MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Ketakutan Dave


__ADS_3

Dave telah selesai makan siang. Walau dia harus disuapi oleh Cindy. Mau tidak mau dia harus membuka mulut. Setidaknya, rasa kesal terhadap Cindy terbayar lunas dengan masakan yang dibawakan Dinda untuknya.


"Sayang, adik kamu pintar banget masak ya. Rasa masakannya enak sekali." puji Cindy kepada Dinda setelah dia mencicipi makan siang Dave.


Dinda hanya tersenyum dan tertunduk malu. Ternyata Cindy terang-terangan memuji masakannya.


"Cindy, bisa kau tinggalkan kami sebentar? aku ada keperluan dengan adikku." usir Dave. Hanya begitu cara agar Cindy tidak terus-terusan menempel dengannya didepan Dinda.


Cindy memajukan bibirnya kesal. "Aku mau disini. Aku mau kenal lebih dekat dengan Dinda. Ya kan Dinda?" mengedipkan mata agar Dinda mengangguk. Dia tau jika Dave sangat tidak suka atas kedatangannya. Tapi demi untuk kembali mengambil hati Dave, mau tidak mau dia harus terus berusaha.


Ha beneran mbak Cindy mau lebih dekat denganku? Tapi kenapa? Tapi kenapa kak Dave seperti tidak suka.


"Iya mbak." jawab Dinda ragu-ragu.


Dave yang melihat Dinda mengangguk semakin kesal. Apa-apaan sih Dinda. Baiklah, sekarang kau menang. Tunggu pembalasan ku nanti dirumah. Tertawa bahagia.


"Kamu kenapa?" tanya Cindy heran dengan tingkah Dave yang secara tiba-tiba tertawa sendiri. Padahal rasanya tidak ada yang lucu.


Dave segera menghentikan tawanya. "Aku tidak apa-apa." sambil menatap Dinda. Awas kamu Dinda.


Sepertinya kak Dave sedang mentertawakanku. Apa dia merencanakan sesuatu nanti? Ah pedulikan saja. Setidaknya sekarang hukumanku ditunda. Mbak Cindy, kamu penyelamat ku.


"Kak Dave, apa Dinda boleh keluar? Dinda mau beli es krim." dia sudah tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan Dave. Rasanya sangat canggung. Apalagi dari tadi dia hanya mnjadi obat nyamuk.


"Kau tidak boleh keluar. Biar asistenku saja yang membelikannya." tolak Dave. Dia tau Dinda ingin melarikan diri darinya.


Aduh, gagal deh rencana mau kabur. Dinda.


Kamu fikir aku tidak bisa membaca jalan fikiranmu? rencanamu terlalu mudah untuk ditebak. Dave.


"Sayang, kamu kenapa sih? koq kamu protektif banget sama adikmu? Dinda kan mau keluar. Biarkan saja dia pergi." marah Cindy. Sejujurnya dia hanya ingin berduaan saja dengan Dave tanpa harus ada pengganggu. Walaupun sekarang dia bersama calon adik iparnya.


Benar itu mbak. Sepertinya mbak Dewi penolongku.


Dave memberi senyuman kepada Cindy. Itu membuat Cindy merasa seperti berhasil membujuknya.


"Tidak, Dinda tidak aku izinin untuk keluar. Jika kau tidak mau pergi, maka Dinda juga tidak boleh pergi." ucap Dave dan membuat Cindy berdecak kesal. Ternyata dia gagal membujuk Dave.


Dinda hanya menghela nafas. Kini pupus sudah rencananya untuk melarikan diri.

__ADS_1


Kini Dave telah kembali bekerja. Dinda dan Cindy masih sedang asyik mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan. Sesekali Dave melirik kearah mereka untuk memastikan.


Dering ponsel membuyarkan konsentrasi Dave. Dia membuka laci dan mengambil ponsel disana. Ternyata Jang sedang memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Dave cuek. Tumben sekali temannya satu ini menghubunginya.


"Dave, gawat!" ucap Jang dan membuat Dave bingung.


"Apanya yang gawat? yang jelas dong." kesal Dave.


"Kau akan dipenjara." balas Jang dan membuat Dave panik.


Penjara? atas kesalahan apa? bukankah kasus yang lalu sudah ditukarkan dan telah ditutup. Apa sebenarnya yang terjadi.


Karena panik, Dave langsung mematikan panggilan dan menonaktifkan ponselnya. Meletakkan kembali ponselnya kedalam laci.


Cindy dan Dinda menoleh kearah Dave yang tampak panik setelah tadi mendengar Dave menerima panggilan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Cindy penasaran.


Dave tersadar. Dia lupa sekarang di ruangan nya ada Cindy dan Dinda. Pandangannya lalu tertuju kearah Dinda. Cindy yang melihat pun mengikuti arah pandangan Dave. Sedangkan yang ditatap merasa kebingungan.


"Kenapa sayang? kenapa kamu.menatap Dinda? apa panggilan tadi dari mamamu?" tanya Cindy lagi dan dibalas gelengan kepala oleh Dave.


Mencoba tersenyum. "Bukan, aku hanya sedikit kesal dengan adikku itu." menunjuk Dinda dengan jari telunjuknya.


Aku? kenapa?


Cindy berfikir jika Dave masih kesal kepada Dinda karena Dinda bersikeras ingin keluar. Apalagi sedari tadi Dinda selalu membantahnya dan selalu mncari alasan agar bisa keluar. Ya, dia tau jika Dave paling tidak suka perkataannya dibantah.


"Dinda, sekarang kau pulang. Langsung pulang dan jangan kemana-mana." suruh Dave. Suasana hatinya sangat tidak bersahabat hari ini. Apalagi setelah tadi Jang menghubunginya dan mengatakan dia akan dipenjara.


Dinda yang seperti mendapat angin segar langsung berdiri. Kali ini dia berhasil untuk melarikan diri. "Baik kak. Kalau gitu Dinda pamit." melangkah menuju pintu.


"Tapi ingat, jangan kemana-mana." sambung Dave lagi.


"Baik kak." membuka pintu lalu menutupnya kembali setelah keluar.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Cindy bingung.

__ADS_1


Dave menghembuskan nafas kasar. "Aku ingin kau juga pergi!" usir Dave.


Padahal dia sangat bersyukur saat Dave menyuruh Dinda pergi. Jadi mereka bisa berduaan saja. Tapi kini dia malah mengusirnya.


"Aku tidak mau. Aku ingin bersamamu disini." tolak Cindy dan membuat Dave semakin emosi.


"Aku kata pergi ya pergi." membentak dengan nada tinggi dan membuat Cindy terkejut dengan perubahan sikap Dave yang berubah secara tiba-tiba.


"Kamu kenapa? kenapa kamu membentakku? ucap Cindy tidak terima. Hatinya sangat sakit saat tiba-tiba Dave membentaknya. Tidak ada wanita yang bisa menahan air mata saat dibentak oleh laki-laki. Apalagi laki-laki itu orang yang sangat kita sayangi.


"Cindy, suasana hatiku sedang tidak baik. Aku tidak ingin berbuat kasar. Sekarang tolong pergi dari sini." usir Dave lagi. Kali ini dia sedikit bisa mengontrol emosinya dan berkata dengan nada rendah.


Cindy mengerutkan dahinya. Sebenarnya dia ingin protes. Tapi karena suasana hati Dave sedang tidak baik, maka dia memutuskan untuk mengalah dan meninggalkan Dave sendiri di ruangan nya. Dia sangat tau bagaimana Dave ketika marah apalagi saat suasana hatinya sedang tidak baik. Bisa-bisa Dave akan berubah menjadi sangat kasar.


Sepeninggalan Dinda dan Cindy, Dave menghamburkan semua barang yang ada diatas mejanya. Fikirannya sangat kacau. Dia tidak bisa menerima saat Jang mengatakan bahwa dia akan dipenjara. Dia tidak ingin dipenjara. Jika dia dipenjara, maka orang tuanya pasti akan kecewa.


"Kenapa, kenapa mereka masih mengungkitnya?" ucap Dave kesal. Jika bukan karena laporan Dandi saat itu, maka permasalahan sekarang tidak akan pernah terjadi. Mungkin sekarang hidupnya akan tetap aman.


"Apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin dipenjara. Tidak ingin."


Dave membuka laci dan meraih ponselnya. Menghubungi salah satu anak buahnya.


"Hallo,"


"Ada apa bos?"


"Aku ingin kalian tutup tempat itu. Aku sedang dalam masalah."


"Tapi tempat itu sangat ramai. Keuntungan kita sangat besar."


"Aku tidak peduli. Aku kata tutup ya ditutup. Aku ingin kalian menutup mulut dan menjalankan rencanaku."


"Rencana apa bos?"


"Begini... "


Jangan lupa Like, Vote dan Ratenya ya😊


Happy reading😊

__ADS_1


__ADS_2