
"Sayang," ucap Dinda sambil bermanja-manja dengan suaminya.
Dave yang merasa bingung dengan perubahan sikap Dinda hanya bisa membalas. Dia juga sedikit senang karena Dinda sudah tidak canggung lagi dengannya.
"Kamu kenapa sayang? koq kelihatannya bahagia banget?" tanya Dave penasaran.
"Hmm," balas Dinda sambil terus-terusan menciumi pipi suaminya hingga meninggalkan bekas bibir dari lipstiknya.
"Lagi pengen ya?" goda Dave. Dia semakin mengencangkan pelukannya dan membuat Dinda kesulitan bernafas.
Melepaskan pelukan dan mendorong tubuh Dave menjauh. "Apaan sih sayang, Dinda cuma lagi pengen mesra aja. Fikiran sayang tuh, mesum mulu," sungut Dinda tidak suka.
"Kan aku cuma nanya. Kalau iya nggak apa-apa. Aku siap koq." ucap Dave dengan seringai jahilnya.
Apaan sih Dave. Aku kan cuma mau bikin surprise sama dia. Malah fikiran nya mesum mulu.
"Udah ah, Dinda capek." Dinda melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya dengan santai.
Dave yang bingung dengan sikap Dinda yang tiba-tiba berubah hanya menghela nafas panjang. Padahal dia juga menginginkannya saat ini. Namun karena mood Dinda berubah, terpaksa dia harus membujuknya.
Berjalan menaiki tepat tidur dan memeluk tubuh istrinya. "Kamu kenapa? marah karena aku bilang itu tadi?" tanya Dave.
Dinda melepaskan kembali pelukan Dave. Dia bangkit dan berjalan menuju laci samping lembari pakaiannya.
Diambilnya sebuah benda dan disembunyikannya kebelakang tubuhnya. Berjalan kembali menuju tempat tidur. Dave yang merasa aneh hanya mengerutkan dahinya sembari mengintip apa yang disembunyikan istrinya disana.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Dave yang kebingungan. Tadi istrinya tiba-tiba lembut, terus tiba-tiba marah dan sekarang malah tersenyum menghampirinya. Ada apa dengan Dinda? apa salah minum obat atau lagi kesambet?
"Sayang," panggil Dinda.
"Iya, ada apa?" balas Dave.
Dinda mendekat dan duduk disamping Dave. Dipeluk dan dicium suaminya tanpa henti.
Dinda kenapa sih? rasanya aneh aja dia bersikap seperti ini. Tidak mungkin sedang terjadi sesuatu kan?
Dinda kemudian memasukkan benda yang tadi diambilnya dilaci kedalam saku celana Dave.
Karena penasaran, Dave kemudian mengambil benda tersebut disaku celananya.
"Kamu hamil?" tanya Dave dengan mata yang berkaca-kaca. Dinda mengangguk sambil memancarkan senyuman bahagianya.
"Terima kasih sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang ayah." ucap Dave bahagia. Dia lalu memeluk dan menciumi ujung kepala Dinda dengan lembut.
__ADS_1
Kabar kehamilan Dinda pun telah tersebar ke seluruh area rumah. Kikan yang mengetahui Dinda hamil dan akan menjadi seorang nenek begitu antusias menyambutnya. Sudah lama sekali dia menantikan seorang cucu. Begitupun dengan Roy yang sangat antusias. Jika Dinda mengandung anak laki-laki, maka anak Dave akan menjadi penerus dari keluarga Atmawijaya.
"Sayang, kamu jangan banyak gerak. Kamu kan lagi hamil," peringat Kikan saat melihat menantunya itu mencuci piring.
Dinda tersenyum. Dia begitu bahagia karena keluarga suaminya saat ini sangat perhatian kepadanya. Sudah lama sekali dia merindukan perhatian dari seorang ibu.
"Dinda nggak apa-apa koq ma. Piringnya juga sedikit." balas Dinda meyakinkan mama nya kalau tidak akan terjadi apa-apa dengan kehamilannya yang baru masuk tiga minggu.
"Mama hanya takut kamu kenapa-napa nak. Kamu itu hamil, jangan melakukan pekerjaan berat-berat. Biar para pelayan aja yang melakukan tugasnya." ucap Kikan khawatir. Ini merupakan calon cucu pertamanya. Wajar saja jika dia sangat khawatir.
Drrt drrt
Ponsel Dinda berdering. Dia lalu mengambil ponsel disaku celananya. Dilihatnya Dandi sedang menghubunginya.
"Hallo," sapa Dinda.
"Hallo Dinda,"
"Ada apa Dandi?"
"Aku cuma mau bilang, minggu besok kamu sama Dave jangan kerumah ya."
"Kenapa?"
"Boleh aku ikut?"
"Kamu hamil Dinda, lebih baik kamu jaga kehamilanmu. Lagi pula perjalanan kesana sangat jauh."
"Yaudah kalau begitu."
"Kamu lagi dimana? masih di apartemen?"
"Aku dirumah mama dan papa kak Dave. Mungkin untuk kedepannya kami akan tinggal disini. Soalnya mama kak Dave minta kami untuk tinggal bersamanya setelah tau Dinda hamil."
"Yaudah, kamu turuti aja apa kata mereka. Lagian untuk kebaikan kamu juga. Sekali lagi selamat ya karena kamu akan menjadi calon ibu dan aku akan menjadi calon paman."
"Iya Dandi, semoga kamu bisa nyusul ya,"
Panggilan pun terputus.
"Siapa Dinda?" tanya Kikan.
Dinda menoleh, "Dandi ma," balas Dinda.
__ADS_1
"Oh Dandi. Bagaimana kabarnya? sudah lama sekali mama tidak ketemu dengannya. Kapan dia nyusul kamu?" tanya Kikan.
Dinda hanya tersenyum. Dia sendiri juga tidak tau kapan Dandi akan menyusulnya. Apalagi calon Dandi masih misterius. Walaupun dia tau saat ini Nazumi sudah menyatakan perasaannya terhadap Dandi. Tapi dia tidak bisa memaksa Dandi untuk menerimanya. Biarkan saja Dandi sendiri yang akan menentukan masa depannya kelak.
*****
Setelah mengakhiri panggilan telepon dari Dinda, entah mengapa dia merasa kesal dengan perkataan Dinda.
Menyusul katanya? dia fikir semudah itu? mentang-mentang sudah nikah dan lagi hamil.
Dandi kembali merebahkan tubuhnya dikasur. Menatap langit-langit kamarnya yang tampak sudah kusam karena bekas tetesan air hujan.
Aku juga memimpikan untuk menikah. Tapi impianku untuk bersamanya sudah tidak ada lagi. Dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Nazumi memang sangat mirip sekali dengannya. Setiap aku melihat Nazumi, aku merasa diri Naomi ada pada dirinya. Bathin Dandi membayangkan masa depannya.
"Aaaah, kenapa aku memikirkan Nazumi sih?" kesal Dandi. Dia lalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Selama dia dikamar mandi, entah mengapa bayang-bayang wajah Nazumi terbayang di kepala nya. Bayangan saat pertama kali bertemu Nazumi hingga saat Nazumi menyatakan perasaannya.
"Ada apa denganku? aah tidak-tidak. Aku tidak boleh seperti ini," ucap Dandi. Dia lalu kembali ke kamar nya untuk tidur. Karena besok dia harus berangkat ke kota xx untuk mengunjungi makam Naomi.
Tring
Baru saja akan memejamkan mata, sebuah pesan masuk diponselnya. Dengan malas dia meraih ponsel disamping bantalnya. Dilihatnya sebuah pesan berasal dari Nazumi.
Direktur Nazumi.
Dandi, bagaimana besok? apa kau mau pergi bersamaku? aku akan berangkat pagi esok pukul 6 pagi. Jika kau mau bareng denganku, jangan lupa untuk mengabarkannya. Aku tunggu!
"Kenapa dia ingin sekali pergi denganku? aku juga masih bisa pergi sendiri." ucap Dandi. Dia meletakkan kembali ponselnya tanpa berniat untuk membalasnya. Dia kembali memejamkan matanya hingga akhirnya tertidur dengan pulas.
Pukul 02 dini hari Dandi terbangun saat ingin buang air kecil. Dia lalu berlari kekamar mandi untuk buang air . Setelah selesai, dia kembali ke kamar nya untuk tidur. Namun dia menghentikan keinginannya untuk melanjutkan tidur saat melihat ponselnya berkedip.
Dihidup ponselnya dan dilihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Nazumi. Saat itu juga dia melihat ada sebuah pesan.
Direktur Nazumi.
Kau dimana? kenapa ponselmu tidak diangkat ? apa kau sibuk? aku hanya ingin minta maaf karena sudah memaksamu. Jika kau tidak mau tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri besok. Semoga kau sampai dengan selamat.
"Memaksaku?" ucap Dandi bingung. Rasanya Nazumi tidak pernah memaksanya sama sekali. Hanya saja dia yang tidak meresponnya.
"Apa aku balas aja ya?" ucap Dandi bingung.
Akhirnya Dandi pun membalas pesan tersebut karena merasa tidak enak dengan Nazumi. Padahal Nazumi sudah berkali-kali menelponnya dan mengirim pesan. Tapi dia sama sekali tidak membalasnya.
__ADS_1
"Ah selesai," ucap Dandi. Dia kembali melanjutkan tidurnya. Karena beberapa jam lagi dia akan berangkat ke kota xx.