
"Dandi, Dandi!" panggil Dinda kegirangan. Dia lalu membuka pintu kamar Dandi setiba sampai dirumah. Di lihat nya Dandi masih terbaring dikasur.
"Ada apa? kenapa kelihatan bahagia sekali?" tanya Dandi heran.
"Dandi, Dandi." melompat-lompat tidak jelas saking senangnya.
"Ada apa Din? kamu kenapa?" tanya Dandi lagi. Dia heran melihat Dinda yang tiba-tiba saja berubah kegirangan. Padahal saat pergi dia masih baik-baik saja.
"Kamu, kamu. Aaaaaaaaaaa, aku bahagia banget Dan," masih tetap kegirangan. Sangking senangnya dia tidak bisa lagi berkata-kata.
"Aku?" menunjuk dirinya sndiri dengan heran, "Kenapa denganku? apa ada yang salah?" tanya Dandi yang semakin dibuat bingung.
"Kamu diangkat jadi pegaeai Dan. Aaaaaaaaaaa, aku senang banget. Kamu udah nggak jadi pembantu lagi disana." ucap Dinda.
Bangkit dari berbaring nya, Apa? koq bisa?" tanya Dandi bingung. Bukannya dia hanya cleaning service. Tapi kenapa bisa dia diangkat menjadi pegawai? bukankah dia tidak pernah kuliah ataupun tamat dari jurusan perbankan.
"Aku juga nggak tau Dan. Kepala direktur yang baru mengangkat mu jadi pegawai. Aku aja kaget mendengarnya." balas Dinda yang masih tidak percaya.
Menurut pihak Bank, Dandi diangkat menjadi pegawai bukan tanpa sebab. Selama ini yang mereka tau, Dandi sangat rajin dan gesit dalam bekerja. Mereka juga melihat potensi Dandi yang sangat pintar dalam pelajaran. Itu yang membuat direktur baru mengangkatnya menjadi pegawai. Bukan lulusan keuangan atau tamatan dari universitas ternama itu urusan belakangan.
"Direktur baru? siapa?" tanya Dandi. Dia baru ingat jika selama Adit mengundurkan diri, belum ada yang menggantikan posisi Adit ataupun yang mau mengajukan diri untuk menggantikan posisi Adit. Karena menurut pegawai Bank lain, posisi direktur begitu sangat sulit dan penuh resiko.
"Kamu ingat mbak-mbak yang aku cerita kemaren? dia yang menjadi kepala direktur baru Dan. Aku nggak nyangka banget dia begitu sangat baik." puji Dinda. "Besok, kamu jangan pakai baju itu lagi," menunjuk seragam kerja Dandi yang tergantung di dinding kamar. "Ini aku udah beli kamu kemeja sama dasi baru buat kerja besok," mengeluarkan pakaian yang baru dibelinya saat pulang dari Bank.
"Kenapa kamu repot-repot sekali? aku masih belum yakin dengan posisiku sekarang." balas Dandi. Rasanya sangat tidak adil jika dia diangkat menjadi pegawai. Apalagi bekal ilmu tentang perbankan sangat minim. Apa yang akan dikatakan teman-temannya nanti. Pasti mereka marah dan kecewa.
"Kamu nggak boleh gitu Dandi. Direktur mengangkat kamu menjadi pegawai karena kamu rajin dan pintar. Teman-teman kerja kamu juga mendukung. Sama sekali tidak ada rasa iri ataupun benci sama kamu karena diangkat menjadi pegawai." ucap Dinda meyakinkan.
"Siapa kepala direktur baru disana?" tanya Dandi penasaran.
"Mbak-mbak kemaren aku cerita. Namanya... ya, namanya Nazumi anak pemilik Bank itu." jelas Dinda.
"Nazumi?" tanya Dandi.
" Iya, namanya Nazumi Natsir. Cantik banget lho Dan," puji Dinda lagi.
__ADS_1
Nazumi? kenapa namanya seperti tidak asing?
"Dandi, kamu kenapa?" tanya Dinda saat Dandi melamun.
"Nggak apa-apa koq Din. Oh ya, kapan kata mereka aku bisa mulai bekerja?" tanya Dandi.
"Katanya sih minggu depan. Ingat ya, harus rapi!" peringat Dinda.
"Kamu udah baikan?" menempelkan tangannya ke kening Dandi untuk memeriksa. "Udah nggak panas lagi," sambung Dinda.
"Aku udah baikan koq. Kamu nggak usah khawatir. Ini aku udah sehat," ucap Dandi.
Seminggu kemudian, hari ini merupakan hari pertama Dandi bekerja dengan posisi yang baru. Dia begitu gugup dan sedikit takut.
"Ih ganteng banget sih kembaran ku ini," puji Dinda saat melihat Dandi sudah berpakaian rapi. Memakai kemeja dan dasi yang dibelinya minggu lalu.
"Aku gugup sekali. Aku nggak yakin dengan posisi baruku," ucap Dandi yang masih gugup.
"Kamu coba tenang ya. Tarik nafas pelan-pelan," menuntun Dandi untuk mengikuti arahannya. "Lepaskan!" lanjut Dinda.
"Sekarang, berangkatlah! nanti kamu terlambat." ucap Dinda mengingatkan. Apalagi ini hari pertama Dandi dengan posisi yang baru. Sangat tidak wajar jika sampai terlambat datang. Apa nanti kata pegawai-pegawai yang lain.
Terima kasih ya Tuhan, engkau telah mengabulkan doa hamba. Hamba begitu sangat ingin Dandi bekerja memakai seragam yang rapi. Hamba senang dia udah nggak pakai baju kotor itu lagi.
Sesampai Di bank, Dandi langsung melangkahkan kakinya masuk. Tampak semua pegawai yang sudah datang pandangannya langsung tertuju padanya.
"Selamat ya Dandi, akhirnya kamu udah nggak jadi babu lagi," ucap salah satu pegawai dengan wajah yang sulit ditebak. Antara itu sebuah pujian atau hanya menyindir.
"Terima kasih." balas Dandi. Dia tidak ambil pusing dengan kata-kata babu. Walaupun kata-kata itu sedikit kurang enak didengar, tapi dia sadar dengan posisinya waktu itu. Walaupun namanya cleaning service, tapi tetap saja kerjanya sebagai babu.
"Kamu Dandi Wira Abraham?" panggil seorang pria yang tak lain adalah kepala Manager.
"I iya Pak, saya Dandi," ucap Dandi gugup.
"Ikut saya!" suruh pria itu.
__ADS_1
Dandi pun mengikuti langkah kaki kepala Manager tersebut hingga sampai ke ruangan kepala Direktur.
"Silahkan masuk!" ajak manager itu. Dia membuka pintu dan mempersilahkan Dandi masuk.
"Selamat pagi Mbak, ini saya sudah bawa Dandi menemui anda," ucap Manager kepada kepala Direktur yang masih duduk membelakangi mereka.
"Kamu silahkan keluar! saya ingin bicara dengannya." ucap Nazumi dengan posisi yang masih sama.
Kepala manager pun keluar. Menutup kembali pintu dan membiarkan Nazumi dan Dandi berada didalam.
"Kamu Dandi Wira Abraham?" tanya Nazumi.
"Iya, saya Dandi Wira Abraham." balas Dandi. Dia begitu gugup dan takut jika salah bicara. Apalagi berhadapan dengan kepala direktur baru yang sama sekali belum dikenalnya dan belum tau bagaimana sifatnya. Apakah sama seperti yang diceritakan Dinda kepadanya atau malah sebaliknya.
"Sila tandatangan dokumen didepan kamu. Itu surat keterangan kamu sebagai pegawai baru disini." suruh Nazumi.
Dandi dengan cepat menandatangani dokumen yang sudah berada didepannya.
"Sudah, saya sudah menandatangani nya." ucap Dandi saat selesai menandatangani.
"Terima kasih, selamat bergabung," ucap Nazumi. Dia kembali membalikkan kursi kebesarannya menghadap Dandi dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Deg
Jantung Dandi berdetang kencang, wajahnya menjadi merah padam.
"Kamu..." ucap Dandi kaget. Wajah wanita didepannya begitu familiar dan tidak asing.
"Kenapa?" menatap tangannya yang masih belum dibalas jabat tangan oleh Dandi. "Kamu kenal sama saya?" tanya Nazumi lagi. Apalagi dilihatnya Dandi seperti menahan amarah.
Kenapa dia bertanya? jelas-jelas aku mengenalnya dan begitupun dengannya. Lalu kenapa dia pura-pura tidak mengenalku? Apa dia sengaja melakukannya?
"Saya Nazumi, kepala Direktur baru. Senang bertemu dengan anda dan selamat bergabung." ucap Nazumi lagi. Dia kembali mengulurkan tangannya.
Sedikit ragu-ragu, Dandi pun membalas uluran tangan tersebut. "Saya Dandi, senang juga bertemu dengan anda." balas Dandi dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Bahkan kau juga mengganti namamu. Baiklah, aku tunggu bagaimana kelanjutannya.
Setelah selesai, Dandi pun pamit dan kembali duduk ketempat kerja yang sudah disediakan.