MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Menghilang part 2


__ADS_3

Dave melihat reaksi Jang sangat berbeda dari biasanya. Raut wajah nya tampak seperti orang yang sangat khawatir. Maksudnya apa coba?


"Kau sudah berani membentakku?" ucap Dave kebingungan dengan sikap yang ditunjukkan Jang kepadanya.


Jang baru menyadari apa yang barusan ia lakukan. Apa yang barusan terjadi murni karena ketidak sadarannya.


"Oh maaf, aku nggak sengaja." Jang mengatakan dengan sedikit gugup.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Dave dengan tatapan curiga. Ia bingung dengan perubahan sikap Jang kepadanya.


"Ah tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Sudahlah, lupakan saja." balas Jang mencairkan suasana.


Wajah Dave menunjukkan kecurigaan terhadap Jang. Jang tetap berusaha membuat agar kecurigaan Dave tersebut hilang. Ia tidak ingin Dave mengetahui perasaan cemas nya terhadap Dinda.


Jang tidak tau perasaan seperti apa yang ia rasakan saat ini setelah mengetahui Dinda pergi dan kabur dari rumah Dave. Disisi lain ia juga sangat khawatir jika Dave nantinya akan menyakiti Dinda.


"Jadi dimana kau sembunyikan Dinda?" tanya Jang lagi.


Jang sangat percaya dan yakin, Dave lah dalang dibalik hilangnya Dinda.


"Aku tidak menyembunyinya. Aku sama sekali tidak tau kemana dia pergi." jawab Dave dengan jujur. Ia merasa seperti seorang pelaku yang terus dituduh dan diintrogasi.


"Apa kau akan mencarinya dan menyakitinya lagi?" tanya Jang sedikit bimbang.


"Aku akan mencarinya dan kenudian membuangnya jauh-jauh karena dia sudah membuat keluargaku menyayanginya. Aku tidak mau karena dia, semua rahasiaku terbongkar." jawab Dave dengan penuh keyakinan.


Jang hanya terdiam mendengarkan penjelasan yang dilontarkan Dave kepadanya. Rasa khawatir itu sangat besar. Apalagi ia sangat tau bagaimana Dave memperlakukan seorang wanita yang dibencinya.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka masih saja sibuk mengkhawatirkan Dinda.


"Pak, bagaimana? apa kalian sudah menemukan anak saya?" tanya Kikan kepada polisi melalui sambungan ponsel genggam miliknya.


Raut wajahnya kembali murung setelah menutup panggilan tersebut. Tentu saja jawaban tersebut sama sekali tidak ia inginkan.


"Bagaimana ma?" tanya Dion kepada Kikan dan dibalas dengan sebuah gelengan kepala.


Dion sangat mengkhawatirkan Dinda. Apalagi selama ia mengenal Dinda, Dinda merupakan anak yang ceria dan baik. Hal tersebut membuatnya senang atas keberadaan Dinda.


Namun kehilangan Dinda sangat berdampak dengan pikirannya saat ini. Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Dinda diluar sana. Dion hanya berharap, Dinda kembali lagi dan berkumpul bersama.


Dave sedang berbaring diranjang miliknya dan sibuk memainkan ponsel. Saat itu, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal.

__ADS_1


"Hallo?"


Dave hanya diam mendengarkan suara diseberang sana. Raut wajahnya tampak seperti kebingungan dan panik.


"Hallo, hallo."


"Hallo, kamu siapa?" Dave terus memanggil namun panggilan tersebut sudah terputus. Saat Dave ingin menelpon kembali, nomor tersebut sudah tidak bisa lagi dihubungi.


"Apa salah sambung ya? Apa maksud dia mengatakan seperti itu?" tanya Dave kebingungan.


Hari demi hari terus berganti. Namun Dinda belum juga kembali. Pihak kepolisian masih juga sibuk mencari begitupun para anak buah Dave.


"Pak Jang, apa kita menyudahi saja pencarian atas nama Dinda?" tanya bawahan Jang.


Sudah hampir dua minggu pihak kepolisian mencari keberadaan Dinda, Mulai dari memasang poster orang hilang hingga turun tangan kelapangan untuk mencari keberadaan Dinda. Namun hingga sampai detik ini orang yang dicari sama sekali belum ketemu.


"Cari sampai ketemu! Saya tidak ingin kalian berhenti mencarinya. Anak itu sedang berada didalam bahaya sekarang." jawab Jang lantang dan membuat bawahannya kaget.


Jang sangat tidak ingin terjadi sesuatu pada Dinda. Ia hanya ingin Dinda ketemu. Ia juga tidak tau kenapa ia sepanik dan sekawatir ini terhadap Dinda. Padahal ia hanya baru dua kali bertemu.


Aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Aku harus mencarimu sebelum Dave menemukan mu.


Dave sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenali.


Dave berhenti seketika saat menatap layar ponselnya.


"Hallo." tidak ada suara dan jawaban sama sekali saat Dave menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo." seketika matanya membesar dan raut wajahnya panik mendengar jawaban dari sebaliknya ponsel.


"Siapa dia?" sebuah ucapan yang sama yang ia dengar dari sebaliknya ponsel tersebut. Sudah dua kali ia diteror oleh nomor yang berbeda namun dengan pesan yang sama.


Belum pernah sejarahnya ia diteror oleh orang. Selama ini ia menganggap dirinya raja dan setiap orang harus mematuhi perintahnya. Namun sekarang, sudah ada yang berani menentang dan mengancamnya.


"Berani sekali dia mengancam ku." Dave geram lalu mendabrak meja dengan emosi.


"Aku ingin kalian mencari orang yang telah berani mengancamku dan awasi orang-orang yang berada di sekitarku! Sepertinya ada yang mencoba mengancam keselamatanku." Dave menelpon salah satu anak buahnya lalu menutup panggilan tersebut dengan wajah kesal.


Dion duduk tersandar dikursi kerjanya. Perasaannya gelisah dan pastinya kawatir. Dinda sama sekali tidak ketemu.

__ADS_1


"Dimana kamu sekarang Dinda?" Ucap Dion sambil menghembuskan napas panjang.


Dion tersenyum dikala membayangkan saat pertama kali mereka bertemu. Wanita cantik dan polos yang membuatnya sangat nyaman.


Ia sendiri masih ragu dengan perasaan yang ia rasakan terhadap Dinda.


"Apa aku menyukai Dinda?" tanya Dion pada dirinya. Ia juga sebenarnya belum yakin apakah perasaan itu benar-benar ada atau hanya sekedar khawatir saja.


***


Cindy sedang asyik berbaring di ranjang sambil membayangkan wajah Dave.


Setelah kejadian panas tersebut, Ia dan Dave sudah semakin dekat walaupun Dave masih bersikap dingin kepadanya. Ia sama sekali tidak peduli dengan itu semua. Yang ia inginkan hanya bisa kembali bersama Dave.


Cindy memutuskan untuk menelpon Dave. Ia seperti tidak tahan dan merasakan kerinduan kepada Dave.


Cindy : Hallo sayang


Dave : Mau apa kau?


Cindy : Sayang, jangan seperti itu kepadaku. Apa kau tidak ingat apa yang kuberikan padamu?


Dave : Aku tidak pernah meminta, kau yang memberinya secara sukarela.


Cindy yang mendengar pun merasa kesal dengan jawaban yang diberi Dave. Ia tidak tau lagi bagaimana caranya membuat hati Dave luluh dan kembali kepadanya.


"Sayang, aku ingin kamu menjemput aku besok malam. Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat yang indah." Cindy mengatakan sebuah ajakan yang seperti sebuah paksaan. Bibir Cindy memperlihatkan sebuah senyuman saat mendengarkan jawaban dari sebalik ponsel. Setelah merasa cukup, ia lalu menutup panggilan tersebut.


"Aku sangat tidak sabar bagaimana reaksi kamu nanti." ucap Cindy sambil tersenyum riang.


Dengan begini, ia akan lebih mudah menjadi dekat kembali dengan Dave. Masa lalu indah bersama Dave akan kembali terulang. Itulah yang sangat diharapkan ia saat ini.


Hy Teman-teman, terima kasih sampai saat ini masih menjadi pembaca setia karya author. Tanpa kalian, karya ini tidak ada apa-apanya.


Mohon dukungannya ya.


Jangan lupa Vote dan Like. Jangan pekit-pelit


Salam dari author untuk kalian semua


Terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2