MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Perasaan Cemas


__ADS_3

Rumah yang besar kini sudah tampak sepi karena para penghuninya sudah pergi bekerja. Kecuali Kikan yang keluar untuk spa. Hanya tinggal Dinda, Dion dan para pembantu lainnya.


Setalah selesai sarapan, Dinda menyempatkan diri untuk tur mengelilingi rumah. Karena dari pertama kali ia menginjakkan kaki kerumah tersebut belum pernah sekali pun ia sekedar melihat-lihat isi rumah atau pergi keluar rumah. Kikan pernah berpesan jika Dinda merasa bosan, cobalah untuk berjalan-jalan sejenak.


Karena ia masih memikirkan jika nanti ia pergi meninggalkan rumah untuk menghilangkan bosan atau sekedar berbelanja dipasar, maka ia akan mudah ditangkap oleh anak buah Dave.


Dinda sangat antusias mengelilingi rumah tersebut dan melihat barang-barang yang terpajang di sekeliling ruang rumah. Mulai dari vas-vas bunga yang cantik, lukisan-lukisan dan alat perabotan lainnya.


"Itu foto apa ya koq besar sekali?" tanya Dinda penuh penasaran.


Ia sebenarnya merasa takut untuk melihat karena foto tersebut agak jauh dari tempatnya berdiri.


Itu foto apa ya? apa foto keluarga? tapi kenapa jauh dan tertutup sekali? padahal kan aku juga penasaran sama anak tante Kikan yang paling tua.


Karena rasa penasarannya tinggi, maka ia memberanikan diri untuk melangkahkan kaki secara pelan-pelan dan sesekali melihat sekitar agar tidak seperti orang yang mencurigakan.


"Mau kemana?" tanya Dion saat akan menaiki lantai dua.


Dinda yang kaget pun hanya bisa cengengesan karena tidak mau disangka maling


"Oh mau ke belakang kak." Dinda memutar arah dan kemudian berlari kearah belakang.


Dion yang bingung hanya menaikkan kedua bahunya secara serempak.


Apa aku terlihat mencurigakan? tapi kenapa aku lari? aduh, kenapa aku melakukan hal bodoh gini sih?


Saat ini Dinda berada dibelakang rumah. Tepatnya berada di taman belakang yang penuh dengan bunga-bunga yang subur.


"Wah, bunganya cantik sekali. Subur lagi." ucap Dinda sambil tersenyum bahagia.


Dion yang sedari tadi mengekori Dinda pun ikut tersenyum tanpa Dinda sadari.


Dion kemudian menghidupkan keran dan mengambil selang lalu menyiram tanaman tepat didepan Dinda.


"Hujan?" Dinda berlari dari tepat tersebut dan kemudian tanpa sengaja menabrak Dion yang sepertinya tampak tertawa geli melihat tingkah Dinda yang mengemaskan.


"Kak Dion maaf," ucap Dinda terkejut dengan keberadaan Dion.


"Kamu ngapain sih? mana ada hujan. Ini cuma air keran buat nyiram tanaman." kata Dion sambil masih tertawa.


Dinda mendengar pun hanya tersipu malu.


Apa-apaan sih kamu Dinda. Kan jadi malu depan kak Dion.

__ADS_1


Dikantor


"Apa maumu dasar wanita busuk?" tanya Dave penuh benci.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku kemari hanya merindukanmu." jawab Cindy penuh percaya diri.


Sepertinya Cindy sangat tau caranya untuk membujuk Dave. Terlebih ia pernah menjalin hubungan bersama Dave.


"Sudahlah Cindy, tidak perlu kau merayuku. Aku tidak akan termakan rayuan busukmu itu." balas Dave ketus.


Cindy hanya tersenyum dan kemudian menghampiri Dave yang sedang duduk di kursi kerjanya.


Ia kemudian duduk dipangkuan Dave sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher Dave dan membuat Dave merasa tegang.


"Wah, sepertinya kamu belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun setelah aku."goda Cindy lagi.


"Tau apa kau? lepaskan tanganmu dan pergi dari tempat ini!" perintah Dave lagi.


"Sepertinya kamu sangat kaku sayang, biar aku ajarkan bagaimana caranya memperlakukan wanita." Cindy membelai rambut Dave hingga ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dave.


Dave yang seperti nafsunya bangkit kemudian mencium bibir Cindy dengan rakus. Keduanya tampak menikmati ciuman panas tersebut.


"Ini yang kau mau kan?" tanya Dave saat melepaskan ciumannya.


Sebenarnya Dave masih menyayangi Cindy. Namun karena sebuah kesalahan tersebut ia sepertinya sudah tidak bisa memaafkan perbuatannya apalagi untuk menjalin kembali hubungan yang sempat terputus.


Kedatangan Cindy sebenarnya adalah ingin menjalin kembali hubungan yang sempat putus. Karena ia sekarang memiliki perasaan lebih terhadap Dave dan sangat menyesal atas masa lalunya.


"Dave, sebenarnya aku sayang sama kamu. Aku tidak tau dari mana perasan itu muncul. Aku sangat menyesal atas perbuatanku selama ini. Aku mohon terimalah aku kembali." ucap Cindy sambil memegang kedua tangan Dave dengan penuh harap.


Dave hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Cindy tersebut.


"Dimana Bagas?" Dave balik bertanya. Walaupun ia tau Bagas sahabat karibnya telah mengecewakannya, namun dibenaknya ia terkadang merindukan sosok Bagas yang seperti kakaknya sendiri.


"Dia sudah tiada." jawab Cindy sedih


"Apa? Bagaimana bisa?" Dave terkejut atas pernyataan yang diberikan oleh Cindy.


"Dia kecelakaan saat ingin menjenguk ibunya kerumah sakit."


"Sebenarnya selama ini uang yang dia ambil itu untuk pengobatan ibunya."


"Aku juga minta maaf, sebenarnya aku lah yang membuatnya melakukan itu semua. " ucap Cindy penuh penyesalan.

__ADS_1


Dave semakin terkejut dan tak mampu berkata-kata. Sahabat karibnya sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Tapi kenapa?". Tanya Dave dengan penuh emosi kepada Cindy.


"Aku tidak tau, Bagas memintaku untuk merahasiakan kepadamu. Bagas juga sangat membutuhkan biaya banyak untuk perawatan ibunya di rumah sakit pada saat itu." jawab Cindy.


Selama Dave masih bersahabat dengan Bagas, Bagas sama sekali tidak pernah bercerita tentang keluarga, apalagi tentang ibunya. Rasa penyesalan tiba-tiba saja datang karena selama ini belum sempat menolong sahabatnya.


"Tapi kenapa kalian sampai berhubungan badan?" tanya Dave kembali penuh selidik. Sebenarnya ia juga takut jika Cindy hanya mengarang nggarang cerita untuk mendapatkan simpati darinya.


"Kami sama-sama suka pada waktu itu. Namun Bagas sangat merasa tidak enak merebutku darimu karena kamu sahabatnya. Akulah yang memaksanya."


Dave seperti sangat simpati atas apa yang menimpa Bagas waktu itu dan sesekali memijit kepalanya karena menyesal atas masa lalunya.


"Tapi kenapa dia tidak pernah menceritakan tentang ibunya kepada aku sahabatnya?" Dave kembali memijit-mijit kepalanya.


"Aku tidak tau apa alasannya. Aku hanya membantunya saja."


Kenapa Bagas tidak pernah menceritakan tentang ibumu selama ini? Kenapa? Apa kau ada menyembunyikan sesuatu dariku? Aku harus mencari tau


Tanyanya dalam hati.


"Dimana ibunya sekarang?" Dave kembali bertanya.


Cindy hanya diam tanpa suara dan hanya menggelengkan kepala. Setelah kepergian Bagas untuk selama-lamanya, Ibunya pun secara tiba-tiba menghilang dari rumah sakit.


Ia juga sempat mencarinya kemana-mana namun tidak pernah berhasil menemukannya. Entah dimana kini beliau berada.


Dirumah Atmawijaya


Jam menunjukkan kan pukul Sepuluh malam. Dave melajukan mobilnya agar bisa sampai kerumah tepat waktu. Ia baru saja menghabiskan waktu dibar karena sangat merasa stres.


Dinda sangat tidak tenang dan gelisah. Tidak tau apa yang dipikirkannya. Ia kemudian keluar dari kamar menuju taman belakang rumah untuk menenangkan hatinya yang gelisah.


Kenapa aku gelisah sekali? perasaan apa ini?


Dinda menepuk-nepuk dadanya agar perasaan cemas nya segera hilang.


Jangan Lupa Vote ya teman-teman biar autor semangat menulis novelnya.


Jangan lupa juga tekan tombol like dan Love nya juga ya.


Keep Smile😊

__ADS_1


__ADS_2