Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
122. 38 Hari Lagi


__ADS_3

"Ini gimanaaaa?" bingung Zia saat baby Zavian pup.


"Ya dibersihin atuh," jawab Zidan dengan santainya, padahal dia sendiri juga tidak paham cara membersihkannya.


"Coba kamu contohin, aku liat," ucap Zia yang menggeser posisinya yang tengah duduk di sebelah baby Zavian.


Zidan nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku panggilin bunda aja ya."


Zia mendengus lalu mengangguk. Beginilah jika belum ada persiapan matang, memang Zia pernah membersihkan pup Zira tapi ini tubuh Zavian seperti lebih lembek dan ia takut kenapa-napa jika ia bertindak sembarangan.


"Maafin mama ya, belum pinter ngurusin kamu," ucap Zia pada baby Zavian yang tampaknya sudah tidak nyaman karena pupnya sendiri.


"Sebentar ya, papa lagi panggilin grandma kamu dulu," kata Zia lagi saat Zavian malah menangis.


Oekk... oek... oek...


Tidak lama kemudian, bunda Dian datang bersama Zidan.


"Utututuuu cucu grandma pup ya? mamanya belum bisa bersihin ya? grandma yang beraihin yaa," kata bunda Dian sembari mulai membersihkan pup sang cucu. Zia memperhatikan dengan seksama agar ia bisa melakukannya nanti.


"Cup.. cup... cup..." ujar bubda Dian sembari mengangkat Zavian yang sudah dibersihkan.


oekk... oekk...


"Disus*in dulu Zi," perintah bunda Dian membuat Zia duduk di tepi kasur lalu menerima baby Zavian.


Setelah sang putra berhenti menangis, Zia mendongak pada snag mertua, "Makasih bunda. Untung ada bunda, kalo nggak ada pasti Zia udah bingung banget."


Bunda Dian tersenyum, "Terus belajar ya? Untung ini bunda ambil cuti, kalo enggak gimana?"


Zia mengangguk antusias. Dirinya rasa sudah belajar dengan membantu mama Salma mengurus Zira, ternyata masih banyak sekali yang belum ia pelajari.


"Terus ajarin Zia juga ya Bun, kalau Zia salah marahin aja," kata Zia yang memang merasa belum pandai mengurus anaknya sendiri.


Bunda Dian menggelengkan kepalanya, "Masa bunda marahin mantu kesayangan bunda ini sih."


"Udah makan malam?" tanya bunda Dian, ia baru pulang belum lama ini karena ada urusan dengan kelas yoganya.


Zia menggelengkan kepalanya, dia belum sempat makan karena memang Zavian sering menangis jika ia letakkan di kasur.


"Zidan juga belum?" tanya bunda lagi, kini mengarah pada Zidan.

__ADS_1


Zidan menggelengkan kepalanya, "Nungguin Zia."


"Ya udah, kalo Zavian udha selesai nyus*nya, kaliam amkan malam, biar Zavian sama bunda," kata bunda Dian. Hari kedua menjadi orangtua baru memang cukup menyita waktu, belum bisa mengatur waktu dengan baik.


Zidan dan Zia mengangguk, setelah Zavian melepas sumber makanannya, pasutri yang baru saja dikaruniai buah hati itu pamit untuk makan malam terlebih dahulu.


"Capek?" tanya Zidan di sela-sela makan berdua dengan istri tercinta.


"Lumayan, tapi seneng juga," jawab Zia apa adanya, ia memang capek jika Zavian terus menangis tapi senang juga karena bisa menghabiskan waktu untuk belajar mengurus putranya sendiri.


"Emm.. aku mau nanya boleh," kata Zia ragu.


Zidan mengangguk saja. "Nanya apa?"


"Luka kamu tiap malem bener? bener dari papa?" tanya Zia dengan hati-hati.


Zidan terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. Tidak bisa mengelak lagi karena sang mertua sudah mengungkapnya di rumah sakit kemarin.


"Kenapa nggak pernah bilang? kenapa boongin aku?" tanya Zia.


Zidan tidak bisa menjawab, rasanya tidak ada jawaban yang membenarkan dirinya.


"Aku awalnya seneng ada papa waktu aku lahiran, tapi jadi takut papa nyakitin Zavian kaya papa nyakitin kamu, aku nggak rela dua jagoan aku disakitin sama papa," kata Zia lagi saat Zidan tidak menjawab.


"Yakin? Papa aja berani nyakitin kamu, nyakitin orang yang rela banting tulang kerja siang malem biar aku bisa tetep makan, biar putrinya tetep hidup," ucap Zia dan luruh sudah air matanya.


"Udah dong jangan nangis. Aku nggak apa-apa, demi kamu aku nggapapa dipukulin Om Riyan," kata Zidan sembari mengusap pipi Zia.


"Om? pasti papa nggak ngakuin kamu?" tanya Zia lagi.


Zidan menggelengkan kepalanya, akan susah meyakinkan Zia jika bukti sudah Zia lihat sendiri tiap malam.


"Nggak menutup kemungkinan, papa bisa sakitin Zavian juga. Kan Zavian anak kita, pokoknya aku nggak mau Zavian deket-deket sama papa, kamu juga nggak usah deket-deket," omel Zia yang diangguki Zidan.


Zia memeluk Zidan yang duduk di sampingnya, "Aku mending terus nggak dikuin anak sama papa, dari pada kamu sama Zavian kenapa-napa."


Zidan mengusap kepala Zia, "Iya. Aku nggak akan kenapa-napa lagi. Udah dong nangisnya masa udah jadi ibu masih cengeng."


Zia melepas pelukannya lalu mengusap air matanya sendiri. "Aku marah sama papa. Nggak mau ketemu papa, nggak mau liat papa."


Zidan mengangguk, paham akan sikap Zia. Bagaimana pun juga Zia sudah menjadi seorang istri dan seorang ibu, yang tidak akan pernah rela suami dan anaknya disakiti, sekalipun itu oleh papanya sendiri.

__ADS_1


"Kalo udah nggak marah bilang ya," tutur Zidan tapi Zia tidak menjawab, lebih memilih melanjutkan makan malamnya.


Setelah makan malam, pasutri itu kembali ke kamar. Mendekati sang putra yang tertidur di gendongan bunda Dian.


"Kalo nanti malem pup lagi bisa panggil bunda, apa udah bisa?" tanya bunda Dian setelah meletakkan Zavian di tempat tidur khususnya.


Zia mengangguk, "Tadi udah liat, udah bisa kayanya."


"Kenapa sih Bun, kok nggak Zavian nggak boleh tidur di tempat tidur barwng aku sama Zia?" tanya Zidan. Kemarin ia belum sempat merakit tempat tidur tersebut dna berjung diomeli karena katanya bayi baru lahir tidak boleh tidur satu kasur dengan orangtuanya.


"Sebenarnya boleh. Tapi kalian tuh masih dalam keadaan capek pasca proses persalinan kemarin, jadi takut waktu tidur kalian nggak sadar malah nindih Zavian, atau Zavian ketutupan selimut atau kenapa kan kalian nggak sadar gimana?" jelas bubda Dian. Karena dalam dunia kedokteran hal ini pun masih ada pro dan kontraknya, tapi karena mencegah lebih baik dari mengobati, bunda Dian sekarang berada dalam pihak pro.


Zidan mengangguk, sekarang ia jadi tidak bertanya-tanya lagi.


"Kalau udah tiga jam bangunin Zavian untuk nyus*," pesan bunda Dian.


"Emang nggapapa dibangunin? nanti tidurnya keganggu Bun," tanya Zia.


Bunda Dian menggeleng, "Enggak sayang. Bayi baru lahir tuh emang biasanya tidur terus karena emang kebiasaanya waktu di dalam rahim, jadi perlu dibangunin karena Zavian kan perlu asupan, udah nggak bergantung pada tali pusar. Jadi, jangan ragu ya bangunin Zavian, itu buat kebaikan pertumbuhannya juga."


Zia mengangguk, konsultasi gratis setiap saat karena mertuanya dokter kandungan yang pasti tau juga masalah bayi baru lahir.


"Zidan udha pasang alarm nih tiga jam kemudian," tunjuk Zidan pada ponselnya. Takutnya dia dan Zia kebablasan dan Zavian tidak menyus* malam ini.


Bunda Dian mengangguk lalu pamit keluar kamar, sepertinya Zidan dan Zia belum akan tidur karena belum malam. Tapi lebih memberikan mereka ruang untuk istirahat, apalagi Zia yang masih dalam masa pemulihan pasca melahirkan.


"Nggak nyangka ya? Ada perpaduan kita, dan seimut ini," kata Zidan saat keduanya tengah duduk di sebelah tempat tidur Zavian.


Zia mengangguk, "Emang nggak papa ya cowok imut gini, entah nggak gagah."


"Kan kecilnya doang. Besarnya aku didik biar jadi cowok yang bener," jawab Zidan sembari terus melihat wajah Zavian yang pulas dalam tidurnya.


"Kaya kamu," timpal Zia.


"Lebih baik lagi dari aku harusnya," balas Zidan.


"Gemes banget aku kalo liatin terus," kata Zia yang tidak tahan dengan keimutan Zavian.


"Kaya kamu," kata Zidan membalik ucapan Zia.


"Ih apaan sih," ujar Zia yang malu sendiri jadinya.

__ADS_1


"Jangan gigit bibir, puasa aku masih lama," peringat Zidan saat Zia melakukan kebiasaanya saat malu.


"38 hari lagi," kata Zia.


__ADS_2