MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Dugaan yang benar


__ADS_3

Dinda sedang sibuk menyiram bunga dihalaman depan rumah. Perasaannya sangat bahagia apalagi setelah bebas dari Dave.


"Senyum-senyum mulu." ucap Adit saat akan berangkat kerja.


Dinda yang tidak menyadari kehadiran Adit hanya mampu tersenyum menahan malu.


"Kak Adit, udah mau berangkat kerja?" tanya Dinda mengalihkan suasana.


"Ih pipinya kok merah." goda Adit sambil menahan tawa.


"Kak Adit mah, kan Dinda jadi malu." Dinda menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Yaudah, kakak berangkat dulu ya. Kamu baik-baik aja dirumah." Suruh Adit lalu pamit untuk pergi bekerja.


Dinda melanjutkan kembali aktivitasnya menyiram bunga. Dari kejauhan seseorang sedang memantau nya.


"Kenapa perasaan Dinda nggak enak ya? apa akan terjadi sesuatu lagi?" Dinda menepuk-nepuk dadanya. Ia lalu masuk kedalam rumah.


****


Dave duduk sambil termenung dikursi kerjanya.


"Apa mungkin Dandi masih hidup selama ini?" menerka-nerka rasa penasarannya selama ini. " Bagaimana jika benar dia masih hidup? bagaimana jika dia mencoba membalas dendam padaku?" pikirannya penuh dengan prasangka-prasangka buruk.


Dave memijit kepalanya agar bisa lebih tenang. Diwaktu bersamaan, Dave mendengar suara riuh dari sebalik pintu ruang kantornya. Ia mendengar suara yang sangat familiar ditelinga.


" Ngapain lagi dia kemari?" Dave menebak jika suara tersebut adalah suara Cindy.


Dave hanya memejamkan mata tanpa menghiraukan suara riuh yang membuat kepalanya seakan ingin meledak.


" Mau apa kau kesini?" berbicara tanpa melihat wajah Cindy yang baru masuk seenaknya. "Apa kau tidak bosan mengganggu ku?" memutar kedua bola matanya.


" Aku tidak pernah muak dan tidak akan pernah mundur. Tolong hargai perjuanganku" menatap dengan raut sendu.


" Ada keperluan apa kau kemari?" Dave kembali bertanya. "Jika hanya untuk mengganggu ku, lebih baik kau keluar" Dave mengusir secara halus. "Kau tau kan ini kantor, tempat yang tak semestinya kau datangi sesuka hati" memberi peringatan agar Cindy lebih sadar dan tau tempat.


" Hanya disini aku bisa bertemu denganmu. Setiap kali aku ingin menemui mu diluar, kau selalu saja memberi beribu alasan" Balas Cindy dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.


Cindy sungguh kesal, semakin ia berjuang untuk mendapatkan Dave kembali. Semakin cepat pula Dave mencoba untuk menjauhinya. Ia merasa perjuangannya selama ini tidak pernah dihargai.

__ADS_1


Ponsel Dave berdering saat ia dengan terpaksa masih mendengarkan keluh kesah Cindy. Ia segera mengangkat panggilan tersebut.


" Ada apa kau menelpon?" tanya Dave pada suara dibalik ponsel.


" Apa? apa kau yakin?" memperlihatkan raut wajah terkejut. Cindy yang masih berdiri merasa penasaran dengan isi pembicaraan Dave dan orang dibalik panggilan ponsel tersebut.


" Aku mau kalian bergerak cepat! aku tidak ingin mendapat masalah" Dave menutup panggilan tersebut dengan raut wajah frustasi.


" Ada apa Dave? apa kau ada masalah?" Cindy yang sudah tidak tahan akan rasa penasarannya.


Dave baru sadar jika Cindy masih ada di ruangan nya. Dave menatap Cindy dengan tatapan sinis. " Apa kau harus tau semua urusanku.?" kesal Dave terhadap wanita dihadapannya.


" Maaf, aku tidak bermaksud ingin mencampuri urusanmu. Tapi aku melihat setelah panggilan tersebut, reaksimu berbeda." balas Cindy dengan rasa penasarannya.


" Sudahlah, kau tidak perlu mencampuri urusanku. Ku mohon, pergi keluar dari sini! sebelum aku mengusirmu secara paksa." Dave memerintah dengan nada sedikit tinggi. Hatinya sedang kacau, begitupun pikirannya yang sudah tidak karuan.


Berani sekali dia berkata kasar terhadapku. Ada apa dengan Dave? apa dia sedang dalam masalah? atau ada sesuatu yang disembunyikan? kenapa dia begitu marah saat menerima panggilan dari ponselnya? Cindy mencoba menerka apa isi pembicaraan yang dibicarakan Dave dan orang dibalik ponsel tersebut.


Ingin sekali ia bertanya kembali, namun ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin Dave semakin marah dan benci kepadanya. Dengan berat hati ia meninggalkan Dave sendirian dan berjalan keluar dari ruangan Dave.


" Berarti dugaan ku benar. Ternyata kau masih hidup. Tunggu saja, aku akan membuat kau menderita" Dave tersenyum dengan sinis saat mengetahui Dandi masih hidup.


" Kenapa pak Dave ketawa begitu lantang? belum pernah selama ini aku mendengarkan dia tertawa begitu lepas. Apa dia sedang begitu bahagia?" Celine kembali melanjutkan aktivitasnya memeriksa email dari para investor perusahaan milik bosnya.


Dinda sedang menikmati keindahan kota bersama Adit. Mereka saling bergandengan tangan dan merasakan gejolak cinta yang tumbuh dari hati mereka.


" Kak Adit, terima kasih sudah mau menerima Dinda. Dinda janji, Dinda akan selalu setia kepada kak Adit" ucap Dinda dengan rasa bahagianya.


" Iya Dinda, kakak juga sangat bahagia dan beruntung bisa memiliki Dinda disamping kakak" Adit memuji sambil mengusap rambut Dinda.


Merekapun kembali melanjutkan berjalan dan menikmati keindahan malam.


" Bukankah itu wanita sialan itu?" Dave yang sedang duduk dibangku taman sendirian saat ingin menenangkan fikiran.


Saat itu juga Dinda dan Adit melewati tempat dimana Dave duduk santai.


" Apa kau sekarang sudah merasa bebas?" Dave berkata saat mereka berjalan tepat didepannya.


Adit dan Dinda yang tidak mengetahui keberadaan Dave saat mereka melintas, sentak berhenti membalikkan badan.

__ADS_1


Dinda terkejut, saat orang yang berbicara adalah Dave. Perasaannya masih saja takut. Tangannya gemetar dan bibirnya tidak sanggup untuk berkata.


Adit yang heran melihat tingkah Dinda hanya melihat bingung kepada orang yang berada dihadapannya. Adit memang tidak mengetahui bahwa Dave yang selama ini Dinda cerita sedang berdiri dihadapannya.


" Maaf, apa kau sedang berbicara dengan kami?" Adit menunjuk dirinya dengan wajah bingung.


" Aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada wanita disebelahmu" Dave mengangkat tangannya, menunjuk kearah wanita yang berada disamping Adit.


Adit melihat kearah Dinda dengan perasaan bingung. Apakah pria tersebut mengenali Dinda. Apakah Dinda juga mengenali pria tersebut. Tapi kenapa Dinda seperti ketakutan.


Dinda mencoba tersenyum saat Adit melihatnya dengan tatapn seperti ingin menginterogasi.


" Kakak, Dinda sekarang merasa sangat bahagia. Apalagi ada kak Adit disamping Dinda" Dinda memberanikan diri mengatakan pendapatnya terhadap pertanyaan yang diberikan Dave kepadanya.


Ia tidak tau apa maksud dari pertanyaan tersebut. Sempat ia memikirkan hal-hal buruk akan terjadi padanya. Namun ia mencoba menepis persepsi negatif tersebut.


" Apa kalian saling mengenal?" Adit menunjuk kearah Dave dan Dinda secara bergantian.


Dave hanya tersenyum sinis. " Kami sudah saling mengenal" Balas Dave.


" Dia anak tante Kikan tempat Dinda tinggal dulu" sambung Dinda dengan sedikit terbata-bata. Adit tersenyum mendengar jawaban dari mereka berdua.


" Apa kau tidak ingin kembali lagi kerumah itu?" tanya Dave.


" Dinda sudah bahagia tinggal bersama kak Adit dan keluarga. Untuk sekarang Dinda belum bisa kembali kerumah itu" jawab Dinda jujur.


" Tidak lama lagi kau akan kembali kerumah itu lagi" ucap Dave dengan tatapan sinis nya.


Dinda terdiam, tidak mengerti kenapa Dave bisa mengatakan itu. Bukankah selama ini dia tidak menginginkan kehadirannya lagi dirumah itu. Tapi sekarang kenapa dia berkata seperti itu?


Apa maksud kak Dave berkata seperti itu? apa kak Dave dipaksa tante Kikan untuk membawa Dinda kembali kerumah itu lagi? tapi tidak mungkin kak Dave mau. Bukankah kak Dave menyuruh Dinda untuk pergi jauh dari keluarganya.


Hy teman-teman. Terus dukung karya author ya.


jangan lupa vote dan rate bintang 5 nya.


Like nya juga jangan pelit-pelit.


Terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2