Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
46. Siapa pelakunya?


__ADS_3

Hari Senin, hari yang menjengkelkan bagi banyak orang. Dimana hari itu adalah hari terjauh dengan weekend. Hari ini juga Zidan dibuat was was dengan Zia yang memaksa ikut upacara.


Dari barisan kelasnya, Zidan mencoba mencari sosok istrinya diantara siswa-siswi kelas XI IPA 1 dan akhirnya menemukan Zia di barisan belakang, tepatnya di sebelah Sherena dan di depan Ayra. Beruntung Zia di belakang, karena Zidan berniat membawa Zia keluar barisan jika amanat pembina upacaranya lama.


Upacara berjalan dengan hikmat, Zidan juga tetap mengawasi Zia sepanjang upacara berlangsung, takut-takut Zia pusing atau mual, ia bisa segera membawa Zia ke UKS. Akan tetapi, bukan Zia yang terlihat sakit, tapi Ayra. Ayra berdiri tepat di belakang Zia, wajahnya pucat dan terlihat memegangi perut. Entah mengapa , Zidan langsung keluar dari barisan secara diam diam.


Grep!


Tepat sekali. Zidan langsung menangkap tubuh Ayra yang ambruk tepat saat ia sampai di belakang Ayra. Zia yang mendengar suara dari belakangnya, menoleh, di sana ia melihat Zidan yang tengah menyelipkan tangannya di belakang lutut dan leher Ayra, Zidan sedang mengangkat tubuh Ayra.


"Ayra?" Zia terkejut melihat Ayra pingsan, begitupun kebanyakan siswa yang lainnya. Petugas PMR pun berlari membawa tandu, tapi Zidan lebih dulu membawanya keluar lapangan. Niat awal ingin mengikuti Zidan, namun terhenti ketika pembina upacara mengistrupsikan untuk semua kembali fokus pada upacara.


Zia sesekali menoleh kebelakang, ia merasakan perasaan yang aneh saat melihat Zidan membopong Ayra dengan wajah paniknya.


Setibanya di UKS, Ayra langsung Zidan baringkan di ranjang UKS. Petugas kesehatan sekolah mulai mengoleskan minyak kayu putih di hidung Ayra, juga mengendorkan sabuk dan dasi Ayra. Zidan belum juga beranjak, hingga perlahan Ayra membuka matanya.


"Ada yang sakit, Dek?" tanya petugas UKS tersebut.


"Kepala saya sakit, perut juga," guman Ayra lalu memejamkan matanya karena pusing kembali menyerangnya.


"Sudah sarapan?" Ayra mengangguk.


"Ya sudah, ini minum obatnya dulu," ujar petugas UKS lalu menyodorkan obat dan segelas air putih. Zidan dengan sigap membantu Ayra duduk.


"Sekarang tiduran lagi, istirahat." Ayra mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya yang terasa lemas.


"Kamu tungguin pacarnya ya," ucap wanita dewasa itu pada Zidan lalu beranjak keluar dari ruangan.


"Saya buk-" Zidan hanya tersenyum paksa saat petugas tersebut sudah keluar dari bilik.


Zidan menarik kursi di sebelah ranjang UKS dan mendudukinya. Dilihatnya Ayra yang tengah memejamkan mata. Zidan yang merasa bosan memilih membuka ponselnya, berniat menanyakan keadaan Zia, apalagi sepertinya upacara telah selesai.


...Kanezia...


^^^Udah selesai upacaranya? ^^^


Udah Zidan


^^^Gimana kerasa mual atau sakit apanya gitu ngga?^^^


Engga


^^^Oke. Gue masih di UKS nungguin Ayra.^^^

__ADS_1


Oh.


Zidan mengalihkan perhatiannya dari ponsel saat tiba-tiba Ayra bangun dan berlari ke kamar mandi UKS. Terdengar Ayra yang tengah muntah-muntah, Zidan segera menyusul dan membantu mengurut tengkuk Ayra.


"Udah?" Ayra mengangguk lalu mencuci wajahnya dan keluar dari kamar mandi diikuti Zidan.


"Maghnya kambuh?" Zidan bertanya saat Ayra kembali duduk di atas ranjang UKS. Ayra hanya mengangguk menanggapinya.


"Gue mau nanya sesuatu sama lo, boleh?" Zidan merasa mumpung ada kesempatan mengobrol dengan Ayra. Ayra juga sudah terlihat membaik setelah muntah.


Ayra mengangguk, "Apa?"


"Gue udah tau Dea itu orang di bawah kuasa lo."


"Terus?" Ayra tidak terkejut, karena memang harusnya sudah dari lama mereka tau.


"Lo tau siapa pelaku yang nyekap Zia kan?" Ayra menggelengkan kepalanya, ia tidak akan memberitahu Zidan sekarang.


"Jujur!" Zidan tau Ayra tengah berbohong.


"Orang yang sama dengan pelaku penjebakan lo sama Zia," jawab Ayra pada akhirnya.


"Kasih tau gue, Ay!" pinta Zidan. Rasa penasarannya kiat memuncak.


"Mau buat apa? Bales dendam?" tanya Ayra membuat Zidan terdiam. Apa ia akan balas dendam? Apa ada gunanya jika ia balas dendam?


Ayra tersenyum miring saat Zidan diam membeku. "Orang yang niatnya ngancurin reputasi bokap Zia, tapi gagal, karena lo gercep nikahin Zia sebelum Zia hamil di luar nikah."


"Kenapa harus sama gue?" tanya Zidan yang merasa dirinya tidak ada sangkut pautnya jika itu urusan bisnis bokap Zia. Ayra hanya mengedikkan bahunya, alasan itu Zidan tidak perlu tau.


"Random kali milih cowoknya," jawab Ayra lalu bangkit dan keluar dari UKS setelah merasa lebih baik. Juga karena mendapat pesan dari seseorang.


°°°°°


Kelas XI IPA 1 kini tampak ramai karena guru yang mengajar pada jam tersebut tidak masuk. Jam kosong pelajaran kali ini cukup membosankan bagi Zia. Apalagi sedari selesai upacara, teman-temannya terus membicarakan aksi Zidan yang menolong Ayra tadi.


Sumpah, gue ngga rela kapal Zidan-Ayra tenggelam.


Tadi gagah banget si Zidan. Berasa di film-film romantis, pingsannya pas banget ketangkep.


Kayanya Zidan udah mperhatiin Ayra terus deh, jadinya pas liat Ayra udah mau pingan dia gercep.


Masih heran gue, alasan mereka putus tuh kenapa.

__ADS_1


Iya bener. Tiba-tiba banget lagi, padahalkan seantero sekolah aja tau mereka bucinnya minta ampun.


Sayang banget, salah satu best couple Trisatya harus kandas, padahal gue ngeship mereka banget.


Pasti ada orang ketiga.


Zia sampai bosan mendengarnya, juga merasa bersalah. Zia jadi berpikir, jika mereka tau Zia penyebab Zidan dan Ayra putus, akan seperti apa nasibnya nanti. Zia bergidik ngeri sendiri.


"Ngga usah didengerin," ucap Keyna yang peka terhadap Zia. Zia tersenyum menanggapinya.


"Mau ke UKS ngga? Nemenin Ayra," tawar Keyna, Zia menggeleng lalu mencegah Keyna dan Sherena yang akan beranjak.


"Ada Zidan kok di sana." Sherena dan Keyna membulatkan mulutnya sembari mengangguk, lalu duduk kembali.


"Cemburu nih?" goda Sherena, Zia dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Enggak ya," elak Zia.


"Yakin? Kok dari tadi mukanya ditekuk," goda Sherena lagi.


Zia mengangguk, "Zia cuma capek aja abis upacara."


Sebenernya Zia tidak tau apa yang dirasakannya saat ini, intinya dadanya terasa sesak saat semuanya membicarakan Zidan dan Ayra.


Apa Zia cemburu?


Zia yang tidak mau ambil pusing lebih memilih membuka kotak bekalnya dan makan.


°°°°°


Zidan tidak fokus mengikuti pelajaran, di pikirannya terus berputar ucapan Ayra saat di UKS. Masih bingung dan tidak terima jika hidupnya kacau hanya karena masalah bisnis papanya Zia.


Tapi apa ia bisa percaya sepenuhnya pada ucapan Ayra?


°°``


Hallo semuanyaa 👋


Aku up nih, siapa yang nungguin?


Gimana sama bab ini?


Kalo suka like nya dong👍

__ADS_1


Kasih hadiah juga boleh♥


Komen biar aku tambah semangat Up♥♥


__ADS_2