MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Perasaan Rindu


__ADS_3

"Dave, Dinda, kalian ngapain? Ayo makan malam," panggil Kikan sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar anaknya. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu dibawah. Tapi oarnag yang ditunggu tak kunjung-kunjung turun.


Pintu kamar terbuka perlahan. Dave dengan senyum pepsodennya. "Iya Ma." ucap Dave sambil turun kebawah diikuti Dinda dibelakangnya berjalan tertunduk.


"Ngapain sih?" tanya Kikan heran dengan tingkah anak menantunya.


Kini mereka sudah duduk bersama dimeja makan. Memulai makan malam dengan sangat nikmat.


Mereka kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum mulu. Apa mereka nggak tau aku kelaparan menunggu mereka datang? Bukannya merasa bersalah, malah mereka kelihatan senang. Ah, menyebalkan. Gerutu Dion. Dia memasukkan nasi ke mulutnya dengan kesal.


"Uhuk uhuk," Dion sampai terbatuk-batuk karena tidak berhati-hati memakan makanannya.


"Ini minum kak," ucap Dinda sambil menyodorkan segelas air minum kepada Dion.


"Terima kasih," ucap Dion sambil menerima dan meneguk air tersebut hingga tuntas.


"Makanya, makan itu pelan-pelan." nasehat Kikan.


"Iya Ma, maaf." balas Dion.


Akhirnya mereka menyelesaikan makan malam walau Dion masih merasa kesal karena dia harus kelaparan menunggu pasangan suami istri itu turun.


Kini mereka sudah kembali ketempat masing-masing. Kikan dan Roy sedang duduk menonton televisi diruang keluarga. Dion hanya mondar-mandir tak karuan. Dia juga tidak tau harus kemana. Mau kekamar, terlalu cepat.


"Aha, apa aku kebalkon aja ya. Lagi pula disana pemandangan malam sangat inda." ucap Dion.


Dia melangkahkan kaki menuju balkon lantai atas dengan cepat. Membawa beberapa makanan dan minuman untuk menemani kesendiriannya.


Namun, bukan kesenangan yang didapatkannya melainkan rasa kesal yang sama terhadap orang yang sama pula.


Apa-apaan mereka? Apa tidak ada tempat lain untuk berciuman? Ah menyebalkan. Kesal Dion.


Masih merasa kesal, mau tidak mau dia harus masuk kekamar. Tidak ada tempat lain yang bisa dinikmatinya selain balkon rumah. Tapi tempat tersebut sudah diambil alih oleh orang lain dan dia hanya bisa gigit jari seklaigus kesal. Dengan cepat, dia melangkahkan kaki untuk memasuki kamar.


Menaruh makanan dan minuman yang sudah diambilnya dibawah dan meletakkan diatas meja dekat jendela kamarnya. Akhirnya dia hanya bisa duduk sambil memandang pemandangan malam dari jendela kamarnya.


*****


Ditempat lain, Dandi masih mempertimbangkan hatinya. Dia masih ragu apakah hatinya sudah menerima Nazumi atau hanya perasaan kagum saja.


Memang dari pagi hingga dia pulang dari bekerja, dia sama sekali tidak bertemu Nazumi hari ini. Hal tersebut membuatnya sedikit merasa kehilangan.


"Kenapa aku tidak melihatnya hari ini? Apa dia tidak masuk kerja?" tanya Dandi penasaran.

__ADS_1


Semenjak kedatangan Nazumi malam itu kerumah Dandi, dia berusaha untuk menjaga jarak mulai saat itu juga terhadap Dandi. Dia akan mencoba melupakan Dandi dan berhenti mendapatkan cinta Dandi lagi. Tentu itu dia lakukan tanpa sepengetahuan Dandi.


Hari demi hari Dandi lalui. Masih seperti hari-hari sebelumya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Nazumi. Entah kenapa ada perasaan rindu. Sebelumnya dia tidak terlalu merasakan begini. Tapi kenapa sekarang seperti ini. Apa benar dia sudah mulai menyukai Nazumi?


Jam kerja telah habis. Kini sudah waktunya untuk pulang kerumah masing-masing. Dandi masih stay dikursi kerjanya sambil mencari-cari keberadaan Nazumi. Satu jam, dua jam, namun orangnya tidak muncul-muncul.


Karena merasa jenuh dan hari sudah semakin gelap, dengan langkah lunglai Dandi mulai meninggalkan ruang kerjanya dan keluar dari Bank. Saat akan menyebrang, tidak sengaja matanya melihat sosok yang dicarinya beberapa hari ini.


"Nazumi," ucap Dandi saat melihat Nazumi sedang masuk kedalam mobil bersama seorang laki-laki. Entah kenapa pula hatinya menjadi sakit melihat Nazumi bersama laki-laki lain.


"Sama siapa dia?" tanya Dandi penasaran.


Beberapa saat kemudian, dia mencoba menepis perasaannya dan kembali melangkahkan kaki menyebrang untuk sampai kehalte dan menunggu bus.


Malam harinya, Dinda dan Dave datang mengunjunginya. Mereka makan malam bersama. Namun pandangan Dinda tertuju kepada Dandi yang tampak tidak bersemangat.


"Dandi, kamu kenapa?" tanya Dinda penasaran.


"Aku nggak kenapa-napa koq Din." balas Dandi.


Dave dan Dinda saling berpandangan. Hingga akhirnya Dave hanya mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tau kenapa Dandi tidak bersemangat.


"Kamu ada masalah?" tanya Dinda lagi.


Dandi menghembuskan nafasnya. Memang dia bermasalah sekarang. Apalagi sekarang hatinya sedang bermasalah. "Aku tidak apa-apa Dinda. Aku tidak ada masalah." balas Dandi.


Makan malam telah selesai. Dinda memberes piring kotor dan mencucinya. Dave langsung masuk kekamar karena dia ingin main game dan akan menaikkan bintangnya yang beberapa kali turun. Dandi langsung duduk di kursi teras sambil menatap langit-langit yang dipenuhi bintang.


Setelah selesai beres-beres, Dinda langsung membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Dave sedang asyik main game dan dia tidak ingin menggangu nya. Jika dia berada disana pun pasti dia dicuekin. Dia memutuskan untuk membuka kamar Dandi. Namun setelah pintu terbuka, orangnya sama sekali tidak berada ditempat.


"Kemana dia?" tanya Dinda penasaran.


Dinda memutuskan untuk mencari Dandi dan ingin mendengarkan permasalahan yang dialami Dandi. Rasa penasarannya sudah mergejolak. Dia harus segera menuntaskan agar rasa penasarannya tidak semakin parah.


"Dandi," sapa Dinda saat melihat Dandi duduk di teras rumah dengan wajah yang ditekuk.


Dandi menoleh, "Iya Dinda," balas Dandi tersenyum. Namun Dinda dapat melihat jika senyuman tersebut seperti dipaksakan.


Dinda duduk disebelah Dandi dan menatap langit yang dipenuhi bintang. "Kamu kenapa?" tanya Dinda lagi.


"Aku nggak kenapa-napa koq." balas Dandi. Dia enggan mengatakan perasaannya.


"Jangan bohong. Aku bisa lihat koq dari raut wajahmu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja." kata Dinda masih menatap langit.

__ADS_1


Dandi menoleh, "Jangan kaget gitu, sekarang ayo cerita. Ada masalah apa?" tanya Dinda.


Dandi menghembuskan nafas panjang. Tadinya dia ingin menutup rapat-rapat. Tapi karena desakan Dinda, mau tidak mau dia akan menceritakannya.


"Ini tentang Nazumi." ucap Dandi mengeluh.


"Kenapa dengan Nazumi? Apa dia sudah tidak mencintaimu lagi dan kamu menyesal?" ucap Dinda menebak.


"Entahlah Dinda. Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya. Aku juga tidak tau kenapa aku sangat kangen dengannya." balas Dandi.


Dinda yang mendengar semakin tersenyum lebar. Sepertinya Dandi sudah ada perkembangan.


"Sepertinya kamu sudah mulai mencintainya." ucap Dinda yakin.


"Tapi..." rasanya kata-katanya sudah habis jika ingin menyanggah.


"Apa kamu merasa cemburu dengannya jika dia dekat dengan laki-laki lain?" tanya Dinda lagi.


"Aku tadi tidak sengaja melihatnya masuk ke mobil bersama seorang laki-laki. Saat itu aku merasa sangat kesal." balas Dandi mengingat pertemuan tidak sengaja nya dengan Nazuni.


"Itu tandanya kamu sudah mulai mencintainya." ucap Dinda.


"Dandi, sekarang kamu harus katakan perasaanmu kepadanya. Jika kamu sudah mulai mencintainya."


"Aku malu Dinda." balas Dandi.


"Untuk apa malu? Jika kamu tidak mengatakannya sekarang, nanti kamua kan menyesal jika Nazumi sudah tidak mencintaimu lagi. Kamu akan merasakan apa yang dia rasakan dulu saat menyatakan cintanya pada kamu." nasehat Dinda.


"Bagaimana caranya? Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya." ucap Dandi khawatir.


"Ya ditelpon kali." ucap Dave tiba-tiba. Entah sejak kapan dia berdiri didepan pintu dan menguping pembicaraan mereka.


Dandi dan Dinda sontak menoleh karena kaget.


"Sayang, sejak kapan disini? Bukannya tadi lagi main game?" tanya Dinda kaget.


"Sejak kamu buka pintu kamar." balas Dave enteng.


"Yaudah, coba kamu telpon si Nazumi nya. Sebelum terlambat." Dave memperingatkan.


Dandi mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Nazumi. Semenjak merasa kehilangan Nazumi, dia sama sekali tidak pernah menghubunginya. Ada rasa sedikit takut untuk menghubunginya. Itu sebabnya dia hanya memendamnya saja.


Tut tut panggilan tersambung.

__ADS_1


"Nggak diangkat," ucap Dandi panik. Seketika fikiran nya kalang kabut dan memikirkan hal yang tidak-tidak. Takut jika Nazumi sudah tidak mencintainya lagi.


Berkali-kali dia menghubungi Nazumi, berkali-kali pula nomor yang dituju tidak diangkat.


__ADS_2