
"Kalian cari tau siapa yang sudah berani melaporkan kejadian ini ke polisi! perintah Dave kepada anak buahnya.
Dave menatap Dinda yang melemah tak berdaya. Tersenyum dengan tatapan sinis. Dave mendekat dan membuka ikatan tali pada Dinda dengan sedikit kasar.
Dinda sontak tersadar dan ketakutan. Apa yang akan dia lakukan? gumamnya.
Saat ikatan tali tersebut sudah dilepaskan, Dave menarik rambut Dinda agar ia berdiri.
"Sa sakit Tuan." lirih Dinda. Ia merasakan begitu sakit dikepalanya.
"Bangun!" perintah Dave kepada Dinda dengan suara membentak.
Dinda dengan cepat bangun dan berusaha melepaskan tangan Dave dari rambutnya.
Dave melepaskan tangannya. Saat itu juga Dinda berusaha ingin melarikan diri. Belum sempat ia melarikan diri, bajunya sudah ditarik oleh Dave dari belakang.
"Jangan berani-berani kau untuk kabur." ucap Dave murka.
Dinda mengumpulkan keberaniannya agar tidak terus menerus dibentak dan ditindas oleh Dave.
"Emangnya kau siapa ha? apa yang kau mau dariku? tolong, jangan pernah ganggu hidupku lagi.? ucap Dinda. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Namun air matanya sudah tidak bisa lagi terbendung. Ia menangis dengan terisak-risak.
"Dasar wanita lemah. Bawa dia masuk ke mobil! perintah Dave kepada anak buahnya. Anak buah Dave pun dengan segera membawa Dinda masuk kedalam mobil.
Dave tidak ingin tempat ia berada sekarang akan didatangi Dandi atau polisi nantinya.
Dave membawa Dinda ke apartemen miliknya. Apartemen yang jauh dari tempat tinggalnya.
Anak buah Dave membawa Dinda masuk kedalam apartemen mewah miliknya. Setelah itu, para anak buahnya pun pergi meninggalkan apartemen atas perintahnya. Kini hanya mereka berdua yang berada di apartemen tersebut.
"Tuan, kenapa Dinda dibawa kesini?" tanya Dinda kebingungan. Ia sangat tidak nyaman jika hanya tinggal berdua dengan Dave. Takut jika Dave melakukan sesuatu kepadanya.
"Mulai sekarang, kau tinggal disini dan tidak boleh keluar kemana pun. Jika kau berani melewati pintu itu, kau akan habis." ucap Dave sambil menunjuk pintu masuk apartemennya.
Bagaimana ini? aku tidak mau disini. Gumam Dinda yang ketakutan.
__ADS_1
"Kenapa kau masih berdiri disini? pergi sana! Kamarmu ada diatas." usir Dave kepada Dinda. Ia sangat risih jika Dinda hanya berdiri dihadapannya.
Dinda pun menuruti perintah Dave. Bukankah dengan menuruti kehendaknya dia akan senang dan tidak akan melakukan apa-apa terhadapnya.
Dinda menaiki tangga, hingga akhirnya sampai disalah satu kamar yang sudah diberitahu Dave barusan. Kebetulan kamar tersebut hanya ada satu disana.
Dinda membuka pintu dan masuk kedalam. Kamar yang sangat besar dan luas. Interior dan perabotan yang tertata rapi. Ranjang yang besar dan empuk.
"Wah, cantik sekali." Dinda takjub dengan kondisi kamar yang rapi dan bersih.
Tidak...tidak, aku tidak boleh terlena. Tujuanku sekarang harus melarikan diri. Aku tidak mau ditempat ini. Dave akan menyiksaku. Dinda menjernihkan kembali pikirannya.
Malam harinya, saat Dinda ingin tidur, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ia terkejut saat melihat yang membuka kamarnya adalah Dave.
"Tu tuan ... kenapa Tuan kemari?" tanya Dinda panik. Ia hanya takut jika Dave melakukan sesuatu padanya ataupun menyiksanya secara tiba-tiba.
"Ini kamarku. Terserah aku dong jika aku masuk." balas Dave sambil melipat tangan kedada.
Apa? kamarnya? bukankah dia bilang ini kamarku? jadi ... Dinda membayangkan hal-hal kotor di pikiran nya.
"Tapi ..."
Dinda turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.
"Mau kemana kau?" tanya Dave.
Bukankah tadi dia menyuruhku untuk pergi? kenapa malah bertanya. Dinda menatap dengan bingung.
"Aku menyuruhmu tidur ditempat lain, bukan berarti kau harus keluar dari kamar ini. Tidur kau disana!" perintah Dave sambil menunjuk lantai disudut lembari besar miliknya.
Apa? dia menyuruhku tidur dilantai? dasar pria berhati iblis. Dinda menyumpah-nyumpah.
Dinda hanya menurut. Ia memungut bantal dan selimut yang dilempar Dave kearahnya. Lalu ia pun berbaring ditempat yang diperintahkan Dave.
Malam semakin larut, terdengar suara dengkuran dari Dave. Tertidur dengan sangat pulas.
__ADS_1
Dinda sama sekali tidak bisa tidur, apalagi ia harus tidur dilantai yang dingin. Badannya terasa sangat sakit.
Dinda memandang kearah sekeliling kamar. Mencoba mencari celah agar bisa keluar. Ia menatap pintu kamar yang sedikit renggang dan tidak dikunci. Ia pun berjalan dengan perlahan-lahan agar tidak ketahuan oleh Dave. Ia membuka pintu dan menutupnya lagi dengan sangat hati-hati.
Dimana pintu? aku harus keluar sebelum Dave bangun. Dinda kalang kabut mencari pintu untuk keluar. Dia sudah lupa kemana arah yang akan dituju. Apalagi apartemen tersebut sangat besar.
Itu dia pintu keluarnya. Ucap Dinda saat mengingat kembali pintu yang pernah ditunjuk Dave waktu itu.
Dinda berlari menghampiri. Ia mencoba menekan ganggang pintu, Namum sama sekali pintu tidak bisa terbuka.
"Apa yang salah? kenapa pintunya tidak bisa terbuka?" tanya ia panik sambil terus melihat kearah atas. Takut jika Dave mengetahuinya.
Kunci. Dinda baru tersadar jika pintu tersebut dikunci. Ia mencari kunci yang berada dilembari samping pintu. Disana sangat banyak kunci, hingga ia tidak tau kunci yang mana satu yang bisa membuat pintu tersebut terbuka. Ia pun mengetes semua kunci agar pintu tersebut bisa terbuka.
Saat ia sedang asyik mengetes-ngetes kunci untuk membuka pintu, tanpa sadar Dave sudah berada dibelakangnya dengan tatapan murka.
"Mau kemana?" bentak Dave dengan lantangnya dan membuat Dinda kaget.
Dinda menjatuhkan kunci yang ia pegang. Berjalan mundur karena merasa sangat ketakutan. Ia mengingat kembali kata-kata Dave saat mengancamnya.
"A ...aku tidak kemana-mana Tuan." Dinda membalas dengan gagap. Rasa ketakutan lebih besar dari rasa keberaniannya.
"Kau ingin kabur?" Dave mendekati Dinda dan memiringkan sedikit kepalanya.
Dinda hanya menunduk. Ia sudah tertangkap basah. Kini ia hanya bisa pasrah jika Dave akan menyiksanya.
Dave memegang dagu Dinda dengan kasar dan membuat Dinda merasa kesakitan. Lalu Dave buru-buru melepaskannya.
"Pergi keatas sekarang!" perintah Dave kembali. Ia melepaskan Dinda kali ini. Ia tidak ingin Dinda menjadi sasarannya. Bukankah sudah terlalu larut malam jika ia menyiksanya.
Dinda berlari keatas dan masuk kembali kedalam kamar. Berbaring kembali ke posisi nya semula. Kali ini ia bisa bernafas lega, karena Dave tidak menyiksanya. Entah setan baik mana yang merasukinya kali ini.
Dave pun kembali berbaring di ranjang nya dan menyambung kembali mimpi yang sempat tertunda karena ulah Dinda. Namun sebelum itu, pintu kamar tersebut sudah dikuncinya agar Dinda tidak bisa lagi keluar.
**Hy teman-teman, jangan lupa Vote dan Rate bintang 5 ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga Like karya author ini.
Terima kasih😊**