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya.


"Kalo jam kerjanya sama kaya gue. Gue ngga ijinin, kalo cuma sebentar gue bakal bicarain sama Zia," ucap Zidan sembari mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih, hanya agar ia terlihat sibuk.


"Yaudah suruh Zia ke sini," perintah Galen yang hanya mendapat deheman dari Zidan.


Pada akhirnya Galen sendiri yang memerintahkan Keyna untuk membawanya kemari setelah mereka selesai bermain.


°°°°°


"Kenapa Keyna bawa Zia ke sini?" tanya Zia saat mereka memasuki kafe milik orangtua Galen. Zia malu dengan kedua tangan yang diperban.

__ADS_1


"Galen yang minta, gue juga ngga tau kenapa," jawab Keyna dengan pandangan menyusuri kafe, saat menemukan objek yang ia cari, Keyna memegang bahu Zia menuntunnya menuju meja pojok.


"Sore, Tante," sapa Keyna pada mama Galen, Shofia. Wanita paruh baya itu tersenyum ramah khas keibuan pada Keyna.


"Duduk Key," ucap Tante Shofia mempersilahkan. Keyna terlebih dahulu menarik kursi untuk Zia, kemudian untuk dirinya sendiri.


Zidan menghampiri meja itu karena memang tugasnya menanyakan pesanan. Zidan sedikit terkejut saat melihat Zia duduk bersama Keyna, Galen, dan Tante Shofia, bosnya.


Baru akan menawarkan menu, Tante Shofia sudah menyuruhnya duduk.


"Zidan, duduk dulu!" perintah Tante Shofia yang langsung ditiruti Zidan. Galen dan Keyna memilih pindah meja agar bisa bucin sesuka mereka.


Zidan tersenyum canggung lalu duduk di sebelah Zia. Entah kebiasaan atau apa tangan yang semula di bawah meja beralih mengelus perut rata Zia. Zia sedikit terkejut kemudian keduanya saling tatap selama dua detik. Zia membiarkan tangan Zidan terus mengusap perutnya.


"Zia kan ya?" tanya tante Shofia pada gadis di samping Zidan. Zia mengangguk sembari tersenyum ramah.


"Gini Zia, tante baru aja pecat penyanyi di kafe ini. Terus Galen bilang suara kamu bagus, jadi tante mau nawarin kamu buat kerja di sini," ucap Tante Shofia to the point.


Zia sedikit terkejut mendengar tawaran tante Shofia, ia menatap Zidan seperti meminta pendapat.


"Gini tante. Maaf banget bukannya ngelunjak atau gimana, tapi Zia ngga boleh terlalu capek, kalaupun boleh Zia jangan terlalu lama kerjanya," ucap Zidan pelan dan berhati-hati.


Tante Shofia tersenyum ramah, ia paham maksud dari Zidan. Ia juga tau bahwa gadis dihadapannya ini tengah hamil dari saat Zidan mendaftar menjadi pegawainya.


"Zia nya gimana? Mau ngga kerja sama tante?" Zia bingung menjawabnya, ia ingin meringankan beban Zidan, tapi ia takut Zidan malah marah saat dia menyetujui pekerjaan ini.


"Zia tergantung Zidan aja Tante," kata Zia menyerahkan keputusan pada Zidan.


Tante Shofia menatap Zidan meminta jawaban. Sedangkan Zidan tampak berpikir kemudian menganggukkan kepalanya.


"Boleh, asal tadi yang saya minta, Zia ngga boleh terlalu lama berdiri, dan jam kerjanya ngga se lama jam kerja saya, Tante," jawab Zidan.


"Bisa di atur. Yang penting saat pelanggan minta Zia yang nyanyi dia harus mau. Mulai kerjanya hari ini bisa?" Zia dan Zidan mengangguk bersamaan.


Zia tersenyum senang karena bisa membantu Zidan, ia akan meminta Zidan berhenti bekerja di pasar setelah ini.

__ADS_1


"Rezekinya dia," bisik Zidan.


__ADS_2