
Di ruang VIP rumah sakit Zia terbaring lemah, lengannya sudah dijahit satu jam yang lalu. Tentunya ruangan itu Bunda Dian yang pesankan, jika tidak mana mungkin Zidan bisa membayarnya. Semua temannya belum ada yang pulang, bahkan mereka masih mengenakkan pakaian penyamaran mereka.
Zia mengerjapkan matanya, Zidan yang duduk di sebelahnya langsung berdiri dan mengusap lengan Zia. Yang lain juga ikut berdiri saat melihat Zia sadar.
"Zia dimana?" lirih Zia hampir tanpa suara.
"Lo di rumah sakit," jawab idan sambil tersenyum tipis.
Zia ingin menyentuh perutnya, tapi langsung meringis saat tangannya digerakkan. Zia menatap Zidan dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah khawatirnya.
"Dia nggapapa?" tanya Zia, Zidan menggelengkan kepalanya.
"Lo pinter lindungin dia," ucap Zidan membuat Zia menghela napas lega. Ia ingat betul saat sesorang berusaha melukai perutnya tadi pagi.
Zio dengan pakaian penjual cilok mendekat ke tempat tidur Zia, diikuti Sherena dan Keyna yang juga masih menggunakan Daster.
Zio memeluk Zia yang masih terbaring dengan kedua tangan diperban. "Jangan bikin Abang khawatir lagi."
"Labil banget lo kadang kakak kadang abang, " ucap Keyna yang berdiri di belakang Zio.
Zia mengedarkan pandangannya pada semua orang di ruangan ini, mereka semua aneh kecuali Galen.
"Kalian diusir juga kaya Zia? Kok pakaian kalian kaya gitu?" tanya Zia, yang lain malah terkekeh.
"Zidan abis ngaji dimana?" tanya Zia dengan suara yang masih lemah yang justru mengundang tawa mereka semua.
"Kita tuh kaya gini demi lo kali. Kita nyamar buat nyelamatin lo tadi," ucap Sherena nyolot.
Zia membulatkan mulutnya sambil mengangguk pelan. Walau sebenarnya ia tidak paham, ia akan menanyakannya pada Zidan saat sudah di rumah.
"Pengin makan apa?" tanya Zidan yang mendengar suara perut Zia.
"Zia mau omellet," lirih Zia setelah beberapa menit lalu sadar. Semua menghela napas bosan, apa Zia tidak bosan makan omellet terus? mereka yang hanya melihatnya saja sudah bosan.
Zidan mengangguk dan pergi ke kantin rumah sakit untuk memasakkan Zia omellet. Untuk bahan ia akan coba beli di kantin.
"Zia, gue seneng banget lo ngga kenapa-napa," ucap Sherena menggantikan posisi Zidan saat Zidan pergi.
Zia tersenyum menanggapinya, ia masih sedikit syok pada kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu.
"Zia mau cerita ke kita tentang kejadian tadi?" tanya Keyna dan Zia mengangguk.
__ADS_1
"Nanti ya, nunggu Zidan balik. Zia mau makan dulu udah laper banget. Zia disana ngga dikasih makan masaaa," ucap Zia cemberut, semuanya terkekeh mendengar nada manja Zia.
"Kan lo pingsan. Gimana mau dikasih makan?" ucap Langit.
"Ishh.. Zia tuh sempet sadar tau, tapi pingsan lagi waktu liat darah banyak banget," cerita Zia.
Zidan sudah kembali dengan piring berisi nasi panas dan omellet kesukaan Zia.
"Zia mau cerita," ucap Zia sambil mengunyah. Semuanya mengangguk mempersilahkan.
"Tadi Zia kan lagi tidur, tiba-tiba ada yang masuk ke kamar. Zia kaget waktu kaya ada yang nyentuh perut Zia gitu, dingin. Dan pas Zia buka mata, pisau udah di atas perut Zia." Zia bergidig ngeri kemudian kembali membuka mulut saat Zidan menyuapinya.
"Terus?" tanya Zio yang sudah penasaran.
Zia mengunyah makanannya lalu menelannya, "Zia langsung tepis pisaunya sampe tangan kiri Zia luka. Tapi orangnya masih mau nusuk perut Zia lagi, jadi Zia peluk perut Zia pake tangan kanan."
Zidan kini yang bergidig, ia tidak bisa membayangkan jika Zia tidak mengorbankan kedua tangannya, bisa dipastikan janinnya sudah tiada.
"Pantes sampe dijahit kaya gitu," ucap Dyu yang duduk di sofa bersama yang lain.
"Iya. Habis itu Zia pingsan ngga tau apa apa, bangun bangun udah di ruangan bagus, tapi waktu lihat darah banyak Zia pingsan lagi," lanjut Zia.
" Ngomong-ngomong. Lo dapet darimana baju-baju ini Key? Sher? " tanya Langit saat melepas rompi orennya.
"Jemuran tetangga Zidan," jawab Sherena kemudian tertawa.
"Nanti kembaliin ya, kasian yang punya," ucap Zidan yang diangguki semuanya.
Tok.. tok...tok...
Langit membukakan pintu saat ada yang mengetuk dari luar. Langit tersenyum ramah saat itu adalah Bunda Zidan.
"Masuk, Tante."
Bunda Dian mengangguk, lalu masuk menghampiri menantunya.
"Gimana Zia? Perutnya sakit ngga?" tanya Bunda Dian setelah duduk dipersilahkan oleh Zidan.
Zia menggeleng, "Engga Bunda."
Bunda Dian tersenyum sembari mengusap rambut Zia. Zia tersenyum senang mempunyai mertua sebaik Bunda Dian.
__ADS_1
"Makasih ya kalian semua udah bantuin mantu sama calon cucu tante," ucap Bunda Dian pada semua teman Zia dan Zidan.
Mereka mengangguk, "Sama-sama Tante," ucap Galen mewakili teman-temannya.
"Kenapa Zia bisa sampe kaya gini?" tanya Bunda Dian pada Zidan.
"Eee.. Itu Bunda, dicopet waktu mau beli makan," jawab Zidan berbohong, tidak mungkin ia jujur. Dia sendiri saja masih belum tau siapa pelakunya.
"Zia buk-." Keyna langsung membekap mulut Zia, saat ia tau Zia pasti akan jujur.
"Dok, jadi gini kita kan lagi jalan bertiga, Zia sambil main hp, jadinya dicopet. Waktu Zia mau ngelawan malah tangan Zia jadi kaya gitu," ucap Sherena mengedipkan matanya pada Zia, Zia semakin memyergitkan alisnya saat teman-temannya semakin jauh mengarang cerita.
"Kok perutnya sampe ada baretnya dikit, perutnya kena juga?" tanya Bunda Dian, karena saat pemeriksaan ia melihat baret di perit Zia.
Mereka terus mengarang cerita agar Bunda Dian percaya, beginilah efek berbohong, kita harus kembali berbohong untuk menutupi kebohongan yang pertama.
Galen langsung melirik ke arah jendela saat merasa ada yang memperhatikan mereka, Keyna juga. Kemudian keduanya saling tatap dan menganggukkan kepala samar.
"Tante, Galen sama Keyna izin keluar sebentar," izin Galen hendak menyalimi tangan bunda Dian.
"Mau kemana Gal? Key? Tante baru dateng kalian malah mau pergi," tanya Bunda Dian sembari menerima uluran tangan Galen dan Keyna.
"Ini tante, kita mau beli makan," ucap Keyna berbohong, Bunda Dian mengangguk kemudian mereka buru-buru keluar dari ruangan, sebelumnya Keyna sudah meminta kunci mobil Atlansa pada Zio.
Para cowok tau pasti ada yang tidak beres, karena mereka tau Ketua dan angel Atlansa jika sudah berwajah serius seperti itu pasti ada masalah. Tapi mereka hanya saling tatap sebentar dan tidak akan mengikuti mereka tanpa perintah dari Galen.
°°°°°
"Keliatan jelas orangnya?" tanya Galen saat mereka baru keluar dari ruang rawat Zia.
"Engga, cuma kayanya cewek, pendek gitu, sama rambutnya panjang," jawab Keyna saat mereka berjalan beriringan. Langkahnya mereka seirama dan cepat.
Jika saja mereka tengah menggunakan jaket Atlansa, mereka akan terlihat sangat berwibawa, sayangnya Keyna sedang menggunakan daster.
"Kita coba cari ke depan jendela, kayanya dia ngga ngeh kita lihat dia," ucap Galen menarik tangan Keyna. Keyna mengikutinya dan benar saja saat mereka sampai di sana, perempuan itu masih disana.
Galen mengawasi sekitar setelah dirasa sepi, Galen mengode agar Keyna yang bertindak, karena lawanya adalah perempuan.
Keyna menepuk bahu orang tersebut dari belakang, perempuan tersebut menoleh dan mereka kaget saat mengetahui siapa orang itu.
"Lo?"
__ADS_1