
Adit mempercepat laju mobilnya menuju rumah Atmawijaya. Ia mendatangi rumah tersebut setelah mencari tau alamat rumah kebesaran Atmawijaya diinternet. Ya, siapapun akan tau dimana keluarga Atmawijaya tinggal. Kali ini ia sangat ingin menemui Dinda bagaimanapun nantinya. Ia tidak akan peduli jika diusir sekalipun.
Selama ini dia hanya diam tanpa bisa melakukan apa-apa. Laporan yang sudah dilaporkan ke polisi masih belum menemukan titik terang. Apakah laporan tersebut sudah diproses atau belum. Kini ia hanya bisa menunggu dan menunggu.
Adit melangkahkan kaki memasuki pintu gerbang rumah kebesaran atmawijaya. Matanya langsung menangkap pemandangan sekitar luar. Rumah megah yang jauh lebih besar dari rumah nya.
"Ada keperluan apa pak?" tanya penjaga rumah yang membuat Adit kaget akan takjubnya.
"Ah, saya Adit. Saya ingin bertemu Dinda!" ucap Adit.
Para penjaga rumah diam dan sesekali memikir sambil menatap Adit. Untuk apa seorang pria bertamu diwaktu sudah tengah malam. Apalagi ingin menemui anak angkat majikannya. Bukankah itu tidak sopan?
"Maaf pak Adit, sepertinya anda tidak bisa menemui nona Dinda sekarang. Apalagi hari sudah malam. Sepertinya keluarga Atmawijaya tidak menerima tamu." balas penjaga rumah tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Roy melalui kaca mobilnya saat mobilnya memasuki area rumahnya.
"Maaf Tuan, mas ini mau ketemu Nona Dinda." ucap penjaga sopan.
Roy menatap keseluruhan. Melihat dari ujung kaki hingga naik ke kepala. Laki-laki yang yang sama sekali tidak ia kenali. Namun sepertinya ia pernah melihatnya. Tapi dimana?
Adit mencoba menghampiri dan memberi hormat.
"Ada keperluan apa kamu kemari? Kamu tau kan sekarang sudah sangat malam." peringat Roy sambil melirik jam tangannya.
"Maaf om, saya Adit yang pemilik rumah yang ditinggali Dinda dan saudara kembarnya." balas Adit sopan. Jika ia memberi tau kebenarannya, maka tentu pria paruh baya ini akan mengizinkannya untuk menemui Dinda.
Roy mengerutkan dahinya seraya berfikir. Ah iya, sekarang dia ingat. Dia pernah melihat foto pria tampan ini tergantung rapi didinding rumah saat berkunjung menemui Dinda waktu itu.
Roy akhirnya keluar dari mobil dan menyuruh supirnya untuk memarkirkan di bagasi. Roy membawa Adit untuk duduk kursi diteras rumahnya. Karena merasa kasihan jika pria tampan ini hanya berdiri saja sedari tadi sedangkan dia duduk manis didalam mobil.
Adit mengikuti langkah Roy dan mereka pun duduk disana.
__ADS_1
"Ada keperluan apa kamu kemari nak?" tanya Roy lagi. Pasti ada hubungannya dengan Dinda pikirnya. Mengingat pria tampan ini tinggal bersama Dinda disana.
"Saya ingin ketemu sama Dinda om. Saya sudah lama tidak ketemu dia." balas Adit dengan mata berkaca-kaca. Tentu, kerinduan itu sudah memuncak dan akan lepas sebentar lagi.
Roy kembali mengerutkan dahinya seakan tidak percaya dengan perkataan Adit. Ingin menemui Dinda? Tapi bukannya mereka tinggal serumah? Jadi untuk apa dia datang kemari hanya untuk menemui Dinda? Sedangkan orang yang dicarinya sudah lama meninggalkan rumahnya.
"Maksudnya gimana ini? Saya tidak mengerti." ucap Roy yang masih kebingungan.
"Lah, bukannya Dinda tinggal disini ya om?" tanya Adit yang tak kalah bingung dengan ekspresi Roy.
"Bukanya dia tinggal bersama keluargamu? Dia sudah lama sekali tidak kemari sejak dia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini." balas Roy lagi.
Sial! Jadi Dinda tidak ada disini? Jadi dimana Dave menyembunyikannya?
"Apa Dinda juga tidak tinggal lagi di rumah mu?" tanya Roy lagi.
Apa orang tua Dave tidak mengetahui jika Dave sudah menikah dengan Dinda? Tapi kenapa mereka tidak tau? Bukankah mereka juga sangat menginginkan Dinda menjadi menantunya?
Tapi kenapa Dave tidak memberitahu orang tuanya ya? Apa ada yang Dave sembunyikan daro orang tuanya?
"Ah, Dinda masih tinggal bersama kami om. Cuma dari pagi dia belum pulang-pulang. Makanya saya ingin menjemputnya datang kemari. Siapa tau dia mampir kesini karena sudah lama tidak kemari." bohong Adit.
"Oh begitu? om pikir Dinda pergi dari rumah atau diculik. Baguslah jika Dinda tidak kenapa-napa. Om sangat lega." Roy mengelus dadanya karena kekhawatirannya terhadap Dinda tidak terjadi.
Kalau Dinda tidak tinggal disini, jadi kemana Dave menyembunyikannya? Rasanya sangat frustasi memikirkan Dinda.
"Apa Dave nya ada?" tanya Adit. Setidaknya dia ingin mencari informasi tentang Dave kemana dia membawa Dinda pergi.
"Oh Dave, dia sudah lama tidak pulang. Dia sudah tidak tinggal disini lagi untuk sementara." balas Roy.
Apa? Dave tidak tinggal dirumahnya. Berarti benar, pasti dia menyembunyikan Dinda ditempat yang jauh agar tidak ada siapapun bisa mengambil Dinda kembali.
__ADS_1
"Kalau boleh tau, Dave sekarang tinggal dimana ya om?" tanya Adit lagi. Ia sangat yakin Dinda disembunyikan ditempat tinggal Dave sekarang.
"Kalau itu om tidak tau nak. Dave tidak memberitahu dimana dia tinggal sekarang." balas Roy berbohong. Dia masih mengingat pesan anaknya untuk tidak memberitahu siapapun dimana tempat tinggal anaknya sekarang. Karena anaknya tidak ingin diganggu dan ingin sendirian disana. Apalagi jika dilihat Adit bukanlah teman akrab anaknya.
Ah sial! bahkan orang tuanya saja tidak tahu dimana dia tinggal. Aku harus mencarinya kemana lagi?
"Jadi begitu ya om. Kalau gitu saya pamit pulang saja. Mungkin Dinda nya juga sudah pulang kerumah. Maaf mengganggu waktu om. Soalnya saya terlalu khawatir sama Dinda hingga sampai saya mencarinya dirumah om." Adit berpamitan dan akhirnya meninggalkan rumah kebesaran Atmawijaya dengan perasaan sedikit kesal. Apalagi informasi tentang Dinda sama sekali tidak didapatkannya.
*****
"Kak Dave belum tidur?" tanya Dinda sambil fokus menatap langit-langit kamar yang polos. Detak jantungnya begitu sangat kencang. Apalagi tangan Dave menyentuh pipinya dan mengelus-elus dengan lembut disana.
Apa yang kak Dave lakukan? Kenapa dia tiba-tiba lembut begini? Atau jangan.....jangan....
Dinda kembali teringat apa yang pernah dilakukan Dave padanya. Tubuhnya kembali bergetar. Ingin sekali dia menyingkirkan tangan itu dari wajahnya. Namun tubuhnya sama sekali tidak bisa bereaksi dan hanya mematung.
"Ka kak Dave?" panggil Dinda lagi. Namun pemilik nama sama sekali tidak menjawab panggilannya.
Apa dia sengaja menghiraukan panggilanku? Apa dia juga berusaha untuk menggodaku? Ah tidak...tidak...aku tidak boleh terpancing. Jangan hanya karena aku memaafkan, kau seenaknya kepadaku. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menyakitimu lagi.
Karena panggilannya tak dijawab dari sang punya nama, Dinda menggerakkan kepalanya perlahan-lahan menghadap kearah Dave.
Masih tidur. Tapi kenapa dia mengelus-ngelus pipiku? Apa dia mengigau? Emang ada orang mengigau seperti itu?
Dinda pun menyingkirkan tangan Dave secara perlahan-lahan agar yang punya tangan tidak terbangun. Namun setiap kali Dinda menyingkirkan tangan tersebut, tangan Dave kembali ke posisi nya. Kembali mengelus-ngelus pipi Dinda dengan lembut.
Karena kewalahan, Dinda pun akhirnya hanya menghela napas panjang dan membiarkan Dave menyentuh pipinya. Tidak akan terjadi apa-apa padanya dan Dave hanya mengigau pikirnya.
Dibalik itu, tampak senyuman terpancar dari bibir Dave. Dia telah berhasil mengerjai Dinda.
Malam semakin larut, tanpa sadar mereka pun terlelap dalam tidur dan terbuai kedalam mimpi mereka masing-masing.
__ADS_1