MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Meminta Saran


__ADS_3

Dave melajukan kendaraannya agar sampai tepat waktu dikantor. Sepanjang perjalanan, pikiran Dave begitu buntu. Hatinya begitu sakit dan emosinya tidak terkendali.


"Berani sekali dia memanfaatkan kebaikan ku." kesal Dave kepada Dinda.


Sebenarnya apa yang diinginkan Dinda tidaklah salah. Tidak salah baginya jika merindukan orang yang disayang. Namun, Dave hanya mempermasalahkan orang yang masih dicintai Dinda. Sekarang status Dinda sudah menjadi istrinya dan sepenuhnya milik Dave. Ia tidak ingin ada laki-laki lain yang mendekati Dinda. Walaupun orang tersebut masih dicintai oleh Dinda.


"Ah sial. Kenapa aku seperti ini?" geram Dave pada dirinya yang tidak mampu meredam emosi.


Dave turun dari mobil saat sampai di kantor tempatnya bekerja. Ia lalu masuk kedalam lift yang dibuat khusus untuknya. Ruang kerjanya berada dilantai dua puluh. Setelah sampai dilantai dua puluh, ia langsung masuk ke ruangan nya tanpa memperdulikan sapaan karyawan yang berlalu lalang.


Dave lalu duduk di kursi kerjanya dan mulai menatap laptop untuk menyelesaikan tugas yang sudah menunggu.


Saat sedang fokus menatap layar laptopnya, pintu ruangannya diketuk.


"Masuk!" suruh Dave. Dia sudah mengetahui siapa yang mengetuk pintunya. Siapa lagi kalau bukan sekretaris pribadinya. Hanya Celine yang diperbolehkan mengetuk dan masuk ke ruangan nya.


"Pak Dave, hari ini kita ada jadwal rapat dengan perusahaan A pukul sepuluh pagi nanti." ucap Celine sambil memberikan berkas laporan kepada Dave.


"Aku tidak ingin mengikuti rapat. Kau saja yang mengurusnya." balas Dave dengan ekspresi datar.


"Tapi Pak... "


"Tidak ada tapi tapi. Keputusanku sudah bulat. Aku sedang tidak ingin ada pertemuan ataupun rapat. Kau jalankan saja tugasmu." ketus Dave.


Sekarang kau boleh keluar. Aku tidak ingin hari ini ada yang mengganggu ku." sambung Dave sambil mengibas tangan kepada Celine.


Celine yang mengerti pun lalu membungkuk memberi hormat. Ia lalu berbalik dan pergi keluar dari ruangan Dave.


Ah, menyebalkan sekali. Padahal aku tidak mengetahui materi apa yang akan fisampaikan pada rapat nanti. Oh tuhan, kenapa aku harus selalu berhadapan dengan moodnya yang buruk? sungut Celine dalam hati.


Dave memijit-mijit pangkal hidungnya. Rasanya kepalanya seakan mau pecah. Kenapa dia begitu emosi saat mendengar nama Adit keluar dari mulut Dinda. Apakah dia menyukai Dinda tapi belum disadari? atau mungkin karena rasa dendamnya kepada Dandi? Entahlah, ia sendiri masih belum bisa memastikannya.

__ADS_1


Padahal baru saja Dinda memaafkan nya. Kini ia sudah merusaknya dalam sekejap. Gadis itu terlihat sangat takut kepadanya. Tidak seharusnya dia melakukan itu. Seharusnya dia lebih bisa mengontrol emosi.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dave khawatir. Ia tidak ingin Dinda semakin takut kepadanya. Ia juga tidak ingin terlihat buruk dimata Dinda. Tidak seharusnya ia melampiaskan emosi kepadanya.


Dave meraih ponselnya lalu menekan nomor sekretarisnya.


Padahal ia bisa memanggil sekretarisnya masuk atau dia sendiri yang menghampiri sekretarisnya. Mengingat ia tidak ingin diganggu dan tidak ingin siapa-siapa masuk ke ruangan nya, ia memutuskan untuk menelpon sekretarisnya. Walau jarak mereka hanya sekitar enam meter.


Celine menatap dengan bingung saat atasannya menelpon. Bukannya apa-apa, sangat lucu sekali rasanya. padahal jarak mereka sangat dekat dan kenapa juga harus menelpon?


"Ada apa Pak?" tanya Celine sedikit bingung.


"Apa aku boleh bertanya?" balas Dave.


Kenapa harus menelpon disini? Apa pertanyaannya begitu penting?. Celine bertanya-tanya.


"Apa yang harus laki-laki lakukan jika perempuan sedang marah?" tanya Dave sedikit malu-malu.


Dinda ternganga dan sedikit tidak percaya dengan pertanyaan atasannya. Pertanyaan seperti apa ini? Apa Bosnya ini sedang marahan dengan pacarnya yang posesif itu? Tapi tidak mungkin itu pacar Pak Dave. Bukan ka Pak Dave tidak menyukai wanita itu. Lalu siapa yang pak Dave maksud?


"Apa aku harus mengulang pertanyaan ku?!!" Deve bertanya dengan nada pelan namun tegas.


"Bagaimana ya pak? Tapi kenapa bapak menanyakan hal itu? Apa pacar bapak sedang marah kepada bapak?" Celine semakin penasaran.


"Kau hanya perlu menjawab pertanyaan ku tanpa harus bertanya kembali kepadaku." balas Dave ketus.


Celine diam dan mencerna. Sebenarnya dia juga tidak mengetahui spesifik nya. Apalagi dia tidak pernah merasakan seperti apa pacaran dan marah-marahan kepada pasangan.


"Saya tidak pernah pacaran. Jadi saya tidak tahu jawabannya. Maafkan saya pak!" ucap Celine sedih.


Dave langsung memutuskan panggilan saat mendengar jawaban Celine.

__ADS_1


"Hallo Pak, Pak?"


Celine menghembus nafas kesal. Ternyata Bosnya sudah memutuskan panggilan. Begitu penat sekali berhadapan dengan Bosnya yang super dingin dan suka memutuskan keputusan sendiri.


"Arrrrrh." Dave memijit keningnya. Ternyata menanyakan hal tersebut kepada sekretarisnya tidak ada guna dan sia-sia. Sama sekali tidak bisa memberikan saran.


Dave lalu membrowsing diponselnya dari pertanyaan yang ditanyakan kepada Celine tadi di gugel. Ia membaca dengan teliti dan akan mencoba cara-cara dan saran yang dibaca disana. Semoga saja berhasil pikirnya.


"Kenapa juga aku harus melakukannya? Apa ini tidak terlalu lebay?" tanya Dave sedikit tidak yakin saat membaca apa yang di browsingnya.


*****


Dinda masih duduk mematung di kursi meja makan. Ia begitu sangat syok dengan sikap Dave yang berubah secara tiba-tiba. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipi.


Kenapa Dave membentaknya lagi? Bukankah dia baru saja meminta maaf kepadanya? Apa permintaan maafnya hanya sebuah candaan belaka?


Dinda tak kuasa memikirkan dugaan-dugaanya kepada Dave. Tidak mungkin Dave akan memperlakukannya dengan lembut. Pasti Dave akan terus memperlakukannya dengan sangat kasar. Bukankah itu hari-hari yang selalu Dinda lalui selama ini? Menghadapi sikap dan perilaku Dave yang kasar dan tidak sabaran.


Dinda menghapus air matanya. Ia lalu bangkit dari duduk dan membersihkan meja makan yang sudah penuh dengan tumbahan nasi goreng. Ia tidak boleh lemah dan tidak boleh selalu menangis. Ia harus selalu kuat menghadapi sikap Dave.


Setelah selesai, Dinda lalu duduk didepan TV. Ia memutuskan menonton film-film komedi. Dengan begitu suasana hatinya akan semakin baik dan melupakan sakit hati dan kesalnya kepada Dave.


Semakin lama, Dinda semakin muak dengan rutinitas harian yang itu-itu saja. Ia ingin sekali keluar dari apartemen yang sudah seperti penjara baginya. Setiap hari ia hanya bisa berkurang diri. Dave sama sekali tidak memperbolehkannya untuk keluar dari apartemen.


Rasa bosan lama kelamaan membuatnya semakin mengantuk. Tanpa sadar ia tertidur di sofa dengan TV yang masih menyala.


Jam menunjukkan pukul 19.30. Dave membuka pintu dan masuk ke apartemen nya. Ia akan meminta maaf kembali kepada Dinda dengan sikapnya pagi tadi.


Saat ia sudah masuk dan akan menuju kamar, ia melihat Dinda tampak tidur begitu pulas di sofa dengan TV yang masih menyala.


Hy teman-teman, Thor minta maaf ya jika ceritanya kurang menarik dan membosankan. Thor juga minta maaf jika up nya lama. Thor juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.Didunia nyata Thor juga mempunyai kesibukan. Jadi harap dimaklumi saja jika up nya agak lama.Kalau kalian tidak suka, kalian boleh tidak membacanya dan membatalkan tombol favorite. Tapi jangan komen yang isinya negatif dan menyakitkan hati. Jadilah pembaca yang bijak.

__ADS_1


Sekian dari author.


Terima kasih😊


__ADS_2