Menikah Dengan Pacar Sahabatku

Menikah Dengan Pacar Sahabatku
49. Klarifikasi


__ADS_3

Zidan kembali bersama teman-temannya.


"Lo menang ya?" tanya Dyu, ia baru membuka ponsel dan tampaklah foto Zidan lengkap dengan pialanya di grup angkatan sekolah mereka.


Zidan mengangguk, membuat mereka mengucapkan selamat pada Zidan. Zidan sudah tidak memikirkannya, ia lebih kepikiran Zia dan bayinya untuk saat ini.


"Mau klarifikasi?" tanya Zio saat Zidan mendaratkan bokongnya di samping Galen lagi. Tampak sekali wajah Zidan yang kusut dan banyak pikiran.


"Bisa bantu?" tanya Zidan balik, mereka mengangguk.


"Gampang! Ada buku nikah kan?" Zidan mengangguk saat Galen bertanya.


"Ada USG pertama Zia?" Zidan berpikir sejenak lalu kembali mengangguk.


"Lakuin lah! gass!! " hanya dari situ saja Zidan sudah paham apa yang harus ia lakukan, ia kembali mengangguk.


"NGGAK! DIA BUKAN ANAK HARAM!"


Lima cowok tersebut langsung berdiri saat mendengar teriakan dari arah kamar. Zidan paling cepat berlari saat ia tau itu teriakan Zia.


"ZIA NGGA MURAHAN!"


"ANAK INI ANAK ZIDAN SAMA ZIA, BUKAN ANAK OM-OM HIDUNG BELANG!"


Ketika memasuki kamar, yang pertama Zidan lihat adalah Zia yang terus berteriak histeris dan tengah dipeluk Sherena juga Keyna dalam posisi yang masih duduk di atas tempat tidur. Zidan dengan cepat melepas pelukan mereka dan ia memeluk Zia dengan erat. Sherena menyingkir saat Zidan memeluk Zia.


"Hey, tenang ya! Ini gue Zidan!" ucap Zidan saat Zia terus memberontak. Saat Zia tau itu Zidan, Zia membalas pelukan Zidan dan memukul-mukul pelan punggung Zidan guna melampiaskan amarahnya. Sementara Zidan terus membisikkan kata-kata penenang di telinga Zia, hingga perlahan Zia mulai tenang, tapi masih terus berguman lirih.


"Zia ngga murahan."


"Anak Zia bukan anak haram!"


Zidan kembali merasakan sesak di dadanya. Pagi tadi ia masih melihat senyum manis Zia, tapi sore harinya yang ia lihat hanya airmata yang memenuhi wajah Zia. Perlahan Zidan mengusap air mata tersebut dan keringat dingin di pelipis Zia.

__ADS_1


"Anak Zia bukan anak haram kan?" lirih Zia mendongakkan kepalanya menatap Zidan. Zidan tersenyum paksa, lalu menggelengkan kepalanya.


"Anak kita bukan anak haram Zia, ngga ada yang boleh sebut dia anak haram." Zidan menegaskan kalimatnya, Zia kembali menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Zidan.


Jangan lupakan kalau masih ada orang lain di kamar itu selain Zidan dan Zia, mereka menyaksikan secara langsung bagaimana seorang ibu yang tidak rela anaknya dihina walau masih dalam kandungan. Cukup mengharukan.


"Zia udah makan?" tanya Zidan tanpa suara pada Keyna yang berada di belakang Zia, Keyna sontak menggeleng. Zidan memejamkan matanya sejenak, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Zidan perlahan melepas pelukannya dengan Zia. Langit yang peka, segera memberikan Zidan gelas yang berisi air putih. Ia mengambilnya tadi.


Zidan membantu Zia minum, perlahan Zia meminum air putih tersebut, tapi tidak lama kemudian ia merasakan mual yang begitu bergejolak.


"Ugh!" Zia spontan menutup mulutnya sendiri. Zia ingin bangkit untuk ke kamar mandi tapi tidak punya tenaga, karena sudah tidak bisa menahannya, hingga ia muntah di samping tempat tidur.


Seperti biasa, Zidan akan mengurut tengkuk dan mengelus perut Zia. Zia yang sudah lemas semakin dibuat lemas karena mualnya, Zidan segera menidurkan tubuh Zia saat Zia selesai muntah. Muntahan Zia, Sherena yang membersihkannya dibantu Zio.


Keyna menatap khawatir wajah pucat sahabatnya itu, "Ke rumah sakit aja apa gimana Dan?" tanyanya pada Zidan yang tengah menyelimuti Zia.


Zia tidak menyahut, Zia malah menutup matanya.


"Pusing?" Zia mengangguk samar. Rasanya seluruh tubuhnya lemas dan kepalanya berdenyut. Zia baru ingat, ia terakhir makan tadi pagi.


"Gue siapin mobil," ucap Langit seraya keluar dari kamar. Zidan mengangkat tubuh Zia, lalu membawanya keluar dari basecamp diikuti yang lain.


Langit menyetir mobil, Dyu duduk di sebelahnya, serta Zidan di belakang dengan Zia yang bersandar di dadanya. Yang lain mengikuti dari belakang dengan motor.


Sesampainya di rumah sakit, Zidan dengan panik membopong Zia, tadi di tengah perjalanan Zia tak sadarkan diri, membuatnya bertambah khawatir.


Saat diperiksa, Zia ternyata sama seperti waktu itu. Dehidrasi dan tidak mau makan, ditambah Zia juga stres karena terlalu banyak pikiran. Yang lebih menyesakkan bagi Zidan, kandungan Zia dinyatakan lemah.


Kini Zia sudah dipindahkan ke ruang rawat, dokter bilang Zia harus menghabiskan satu botol infus terlebih dahulu sebelum diizinkan pulang, agar nutrisi dan cairan di tubuh Zia terpenuhi.


"Lo jangan pikirin masalah di sekolah, itu biar gue yang urusin," ucapnya sembari menyuapi Zia bubur. Zia tidak menyahut, ia hanya menatap Zidan sebentar kemudian kembali menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Lo sama Sherena sama Keyna dulu ya, gue ada urusan," ucap Zidan setelah Zia selesai makan. Zia mengangguk pelan, Sherena dan Keyna mendekati Zia saat Zidan mengkode mereka.


"Mau makan sesuatu lagi ngga?" tanya Keyna, tadi ia diberitahu Dokter bahwa Zia diusahakan makan yang banyak.


Zia menganggukkan kepalanya, Zia ingin janinnya kembali baik-baik saja. "Mau jeruk," tunjuknya pada keranjang buah di nakas.


"Nah gitu dong," ucap Keyna senang, kemudian dengan semangat mengupaskan jeruk untuk Zia.


°°°°°


Zidan dibantu teman-temannya akan membuat video klarifikasi di kontrakan Zidan. Zidan sudah memegang buku nikah dan foto USG pertama Zia, kini calon ayah itu sedang berdiri di hadapan kamera.


"Siap?" tanya Dyu dibalik kamera. Zidan mengangguk, lalu menarik napasnya.


Dyu memberi kode untuk mulai dengan jarinya yang menghitung mundur dari tiga, dua, satu.


"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa gue tiba-tiba ngirim video ini. Gue Zidan, dari kejadian tadi siang di mading sekolah. Gue mau klarifikasi kalau gue cowok yang ada di foto itu. Orang yang kalian bilang om-om hidung belang itu, itu gue. Gue juga ayah dari anak yang dikandung Zia, yang kalian cekam dengan anak haram." Zidan memejamkan matanya sejenak, masih sesak rasanya mengucapkan kalimat terakhir.


"Perlu kalian tau, gue udah nikah sama Zia, sebelum Zia hamil." Zidan menunjukkan tanggal pernikahan di buku nikahnya, dan umur kehamilan Zia.


"Di sini udah jelas kan? Umur janinnya sama pernikahan kita selisih seminggu. Jadi, jangan sampai ada yang bilang lagi kalo anak gue itu anak haram. Kalo sampe gue denger ada yang ngomongin hal ini lagi, gue ngga akan tinggal diem." Zidan menghela napasnya sedikit lega saat ia sudah menyelesaikan ucapannya.


"Cut." Dyu mendalami perannya, lalu mereka menyaksikan video tersebut sebelum mengirimkannya ke grup angkatan.


°°°°


Haloo semuanya 👋


Kalau suka like,👍


Komen juga biar aku makin semangat updatenya. ♥


Kasih kopi juga boleh buat temen begadang♥♥

__ADS_1


__ADS_2