
Dinda melangkahkan kaki meninggalkan perusahaan Dave. Sebenarnya dia tidak ingin pulang. Apalagi diseberang sana sudah standby anak buah Dave sedang memantau nya.
"Kenapa nasibku selalu sial sih?" keluh Dinda. Dia sangat ingin menemui Adit. Tapi jika para anak buah Dave melihatnya dan melaporkan kepada Dave maka dia yang akan mendapat masalah.
"Aku harus kabur dari mereka." ucap Dinda yakin.
Dinda mempercepat langkahnya. Dia sengaja berjalan kaki dan memasuki gang-gang sempit. Anak buah Dave yang melihat pun dengan segera turun dari mobil dan mulai mengejarnya.
"Kemana dia pergi?" anak buah Dave ngos-ngosan. Kini mereka kehilangan jejak. "Kita berpencar. Kau cari kesana, aku cari kesana." mereka pun berpencar untuk menemukan Dinda. Jika tidak maka mereka juga akan mendapat masalah. Takut jika nanti Bosnya menanyakan perihal Dinda kepada mereka. Sedangkan orang yang dipantau tidak ada dan melarikan diri. Maka mereka tidak bisa memberikan informasi. Sedangkan tugas mereka untuk memantau setiap pergerakan Dinda.
"Akhirnya aku selamat." mengelus-elus dadanya. Kini dia sudah berada jauh dari anak buah Dave yang sedang mengejarnya.
"Apa aku telpon Dandi dulu ya?" mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Dandi.
Dandi yang sedang megepel lantai, menghentikan aktifitasnya saat ponselnya berdering. Dia segera mengambil ponsel disaku celananya. Dia tersenyum saat mengetahui siapa yang sedang menelponnya.
"Hallo," sambut Dandi. "Ada apa Dinda?" tanya Dave.
Adit langsung menghentikan langkahnya saat akan masuk ke ruangan nya. Dia tidak sengaja mendengar ada yang menyebut nama Dinda. Dengan pelan-pelan dia mulai melangkahkan kaki menuju suara. Ternyata dia melihat Dandi sedang menelpon seseorang. Dia hanya berdiri dan mendengarkan dibelakang Dandi tanpa sepengetahuan orang tersebut.
"Apa kau gila? bukankah Dave melarangmu? nanti jika Dave tau bagaimana?" tolak Dandi. Padahal dia sangat mengingat pesan singkat yang dikirimkan Dinda kepadanya. Jika Dinda kedapatan menemui Adit, maka Dinda tidak akan selamat. Entah apa yang membuat Dave sangat tidak suka saat Dinda ingin menemui Adit. Padahal Dave juga tau mereka hampir akan menikah. Tapi karena Dave menculik Dinda, maka pernikahan itu pun batal.
"Sudah Dinda, tidak usah menemui Adit. Dia disini baik-baik saja. Aku selalu berada di dekat nya." ucap Dandi lagi. Kenapa kembarannya ini begitu keras kepala. Jika nanti ketahuan oleh Dave, maka dia juga yang akan menanggung akibatnya.
Dandi kaget saat ponselnya dirampas secara tiba-tiba. "Adit," ucapnya kaget.
"Kenapa kau melarang Dinda menemui ku?" kesal Adit.
Dinda menutup mulutnya saat mendengar suara yang sangat familiar diseberang. Bulir-bulir air matanya jatuh membasahi pipi. Sudah lama sekali dia tidak melihat dan mendengar suara Adit.
__ADS_1
"Kak Adit," ucap Dinda sedih.
" Dinda, kamu kenapa?" tanya Adkt panik. Dia mendengar sangat jelas jika sekarang Dinda sedang menangis.
"Dinda nggak kenapa-napa kak. Dinda hanya terharu bisa mendengar suara kakak." balas Dinda.
Adit yang mendengar pun juga merasa sangat terharu. Jika kemaren dia gagal bertemu Dinda, maka sekarang dia sudah bisa mendengar suaranya. "Kamu dimana sekarang? Dinda, kakak kangen sama Dinda. Dinda mau kan ketemu sama kakak?" tanya Adit. Dia sangat ingin melihat wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
Dinda diam dan tidak menjawab. Dia masih ragu dengan rencananya. Tapi dia juga takut dengan resikonya nanti.
"Dinda sangat mau menemui kakak. Tapi... " menggantungkan kata-katanya.
"Tapi kenapa Dinda?" tanya Adit penasaran. Kedengarannya Dinda seperti menyembunyikan sesuatu. Kemaren juga Dandi tidak bilang apa-apa tentang Dinda selain menceritakan tentang pertemuannya dan tentang Dave yang tidak pernah lagi menyiksa Dinda.
"Sekarang Dinda belum bisa menemui kakak. Mungkin lain waktu saja. Yaudah ya kak, Dinda tutup dulu."
Panggilan pun terputus. "Dinda, hallo. Koq dimatiin." kesal Adit. Dia belum sempat menanyakan kenapa Dinda tidak bisa menemuinya. Apa mungkin semua ini ada kaitannya dengan Dave?
Menyerahkan kembali ponsel milik Dandi. "Sekarang jelaskan padaku apa sebenarnya terjadi." pinta Adit. Kelihatannya Dandi seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tidak ada apa-apa." balas Dandi lalu mengambil ponselnya kembali.
"Apa Dave melarangnya untuk menemui ku?" duga Adit yakin. Sudah pasti Dave melarang Dinda menemuinya. Apalagi sekarang Dinda berstatus istri Dave. Tapi kenapa juga Dave harus melarang? Bukankah Dave menikahi Dinda hanya dendam masa lalu kepada Dandi. Mereka juga tidak saling mencintai. Lalu kenapa dia melarang Dinda menemuinya? Apa Dave sudah bisa menerima Dinda dan menaruh hati kepada Dinda?
Mengepalkan tangannya. "Aku sudah membiarkan Dinda direbut karena hutang dan balas Dendam. Tapi aku tidak akan membiarkan jika Dave berusaha mengambil hati Dinda. Tidak akan!" ucap Adit geram.
Dia sudah tidak bisa lagi membayangkan jika Dave berusaha merebut hati Dinda. Tentu saja dia tidak akan melepaskan Dinda pergi.
"Jika kau tidak ingin memberitahu ku tidak apa-apa. Aku juga sudah tau alasannya. Tapi ingat, aku tidak akan peduli apapun resikonya. Aku tetap akan mengambil Dinda dari Dave." berjalan meninggalkan Dandi yang masih mematung.
__ADS_1
Dandi menghembuskan nafas kasar. Dia begitu kesal dengan situasi sekarang. Kenapa dia selalu saja menjadi penghalang hubungan mereka.
Dia masih bingung bagaimana cara agar Dinda cepat terbebaskan. Apalagi sekarang, uangnya masih belum cukup untuk membayar lunas semua utang-utangnya kepada Dave.
Di otak nya sekarang hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang yang banyak agar semua utangnya terlunaskan. Tapi disisi lain, dia masih sedikit penasaran dengan Dave. Kenapa Dave begitu bernafsu ingin menghancurkannya. Sedangkan dulu hubungan mereka baik-baik saja.
Dinda akhirnya memutuskan untuk pulang setelah anak buah Dave menemui keberadaannya. Dia beralasan kepada mereka sedang tersesat. Jika sampai mereka mengetahui dia ingin melarikan diri dan bertemu Adit maka akan semakin panjang buntut permasalahannya. Karena belum siap menanggung resiko maka dia memutuskan untuk mengalah saja.
Dinda masuk kedalam rumah. Mendaratkan bokong nya disofa. Tubuhnya terasa penat. Apalagi tadi dia lomba lari saat anak buah Dave mengejarnya.
Dinda begitu sangat mengantuk. Matanya kini terasa berat.
Dering ponsel membuatnya terjaga. Dengan malas dia meraih ponsel yang berada diatas meja. Dia langsung duduk saat tau siapa yang sedang menelponnya.
"Hallo, ada apa kak Dave?" tanya Dinda.
"Kau sekarang dimana? kau tidak pergi kemana-mana kan?" tanya Dave.
"Dinda tidak pergi kemana-mana kak. Dinda sekarang dirumah." balas Dinda jujur.
"Bagus kalau begitu. Kau jangan kemana-mana lagi. Saat aku pulang kau harus tetap berada dirumah. Hari ini aku mungkin akan pulang telat. Kau tidak perlu menunggumu makan malam." ucap Dave menjelaskan.
"Baik kak." balas Dinda sedikit senang. Dengan begitu maka dia tidak akan mendapatkan hukuman dari Dave.
"Sebagai pengganti hukumanmu, kau harus merapikan kamar dan tempat kerjaku. Saat aku pulang nanti, tempat itu harus rapi dan bersih." suruh Dave.
Apa? baru saja aku bersemangat dan senang. Aku fikir dia melupakan hukuman itu. Ternyata sama sekali tidak.
"Baik kak. Akan Dinda lakukan tugas Dinda." balas Dinda sedikit kesal.
__ADS_1